
...🌻🌻🌻...
Barangkali, perasaan ragu itu sebenarnya merupakan sebuah peringatan dini akan terjadinya sebuah petaka. Bukan maksud Inka meninggalkan Dhisti secara sengaja, tapi reaksi ketakutan yang kian menggila, benar-benar membuat otaknya tak bisa berpikir secara taktis.
Memaksa dirinya mengikuti satu sugesti, menyelamatkan diri agar bisa menyelamatkan yang lain.
Kini dalam ketegangan yang masih melanda dirinya, Inka yang melihat Dhisti di gelandang oleh para manusia yang saling bergerombol itu terlihat menghubungi seseorang dengan kepanikan yang begitu kuat.
Tangannya gemetar, jantungnya seakan meledak, pikiran yang tidak-tidak mendadak merajai dirinya yang semakin kalang kabut.
"Halo?"
Jawaban dari seberang melonggarkan kegugupannya.
" Halo, Brio!" ucapnya panik manakala ia mendengar suara pria yang sangat ia harapkan saat ini.
" Ada apa In?" bertanya dengan panik saat mendengar intonasi suara Inka yang tak seperti biasanya.
" Aduh gawat Bri gawat, lo bisa tolongin gue nggak? Dhisti ketangkap!"
" Apa?"
...-------------...
Alsaki barusaja selesai memeriksa setumpuk laporan saat ponselnya bergetar. Kesibukan yang tiada habis benar-benar membuat otaknya mumet.
📞 Idho calling....
" Idho, ada apa?" bergumam dengan alis bersatu manakala layar ponselnya terus berkedip. Ia buru-buru menggeser tombol hijau itu manakala rasa penasarannya kian menguat.
" What's up bro?" seru Alsaki sesaat setelah tombol hijau itu tergulir dengan sempurna.
" Al, lo udah lihat berita yang mendadak viral belum sih? Dhisti ketangkep karena nyopet!"
DEG
Ia mendadak tertegun usai mendengar informasi yang mengejutkannya itu. Dhisti? Mencopet? Lelucon macam apa ini?
"Aduh gue gak bisa ngomong apa-apa lagi Al. Syok banget gue. Sebentar aku share videonya ya?" tukas Ridho yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Maka Alsaki semakin mematung demi mendengar secuil informasi yang membuat tubuhnya membeku dalam hitungan sepersekian detik.
__ADS_1
TRING
Bunyi pesan yang masuk membuat tangannya reflek buru-buru membuka pesan yang baru saja dikirimkan oleh Ridho dengan hati berdebar.
Ia terlihat membuka lalu memutar sebuah video yang sepertinya telah di bagikan dan di teruskan berkali-kali oleh netizen. Video Dhisti yang di teriaki pencopet dan kepala yang terus saja menunduk.
Matanya seketika tak berkedip demi melihat wajah yang biasanya dia kagumi, kini nampak merunduk malu saat di seret dan di teriaki maling oleh masa.
Membuat tubuh Al membeku dengan otak yang mendadak terasa buntu. Bagiamana bisa?
Di lain pihak, keluarga Hendra Gunawan yang lebih dulu mendapat kabar itu dari Luna sontak merasa begitu kecewa dan merasa telah di perdaya oleh Dhisti.
Puri yang juga melihat video yang viral dengan caption begitu mencolok mata itu, benar-benar masih tak percaya akan apa yang ia lihat.
Pencopet yang meresahkan warga di jalan XX akhirnya tertangkap.
Tak menyangka, Wanita secantik ini merupakan dalang dari kasus pencopetan yang meresahkan warga di jalan XX.
Nyaris menjadi bulan-bulanan warga, gadis cantik yang tertangkap saat mencopet ini telah di amankan oleh petugas dari Polsek setempat.
Bagaimana bisa, seorang yang mulai ia kagumi, tak lebih dari seorang pencopet. Ia yang mendengar deru mobil Alsaki datang, segera turun untuk menyongsong kakaknya.
Pintu mobil yang di banting oleh Alsaki dengan begitu kerasnya itu, jelas menegaskannya semarah apa pria itu saat ini.
" Al!"
Alsaki yang tiba-tiba di peluk oleh mamanya mendadak mematung. Ia tahu Mamanya ingin meredam emosi yang kini telah membara di dalam tubuhnya. Merasa ditipu oleh gadis yang ia sukai itu.
" Sudah Ma, Al tidak apa-apa!" lirihnya sembari mengusap punggung sang Mama yang bergetar karena tangis.
