Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 52. Pemutusan Hubungan Kerja


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Tolong berhenti di sini saja Mas. Saya mau mampir ke rumah teman saya dulu!" tukas Dhisti begitu menyadari jika ia telah dekat dengan lokasi tempat biasa Inka mangkal.


" Baik nona!" jawab Ari seraya menyalakan lampu sen ke arah kiri.


" Jangan panggil saya nona lah. Panggil Dhisti aja, mas..."


" Ari, nama saya Ari!" cetus Ari seraya tersenyum dari pantulan rear vission mirror kala melihat Dhisti yang bingung.


Membuat Dhisti tersenyum. " Oke mas Ari. Lagipula, sepertinya mas Ari lebih dewasa dari saya!"


Ari tergelak. Dhisti sungguh bersahaja sekali pikirnya.


" Oke, terserah kamu saja. Ini bener aku tinggal disini?"


" Iya bener. Ya udah kalau gitu, terimakasih banyak ya udah diantar."


Ari mengangguk bersahabat, laki-laki itu sejurus kemudian melesatkan mobilnya menuju ke kediaman Alsaki.


Usai memastikan mobil itu telah menghilang dari pandangannya, Dhisti terlihat sedikit berlari menuju ke tempat Inka dan Dhisti biasa mangkal.


" Sory telat!" seru Dhisti setengah berlari.


Ia melihat Inka yang duduk bersandar di sebuah pohon kenitu besar, menekuk sebelum lututnya dengan sebatang rumput liar yang terselip di sela bibirnya yang nampak mengering.


Macam berandalan yang menunggu setoran.


" Dari mana aja sih lo? Datang-datang monyong begitu mukanya. Harusnya aku kali yang ngambek!" balas Inka demi melihat seraut kusut milik Dhisti.


" Aku ketemu Hendra Gunawan!" jawab Dhisti dengan wajah muram sembari mendudukkan tubuhnya persis di sebelah Inka.


" Apa?" jawab Inka kaget dan membuat sebatang rumput itu spontan tercampakkan ke tanah manakala ia merubah posisi duduknya.


" Dia ternyata bapaknya Alsaki!"


" Hah?" seru Inka lagi semakin tak percaya dengan apa yang dia dengar. Wanita itu sejurus kemudian tertawa sumbang seraya menggeleng tak percaya. Kebetulan macam apa ini?


" Jadi elo dari rumahnya si Al?"


Dhisti mengangguk. Terlalu lelah untuk sekedar menggumamkan kata-kata.


" Terus dia gak ngomong apa-apa soal elo ke keluarganya?"


" Ya enggaklah. Gak kira dia berani In. Tapi aku bener-bener ngerasa kerdil saat disana. Ada Luna juga soalnya!" ucap Dhisti seraya tersenyum getir. Merasa jika dirinya benar-benar sebuah sampah.


" Tapi...tuh manusia tajir kayaknya beneran suka deh sama elo Dhis!" cetus Inka muram yang meyakini jika Alsaki memang menyukai dhisti.


" Andai kau tahu jika aku saat ini juga jatuh cinta sama perbuatannya In. Tapi aku sadar siapa aku!"


" Aku kesana karena diminta bantuin adiknya yang baru patah hati!"


" Orang kaya bisa patah hati juga?" kata Inka yang kini menjengukkan wajahnya ke muka Dhisti.


" Kalau yang boleh patah hati orang miskin doang, artis-artis kagak akan ada yang kawin bakal cerai kali In!" sewot Dhisti yang jengah dengan sahabatnya yang mulai oon.


" Selo aja kali. Eh tunggu dulu, terus dia bilang gak ke Alsaki kalau elo ini..."


" Udah aku bilang kan, dia gak akan berani bilang, orang itu pasti juga ketar-ketir begitu lihat wajahku tadi!"

__ADS_1


Dhisti langsung merebahkan tubuhnya keatas rumput menselanjarkan sekujur tubuhnya yang terasa lelah. Membuat Inka turut melakukan hal yang sama.


Kini, mereka berdua tidur bebas dengan mata yang nyalang menatap angkasa biru yang tiada bertepi.


" Aku kadang bingung In,apa sih maunya Tuhan mempertemukan aku dengan laki-laki itu. Jujur dia itu hangat banget jadi cowok, gak kayak si Aris!"


