
...🌻🌻🌻...
" Sekarang gimana?"
Sepeninggal Brio, Inka menatap resah Dhisti yang mendadak tertegun sedih. Segala hal mendadak tampak menyedihkan. Suara angin mendadak sayu, dan dengung kumbang pun mendadak pilu.
" Aku bakal tetep oprasi In. Aku gak mau kakek kenapa-napa. Gak ada cara lain!"
Semakin muram saja wajah Inka menatap sahabatnya itu. Mata yang selalu mempertontonkan semangat berjuang itu, kini tampak berkaca-kaca.
Inka menghela napas saat menepuk pundak sahabatnya itu guna menyuntikkan semangat. " Gue ikut. Kalau ketangkep ya membusuk bareng!"
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sikap setia kawan yang di tunjukkan oleh Inka benar-benar lebih berharga dari apapun.
Dhisti mengulum senyum lalu menarik Inka kedalam pelukannya. Mereka berdua saling menghirup udara basah malam itu, melonggarkan sesak akibat himpitan kehidupan yang sangat sulit. Berharap semesta mau sedikit berbaik hati untuk melindunginya mereka.
Keesokan harinya, Dhisti yang masih tidur menelungkup terganggu dengan suara getar ponsel yang menggelepar.
" CK, siapa sih?" Dengan suara parau dan mata yang masih memejam, gadis itu meraba-raba ponsel yang berada di sampingnya seraya menggerutu.
" Halo?" jawabnya dengan kedua alis yang masih bertaut.
" Dhis, belum bangun? Kamu belum baca WA dari saya. Kamu ke cafe sekarang gih, ada hal yang mau saya sampaikan!"
Deg!
" Bang ridho?"
.
.
BRUK!
" Ini profile cafe saya. Berikut nama-nama tamu serta wajah yang musti kamu hapal. Kamu udah bukan karyawan part time lagi. Kebetulan si Yudi keluar per tadi pagi!"
Terlonjak kaget demi secuil informasi mengejutkan itu.
" Mendadak amat bang?"
" Ceweknya hamil, lagi ribet ngurusin urusannya. Mau di laporin ke polisi katanya kalau gak mau tanggung jawab!"
Dhisti tertegun, kasihan juga Yudi. Rekan yang selama ini sering ia lihat paling diam ternyata bejat juga kelakuannya.
" Kenapa? Heran ya?" tanya Idho demi melihat kebisuan Dhisti yang mendadak. Menebak air muka Dhisti yang tampak berpikir.
Gadis itu mengangguk mengiyakan. " Gak ngira aja bang. Yudi padahal pendiam banget. Kalau gak di ketuk, enggak bunyi dia!"
Menatap lurus Ridho.
" Ya itulah manusia Dhis. Maka itulah kita perlu belajar jangan menilai orang dari penampilannya. Pernah dengar peribahasa kan ; " Air tenang, menghanyutkan!"
Dhisti mengangguk. Memang sebaiknya kita tidak boleh serta merta membuat keputusan hanya karena penampilannya saja. Sepertinya Al misalnya, pria itu di puja-puja oleh khalayak, tapi yang dia rasakan selama ini hanyalah pria mengesalkan yang sering membulinya.
" Habis ini temuin Rexa. Ambil seragam kamu yang baru. Ingat Dhis, cari pelanggaran itu susah, handle mereka dengan baik sebisa kamu. Turuti apa yang mereka mau asal bukan harga diri kamu yang jadi taruhan. Habis ini kamu ngisi data baru lagi sama si Rexa!"
Dhisti mengangguk paham. Ia senang, setelah ini ia bakal mendapatkan gaji bulanan yang jelas dari Ridho. Selain itu, pria di depan itu lebih bisa diajak ngomong ketimbang pak Fery yang dinginnya melebihi suhu di Antartika.
Namun ketenangan yang ia rasakan rupanya hanya bersifat fana. Ia yang sibuk membersihkan meja habis pakai, dan berniat mengembalikan setumpuk piring kotor itu, terkejut saat melihat Al memasuki cafe milik Idho dengan langkah santai. Membuatnya buru-buru pergi.
" Woy, kau disini?"
Terlambat. Sang raja tega agaknya telah mengetahui dirinya. Membuatnya tersenyum kaku kala memutar tubuhnya demi teringat akan ucapan Idho.
"Ingat Dhis, cari pelanggan itu susah, handle mereka dengan baik sebisa kamu."
Dan pernyataan telak itu auto terngiang-ngiang di kepala Dhisti. Membuatnya mendecak dalam hati sebab Al merupakan pelanggan VIP.
