Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 34. Seringai untuk wajah pucat


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dengan napas yang tersengal serta keringat yang membanjiri punggungnya, Dhisti bersembunyi di balik kolong jembatan. Tenaganya benar-benar terkikis habis


Ia kini mencampakkan masker yang semula membekap sebagian wajahnya, lalu mengaduk isi ransel guna mengambil sisa air dalam tumbler miliknya.


Glek Glek Glek


Meneguk dengan kontan sebab tenggorokannya kering terserang rasa haus yang teramat.


" Mbak!"


" Uhuk- uhuk!"


Ia berjingkat kaget seraya tersedak saat sebuah suara muncul di sertai tepukan tangan di pundaknya. Membuat ia terbatuk-batuk.


" Sauki?" Dhisti terkejut sembari mengusap mulutnya yang kembloh karena air, demi melihat bocah yang ia kenali.


" Sama siapa kamu disini?" tanya Dhisti resah. Memindai tampilan buthek si Sauki yang tiba-tiba nongol.


" Sendirian mbak. Ketiduran tadi!"


Bocah kurus, kumal, dan berbaju lusuh dengan kancing tak lengkap itu tampak nyengir kala menjawab. Bocah yang paling besar diantara anak-anak jalanan yang sering Dhisti dan Inka urus itu terlihat baru bangun.


Dia dekil dan kotor, namun sorot matanya teguh, berani. Membuat orang terkesan. Meski segala hal yang melekat pada anak itu tampak menyedihkan.


" Kok mbak Dhisti ada disini?" sinar jernih dan polos itu membidik Dhisti bersama pertanyaan yang susah-susah gampang.


" Aduh, jawab apa aku?"


" Emmm, tadi ada orang gila ngejar-ngejar mbak. Mbak takut, terus sembunyi disini deh!" beralibi guna menghindari kecurigaan Sauki.


" Udah malam, kita balik yuk! Kamu jangan sering-sering tidur disini. Kalau capek langsung pulang. Banyak orang jahat disini Ki. Anak-anak yang laen gimana? Sehat semua kan?"


Menatap Sauki demi menyadari jika dia memang sudah lama tak berkunjung. Apa mau dikata, selepas ia resign dari mall itu pendapatnya memang berkurang.


" Sehatnya kita ya begitu mbak!"


Dhisti mengangguk. Pemisah anak-anak jalanan itu dengan nasib buruk hanyalah sebuah bangunan terlantar yang jika sewaktu-waktu direbut oleh pemiliknya atau di gusur pemerintah, maka tamatlah riwayatnya.


" Tapi tenang, kita beberapa hari ini banyak dapat duit. Banyak caleg yang kampanye jadi banyak sampah plastik berserakan yang bisa kita jual!"


mata yang lugu dan tampak meriah itu, memancarkan kepolosan yang berbaur dengan seribu kebaikan.


Membuat mata Dhisti berkaca-kaca.


...----------------...


Sinar horizon hangat yang menembus celah sempit di jendela kamar Dhisti, membuat sepasang bola mata itu mengerjap. Berlari dari kejaran para manusia "suci" semalam membuat Dhisti merasa sakit.


Saat bangun, ia teringat jika hari ini kakek pasti sudah pergi untuk mengikuti senam lansia di rumah ketua satuan lingkungan. Membuatnya bermalas-malasan sebab jatahnya hari ini adalah masuk siang.


Namun matanya menjadi terang benderang kala ia teringat jika tak ada sebutir nasi pun dalam rice cooker. Ia sontak bangkit demi mengingat jika pasti dapurnya masih kosong melompong, alias belum ada makanan untuk ia makan nanti.


Dengan sigap, Dhisti membasuh wajahnya, menggosok gigi, menguncir rambutnya asal, lalu dengan cekatan ia memasak menu ala kadarnya.


Usai meletakkan hasil masakannya ke atas meja kayu sederhana bertaplak plastik, gadis itu sejurus kemudian membereskan kekacauan di dapur yang telah ia buat dengan cepat pula. Sama sekali tak ingin membiarkan kakek yang sering linu itu untuk bekerja di dapur hari ini.


