
...🌻🌻🌻...
" Silahkan!"
Inka dan Puri yang masih menunggu kedua mempelai turun, menggunakan waktu mereka untuk menyapa beberapa tamu undangan.
"Selamat datang mbak. Chiko ganteng banget. Ayo ayo duduk di sebelah sana!" Inka terlihat meladeni Mama Chiko yang telah datang dengan wajah sedikit malu-malu. Wanita dari timur itu mendapat penjemputan khusus oleh orang yang di tugaskan oleh Alsaki atas permintaan Dhisti.
Tak berhenti disitu, Sauki, Dani beserta anak-anak lainnya juga sudah Dante letakkan di tempat yang sudah di sediakan khusus untuk mereka.
Anak-anak itu di temani beberapa pengurus yayasan, dan terlihat memakai pakaian terbaik mereka, yang juga sudah di siapkan oleh team Tince.
" Kak Dhisti mana kak? Aku tidak sabar ingin melihatnya. Dia harus melihatku saat aku ganteng begini!" tutur Dani jumawa memamerkan tampilannya yang memang kece di pagi itu. Sebuah jas mini lengkap dengan dadi kupu-kupu yang bertengger di bawah dagu mereka.
Membuat Inka gemas.
" Habis ini, pasti nanti kesini, tunggu aja disini ya. Nanti kita bakal foto bareng, oke?"
Mereka semua kompak mengangguk lalu secara bersamaan mengatakan 'oke" bagai paduan suara.
" Bagus, kakak kesana dulu ya!" balas Inka mengusap puncak kepala Dani dengan senyuman paling cerah.
Sedetik kemudian, Inka pamit dan berniat untuk kembali menemani Puri yang kini juga terlihat sibuk menyapa para tamu.
Ari dan Brio tampak saling tertarik dalam perkenalannya kali ini. Kedua pria itu rupanya memiliki kesenangan yang sama, yakni sepakbola.
" Udah jarang main sekarang mas. Maklum kalau disini kerja soalnya!" kata Ari ramah yang membeberkan ketidakberdayaannya manakala kini menjadi supir.
" Ya sama bro, apalagi aku juga sambil pegang black market gini, jadi agak susah!"
" Serius Mas Brio ini punya black market?" sedikit kaget sebab tampilan Brio memang sedikit mencolok. Pria itu memiliki tato di lengan dan telinga yang di tindik.
" Ya nggak semua. Hanya yang aku kenal aja. Riskan banget sekarang. Bahkan aku mau buka franchise aja habis ini. Masa anak bini mau di kasih uang begituan!" menjawab terkekeh sambil melirik Inka yang pagi ini cantik dengan dress warna saleem.
Ari senang dengan pribadi Brio yang flexibel. Orang-orang seperti dia memang harus bisa berubah untuk bisa mengikuti irama perkembangan era.
" Aku yakin suatu saat kamu nanti pasti menemukan sendiri jalan elo bro. Gak mungkin kamu jadi supir seumur hidup Lo!"
Ari tersenyum sumbang. Andai dulu ia tak mendapatkan masalah, mungkin ia masih bisa memiliki jabatan yang lumayan di perusahaan itu.
" Betul mas, kali aja kita bisa jadi CEO ya?" balas Ari mengeluarkan banyolan akan hal yang tak mungkin ia capai.
" Nah itu dia!" jawab Brio tergelak.
Kini, kedua pria itu terlihat kompak terkikik-kikik demi menertawakan sesuatu yang sebenarnya menjadi ironi bagi mereka.
__ADS_1
"Apaan sih ketawa, pasti nggosipin kita lagi ya?" seru Inka mencibir seraya melirik Brio yang terkekeh bersama Ari.
" Bisa jadi!" balas Ari yang membuat dua pejantan itu makin tergelak, karena cuping hidung Inka sudah mulai mekar.
Puri yang melihat Ari tertawa lepas seperti itu merasa hatinya begitu damai. Laki-laki itu sangat mudah berbaur dengan orang baru dan yang paling Puri suka, selalu tampil bersahaja.
Dan saat petugas dari catatan sipil telah tiba, mereka semua spontan terdiam lalu berduyun-duyun menyongsong meja yang akan digunakan oleh Alsaki untuk melangsungkan akad.
" Pasttt, pindah sini, katanya mau perhatikan Alsaki pas akad? Jangan sampai kamu remidi pas kita nikah nanti, cukup ujian muatan lokal kita aja yang remidi!" Inka terkikik-kikik saat memanggil Brio yang kini mendengus.
Praktis, kepindahan Brio membuat Ari tak sengaja duduk di dekat Puri yang sedari tadi salah tingkah. Namun baru saja merasa suasananya aman, tenang, tentram dan damai, Desi malah tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi kosong di sebelah kanan Ari.
Membuat laki-laki itu kini berada diantara dua wanita yang saling bersaing.
" Kamu dari mana?" Ari bertanya kepada Desi dengan normal.
" Bantuin ibuk tadi. Tanganku kena benda tajam nih mas!" sahut Desi meringis menunjukkan jarinya yang koyak.