Ia tahu seperti apa pria macam Al. Pria itu benar-benar susah di tebak dan sepertinya senang sekali mengejeknya.
" Silahkan duduk Pak, saya permisi dulu!"
" Heh tunggu, tidak sopan sekali kau kepada pelanggan ya!"
Deg
Suara Al yang terdengar sengaja di buat kencang sukses membuat para pengunjung dan karyawan lain memusatkan atensi kepada mereka berdua.
" Brengsek nih orang, sengaja bikin aku malu ya? Aku kan mau mengembalikan perabot kotor ini!"
Mengumpat dalam hati demi melihat wajah-wajah yang kini mulai menghujaninya dengan tatapan penuh selidik.
" Maaf Pak, tapi saya harus mengembalikan piring-piring kotor ini dulu. Ada rekan saya yang akan melayani bapak!" jawab Dhisti dengan lirikan durjana dan nampak memalsukannya sikap ramahnya. Akan sangat tidak baik jika dia tak menggunakan bahasa formal kepada pria yang sejatinya pernah berbincang akrab dengan Kakeknya itu.
" Tidak mau. Enak saja!" sela Al dengan wajah berkuasa.
Bagi Al, bertemu dengan Dhisti sudah seperti oase di padang pasir. Entahlah, gadis aneh itu benar-benar bisa membuat dunia Al yang penuh kesibukan tampak teralihkan.
Bahkan selama ia sibuk riwa-riwi keluar kota beberapa bulan ini, wajah gadis itu kerap mangkal di otaknya meski tanpa dia undang. Damned!
" Hey hey! Astaga kawan. Kenapa kau tidak menelepon ku jika mau kesini, hm? Aku bisa menyiapkan tempat untukmu!"
Yes!
Dhisti bernapas lega kala mendengar suara bang Ridho yang datang bagai pendekar yang menyelamatkan jiwanya. Membuat Dhisti bernapas lega.
__ADS_1
" Dhis, cepat bawa itu kebelakang dan layani tuan Al setelah ini!" titah ridho yang tak tahu bila ada dua insan yang sedang bermain drama disana.
Yang satu senang mengerjai, yang satu kesal beneran.
" Baik bang!"
Namun yang di sebut namanya malah melirik Dhisti yang melirik kesal ke arahnya dengan tatapan ingin mencekik.
" Sejak kapan?" tanya Al seraya menarik kursi dengan nilai estetika yang begitu tinggi itu.
" Apanya?" jawab Idho yang tak nyambung sembari menarik kursi dan berhadapan dengan sahabatnya di era putih abu-abu itu.
" Gadis itu!"
" Oh si Dhisti? Baru hari ini. Kebetulan ada karyawan yang resign, jadi aku pakai dia full. Dia sendiri yang mengajukan!"
Al terdiam. Walau jauh dalam hatinya, ia masih penasaran kenapa Dhisti keluar dari mall.
" Keruh amat wajahmu, ada apa?"
Yang di tanya terlihat membasuh wajah frustasi. Tampak sedikit lelah dengan guratan penuh kekesalan " Si Puri pingin nikah sama si Wisnu!"
" Bagus dong! Itu tandanya dia lelaki sejati. Serius. Wisnu juga udah mimpin perusahaan keluarganya kan? Kenapa elo justru murung begini?"
Obrolan mereka terjeda saat Dhisti datang membawa buku menu.
" Silahkan Pak, mau pesan apa?" ucapnya menjilat agar terlihat berkinerja baik di hadapan Ridho.
Al melihat daftar menu yang di bawa Dhisti dengan saksama. Dalam keheningan yang mendadak mencuat, Dhisti bisa menghirup aroma parfum Al yang membuatnya meneguk ludah.
" Bahkan dari radius sejauh ini wanginya kecium aku. Hehh, orang kaya emang beda!"
" Menurut kamu yang enak makanan apa?"
" Apa? Kenapa malah bertanya kepadaku sih?"
" Kamu kan karyawan disini, pasti tahu dong menu yang recommended?" timpal Al dengan seringai licik.
Membuat gadis itu terhenyak dengan wajah ketar-ketir.
" Mau apalagi dia sih?"
" Tolong pilihkan saya menu yang enak. Terserah kamu. Kalau sampai tidak enak kamu saya hukum. Dan bos kamu tentu tidak ingin karyawannya di complain kan?"
Ridho hanya terkekeh saat melihat Dhisti yang tiba-tiba pucat. Menurutnya, ide Al bagus juga. Mungkin untuk mengetes pengetahuan dan intuisi karyawan soal makanan yang pas untuk orang macam Al.
" Tuh kan, sebenarnya ada dendam apa sih dia sama aku? Udah bagus dia gak muncul, kenapa sekarang tiba-tiba muncul?"