" Mmmm beres juga akhirnya. Aku tak mandi sekalian lah. Bau banget!" bergidik ngeri usai mencium aroma tubuhnya sendiri yang berbau asap kompor. Lagipula, mandi itu bisa menghilangkan rasa lelah loh.


" Lah, dimana kalungku?" Ia bergumam resah saat menyadari kalungnya tak lagi melingkari lehernya.


Cepat-cepat menyelesaikan kegiatan mandinya, lalu dengan grasak-grusuk mencari kalung itu dengan perasaan risau.


" CK, dimana lagi!" gumamnya sambil terus mengingat-ingat.


" Sial, apa jangan-jangan jatuh pas aku lari semalam? Duh gimana dong. Mana itu kalung peninggalan Ibuk!"


Terduduk murung tanpa bisa berbuat apa-apa.


Gadis itu sejurus kemudian mengoleskan pelembab dan memakai lipthin serta membiarkan rambut basahnya menjuntai begitu saja. Tak memiliki gairah untuk mempercantik tampilan demi secuil rasa tak enak akibat memikirkan liontinnya.


Beberapa detik kemudian, ia turut menatap muram sepiring omelette yang saat menggoreng agak gosong. Terlalu asik berbalas chat dengan Inka membuat masakan itu nyaris tercampakkan.


Tapi bukan Dhisti namanya jika tak mensyukuri apa yang dia punya. Gadis itu terlihat bersiap melahap makanan versi gelap, hasil karya pemudi bengal yang risau akibat sebuah kalung yang hilang.


Namun, saat sendok itu sudah berada di depan mulutnya, sebuah ketukan membuat niatnya tertunda.


TOK TOK TOK


Menengok sebentar dan memprediksi jika itu adalah Inka.


" Masuk aja In!" Serunya loyo sembari melahap omelette yang ada di ujung sendoknya.


TOK TOK TOK


" CK, kadang-kadang emang minta di hajar ni anak!" menggerutu dengan mulut penuh saat pintu itu tak berhenti diketuk.


TOK TOK...


CEKLEK!


Deg!

__ADS_1


" Tidak sopan sekali membiarkan tamu mengetuk hingga tiga kali!"


" Kau?" memekik serta membulatkan mata demi melihat Alsaki yang kini berdiri dengan wajah datar di muka rumahnya.


" Kau sedang makan ya, baunya lumayan enak!"


Dhisti langsung membeku demi keterkejutan yang teramat. Sama sekali tiada menyangka jika pria itu akan datang kerumahnya.


" Dan, kau bisa pergi. Kemarikan kunci mobilnya!"


" Baik bos!"


" Apa? apa-apaan ini? Kau mau apa woy?"


Dhisti melolong demi melihat Dante yang menurut dan kini berjalan kaki keluar dengan wajah datar.


Dhisti memprediksi jika pria itu mungkin saja membenci hidupnya sendiri karena menjadi anak buah Al yang selalu semena-mena.


" Sudah aku bilang jangan menggangguku, kenapa kau kemari?" cerca Dhisti sembari menghalangi Al untuk masuk.


" Wah kau sedang makan omelette ya. Kakek mana, aku sudah ada janji dengannya untuk check up hari ini!"


Alih-alih menjawab, laki-laki yang pagi itu mengenakan pakaian non formal dan tampak begitu tampan, malah ngeloyor masuk dan membuat Dhisti terlempar ke pintu kayu dengan wajah mendengus sebal.


" Aku sudah janjian dengan kakek. Dimana beliau?"


" Apa? janji apa?" menatap Al dengan wajah bingung sebab ia memang tidak tahu apa-apa.


" Rahasia pria!" bisik Al yang kini mencondongkan tubuhnya persis di depan Dhisti. Membuat wajah mereka kini bertemu dengan jarak yang begitu dekat.


Dhisti seketika mengalihkan pandangannya demi dada yang seolah akan meledak detik itu juga, kala hangat napas harum Al menerpa wajahnya.