" Mana?" Ari kontan bertanya khawatir dan langsung meraih jemari Desi untuk melihat luka itu.
Membuat gadis yang rupanya menguping di sebelah kirinya langsung mencibir.
" Ini, perih banget mas!" tunjuk Desi ke jari tengahnya yang memang terluka saat membereskan alat-alat yang berserak tadi.
" Lain kali hati-hati. Untung ini kecil. Kau harus bisa menjaga dirimu!" seru Ari sembari menempelkan plaster itu.
" Untuk apa aku menjaga diriku mas, kan ada kamu?" balas Desi yang terlihat manja.
Namun Ari malas menanggapi sebab ini adalah acara resmi, dan ia tak mungkin untuk mendebat Desi lantaran ia tahu watak gadis itu.
Namun kebungkamannya itu, lagi-lagi di salah artikan oleh Puri. Membuat gadis yang kini terbakar cemburu tanpa sebab itu, berpindah tempat dan membuat Ari mengerutkan kening.
" Eh mempelai datang tuh, mempelai datang!"
Ari yang hendak bertanya kepada Puri kenapa dia terlihat kesal, segera mengurungkan niatnya demi melihat Alsaki dan Puri yang terlihat memasuki ruangan itu dengan penampilan yang luar biasa.
Jilatan kamera menyambut dua sejoli yang bakal menjadi raja dan ratu semalam itu. Tak sia-sia semua persiapan yang telah dilakukan semua team selama ini, Dhisti dan Alsaki benar-benar menjadi bintang.
Gaun akad berwarna rose gold yang membungkus tubuh proporsional Dhisti benar-benar membuat tampilan gadis itu begitu cantik. Make up yang juara juga makin membuat wajah gadis itu bagai pemandangan yang indah di pandang.
Pun dengan Alsaki yang nampak gagah dengan dengan jas berdalaman tuxedo yang fit di tubuhnya.
Alsaki tampan.
Dante yang selalu tampil bisu bagai patung hidup itu, terlihat membantu dua mempelai itu untuk menempati kursi yang sudah tersedia di sana.
__ADS_1
Para fotografer terlihat bekerja secara prima seolah tak ingin melewatkan sedetik pun momen bersejarah itu.
Para tamu undangan, serta keluarga tampak fokus kepada dua orang yang sebentar lagi bakal resmi menjadi pasangan suami istri itu.
Pria berpeci yang mengenakan jas hitam itu terlihat memeriksa beberapa lembar kertas yang diketahui sebagai syarat kedua mempelai dalam melangsungkan pernikahan.
" Maharnya tolong di bawa kemari dan di letakkan di atas meja!" tutur pria berpeci hitam itu.
Para WO yang bersiap kini terlihat membawa apa yang diminta petugas itu kedepan meja. Membuat Dhisti semakin deg-degan.
" Baik, persyaratannya sudah lengkap. Kita bisa mulai ya?" kata orang itu kembali kali ini sembari menatap para saksi secara bergantian.
Dhisti tak memiliki siapapun yang bisa menjadi walinya. Alhasil, pernikahannya saat ini diwakili oleh wali hakim yang tentunya sudah mendapatkan jaminan kelegalan sebelumnya.
Kini, Alsaki tampak menghela napas guna menetralisir kegugupan yang semakin membuncah dan bergerombol di dalam hatinya.
Meski saat sejauh matanya tadi mengedarkan pandangan ia dapati sosok sang papa, namun ia percaya jika badai yang terjadi tidak akan pernah lama.
" Saudara Alsaki Yudhistira Gunawan...."
Kesemua orang menjadi tegang dan membeku secara bersamaan, manakala tangan Alsaki mulai di genggam erat oleh pria itu.
Kamera yang saling mengeluarkan kilatan silih berganti itu, semakin membuat jantung keduanya berdegup tak normal. Hingga, saat tangan Alsaki di hentakkan dan menjadi pertanda jika inikah waktunya bagi dia untuk mengeluarkan kalimat sakral itu.
" Saya terima nikah dan kawinnya Adhisti Tribawati binti Abdul Majid almarhum dengan mas kawin logam mulia seberat dua ribu dua puluh tiga gram dibayar tunai!"
Mengucap dalam sekali tarikan napas.
" Bagaimana saksi?"
" Sahhhhhh!!!!!"
Puri dan Inka kompak memekik dan membuat suasana seketika heboh. Mama Hapsari yang merasa lega kini tak hentinya menghaturkan rasa syukur atas apa yang telah terjadi. Ari mata menjadi bukti betapa bahagianya ia saat ini meski ada beberapa hal yang tak terjadi sesuai ekspektasi.
Namun, dibalik riuh rendah serta suasana mengharu biru itu, seorang Hendra Gunawan terlihat berdiam diri di sebuah ruangan gelap dengan menatap sebuah siaran langsung yang tengah di lakukan oleh Luna.
" Kau benar-benar lebih memilih gadis itu dari pada Papa Al!"
.
.
.
Like komen jangan lupa ya?
__ADS_1