Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 105. Mengetahui kebenaran


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Kendati Ari sebenarnya masih sangat marah terhadap Desi, namun rasa kemanusiaannya kali ini besar dari emosinya. Lagipula, karena dialah Desi berada di kota itu.


Dan bertemunya dia dengan Desi dengan kondisi memprihatinkan seperti sekarang ini, jelas merupakan suatu hal yang mengundang tanda tanya besar buat Ari.


Ari dan Tyo buru-buru memasukkan tubuh basah kuyup itu kedalam jok belakang mobilnya, lalu sejurus kemudian ia memasuki ruang kemudi dengan wajah tegang. Membuat Tyo bertanya-tanya.


" Siapa dia sebenarnya Ar, kenapa kita harus membawanya?" masih bersikeras bertanya sebab wajah Ari mengundang kekepoan.


Namun bukannya menjawab, Ari malah lebih memilih fokus ke jalan raya yang kini tampak semrawut akibat ulahnya. Banyak sekali sumpah serapah dari para pengguna jalan, serta rentetan bunyi klakson yang semakin memperparah keadaan.


Merasa tak mendapat kawan sebab Ari tengah gusar, Tyo lalu menatapnya sebujur tubuh yang kini pingsan itu dengan wajah kesal.


Namun saat mereka sudah berada di jalanan yang stabil, Ari baru angkat bicara.


" Dia adalah wanita yang pernah aku ceritakan kepadamu. Dia adalah sumber masalah itu!" kata Ari tanpa menoleh kepada Tyo.


" Apa?"


...Flashback On...


Seusai acara pernikahan Brio dan Inka beberapa bulan yang lalu selesai tergelar, Ari memilih pergi dari tempat itu namun tiba-tiba seseorang menghadangnya.


Ia tampak syok demi melihat sesosok pria yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah misterius. Sejurus kemudian, pria itu maju dua langkah dan membuat jarak antara keduanya semakin mendekat.


" Apa kau pantas bersanding dengan putri bungsu keluarga Gunawan,hm?" tanya pria itu sekonyong-konyong dengan wajah tersenyum penuh arti saat melihat Ari yang tak dapat menjawab.


Ari diam. Kenapa pria itu mengatakan hal tersebut? Hal yang jelas-jelas semakin membentangkan kesenjangan yang ada.


" Kuharap kau tahu apa yang harus kau lakukan!"


Ia tertegun saat pria itu menepuk pundaknya mengejek lalu pergi. Ari yang bagai tertampar saat itu memilih untuk meninggalkan kost yang ia huni sebelumnya sebab ia merasa benar-benar kerdil.


Semua keluarga Gunawan kini tak ada yang percaya kepadanya semenjak Desi memfitnahnya. Meski mereka saling mencintai, tapi sungguh Ari kini menjadi ciut nyali.


Ucapan pria tadi benar-benar membuatnya tersadar.


Tak mau berpangku tangan dan menerima nasib, Ari memilih membuang kartunya lalu berniat mengubah takdirnya.


Orang bijak pernah berkata, kesempatan mungkin memang tak datang dua kali. Tapi peluang selalu ada bagi orang yang mau mencoba.


Ada ibu dan Danisa yang harus dia perjuangkan, walau sebusuk apapun keadaan, ia masihlah tulang punggung keluarganya.


Terlebih lagi, ada satu nama yang membuat dirinya harus berani maju. Nama yang kini terpatri dalam hatinya. Ia ingin sengaja menghilang, demi memperjuangkan cintanya.


Berhari-hari ia melamar pekerjaan namun tak satupun yang mau menerima. Persaingan dengan fresh graduated lah yang menjadi penyebab utamanya.


Hari berganti Minggu, ia yang di satu siang itu tengah penat memilih makan di satu kedai nasi padang di dekat sebuah pusat olahraga sebab ia melupakan sarapannya.


" Waduh, dompet saya beneran ketinggalan dirumah Bu! Ibu tolong percaya sama saya!"


Ari yang sudah selesai makan dan hendak membayar melihat perdebatan kecil, dari salah seorang pembeli lainnya yang kini terjadi tepat di depannya.


