
...🌻🌻🌻...
Dan keanehan segera mencuat manakala Desi tak kembali ke rumah besar itu hingga kurun waktu 24 jam. Puri dan Nyonya Hapsari yang di lapori oleh mbok Enok turut khawatir. Ponsel Desi juga tak bisa merasa hubungi.
Membuat praduga - praduga yang negatif semakin bermunculan.
" Apa pakaiannya ada mbok?" Nyonya Hapsari yang semakin resah mencoba mengusut secara detail. Takut kalau-kalau Desi berniat kabur dari rumah itu.
" Ada nyonya. Dia gak bawa apa-apa. Sepertinya yang dia bawa hanya dompet. Koper juga tanya juga masih ada disini!" tutur wanita uzur itu dengan wajah resah.
Pikiran yang tidak-tidak juga semakin merajalela di dalam kepala Puri. Apa karena dia mengajaknya berbicara empat mata beberapa waktu yang lalu? Tapi bukankah dia hanya sekedar bertanya?
Hendra Gunawan yang mendengar hal itu dari balik dinding sektor mengepalkan tangannya. Sejurus kemudian pria itu terlihat angkat kaki dari tempat yang semula ia gunakan untuk berdiri.
Sementara itu, Desi yang sudah dua hari ini mendapat tempat tinggal di sebuah kawasan marjinal, harus berjuang dengan lebih ekstra sebab banyak pasang mata yang menatapnya sinis.
Perut yang membesar ditambah suami yang tak bersamanya, jelas menjadi penegas bila Desi bukan wanita baik-baik. Namun sang pemilik kost tidak mau ambil pusing soal itu. Baginya yang terpenting adalah cuan.
Lagipula, nyaris sembilan puluh persen penghuni kost disana merupakan manusia yang bekerja di dunia malam.
Hari berlalu dengan cepat. Dua Minggu ini Desi yang semakin risau sebab tabungan yang ia miliki kian tipis, memilih untuk menjadi buruh cuci para wanita tuna susila itu.
Posisinya kini benar-benar sulit, ia tak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu. Perutnya yang makin hari makin membesar jelas bukan perkara gampang. Apalagi, ia tahu orang di kampung itu seperti apa.
" Des, ini buat kamu. Tadi aku beli lebih. Kamu belum makan kan?" seru Selinda yang pagi ini baru pulang dari berjualan diri.
Desi tak mengira wanita yang bekerja pada sebuah bisnis sama esek-esek itulah yang kerap membantunya. Walau begitu, Desi masih menceritakan segala gamblang soal sebab musabab dirinya hamil.
Pintu serta jendela kost ia tutup sebab angin bertiup cukup kencang malam ini. Di tambah, hujan mulai turun dan kilat mulai menyambar silih berganti.
Desi merebahkan tubuhnya yang setiap hari berteman sunyi dan ketidakpastian itu. Matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya, dengan kondisi yang tak bisa berhenti memproduksi cairan bening itu.
Ya, Desi menangis. Merasa bila hidupnya kini samar bahkan cenderung gelap. Ia mengelus perutnya dengan perasaan pilu. Meski ia kerap berlaku judas, namun sejatinya ia bukanlah orang yang jahat.
Ia memilih kabur dari rumah terkutuk itu sebab ia begitu benci, jijik dan tak tahan lagi dengan perlakuan pria biadab itu. Jika dia tidak kabur, nyonya Hapsari yang berhati baik itu pasti tidak akan mengizinkannya pergi.
__ADS_1
Dan beberapa saat kemudian, dari riuhnya rintik hujan yang masih mengguyur kawasan itu, sayup-sayup ia mendengar ibu kostnya berbicara dengan seseorang.
" Tumben ibuk nrima tamu malam-malam begini?"
Merasa terusik Desi menjadi penasaran dengan siapa ibu kostnya berbicaranya malam-malam begini.
Hingga, tangan yang telah mendorong jendela itu hingga terbuka, membuat matanya membelalak manakala melihat Hendra Gunawan ada bersama ibu kostnya.