Berbicara dramatis sebab suasana hatinya sedang mellow.


" Ya beda kali, kalau sama Aris elo cuma di ciipook doang udah belingsatan seumur hidup. Ini beda man!"


Lirik Inka mendengus sebal.


" Kayaknya aku mending menjauh deh In!" ucap Dhisti lagi dengan pandangan yang masih lurus menerawang cakrawala.


" Kamu pikir Cinderella di kisah Disney itu juga dengan mudahnya bisa ketemu pangeran? Semua butuh perjuangannya kali Dhis. Gini ya Dhis, kalau aku tarik benang merah dalam sekelumit kisah ini, bisa jadi Tuhan itu bikin hidup elo begini, karena menggiring elo buah dapat kebahagiaan!"


" Kebahagiaan apa. Mbok ya aku di pertemukan dengan orang yang sama-sama taraf hidupnya, se kasta, terus yang bisa nrima aku apa adanya!"


" Ya kalau kamu bilang kamu itu apa adanya, yang ada kamu juga malah akan dapat yang seadanya semprul!"


" Aku aja yang menemani kamu dari dulu nelangsa banget sama hidup Lo Dhis. Apalagi elo yang ngejalanin!"


Entahlah, melihat Hendra Gunawan yang terang-terangan menolaknya tadi membuat Dhisti tau diri. Kakeknya tidak boleh tahu jika dia adalah pencopet. Semua itu demi kesehatan sang kakek, satu-satunya keluarga yang dia miliki.


Namun tak satupun orang tahu, jika gunung es dalam hati Dhisti perlahan mencari demi melihat sikap Al yang seiring berjalannya waktu ia lihat sebagi sosok yang baik dalam memperlakukan keluarganya.


" Dahlah yok berangkat! Duit gak akan datang kalau kita cuma sambat ( mengeluh)!"


Mereka berdua akhirnya menyusuri jalanan menuju lokasi yang biasa mereka kunjungi untuk mencopet. Lokasi dimana ia bisa sering bertemu orang-orang yang menjadi incarannya.


" Pssst, kenapa agak sepi?" bisik Inka saat memetakannya keadaan yang seperti lain dari hari biasanya.


Membuat Inka mendengus. " Batuk rejan, penyakit apaan tuh!"


Mereka tampak menjalankan skema strategi darurat dan terlihat memasuki angkot jurusan ke sebuah perusahaan percetakan. Lagi dan lagi, di dalam angkot ia berjumpa dengan wanita yang pas untuk ia jadikan target.


" Kebetulan banget Dhis. Tuhan emang lagi baek ama kita. Elu sikat deh!" Inka berbisik di balik masker yang ia kenakan. Tampak memberikan kode jika kondisi aman.


Mereka berdua melakukan aksinya dengan hati-hati. Usai dompet berada dalam genggaman, semula mereka yang merasa aman turun dengan percaya diri.


Namun sebuah petaka tiba-tiba muncul, saat sang empunya tas membuka tasnya untuk mengambil ponsel dan mendapati dompetnya telah raib.


Melihat dompetnya yang hilang dengan posisi dua wanita yang baru turun itu, praktis membuat wanita itu berteriak karena Inka dan Dhisti berlari.


Sial!


Namun begitulah mereka, selalu gesit dalam berlari hingga membuat mereka berhasil kabur dari kejaran wanita berdada montok itu.


Keduanya terengah-engah dalam tawa. Ini gila, entah sudah berapa kali mereka nyaris tertangkap namun masih berhasil berlari dari kejaran.


" Duit si sundel gak pernah dikit tiap kota copet!" seru Inka yang kini membongkar hasil copetan mereka.


" Selama kimpet nya laku, duit di kantong dijamin tebal!" timpal Dhisti antusias.


Hari hari selanjutnya Dhisti yang makin giat mencopet lebih tak menggubris Alsaki. Ia sengaja men-silent ponselnya, bahkan tak jarang mematikan benda pipih miliknya itu.


Ia ingin berdamai dan merenungi dirinya dulu. Apakah ia benar saat ini, apakah benar jika ia tak bersama laki-laki itu? Meski sama saja ia telah mengingkari nuraninya.


Dhisti juga kini membiasakan diri untuk keluar saat fajar masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.