Orang ini!


"Kau tidak menawariku?" Al duduk lalu menyilangkan kakinya sebelah. Menatap Dhisti yang terlihat kesal.


" Apa yang orang ini rencanakan dengan kakek. Kenapa aku tidak tahu apa-apa?"


Melihat Dhisti yang masih keukuh membisu, Al memilih memindai alamari kuno, yang menampung beberapa foto-foto dalam pigura, dimana Dhisti kecil berfoto bersama kedua orangtuanya.


" Wah, ini fotomu saat kecil ya? Kau memang sudah jelek dari kecil. Pantas saja mantanmu menyelingkuhimu!" tergelak saat manik matanya menatap foto ukuran 4R yang berada di bufet tua milik Dhisti.


" Apa kau bilang?" Dhisti yang kesal sekonyong-konyong meraih pigura itu namun tinggi Al yang melebihi tinggi badannya jelas bukan perkara mudah.


" Kemarikan, kenapa kau suka sekali membuliku, hah? Pergi sana, aku tidak mau berurusan denganmu lagi, aku..."


" Aaaa!"


BRUK!


Alih-alih marah, laki-laki beralis tebal itu malah tersenyum penuh arti saat Dhisti memejamkan matanya karena takut.


" Merk sampo apa yang kau pakai, hm? Wanginya lumayan!"


Dhisti spontan membuka matanya dan langsung mendelik, demi melihat Al yang malah berbaring santai sembari melipat kedua tangannya kebelakang kepala, kala ia rebah di dada bidang itu.


Oh no!


" Good morning Dhis.."


" Ti!"


" Aaaa, apa yang kalian lakukan?"


Suara terjeda di sertai pekikan jerit syok itu, mendadak terdengar dari gawang pintu dan semakin membuat kesialan Dhisti pagi itu makin sempurna.


" Inka?"


.


.


Kini, ketiga manusia itu duduk melingkar di meja ruang tamu Dhisti dengan wajah yang bervariasi. Dhisti yang kesal, Al yang emang gue pikirin, serta Inka yang belingsatan karena melihat sang idola.


"Jadi...kamu teman Dhisti?" tanya Al yang berhasil memecah kesunyian yang semula tercipta.


Inka yang terpesona dengan ketampanan Al tak henti-hentinya menatap wajah dengan alis tebal dan rahang kokoh itu sembari mengangguk.


" Apa kau juga suka gym? Ototmu besar sekali?"


Al tergelak menatap Inka yang ceplas-ceplos melebihi Dhisti. Namun yang punya rumah justru kian kesal saja dengan Inka yang pagi itu telah berkhianat menjadi sekutunya.


" Aku iri dengan Dhisti tuan. Dia bisa kenal denganmu?" seru Inka dengan wajah yang tak henti mengagumi.


" Kita juga bisa berteman. Panggil saja aku Al! Namamu Inka kan?"


Yang di sebut seketika merasa nyawanya telah tercabut dan terlempar ke nirwana, saat seorang Alsaki menyebutkan namanya dengan fasih.


" Aaa, anda kau bahkan menyebut namaku. Astaga Dhis, aku tidak sedang bermimpi kan?"


" Hentikan omong kosongmu In. Habiskan makananmi dan ayo kita pergi!" sahut Dhisti yang makin sebal dengan tingkah Inka yang bodoh itu.


" Pergi, kalian mau pergi?"

__ADS_1


Inka mengangguk. " Kamu mau oper..."


Dug!


" Arrgh!"


" Sakit tahu Dhis!" sengit Inka demi rasa sakit yang diberikan oleh sahabatnya itu.


Dhisti terpaksa menendang tulang kering Inka sebab gadis itu nyaris saja keceplosan akan ucapannya. Membuat Al memicingkan matanya.


" Oper kerjaan. Maksudnya kita nyari kerjaan tambahan!" ralat Inka seraya nyengir. Sadar jika mulutnya yang rusak itu nyaris membuat mereka terancam.