Astaga!
"Ba- bagiamana dia bisa tahu?" gumam Desi yang kini langsung panik dan buru-buru mengambil tas yang berisikan beberapa uang dan ATM yang masih ia miliki.
Perempuan itu sejurus kemudian bergegas menuju ke arah pintu belakang dimana ia pernah melihat jalan menuju ke jalan.
Ia tak sempat membawa apapun selain tas hitamnya yang baru ia beli dari pasar beberapa hari yang lalu. Tubuhnya gemetaran tak karuan saat ia berjalan dalam durasi yang mungkin saja kian terkikis itu.
Dengan jantung yang semakin berdebar, ia membuka gerendel kunci itu dengan tangan yang tremor. Pikirannya kini hanya diliputi oleh ketakutan. Ia tak mau lagi di tangkap oleh pria brengsek itu, tidak mau!
Persetan dengan uang kost yang baru saja ia bayar dua hari yang lalu. Keselamatannya kini lebih penting dari sekedar uang lima ratus ribu.
Saat hendak keluar, ia kaget sebab pintu yang sering digunakan oleh Belinda untuk membuang sampah itu ternyata di kunci. Membuat Desi semakin panik.
Hingga, ia yang teringat bila ia mengenakan sebuah penjepit rambut langsung mencabut benda itu dan menggunakannya untuk membuka gembok.
Ia berusaha mengotak-atik sebisanya dan berharap Tuhan masih mau menolongnya kali ini.
Hingga beberapa detik kemudian.
KLIK
Yes! Gembok sialan itu akhirnya terbuka juga. Desi tersenyum lega. Ia kini melangkah melewati selokan dan tak memperdulikan aroma yang begitu menyiksa dirinya.
Di bawah guyuran hujan yang selain membuat tubuhnya menggigil, ia terus berjalan sebisanya. Wanita nestapa itu berjalan hingga tembus ke jalan raya.
Tubuhnya mendadak terasa gemetar, kepalanya juga sakit, lututnya begitu lemas. Ia bahkan belum sempat makan apapun malam ini.
__ADS_1
Hingga, saat pandangannya tiba-tiba kabur, lututnya yang sedari tadi bergetar tak lagi mampu menahan bobot tubuhnya.
Dan sejurus kemudian.
CIT!
" Sial!" pekik seorang pria yang benar-benar terkejut saat seorang wanita yang menyebrang dengan tiba-tiba, sekonyong-konyong pingsan.
Desi yang kelelahan seketika ambruk dan membuat seorang pengendara mobil menginjak pedal remnya secara mendadak.
Pria itu langsung turun dan membanting pintu mobilnya guna memastikan kondisi Desi yang tergeletak tepat di atas aspal di depan mobilnya.
Dan saat laki-laki itu membalikkan tubuh Desi, maka terkejutlah dia demi melihat wajah yang ia kenali.
" Desi?"
Pekik Ari yang membelalakkan matanya dengan hati terkejut. Membuat seorang pria lain yang kini berada di dalam mobilnya bersamanya turut turut guna memastikan keadaan.
" Apa dia mati?" tanya seorang pria kepada Ari yang masih syok karena melihat Desi dalam keadaan memprihatikan.
Kaki tanpa alas, dan bibir yang mulai membiru.
" Tyo, bantu aku membawa perempuan ini kedalam mobil!" kata Ari panik yang tak sempat menjawab pertanyaan teman barunya itu.
" What? Are you crazy?" sela Tyo yang benar-benar bingung.
" Tidak ada waktu, nanti aku jelaskan. Ayo cepat, denyut nadinya sangat lemah!" kata Ari dengan wajah pias yang membuat pria berkumis tipis itu akhirnya mau membantu Ari.
" Apa kau mengenal dia?" tanya Tyo kembali sesaat sebelum ia hendak mengangkat tubuh kuyup Desi.
.
.
.
__ADS_1
.