Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 107. Barang bukti


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


...Flashback On...


" Tuan, saya mohon tolong jangan anda biarkan mas Ari pergi seorang diri. Anda tidak tahu seperti apa pria itu!" kata Desi yang sudah begitu resah, dengan pikiran yang tidak-tidak.


Tyo yang tangannya di sentuh oleh Desi seketika menjadi speechless. Betapa tangis wanita malang itu benar-benar membuatnya trenyuh.


Tyo kini bimbang. Di satu sisi ia sudah berjanji kepada Ari untuk membantunya dengan cara menjaga Desi selama pria itu pergi. Namun tangis perempuan yang sedang berbadan dua itu benar-benar membuatnya bimbang.


" Tapi aku tidak tahu dimana rumah pria itu!" jawab Tyo yang berada di ujung keraguannya.


Maka Tyo seketika membelalakkan matanya demi melihat selang Infus yang kini di cabut paksa oleh Desi yang air matanya tak mau surut.


" Saya berjanji akan membalas kebaikan anda saat ini nanti tuan. Sekarang saya mohon, mari kita pergi!"


Maka Tyo benar-benar tak bisa lagi menolak permintaan perempuan yang sorot mata penuh dengan sinar pengharapan itu.


...Flashback End...


...----------------...


Beruntung Desi datang tepat waktu. Ia tahu pria pendiam yang jarang sekali berbicara bila tidak perlu itu, jika marah akan sangat sulit di redam.


Mbok Enok yang baru dari kembali menelpon seseorang, turut terkejut manakala melihat Desi yang wajahnya benar-benar pucat. Jelas menegaskan jika sesuatu yang buruk tengah terjadi.


Nyonya Hapsari terpaku manakala menyaksikan Desi yang kondisinya benar-benar pucat dan kurus. Perempuan itu kini berjalan lemah ke arah para manusia yang juga sama terkejutnya itu.


" Des .."


Namun Tyo segera memberikan isyarat mata agar Ari mempercayai apa yang sedang Desi lakukan.


Di detik itu, wajah Hendra Gunawan bagai bulan kesiangan. Pria itu kini menatap tajam Desi namun tak berhasil menyurutkan niat perempuan itu untuk membongkar kebusukan Hendra Gunawan.


" Apa yang dikatakan mas Ari benar nyoya! Saya telah di perkosa oleh tuan Hendra!" ucap Desi dengan tangis pilu dan dada yang masih sesak.


Nyonya Hapsari tampak syok, Puri pun sama. Apalagi, mbok Enok sampai mengelus dadanya demi mendengar penuturan Desi yang membuat semua orang kaget setengah mati.


Hendra yang mendengar Desi angkat bicara seketika mendelik sebab tak mengira jika Desi akan seberani itu, " Apa yang kau bicarakan wanita sundal?"


" Diam kau anjing!" pekik Ari yang membuat Nyonya Hapsari dan Puri semakin terkejut setengah mati sebab Ari rupanya berani mengatakan mantan majikannya itu dengan sebutan binatang.


Mbok Enok hanya bisa menatap muram situasi kacau itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bila petaka ini akan terjadi.


" Kalau kau tidak bersalah, sebaiknya kau tetaplah tenang!" ketus Tyo yang juga geram dengan sikap Hendra Gunawan.


" Omong kosong! Beraninya kalian mem...."


" Papa!"


Suara nyonya Hapsari yang tiba-tiba terdengar dengan nada yang berbeda membuat pria itu kontan terdiam. Bahkan, Hendra tampak membelalakkan matanya saat melihat istrinya kini berani membentaknya.


Saat pria itu kini terdiam, nyonya Hapsari terlihat maju dan mendekat ke arah Desi yang wajahnya masih basah oleh air mata.


" Kau tahu Des, mengatakan sesuatu tanpa bukti merupakan fitnah dan kau bisa di jatuhi pasal karena mencemarkan nama baik orang lain!" kata nyonya Hapsari dengan suara pelan dan seolah hanya ada mereka disana.


" Kalau begitu izinkan saya membuktikannya nyonya!" kata Desi dengan penuh rasa hormat.


Hendra yang mendengar Desi mengatakan hal itu menjadi semakin tersudut. Pria itu juga nampak semakin pucat sebab perasaannya mendadak tidak enak.


Ari, Tyo bahkan semua anggota keluarga yang ada disana seketika tercenung manakala melihat Desi berjalan dengan mata yang semakin deras menuju ke arah belakang.