" Pilihkan saja Dhis, jangan kecewakan big bos kita!" tutur Bang Ridho seraya tergelak. Namun yang diperintah benar-benar ingin memukul kepala Al yang terlihat menyeringai menggunakan buku yang dia bawa.
Brengsek!
" Masalahnya aku diminta untuk menikah dulu. Kau tahu akan, meski Mama itu punya keturunan darah barat, tapi pemikiran yang digunakan jaman dulu banget. Pamali lah, ini itu lah, sampai pergi aja musti hitung weton!"
Ridho semakin tergelak kala Al mendengus kesal selama ia menceritakan unek-uneknya soal pikiran primitif sang Mama. Sudah sangat lama ia tak melihat Al seperti itu. Bersungut-sungut kala meluapkan kekesalan hati.
" Papa juga, saklek banget buat milih kriteria!" imbuh Al dengan wajah yang semakin mengeruh.
Membuat mata Ridho seketika basah karena tak bisa menghentikan laju tawanya.
" Lagian nih ya, kenapa gak sama Luna aja. Udah jelas bibit bebet bobotnya bro!"
Alih-alih mendapatkan jawaban yang memuaskan, Ridho justru tergelak kala ia di umpati oleh Al.
" Udah kayak papa aja omongan lo brengsek!"
Sungguh, tawa Idho yang menggelegar membuat banyak pasang mata memusatkan perhatian ke arah meja mereka.
" Lo jangan ngambek dulu, emangnya elu ada calon lain selain Luna? Dia itu paket completed padahal. Common man!"
Namun yang diberikan gambaran semakin menunjukkan wajah keruh saat ridho terus membahas Luna.
" Kalau mau ambil aja!" pungkas Al dengan lirikan tajam.
Ridho tergelak. " Aku yang mau, dia yang kagak mau Al!"
Sifat bersahaja dan pemberi. Sifat itulah yang Al sukai dari seorang wanita. Dan anehnya, ia selalu mengaitkan hal itu kepada Dhisti yang memang baik kepada siapapun dengan caranya yang unik. Membuat pria itu lagi-lagi melamunkan kejadian yang beberapa bulan lalu terjadi antar dia dan Dhisti.
" Do?" panggil Al kepada Ridho yang tengah berbalas pesan dengan seseorang di ponsel.
" Hmmm"
" Elu pernah nggak sih, ngerasa berdebar tiap ketemu seseorang. Tapi, elu itu malah seneng kalau ribut sama yang bersangkutan itu tadi. Gimana yang gue ngejelasinnya, intinya, elu itu seneng aja gitu pas ngelihat dia!"
Ridho terbengong-bengong dengan ponsel yang masih berada dalam genggaman, kala mendengar perkataan Al yang agak nyeleneh itu.
" Emangnya siapa?" tanya Ridho dengan alis mengerut karena penasaran.
" Ya ada lah pokoknya. Gue bingung, yang jelas orang ini itu beda dari kebanyakan wanita yang aku lihat. Dia itu...punya hal spesial yang gak dimiliki beberapa wanita lain!"
Ridho semakin memicing heran. Siapa sih?
" Elu gak sedang jatuh cinta sama seseorang kan?" terka Ridho menatap serius Alsaki.
" Jatuh cinta? Emang begitu ciri-cirinya?" yang di tuding juga mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Ridho mendesaah sebal demi melihat wajah bodoh Al yang terlihat bloon kala diajak bermusyawarah.
" Kalau elo ngerasain getaran sama seseorang tiap ketemu, kata pujangga itu dinamakan gelora asmara yang menggebu-gebu. Alias, bisa jadi elu itu naksir alias jatuh cinta. Iya- ya, elo kan belum pernah jatuh cinta. Dari dulu di jatuhi cinta malah!"
Obrolan ngalor ngidul soal efek memabukkan hal bernama cinta itu akhirnya membuat waktu terasa berjalan cepat.
Belum juga Al menemukan arti dari pencerahan yang diberikan Ridho, Dhisti yang wajahnya keruh datang dengan sebuah nampan berisi makanan lezat.
" Silahkan pak, braised wagyu , lasagna serta infus water, yang bisa membuat hari anda secarah mentari yang bersinar pagi ini!" ucap Dhisti yang ingin terlihat baik di mata Ridho. Ia harus bisa bertingkah baik di hadapan bosnya.
Al ingin tertawa demi melihat raut penuh keterpaksaan itu. Ia tahu, saat ini Dhisti pasti tengah mengumpat dalam hatinya.
Bukannya menjawab terimakasih, pria itu melontarkan pernyataan yang membuat kedua manusia disana terkejut.
