
...🌻🌻🌻...
Jika di gambarkan, Aris bukanlah sosok yang sangat tampan, namun tidak fair pula jika ia dikatakan jelek. Posturnya lebih tinggi daripada Dhisti, dengan masa otot yang tidak terlalu kekar cenderung kurus.
Dhisti memang tidak memiliki standar tertentu soal pria idaman. Yang jelas, ia cukup tahu diri bila dirinya hanyalah debu yang bertebaran di pohon akasia. Akan sangat terdengar kurang ajar jika ia mengharap sesuatu yang lebih indah daripada kondisinya yang ngeri-ngeri sedap itu.
Konon, pria baik akan mendapatkan wanita yang baik. Lantas, apakah dia memang tidak baik sehingga cinta mereka harus kandas di tengah jalan begini? Atau... Aris lah yang merupakan manusia brengsek abadi yang selama ini hidup di kelas pecundang?
Entahlah, sorot mata yang terpancar begitu menelisik kegelisahan hati antara keduanya.
Perasaan seorang Dhisti saat ini benar-benar ingin menerkam sosok laki-laki yang dengan pedenya menggandeng tangan mulus Gabby tanpa memikirkan perasaannya.
Benarkah secepat itu? Apakah hubungan mereka tak memiliki arti selama ini?
Ngeri betul dia membayangkan apa yang telah mereka lewati beberapa hari ini, sesak pula dadanya melihat apa yang kini tersaji.
" Di bungkus dua ya Buk!" Aris berucap dan tampak memaksa diri untuk tak menggubris dua betina yang kini menguliti pasangan tak tahu diri itu dengan tatapan yang begitu menusuk.
Sedetik kemudian, ekor mata Inka beralih menatap Dhisti yang kini nampak meremat ujung sendok setipis gembreng itu dengan gigi gemelutuk.
Bahkan sebuah sendok yang tak berdosa turut menjadi korban kekesalan hati gadis pemberani itu.
" Ehem!" Inka berdehem demi mencairkan suasana yang canggung mencekam.
"Pasangan elit dengan gaya selangit kok mau makan di tempat kelas orang sulit?"
Namun bukan Inka namanya bila mulutnya tidak combe. Gadis bertindik banyak itu tak bisa lagi menahan kecentilan Gabby yang memantik kemarahan sahabatnya, di pagi durjana itu.
Namun yang di sindir terlihat semakin menebalkan muka kala mulut primitif Inka terus berkicau. Membuat seraut kesal itu kian berang.
BRAK!
" Ambil aja kembaliannya Buk!"
__ADS_1
Tak ubahnya orang lain, Dhisti rupanya tak cukup memiliki kekuatan untuk menahan kemuntaban hatinya manakala ia melihat Aris yang malah mengumbar kemesraan bersama Gabby.
" Dhis, tunggu! CK, ah elah ni anak!" Seru Inka resah sembari sengaja menabrakkan pundakya ke pundak Aris yang terlihat terperanjat.
Membuat pria itu terhuyung kesamping gerobak.
" Dhis, kok elu malah pergi sih?" Mengoceh di belakang Dhisti sebab menyayangkan sepiring pecel pedas yang belum seluruhnya ia sikat.
Dhisti lebih memilih mencampakkan makanan favorit sejuta umat itu ketimbang menatap hal menjengkelkan yang tak bisa ia redam. Cukup realistis demi kesehatan ragawinya.
Dhisti benar-benar tak bisa menafikan diri jika ia masih memiliki perasaan kepada Aris. Dan hatinya tak cukup kuat untuk menahan gempuran kecemburuan yang nyata itu
" Move on dong. Elu itu lebih cantik dari Gabby lagi Dhis kalau dandan!"
" Kalau dandan. Kalau enggak? Dandan itu perlu modal, kamu pikir bedak sama lipstik bisa muncul gitu aja dari gentong beras?"
Inka langsung manyun manakala Dhisti akhirnya meluapkan kejengkelannya kepada dirinya. Pagi yang durjana itu, benar-benar membuat segenap kesialannya semakin sempurna.