Tyo yang sepertinya mengenal keluarga itu saat ia melihat wajah Puri, benar-benar tak menyangka bila keluarga setenar itu memiliki sikap amoral.


" Mama omong kosong apa ini, hentikan perempuan gila itu. Setalah dia menuduhku, kenapa semua membuat drama seperti ini? Akan aku pastikan kau membusuk di penjara setelah ini!" ancam Hendra Gunawan yang setengah mati berusaha tidak terpancing meski ia sendiri juga bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Desi.

__ADS_1


" Saya menantikan hal itu tuan. Tapi begitu bukti itu ada, saya pastikan saya yang bakal mengawal anda sampai ke penjara!" kata Ari penuh penekanan dan tatapan yang kehilangan rasa hormat.


Ari menatap Puri sedetik kemudian dan nampak raut penuh kekecewaan yang terlihat. Ari tahu ini merupakan resikonya. Puri pasti saat ini setengah mati membencinya sebab mulutnya benar-benar kurang ajar. Tapi kebenaran tetap harus di kabarkan bukan?


Hendra Gunawan yang melihat Desi menuju ke arah kamar yang bisa mereka gunakan untuk melakukan hal itu, semakin bertanya-tanya.


" Mau apa dia?"


" Kemarilah nyonya. Anda harus melihat hal ini!" teriak Desi dari jarak beberapa meter dan membuat semua orang berjalan menghampiri Desi.


" Apa yang sebenarnya dia lakukan?" Hendra Gunawan semakin membatin resah sebab perasaan yang tidak itu, semakin membuatnya tidak tenang.


Puri yang kini turut berjalan ke arah belakang bersama sang papa, sekonyong-konyong merasa dejavu saat mengingat papanya yang juga pernah keluar dari tempat itu, di satu malam saat ia pulang lembur.


" Anda bisa melihat semuanya disini Nyonya. Tapi sebelum itu, saya meminta maaf karena hal ini akan sangat menyakiti hati anda. Tapi... sungguh, saya tak memiliki daya untuk menolak bahkan sekedar menghindar!"


Duar!


Mata Hendra Gunawan seakan melompat dari tempatnya demi melihat sebuah ponsel yang barusaja Desi keluarkan dari dalam perut boneka beruang besar.


" Brengsek, apa dia merekam kejadian itu?" keresahan itu semakin membuatnya selangkah lebih dekat dengan kehancurannya.


Ari yang melihat hal itu seketika saling melempar tatapan dengan Tyo yang kini tahu bila Desi mungkin telah merekam kejadian itu sebagai barang bukti.


"Apa ini, kau jangan mencari-cari alasan untuk menjebakku? Ma, mama percaya kan sama papa?" kata Hendra yang mulai panik tidak karuan.


" Aku akan segera tahu, harus percaya kepada siapa saat aku selesai melihat video ini. Kepada Papa, atau kepada Desi. Benar kata Ari, papa sebaiknya tenang saja jika memang tidak melakukannya!"


DEG!


Hendra Gunawan seketika geram manakala mendengar jawaban istrinya yang jelas mengindikasikan bila perempuan itu tak percaya kepadanya. Sial!


Nyonya Hapsari mulai membuka ponsel itu dan membuat Desi semakin tertunduk. Desi tak enak hati. Video itu merupakan video asusila yang berisikan dirinya yang tengah di tindih oleh Hendra Gunawan yang biadab itu.


Dan saat nyonya Hapsari kini menonton adegan tak senonoh yang dilakukan oleh suaminya, ia seketika memejamkan matanya lalu mengembalikan ponsel itu kepada Desi dan membuat Puri seketika melepaskan tangannya yang semula terus menggandeng sang papa.


" Ada apa ini? Tidak, wanita itu tak mungkin merekam kejadian itu!"


" Dasar wanita keparat. Kau tidak tahu sedang berhubungan dengan siapa?"


Sadar bila istrinya telah tahu kebenarannya, bara api dalam dada Hendra tiba-tiba membesar dan langsung menampar dan mendorong Desi dengan begitu kerasnya.


" Wanita sundal. Kau yang merayuku sekarang kau membuatku menjadi kambing hitam? Aku menyesal telah mempercayaimu!"


PLAK!


" Argghh!"


" Hey!"


Tyo seketika berang demi manakala melihat Desi tiba-tiba di tampar oleh Hendra Gunawan dan kini tersungkur ke lantai.


" Anjing!"


Ari spontan memekik saat melihat Hendra yang telah berani menampar Desi di hadapannya, bahkan membuat gadis itu tersungkur. Membuat Puri dan mbok Enok seketika merasakan ketegangan.