Sang pemilik warung keukeuh tak mengizinkan pria itu pergi sebab banyak sekali yang harus dia bayar.


Ya, pria yang baru mengajak makan para anak buahnya itu lupa jika dirinya tak membawa dompet nuga kartu saktinya.


Ari yang tak tahan melihat perdebatan yang gak ada ujungnya itu memilih untuk bertanya.


" Ada apa ini Bu? Dan maaf, memangnya berapa yang harus di bayar Bu?" kata Ari dengan suara yang sopan. Membuat kedua manusia itu menoleh secara bersamaan


" Ini mas, udah maka habis banyak gak mau bayar!" eyel ibu kasir.


" Saya bukan gak mau bayar Bu. Dompet saya ketinggalan. Orang rumah gak ada yang bisa saya hubungi!" kata pria itu sedikit geram.


Ibu-ibu itu kenapa menyebalkan sekali sih?


" Memangnya berapa Bu?" ulang Ari yang ingin memungkasi perdebatan sengit itu.


" Satu juta tujuh ratus mas!" kata ibu kasir.


Tanpa menjawab, Ari langsung membuka tasnya lalu meraih dompet untuk sejurus kemudian mengambil sebuah kartu.

__ADS_1


" Pakai ini aja!" kata Ari sesaat setelah menjumput sebuah kartu sakti miliknya yang berisikan tabungannya selama bekerja di keluarga Gunawan.


Pria berkumis itu langsung mendelik. Pria tampan yang berpakaian sederhana itu mengeluarkan kartu ajaib untuk membayar makanannya?


Daebak!


Lantaran sangat membutuhkan, pria berkumis itu akhirnya diam dan berniat akan menggantinya nanti. Dan tentu saja, ia akan mengomeli asistennya yang saat di telpon ponselnya malah mati. Membuat kesal saja.


Ibu kasir itu tanpa ragu mengambil kartu itu lalu menggesekkannya ke mesin yang ada di depan.


" Ini mas, makasih ya?" kata ibu itu riang.


Membuat sang pria berkumis mendengus.


Ari hanya mengangguk sembari tersenyum. Pria berkumis yang melihat Ari pergi usai menerima kartunya kembali, kini langsung ngeloyor mensejajari langkah Ari yang menuju ke arah luar.


" Thank bro. Tapi, elu seharusnya gak perlu ngelakuin ini!" kata pria itu sedikit sungkan.


" Dan membiarkan banyak orang terus mengantri demi menunggu perdebatan yang gak ada habisnya itu?" balas Ari sambil terus berjalan dan sedikit menyungging senyum.


Pria berkumis tipis itu ikutan tersenyum sambil menatap Ari malu. Mungkin inilah yang dinamakan rezeki. Rezeki tak selalu indentik dengan uang, tapi di pertemukan dengan orang baik macam Ari juga merupakan rezeki.


Pun dengan Ari. Ia tahu pria berkumis tipis itu tak bohong soal kelupaanya, dan mengorbankan uang dua juta ia rasa bukanlah hal yang besa, demi menolong seseorang. Toh uang itu merupakan uang bonus yang sempat di berikan Alsaki untuknya.


Hingga, pria berkumis tipis itu tiba-tiba menghadang langkah Ari, dan membuat keduanya nyaris bertabrakan.


" Gue Tyo!" kata pria berkumis itu yang mengajak Ari bersalaman.


Ari menatap tangan Tyo yang menggantung. Tak menyangka jika pria itu sangat notice terhadap bantuannya.


" Ari!" jawab Ari menjabat tangan pria yang tingginya sama dengannya itu dengan wajah ramah


Sejak saat itulah, keduanya berteman dan menjalin hubungan baik. Tyo yang kebetulan merupakan seorang yang memiliki rumah entertainment, merasa beruntung karena bertemu Ari.


Ari merupakan jelmaan manusia tampan yang bersembunyi dibalik tampilannya yang bersahaja. Di bulan pertama mereka saling mengenal, Tyo yang kala itu membutuhkan model dadakan meminta Ari untuk menjadi model sebuah rumah busana.