" Opersi lah. Kalau hari ini kita dapat, kita setor. Aku masih ada waktu beberapa hari!"
Inka mengangguk menyetujui. Ini lebih baik baik ketimbang terus-terusan larut dalam suasana kalut akibat si brengsek Aris.
Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju sebuah kawasan yang telah di sepakati. Tempat dimana orang-orang bermobil yang sudah ia incar nampak berkumpul.
" Buset, yang mana orangnya. Kalau pakai jas begitu semua sama rupanya!" Seru Inka berbisik di sebelah telinga Dhisti saat mereka mengintai di balik pohon trembesi.
" Gak dapat dompet yang lain juga boleh. Kepalang tanggung!"
Inka mengangguk seraya memetakan keadaan. Mereka berdua menyelinap masuk dan berpura-pura menjadi petugas pengantar barang saat melihat mobil box yang baru saja tiba.
Tak membutuhkan waktu lama, Inka dan Dhisti yang berhasil menyelinap masuk, kini mendekati seorang pria tambun yang botak guna melancarkan aksinya.
Dan hitungan detik, gadis itu telah berhasil mendekati pria yang menjadi targetnya dengan sempurna. Dalam waktu yang sangat singkat pula, dompet dengan logo buaya mangap itu telah raib dan kini telah berpindah tangan ke tangan Dhisti.
__ADS_1
Yeah!
" Pintu keluar di arah jam 9. Aku tunggu di sana!"
Dhisti mengangguk kala pesan singkat dari bibir primitif itu telah menguar ke telinganya. Laksana ombak yang menggulung daratan, tiba-tiba hati Dhisti turut berdebar karena ia melihat sekumpulan petugas gedung yang melakukan general body search, kepada seluruh petugas yang keluar masuk.
Ya, Dhisti takut di periksa.
" Pssst, kok ada pemeriksaan sih, kenapa kamu enggak bilang?" Bisik Dhisti yang terkejut demi melihat petugas keamanan yang mengecek satu persatu orang yang keluar gedung itu.
" Gak ada cara lain, ambil lalu simpen ke itumu!"
" Hah?" Menatap tak percaya ide gemblung Inka.
" Cepet, buang dompetnya ke sampah, kita kabur setelah itu! Ga ada waktu!"
Mendengar ocehannya, Dhisti benar-benar ingin mencekik sahabatnya itu. Semuanya serba tak masuk akal. Bagaimana bisa mencopet sebuah dompetnya menjadi seribet ini?
Inka yang menjadi pelaksana rencana-rencana sesat itu tampak tak memperdulikan kebengongan Dhisti yang masih memetakan keadaan. Gadis itu lebih dulu melesat menuju toilet saat situasi tengah lengang.
Dhisti sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa ia tiba-tiba memiliki rasa takut jika tertangkap. Bukankah ia sudah berkali-kali melakukan hal itu dan selalu selamat?
Karena saran gendeng rekannya itu, Dhisti kini menggunakan uang tebal itu, sebagai popok cawetnya demi keamanan semua lini. Dengan sangat terpaksa, Dhisti mencampakkan dompet mahal itu lalu pergi dengan tenang meski ujung selangkangannya terasa tebal.
Dan kalian tahu kawan, ide gila itu berhasil.
" Sekarang aku justru tidak mengkhawatirkan anumu itu terkontaminasi. Tapi aku mengkhawatirkan uang ini yang pasti sudah terkontaminasi anumu." Tekrikik-kikik demi melihat Dhisti yang kini nampak risih akan pakaiannya.
" Diam kamu, gara-gara ide gilamu ************ ku gatal. Mana duitnya tebel lagi."
Inka semakin terpingkal-pingkal demi melihat wajah kesal rekannya.
Hari itu, menjadi hari yang begitu konyol yang pernah ada. Menyimpan hasil copetan ke dalam CD guna menghindari petugas keamanan.
__ADS_1