" Tapi Al, aku tidak menyangka jika orang sepertimu mau berada di lapisan masyarakat yang di diami oleh manusia macam kami!"


Dhisti membiarkan Inka menginterogasi Alsaki. Ia memang tak pernah berbicara serius dan normal dengan laki-laki itu. Dan entah kenapa, ia juga penasaran akan jawaban Al selanjutnya.


" Aku dari dulu gak milih-milih teman. Sama siapa aja aku mau bergaul!"


Itu benar, buktinya ada pada Ridho.


" Aku benar-benar gak nyangka seorang Alsaki duduk di hadapanku dan makan omelette Africa bersamaku. Oh astaga!" mabuk kepayang demi melihat wajah ganteng Al.


Dhisti kembali melirik kesal saat sahabatnya malah menamai makanan gosong karyanya dengan nama benua hitam di antah berantah sana.


Namun Al justru tergelak. Pria itu benar-benar terhibur dengan kesederhanaan, dan keceplosan Inka. Entahlah, laki-laki itu kini benar- benar makin kerasan untuk berada di lingkungan yang apa adanya itu.


" Lu mau kemana?" Inka bertanya saat Dhisti sudah menyandang tas ranselnya.


" Mau ngepet. Kerja lah, kamu kesini gak niat buat ngobrol doang kan?" sindir Dhisti dengan tatapan yang mengiris.


Inka yang tahu air muka Dhisti yang begitu kesal kini hanya bisa meringis.


" Lah tamu elu gimana?"


" Ya biarin, dia kesini buat ketemu kakek kok!" tukasnya dengan wajah jutek.


Al bersedekap menatap Dhisti yang memang terlihat kesal. Terlihat memperhatikan sikap yang tak biasa itu.


" Kenapa gadis itu terlihat benar-benar marah? Tidak biasanya begini."


" Lu kenapa sih, pagi-pagi marah-marah begini. Cepat tua kapok lo!"


Namun yang di ejek hanya diam. Dhisti hanya ingin melakukan apa yang Luna perintahkan. Lagipula, ia tak ingin mencari masalah. Ia sadar siapa dirinya. Tak ingin menimbulkan masalah yang berpotensi membuat dirinya susah.


DRRT!


DRRT!


" Ah elah siapa lagi ini!" gumam Inka manakala ponselnya bergetar.


📞 Brio calling...


" Tunggu bentar ya, aku mau angkat telepon!"


" Halo, ya Bri gimana...?"


Dhisti mengangguk dengan posisi masih bersidekap kala Inka pamit. Namun, ia yang masih diam menunggu Inka, kini membuang muka manakala ekor matanya melihat Al tampak berjalan ke arahnya.


" Kenapa kau seperti menjaga jarak denganku,hm?"


DEG


Aroma parfum maskulin Al membuat tubuh Dhisti gemetar. Mau apa dia?


" Mau apa kau?"


" Mau bertanya!"


Kini, keduanya saling menatap dengan posisi dekat.


" Apa aku membuat kesalahan? Katakan dimana letak kesalahanku?" seru Al menatap tajam Dhisti yang harap-harap cemas.


" Ngomong apa sih dia?"


" Kamu mau aku ngadu ke Idho kalau..."


Membuat Dhisti menatap matah ke arah Al yang selalu berusaha mengintimidasinya.


" Mau apa, ngadu kalau aku karyawan gak baik. Ngadu aja sana, kenapa sih dari awal kamu itu suka ganggu aku. Aku udah bilang kalau kita ini sudah imp..."


Cup


Mungkin, jika mata Dhisti memiliki kaki, pasti detik itu juga dua bola matanya akan berlari keluar dari wadahnya demi rasa terkejut saat bibir dingin itu tiba-tiba menempel kepada bibirnya.


What the hell?


Dan keterkejutan Dhisti yang begitu kentara, membuat Al menyeringai.


" Kau kaku sekali, kau pasti tidak pernah dicium oleh kekasihmu itu ya?" sindir Al menyeringai saat melihat Dhisti yang mendadak pucat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2