" Temani saya makan disini!"
" Hah?"
Sialnya, Ridho dan Dhisti mengatakan hal itu secara bersamaan. Bagaimana bisa, pria gila itu meminta Dhisti untuk makan bersamanya di hadapan bosnya.
" Kenapa, tidak ada peraturan karyawan dilarang makan di meja ini kan? Kalaupun ada, berikan pengecualian itu kepadaku. Aku hanya ingin membuat karyawanmu mencicipi makanan lezat ini. Kau pasti belum pernah makan makanan ini kan?"
Melirik Dhisti dengan seringai menyesalkan.
" Dasar Al brengsek. Bukan tidak pernah, aku memang suka makan makanan seperti itu!"
" Gimana Do?"
" A- em...lanju lanjut. Dhis, layani tuan Al dengan baik ya. Jangan kecewakan dia!" ucap Ridho tampak bingung.
Ridho yang sedikit curiga kini memilih untuk undur diri dan berdalih untuk memeriksa beberapa laporan keuangan. Pria itu berniat menginterogasi Dhisti nanti.
" Apa yang kau lakukan?" Geram Dhisti bertanya sesaat setelah Ridho berlalu. Menatap tajam Al yang selalu bertingkah semena-mena.
" Makanlah, kau tidak ingin di pecat kan?"
Dhisti celingak-celinguk kala ia melihat beberapa rekan-rekannya saling berbisik saat melihat semeja bersama Al.
" Sudah aku katakan jangan ganggu aku lagi. Kau ini tidak memiliki telinga ya?" Bisik Dhisti yang semakin ingin menjambak rambut Al.
" Apa kakek rutin meminum obat nyeri ototnya? Beliau bercerita kalau sering mengalami gangguan itu!"
" Sialan. Aku bertanya dan kau malah membahas soal nyeri otot? CK, kakek!"
" Dengar, aku sangat berterimakasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Tapi kurasa kita sudah impas bukan. Jangan membuatku terus dalam masalah!"
Al seketika meletakkan sendok dan garpu yang semula ia pegang. Menatap Dhisti sembari melipat kedua tangannya serius.
" Diam dan habiskan makananmu atau aku akan membuat laporan kepada Idho jika kau melayaniku dengan buruk!"
Membuat cuping hidung Dhisti kembali melebar. Pria itu benar-benar sombong dan diktator.
" Aku pasti sudah gila. Kenapa aku bisa sesenang ini saat menjahilinya?" batin Al meledak dengan penuh kegembiraan.
Makanan itu amblas juga tak bersisa walau dilahap dengan rasa terpaksa. Terlihat sorot mata senang manakala Dhisti mau menghabiskan makanan itu bersama dirinya.
Namun saat mereka masih menikmati sibuk menghabiskan minuman segar itu, Luna datang dan terlihat sangat terkejut dengan apa yang tersaji di hadapannya.
" Gadis itu kan? Apa-apaan mereka?" membatin dengan dada bergemuruh.
Membuat Dhisti gelagapan demi menyadari jika wanita yang ia duga kekasih Al terlihat datang.
" Emm, nona si-silahkan duduk!"
Al langsung turut menoleh ke belakang kala melihat Dhisti yang spontan gelagapan. Dhisti yang mengira jika Luna merupakan kekasih Al kini sungkan.
Luna terlihat merubah wajahnya dengan cepat usai menyadari jika Al mulai menatapnya. Mengabaikan Dhisti yang menunduk sungkan.
" Kau sama sekali tak membalas pesan dariku!"
" Aku sibuk!"
Melihat adanya kesempatan untuk kabur, Dhisti yang mengira mereka berdua tengah bertengkar, kini perlahan undur diri.
" Tunggu!" cegah Luna yang membuat Dhisti menelan ludah dan langsung menghentikan langkahnya.
" Ya nona?" jawabnya seraya berbalik.
" Bawakan aku minuman!"
Dhisti mengangguk tersenyum meski wajah yang memerintahnya barusan terlihat tak ramah. Sejurus kemudian, Dhisti tampak terbirit-birit dengan membawa nampan berisi piring kotor menuju belakang.
" Sepertinya bukan satu kebetulan kan seorang Alsaki makan bersama cleaning servis panggilan?"
Al menatap Luna dengan tatapan yang sulit di artikan saat wanita berkelas itu menyindirnya. Alih-alih menjawab, Al malah sibuk menandaskan minumannya.
" Apa kau menyukai gadis itu?"
Dak!
Gelas yang diletakkan sedikit keras itu membuat Luna menatap Al lebih lekat.
" Kalau iya, memangnya kenapa?"
.
__ADS_1
.
.