__ADS_1


Ia melakukan semua itu agar Al tak bisa lagi menemuinya. Ia yang sudah masuk ke cafe Ridho juga meminta bosnya itu untuk tak memanggilnya jika Al datang.


Ridho yang paham juga beberapa kali menipu Alsaki jika Dhisti tidak masuk. Selama itu pula, pria bertindik itu mempu membaca jika antara sahabatnya dengan karyawannya itu, pasti tengah mengalami persoalan.


Hingga, Dhisti yang di satu siang itu di panggil oleh Ridho yang mendadak menunjukkan wajah muram, tampak syok demi melihat selembar surat diatas sebuah amplop coklat yang di sodorkan pelan oleh bosnya itu.


" Apa ini bang?" tanya Dhisti ragu-ragu. Tak mengerti dengan apa yang di serahkan oleh laki-laki di depannya.


Ridho terlihat murung. Nampak menghela napas juga.


" Maaf Dhis, saya memakai tenaga kamu cukup sampai disini saja. Ini...ada sedikit uang buat kamu yang mungkin bisa kamu gunakan untuk keperluan kamu!"


Dengan dada yang mendadak berdebar, Dhisti menatap wajah Ridho dengan sangat tidak mengerti. Bukankah ia baru beberapa bulan bekerja disana? Apakah ia di PHK? Tapi kenapa, bukankah cafe sedang ramai?


" Bang, maaf.... tapi salah saya apa? Kenapa saya di berhentikan?" tanya Dhisti murung.


" Tidak ada. Kamu tidak salah apa-apa. Sudah saya jelaskan tadi, saya memakai tenaga kamu cukup sampai disini!" ucap Ridho tersenyum dan dari sorot matanya tampak begitu sedih.


Macam ada yang di sembunyikan.


Air mata bening mendadak meluncur dari kedua netra Dhisti. Bagaimana dia sekarang? Kenapa lagi-lagi takdir melemparnya ke dasar kesedihan?


Mustahil ia melamar kembali ke mall. Tak mungkin ia menjilat ludahnya sendiri.


Meski berat, ia akhirnya pulang dengan rasa hampa. Ridho yang melihat pintu itu telah tertutup sempurna kini memejamkan matanya seraya meresapi keputusannya.


" Sory Dhis, tapi ini yang terbaik buat kamu. Buat semuanya!"


...----------------...


" Apa? Gila aja bang Ridho main mecat!"


Dhisti menatap lembayung senja di ufuk barat dengan wajah muram saat Inka malah meledak-ledak di sampingnya.


Ya, kini dia tak ubahnya Inka yang tak memiliki pekerjaan tetap selain mencopet.


" Aku bingung gimana ngejelasinnya ke kakek In!" tuturnya resah dengan arah pandang yang menerawang jauh. Kosong dan semuanya berubah menjadi menyedihkan.


" Elo yang sabar ya. Pasti bang Ridho ada yang menghasut. Tapi masa sih orang sebaik bang Ridho tega?"


Dhisti juga tak yakin akan hal itu. Jika bang Ridho kesal kepadanya, mustahil ia mendapatkan uang banyak saat seharusnya ia tak mendapatkan hal itu.


"Ya ..kalau elu mau, kita bisa tiap hari oprasi!"


Keraguan. Dhisti selama ini menjadi pencopet karena suatu hal. Sebenarnya ia ingin membagi kisah hidupnya kepada Alsaki, tapi begitu mengetahui jika Al adalah anak seorang Hendra Gunawan, membuat niatnya muspra.


Kini, dalam keheningan malam di dalam kamarnya. Ia memeluk foto mendiang Ibunya seraya menangis dalam sunyi. Melebur segenap kesedihan dan beban hidup yang datang silih berganti.


Isak lirih yang rupanya di dengar oleh sang kakek membuat laki-laki tua itu terdiam seraya menghela napas berat. Meski ia tak tahu apa yang tengah di alami cucunya, namun dugaannya masalah itu mungkin saja bersalah dari Alsaki.


Tak sembarang menduga, pria tua itu mencurigai Alsaki sebagai sumber kesedihan cucunya karena beberapa hari ini Dhisti terlihat menghindari laki-laki itu. Berulang kali pula, kakek melihat seraut wajah kecewa Alsaki manakala dia datang tak menemukan Dhisti.


" Berilah kesabaran untuk cucuku ya Tuhan!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2