Tyo tampak langsung berlari ke arah Desi yang kini terlentang diatas lantai, sementara Ari menghajar habis pria biadab itu.


" Inikah yang bisa kau lakukan untuk orang kecil seperti kami, hah? Kau tak pantas untuk hidup!"


BUG!


" Papa!"


Puri menjerit saat papanya di hajar oleh pria yang ia sukai itu. Otot lengan Ari yang mengetat menjadi penanda betapa marahnya pria itu saat ini.

__ADS_1


Namun, alih-alih berhenti, Ari yang mendengar Puri menjerit malah semakin kalap.


" Kenapa pria sepertimu tidak mati saja hah?"


BUG!


Puri yang melihat Ari tak bisa di hentikan kini hanya bisa terisak dengan hati yang begitu pilu. Rasa ketakutan itu semakin besar saat melihat Ari yang benar-benar kalap. Nyonya Hapsari yang masih memiliki sedikit kewarasan kini terlihat melerai Ari semampunya dan sebisanya.


" Berhenti Ar, tolong berhenti! Kita bisa selesaikan hal ini dengan kepala dingin!"


Namun Ari masih tidak mengindahkan peringatan itu.


" Ari berhenti! Jangan sampai kau juga akan membusuk di penjara karena pria itu mati!"


Maka Ari seketika tersadar saat Tyo berteriak. Ari yang berhasil di sadarkan oleh Tyo, kini tampak ngos-ngosan. Ia menatap benci ke arah Hendra yang wajahnya sudah hancur sebab barusaja ia hajar.


" Ada apa ini?"


Semua orang yang tegang kini menoleh saat Alsaki datang bersama Dhisti yang matanya langsung membelalak demi melihat kondisi seorang Hendra Gunawan.


Ya, mbok Enok yang melihat ketegangan uang yang tak bisa di redam itu, berinisiatif untuk menghubungi Alsaki.


Namun belum juga mendapatkan jawaban, mata Alsaki yang keburu menangkap sesuatu yang mengejutkan membuat fokus semua orang teralihkan.


" Astaga Desi!" pekik Alsaki yang melihat darah keluar dari jalan lahir perempuan itu.


Tyo yang melihat hal itu seketika pias dengan jantung yang semakin berdegup kencang sebab takut jika Desi mengalami masalah yang serius.


" Tidak ada waktu lagi, Mas, cepat bawa Desi kerumah sakit! Dia pendarahan! " Pekik Dhisti kepada suaminya yang kini berada di samping Desi.


Tyo yang juga mendengar sebuah komando genting, seketika mengangkat tubuh perempuan naas itu lalu membawanya pergi menuju mobil.


" Biar aku aku yang urus Desi!" kata Tyo kepada Ari yang kini juga terlihat panik.


" Saya ikut den. Tolong biarkan saya ikut!" seru mbok Enok yang kini menangis dan membuat Tyo mengangguk cepat.


Nyonya Hapsari seketika tak mampu lagi untuk berpikir waras.


Alsaki yang kini melihat suasana begitu kacau, seketika memejamkan matanya sejenak guna meredam kemarahan.


Ari terlihat mengambil ponsel yang tergelak di depan sana. Sejurus kemudian laki-laki itu memberikan benda pipih itu kepada Alsaki.


" Aku percaya kau adalah orang baik!" kata Ari sesaat setelah menyerahkan ponsel itu kepada Alsaki. " Lihatlah sendiri sebab aku tak sanggup untuk melihatnya!"


" Terimakasih untuk semua yang kalian berikan. Sesuai dengan janjiku tadi, aku akan memastikan pria ini harus membusuk di penjara!"


" Permisi!"


Puri yang hendak menahan Ari kini di hadang oleh Alsaki.


" Jangan sekarang!" seru Alsaki dengan wajah serius. Ia tahu Ari pasti sedang tidak baik-baik saja.


" Tapi, kak...aku..."


" Aku akan mengurusnya. Sayang, kamu tolong bawa Mama dan Puri ke atas. Biar aku yang urus papa!" kata Alsaki dengan wajah resah dan langsung mendapat anggukan dari istrinya.


Sepeninggal tiga wanita itu, kini Alsaki menatap murung papanya yang rupanya sudah tak sadarkan diri.


" Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak ingin memanggilmu papa!" batin Alsaki yang kini mengeluarkan air mata sebab sesungguhnya ia benar-benar malu dengan apa yang di perbuat oleh laki-laki itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2