
...🌻🌻🌻...
...Flashback On...
Beberapa jam sebelum Al ke Mall
" Ehh, tunggu dulu. Aku punya foto mereka. Aku sengaja foto pas mereka jalan menuju ke warung buat aku jadikan story' IG!"
Puri nampak girang demi teringat akan idenya yang ia rasa cemerlang itu. Merasa bangga karena ia sempat mengabadikan Superwoman itu menggunakan ponselnya untuk ia pamerkan kepada khalayak di dunia mayanya.
Yeah, that's mine!
Al yang juga sangat berminat untuk melihat siapa orang yang telah berjasa menyelamatkan adik kesayangannya itu, kini nampak mendekat ke samping adiknya. Terlihat penasaran.
" Nah, ini dia. Gak terlalu jelas sih, soalnya dia kayak buru-buru gitu. Tapi aku ingat kok orangnya! "
DEG
" Apa? Kenapa wanita itu?"
Mungkin jika biji mata Al itu memiliki kaki, pasti mereka sudah berhamburan berlarian saking terkejutnya.
Ya, Al benar-benar syok saat melihat foto Dhisti bersama seorang wanita lain ada di layar ponsel adiknya. Kebetulan macam apa ini?
Membuatnya benar-benar tak percaya.
Usai mengetahui jika alasan barang-barang aneh itu ada di jok mobilnya lantaran sebuah kebaikan, Al turut berbangga terhadap adiknya.
" Kenapa aku sering di pertemukan dengan wanita galak itu. Astaga!"
" Woy, malah bengong!" Puri menyenggol tubuh kakaknya yang benar-benar tampak kaget.
" Mana sih, coba Mama lihat!"
Mama yang penasaran turut meminta ponsel Puri untuk di tunjukkan kepada suaminya.
" Andai kita tahu rumahnya, kita pasti bisa berterimakasih sama dia Ma!" Suami Nyonya Hapsari bahkan ingin memberikan compliment untuk wanita yang menolong anak bungsunya itu.
" Yah.. sayangnya aku nggak tanya tadi. Orang namanya aja aku nggak tau!" Cetus Puri dengan wajah murung penuh sesal.
Membuat Al tercenung.
" Aku bahkan sudah pernah tidur di kursi miliknya!"
...----------------...
__ADS_1
Usai mengetahui jika Dhisti merupakan orang yang berkontribusi heroik terhadap adiknya, entah mengapa ia ingin menemui wanita itu untuk berterimakasih. Berniat ingin berterus-terang saja soal siapa dirinya. Membuat Al bersemangat memacu kendaraannya menuju cafe Idho.
Laki-laki yang malam itu mengenakan pakaian casual itu tampak menjadi pusat perhatian di cafe milik Idho. Pria memukau yang selalu terlihat tampan di segala suasana itu benar-benar bisa membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan penuh minat.
" Saya malah kuatir anak-anak nanti salah fokus ke anda Pak daripada materinya Pak!" Kelakar salah satu perwakilan kampus yang malam itu sengaja berjanjian bersama Alsaki.
Membuat Al turut tergelak mengimbangi.
" Kalau itu diluar kendali saya Pak!"
Bercengkrama hangat.
Begitulah Al dihadapan pria yang usianya lebih tua darinya. Usai mengobrol panjang lebar dan muncul mufakat atas pertemuan mereka, kedua orang itu saling berjabat tangan sebagai penegas jika obrolan mereka telah deal.
Al yang malam itu telah memungkasi pertemuannya dengan orang dari pihak kampus di cafe Idho, sangat berharap bisa bertemu dengan Dhisti. Bersiap untuk mengakui siapa dirinya sebenarnya.
Namun yang di harapkan malah tak menunjukkan batang hidungnya. Membuatnya kecewa.
" Kan udah gua bilang. Dia itu part time aja disini!" Seru Idho kala mereka tinggal berdua saja. Merasa semakin heran karena tak biasanya Al tertarik kepada wanita.
" Ngomong-ngomong, ngapain sih lu nyariin Dhisti?"
Al langsung belingsatan. Bagaimana ini? Selain ingin mengucapkan terimakasih, ia saja juga tidak tahu mengapa dirinya merasa begitu ingin bertemu. Padahal, jika mereka bertemu, mereka pasti akan lebih sering berdebat.
