Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 78. Menjadi team sukses pernikahan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Hari berlalu dengan cepat, Puri yang sudah menyelesaikan pekerjaannya bersama rekan-rekannya kini juga sudah kembali ke kota asalnya dan tengah di tunggu oleh Dhisti juga Alsaki di terminal kedatangan bandara.


" Nah, kenapa lagi dia, kenapa wajahnya monyong begitu?" gumam Alsaki yang bisa melihat dengan jelas wajah adiknya yang kusut.


Dhisti reflek mengikuti arah pandang Alsaki yang bergumam dari balik maskernya. Dan benar saja, wajah Puri memang tampak bermuram durja.


" Iya ya, tumben si Puri kusut gitu?"


" Woy!" seru Alsaki yang melihat adiknya bablas melewatinya. Jelas menegaskan bila ada yang tidak beres.


Yang di panggil mungkin saja akan terus berjalan hingga ke lobi luar bila Alsaki tak berseru seperti itu.


" Kak, Al?" Puri menoleh dan langsung meringis menatap kakaknya yang menggelengkan kepalanya dengan cuping hidung yang sudah mekar.


" Dhisti, ku juga ikut menjemput ku?" rona wajah Puri langsung berubah saat melihat Dhisti yang turut menjemputnya.


Gadis itu langsung memeluk calon kakak iparnya. Merasa senang karena mendapatkan perhatian combo.


" Kamu gimana kabarnya Pur?" bertanya sambil saling melepaskan pelukan.


" Kabar kurang baik!" sahutnya menghela napas.


Membuat Alsaki langsung memicingkan matanya. " Ada apa lagi sih?"


Yang di tanya tak berminat menjawab.


" Jangan di tanya dulu deh ah. Makan dulu yuk, aku lapar!"


Mau tak mau, Alsaki akhirnya menuruti permintaan adiknya yang super rewel itu. Dari bandara, mereka akhirnya melesat menuju ke restoran untuk makan siang. Lagipula, ini memang sudah waktunya.


" Sebenarnya ada apa dengan adikmu, dia terlihat seperti orang kerasukan saat makan!"


Dhisti berbisik sambil melihat tingkah Puri yang kalap saat makan. Alsaki yang melihat hal itu bisa menyimpulkan jika adiknya sedang kesal terhadap seseorang. Dan sejurus kemudian, benar dugaannya, puri berlari menuju toilet dan memuntahkan semua isi yang ia makan.


Begitulah Puri jika ia sedang dalam mode hati yang teramat kesal.

__ADS_1


Sekembalinya ia dari toilet, dua orang yang masih duduk dengan wajah khawatir itu hanya bisa menatap Puri dengan rasa kasihan.


" Udah semua?" tanya Al yang sudah hafal kebiasaan adiknya.


Puri balas mengangguk. Dhisti yang melihat hal itu hanya melongo, tak tau apa yang di maksud Alsaki.


" Memangnya kalian kapan nikah?" bertanya lemas dengan wajah kusut sembari berusaha meraih minuman kembali.


" Nanya kapan kita nikah tapi wajah kamu udah kayak terong kena gramason!" cetus Dhisti dan membuat Alsaki langsung terkikik-kikik.


" Ya sory!" balas Puri singkat.


" Aku bakal nikah tapi gak pakai pesta besar Pur. Ngundang keluarga terdekat aja. Kamu tahu sendiri kan, wartawan pasti gak akan jera buat cari liputan yang aneh-aneh. Lagipula, papa..."


" Udah jangan di terusin. Aku sudah paham. Nanti aku calling si Tince buat urus semuanya. Belum booking gaun segala macam?" langsung berubah air mukanya saat tertarik dengan isi bahasan.


" Ya belum lah, belum apa-apa malah. Tapi aku udah pesen cincin di Dananjaya's jewelry kemarin!"


" What, serius? Wiidiihhh gaya banget. Jadi kakak udah tahu tempat itu? Padahal aku baru mau merekomendasikan itu buat kakak. Emang jos lah kakak ku ini!"


Dhisti akhirnya senang. Puri yang cerewet akhirnya sudah kembali dengan begitu cepat hanya karena membahas soal brand penjual perhiasan kenamaan. Ia tak tahu apa masalahnya. Namun sepertinya, gadis periang itu cenderung sensitif kalau menyangkut soal hati.