" Mama juga nggak nyangka kalau Dhisti seperti itu nak!" cetus Mama Hapsari dengan suara sedih.
" Papa sudah mengatakan kepadamu, kepada mamamu juga, tapi tidak ada percaya!" seru tuan Hendra menyalahkan.
" Jadi Papa tahu kalau dia pencopet?" tanya Alsaki melirik tajam.
Tuan Hendra Gunawan semula menelan ludahnya gugup, namun sejurus kemudian pria itu tampak mengangguk ragu sambil menatap lurus mata anak laki-lakinya.
" Terus kenapa Papa enggak terus terang aja sama Al? Kenapa berbelit-belit?" tuding Al jengah.
" Al, jika papa mengatakan langsung soal keburukan gadis itu, apa kamu akan percayalah dengan omongan Papa jika tanpa bukti seperti ini? Kamu saja Papa larang dekat begitu langsung marah sama Papa, apalagi kalau papa mengatakan dia itu pencopet?"
__ADS_1
Membuatnya Alsaki melempar napasnya kasar dengan penuh keresahan. Ia tak berdaya. Situasi yang mendadak berubah seperti ini benar-benar sangat bertolakbelakang dengan nuraninya.
" Yang ada kamu bakal debat sama Papa. Mikir Papa ini ngawur lah, ini itu lah. Kalau sudah begini, baru kamu percaya dan nyalahin Papa karena tidak jujur. Sudah Papa tegaskan, latar belakang seseorang itu harus kita perhatikan!" timpal tuan Hendra kembali manakala melihat anaknya yang tampak risau.
Alsaki yang di cecar oleh sang papa merasa kepalanya serasa mau pecah. Puri yang ada di sana hanya bisa terdiam kala hatinya juga masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tak mengira jika Dhisti adalah seorang pencopet.
Sementara itu, Luna yang telah berhasil menyebarkan foto dan video kasus itu ke jagat maya benar-benar tersenyum penuh kemenangan. Merasa bila Tuhan telah menolongnya.
" Bisa nggak kamu jadiin ini berita yang booming gitu sampai viralnya lebih!" pinta Luna kepada rekannya yang sepertinya merupakan seorang wartawan ketengan.
Kini, semua jalan menuju ke hati Al benar-benar nampak seperti terbuka. Luna merasa menang atas apa yang terjadi.
Jelang petang, Dhisti yang meringkuk di balik jeruji besi khusus wanita untuk sementara. Hal itu terjadi sebab ia masih menunggu putusan. Ia tak tahu dimana Inka saat ini namun yang jelas pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Kakeknya.
Namun sama seperti kata seorang filsuf besar, akan selalu ada pertolongan saat kesulitan mendera.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Inka dan Brio datang dengan wajah pias. Inka tampak merasa bersalah sementara Brio terlihat prihatin.
Ya, usia menemui Brio, laki-laki itu mengajak Inka untuk datang ke kantor polisi dan bertindak sebagai keluarga. Mereka menjenguk Dhisti dalam sel sementara yang hanya dia huni seorang diri.
" Dhisti!"
Inka yang melihat suasana haru seperti itu benar-benar nampak tak kuasa. Maka air mata di kedua pelupuk matanya, kini mengalir membasahi pipinya yang putih. Membuat Brio turut mengulum bibir guna menahan tangis.
" Sory Dhis tadi gue..." suara Inka tercekat saat mengingat apa yang telah terjadi.
" Udah In, aku ngerti. Situasinya benar-benar kacau!" sahut Dhisti yang juga merasa bersalah karena tak mengindahkan peringatannya Inka.
Inka menatap muram sahabatnya yang kini berada di dalam kurungan seperti itu. Ia langsung di masukkan kedalam tempat itu karena untuk menghindari amukan masa yang semakin brutal.
" Tolong usahakan kakek enggak tahu masalah ini In!" serunya sembari memegang tangan Inka penuh harap.
Namun yang dimintai tolong terlihat resah. Membuat Dhisti menatap Brio yang juga menundukkan kepalanya.
" Kalian kenapa sih?" tanya Dhisti penasaran demi raut wajah gelisah yang di tunjuk oleh Dhisti.
" Seseorang telah membuat berita soal elo yang ketangkap. Gue gak bisa jamin kalau kakek nanti gak lihat berita itu di HP Dhis!" jawab Inka muram.
Membuat satu perempuan yang ada di dalam tahanan itu seketika lemas. Kenapa ada orang sejahat mereka?
.
__ADS_1
.