" Nanya doang! Gak boleh nanya?"
Idho hanya menggeleng seraya menyebikkan bibirnya tak mempercayai. Jelas melihat ada yang di sembunyi oleh Al.
" Pasti sekarang dia masih ada di mall itu, tadi siang dia kan masih ada di jalan nolongin Puri. Pasti dia masuk siang!"
Membatin seraya meyakinkan diri soal keberadaan Dhisti. Selain sudah gila, Al sepertinya juga merasa ada yang aneh dalam dirinya. Tentang mengapa, ia yang selalu kepikiran dengan wanita itu.
Semua atribut yang biasa ia gunakan untuk berkamuflase ia lepas. Ia ingin tahu reaksi Dhisti jika tahu bila dirinya bukan orang biasa.
Tapi, ia mendadak teringat sesuatu. Apa Dhisti nanti tak akan berubah saat mengetahui jika dia merupakan Alsaki yang terkenal itu? Mengingat Dhisti sungguh sangat kesal dengan sosok Alsaki.
"Kau benar, pria itu sungguh di puja-puja disana, tapi orang sepertiku ini yang harus membereskan kekacauannya. Bahkan para wanita menjadi sering lama-lama di toilet dan membuat pekerjaanku menjadi ganda!"
" Memangnya apa hebatnya dia? Untungnya aku tidak suka dengan para artis atau sejenisnya. Aku kadang juga heran dengan mereka, apa yang mereka dapatkan dari menjerit dan berteriak seperti itu. Apa pria bernama Al itu akan menggubrisnya? Sungguh halu yang kebablasan!"
Ucapan Dhisti saat mereka pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu membuat Al termenung selama beberapa saat. Gencar berpikir sebab yang membuatnya tertarik kepada Dhisti adalah sikap apa adanya wanita itu. Dan sialnya, ia harus mengakui jika ia sangat penasaran dengan wanita itu.
" CK, beraninya dia membuatku bingung seperti ini!" Menggerutu namun masih meraih topi serta masker itu untuk ia pakai. Damned!
BRAK!
__ADS_1
Pintu yang telah tertutup, menegaskan jika pria itu benar-benar akan menemui cleaning service itu dengan keyakinan.
Setibanya di dalam, para wanita yang hendak menutup semua aktifitas di dalam gedung itu tak menyadari akan kemunculan satu orang yang berjalan penuh kharisma.
" Iya aku tadi lihat dia di panggil Pak Ramdan. Duh gak tau deh bikin kesalahan apa dia!"
Kasak-kusuk bernada gunjingan itu membuat Al membuka telinga lebar-lebar.
" Lagian si Dhisti sih pakai nyuruh Mbak Nita pulang, kan jadi runyam urusannya!"
" Tau tuh, masih jadi karyawan rendahan aja udah sok diktator!"
Mendengar nama Dhisti yang di sebut-sebut oleh para wanita berstoking hitam itu, membuat Al semakin mempercepat langkahnya.
" Dimana wanita bernama Dhisti!"
DEG
Membuat sekumpul wanita bercepol itu seketika terkejut.
" Tuan, mall sudah akan tutup. Sebaiknya and...."
" Tu- tuan Alsaki!"
Wanita-wanita itu langsung terkejut sesaat setelah Al menarik masker yang dia kenakan lalu menatap mereka semua dengan wajah datar. Membuat ucapan wanita tadi menguap percuma begitu saja.
" Saya mencari Dhisti. Dimana dia?"
Alih-alih menjawab, kesemua wanita yang ada tampak saling bertukar pandang. Syok, terkejut, serta bingung. Kenapa mencari Dhisti?
"Apa kalian tidak mendengarkan aku!"
Kesemua orang yang masih terbengong-bengong itu lagi-lagi terlonjak kaget demi suara bass yang naik oktaf. Membuat semua wanita itu kesulitan menelan ludah.
" Ada di ruangan Pak Ramdan!" Sahut salah seorang yang semula menghalau Alsaki.
" Dimana Fery? Siapa Ramdan?"
Menanyakan keberadaan Fery si pemilik mall yang merupakan sahabatnya. Membuat di perempuan yang mencibir Dhisti tadi semakin ciut nyali.
" Di-di lantai paling atas!"
" Antar aku kesana!"
...Flashback End...
__ADS_1