" Oh ya satu lagi, nanti aku juga bakal minta tolong si Ari biar bisa nolongin kamu buat riwa-riwi. Anak itu pinter, cekatan dan tanggung jawab. Aku gak mau adikku kenapa-kenapa saat mengemban tugas dari aku nanti!"


What? Apa dia bilang tadi? Ngelibatin Ari?


Mendengar kakaknya menyebut nama Ari. Entah mengapa hati Puri langsung menjadi cerah secerah iklan skincare.


" Oke kalau begitu. Mulai nanti malam aku akan buat list daftar pekerjaan yang musti aku urus. Hah, akhirnya kalian akan menikah juga. Aku bakal seneng banget punya kakak ipar seru kayak kmu Dhis. Emmmmm cepat bikinkan keponakan yang lucu ya!"


...----------------...


Selama empat harian ini, Puri bersama sang Mama sibuk berkoordinasi dengan event organizer yang akan mereka sewa demi kelancarannya jalannya pernikahan kakak mereka. Mengurus pernikahan yang "katanya" sederhana, ternyata tidak sesederhana yang di bayangkan.


Banyak keluarga yang menggunjing wanita yang menjadi pilihan Alsaki, namun pria itu lebih memilih bodo amat sebab kebahagian itu hanya bisa ia rasakan sendiri.


Selain karena kesenjangan sosial, gaya hidup Dhisti jelas juah dari para wanita yang biasa dekat dengan Alsaki termasuk Luna.

__ADS_1


Namun begitulah seorang publik figur. Mau berbuat bagiamanapun, pasti tetap saja akan ada yang menggunjing.


" Ari kok belum nyampek ya? Katanya, kemarin sore sudah berangkat!" gumam nyonya Hapsari sambil menulis beberapa nama tamu. Membuat Puri melirik.


" Belum datang? Apa kena macet lagi?"


" Oh ya Pur, Mama sampai lupa dan belum sempat cerita ke kamu!" meletakkan kacamata yang semula dikenakan, lalu menatap anaknya serius.


Ada apa?


" Dua hari yang lalu Mama minta Ari buat cari satu orang buat bantu-bantu di sini. Bi Inah yang biasa nyetrika baju mengundurkan diri karena ibunya sakit di desa. Pas Mama nelpon Ari, kebetulan dia ada orang yang mau kerja, ya udah mama langsung oke in!"


" Siapa Ma?" bertanya dengan rasa ingin tahu.


" Mama lupa namanya, dia perempuan. Ari bilang pas balik kesini sama bawa anak itu. Ari kenal sama orangnya, dijamin baik lah. Yaudah Mama setuju aja karena Ari yang merekomendasikan!"


" Siapa ya? Kok Ari gak cerita ke aku?"


Mengharap diajak cerita padahal Ari saja masih bingung kenapa dia marah kepadanya sejak empat hari yang lalu.


Dan saat mereka kembali sibuk memfilter nama-nama tamu, deru mobil yang datang membuat keduanya menoleh.


" Itu pasti Ari!" cetus Mama.


Alih-alih cuek karena gadis itu masih kesal dan cemburu tidak jelas, ia malah langsung ikut bangun manakala Mamanya hendak menyongsong Ari.


Dan belum saja rasa kekesalan nya hilang, matanya kembali dibuat mendelik saat melihat Desi yang ikut turun bersama di garasi rumah mereka.


" Wanita itu? Jadi dia yang bakal kerja disini?" membatin dengan wajah yang otomatis kembali keruh.


" Nah Pur, itu pasti anak yang di bilang sama Ari kemarin. Gimana menurut kamu, beneran masih muda dia. Bisa jadi teman kamu nanti!"


" Puri nggak mau!" seru Puri yang langsung memekik dan membuat sang Mama langsung menatap kaget.


.


.

__ADS_1


.


Buat yang pingin tahu siapa owner dari Dananjaya's jewelry, baca kisahnya di The love story of single parent. Klik profil author, dan temukan banyak kisah menarik lainnya di sana. See you there 🤗🤗🤗


__ADS_2