Meski awalnya Ari sempat menolak karena tidak percaya diri, ia akhirnya menerimanya karena membutuhkan pekerjaan. Dan dari ketidaksengajaan itulah, dan tidak tahunya mereka sukses besar.


" Kuharap kau baik-baik saja. Jika kita berjodoh. Tuhan akan memberi kita jalan. Bersabarlah, aku sedang memantaskan diri untukmu!" kata Ari saat ia menatap foto Puri yang masih ia simpan dalam album ponsel.


...Flashback End...


Ari menatap Desi yang kini dibawa perawat masuk ke ruang tindakan dengan wajah murung. Tyo yang benar-benar masih ingin lebih tahu soal siapa Desi sebenarnya, kini berkacak pinggang seraya menatap Ari yang rambutnya kuyup.


" Sekarang kau jelaskan kepadaku pelan-pelan, karena sungguh aku benar-benar penasaran!" cetus Tyo yang sejatinya masih ingin tahu lebih jelas, kronologis kejadian yang menimpa Ari.


Ari menghela napas sesaat sebelum menjelaskan. Terlihat sulit namun ia ingin pria yang telah menolongnya selama beberapa bulan ini tahu akan kenyataan.


" Dia adalah Desi. Wanita yang memfitnahku menghamilinya!"


" Apa?"


Ya, Tyo langsung syok. Meski saat di mobil tadi Ari sedikit menyinggung wanita yang pernah dia ceritakan, namun agaknya Tyo salah tanggap. Dia pikir itu Puri.


" Kau gila Ar, kenapa kau malah menolongnya?" timpal Tyo yang semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Ari.


" Dia adalah temanku. Dan aku merasa ada yang tidak beres dengan dia selama bekerja di rumah Gunawan!"


Tyo benar-benar terperangah tak percaya. Kenapa hal semacam itu ada juga di dunia nyata?


Selang beberapa jam kemudian, Ari dan Tyo yang kini sudah mengganti pakaiannya dari membeli baju baru di mall yang ada di sebelah rumah sakit itu terlihat duduk di ruangan dimana Desi dirawat.


Sibuk dengan urusan mereka masing2. Tyo yang bolak-balik menerima panggilan dari beberapa relasi, serta Ari yang menatap nanar wajah pucat Desi.


Gadis itu masih memejamkan matanya. Selang infus yang telah terpasang, menandakan bila kondisi tubuhnya jelas tidak bagus.


" Keadaan pasien sangat lemah. Saya sarankan untuk di rawat dulu!"


" Bagiamana kondisi janinnya dok?"


" Beruntung tidak ada masalah pada kandungannya!"


Ucapan dokter yang beberapa waktu lalu ia dengar, juga membuatnya sedikit lega.

__ADS_1


Tyo yang berada di sana bolak-balik menerima panggil dan memohon maaf sebab Ari tak bisa memenuhinya tanggung jawabnya malam ini.


Tyo tahu dan paham bila Ari sedang mengatur siasat saat ini. Lagipula, jika ia berada di posisinya Ari, Tyo pasti juga tak akan fokus dengan apapun.


Ari menatap lekat Desi yang kini memejamkan matanya. Batinnya sungguh penasaran kepada Desi tega memfitnahnya.


" Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, kenapa kau lari tanpa alas kaki di malam saat hujan lebat seperti itu?" tanya Ari dalam batinnya dengan tatapan yang tak lepas memandang wajah pucat Desi.


Dan saat Ari masih sibuk membatin, perempuan yang sedang hamil itu terlihat lekas mengerjap dan mulai sadar.


Ari masih diam berdiri dengan posisi yang tak berubah. Masih bersedekap.


Hingga, Desi yang kini telah membuka matanya, menjadi terkejut manakala melihat Ari yang berdiri di hadapannya, bersama satu orang pria asing.


Deg!


" Ma- mas Ari?" gumam Desi dengan suara parau namun terbata.


" Kenapa aku bisa ada di sini? Dan, dan kenapa mas Ari juga berada di sini? Bukankah aku tadi...?"


Tyo yang semula sibuk dengan ponselnya, kini terfokuskan ke ranjang manakala mendengar suara Desi yang terdengar syok.


" Sebenernya apa yang terjadi?" tanya Ari tanpa basa-basi dan terlihat pancaran sinar kekecewaan dari kedua bola matanya.


Desi semakin pias lantaran bisa-bisanya ia kini berada di rumah sakit, dan di hadapannya ada Ari. Lebih-lebih, ia yang kini di todong oleh pertanyaan itu benar-benar tak bisa mengelak lagi.


" A- aku..." jawab Desi ragu-ragu. Antara takut dan menuruti kata hatinya.


" Kau pingsan di jalan dan aku yang membawamu kemari. Sekarang aku ingin mendengar dengan sejelas-jelasnya, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu Des?" kata Ari yang benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tahu semua yang terjadi.


Dan mendengar penjelasan Ari yang mengaku telah menolongnya, Desi seketika menitikkan air matanya sebab dadanya sudah begitu sesak. Ia tak sanggup lagi menahan beban ini sendirian.


" Maafkan aku mas, maafkan aku telah mengatakan kebohongan!" jawab Desi seraya terisak. Membuat Tyo kini menatapnya muram.


Ari semakin keheranan saat mendengar pengakuan itu. Akhirnya Desi mau mengaku juga. Tapi, dengan siapa temannya itu melakukan?


" Sekarang katakan kepadaku. Apa yang sebenernya kau sembunyikan? Siapa yang telah melakukan perbuatan itu kepadamu Des? Kenapa kau tak memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepadaku agar aku bisa membantumu!"


Ari yang terlihat tak sabar akhirnya mengeluarkan unek-unek yang bersarang di dadanya. Ia sangat tak habis pikir dengan sikap Desi.


Desi mendongak lalu menatap Ari yang kini menahan amarah dalam dadanya. Pria itu terlihat memijat keningnya lantaran stress.


" Sebenernya, ayah dari bayi ini adalah..."


Tyo dan Ari yang semula menunduk kini mendongak kembali manakala bibir Desi kembali mengeluarkan suara.


" Adalah siap?" sahut Ari tak sabar.


" Adalah tuan Hendra mas!" jawab Desi dengan wajah yang sangat ketakutan.


Duar!!!!


Ya, Desi baru saja melanggar perjanjian-perjanjian dengan Hendra Gunawan saat ia mengungkapkan kebenaran itu pada Ari juga Tyo.


Tapi mau bagaimana lagi, dia tak memiliki banyak pilihan. Ia juga kasihan melihat Ari menjadi korban kebohongannya.


Ari seketika membeku dengan isi dada yang mendadak tersulut bara api kemarahan. Sudah cukup, binatang berwujud manusia itu benar-benar tidak bisa di diamkan.


" Mas Ari, mas mau kemana? Tolong jangan menemui orang itu mas. Orang itu sangat berbahaya!" Desi yang menangis kini berusaha melarang Ari yang langsung membalikkan badannya dengan wajah penuh kemarahan.


" Tyo, aku titip dia. Aku harus menyelesaikan semua ini sekarang juga!" kata Ari dengan gigi gemelutuk.


Tyo yang tak pernah melihat wajah Ari semarah itu, kini hanya bisa mengangguk.


" Mas Ari, jangan pergi! Mas Ari!"


"Tuan tolong jangan anda biarkan mas Ari pergi, tolong saya tuan!" Tyo yang kini lengannya di tarik- tarik oleh Desi hanya bisa menatap muram.


Meski ia tak tahu seperti apa Hendra Gunawan , tapi melihat orang sediam Ari yang kini menjadi murka, jelas menegaskan jika pria bernama Hendra Gunawan itu akan dibuat menyesal setelah ini.


" Maaf, tapi aku rasa Ari pasti tahu apa yang harus dia lakukan!"


Maka Desi seketika tak percaya demi melihat Tyo yang malah mengunci pintu ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2