Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 28. Rencana aneh big bos


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dengan menyandang tas ransel berisikan seragam ganti, Dhisti berjalan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Ia lantas menunaikan tugasnya tanpa memperdulikan tatapan- tatapan aneh, yang sesekali membuatnya tak nyaman.


Pasca kejadian tempo hari, di area pekerjaan halalnya itu memang semakin banyak saja hal aneh yang terjadi. Terutama soal mulut-mulut yang mendadak bisu, dan keramahan rekan-rekan yang perlahan memudar.


Semua tampak seperti saat ia menjadi karyawan training macam dulu.


Di sudut ruangan dimana ia membersihkan kaca etalase besar, ia terperanjat kala sosok Nita datang dengan sorot mata penuh kecemasan.


" Mbak Nita? Mbak udah sehat? Kok masuk?"


" Dhis, sini !"


Alih-alih mendapatkan jawaban, gadis itu malah dibuat bingung oleh sikap Nita yang nampak khawatir


Dhisti sekonyong-konyong berjalan melongo, kala tangannya di tarik oleh Nita yang wajahnya resah.


" Aku baru dengar semua kejadian yang terjadi setelah aku pulang kemarin Dhis. Mereka semua sekarang takut sama kamu. Kamu kok bisa kenal sama Alsaki sih? Kudengar Pak Ramdani juga di pecat ya, karena apa sih sebenarnya?"


Jadi ini alasan anak-anak CS menghindarinya? Membuat Dhisti tertegun sedih.


" Kok mbak Nita tahu kalau mereka..."


" Aku maksa nanya ke mereka tadi!" Sahut Nita muram membuat kalimat yang bahkan belum sempurna itu menguap.


" Aku juga jadi takut sama kamu kalau begini, kamu diam-diam kenal sama orang penting begitu. Kamu nggak benar-benar ngelakuin yang di tuduhkan anak-anak ke kamu kan?" Tudingnya resah bercampur takut. Membuat yang di tuding seketika mendelik risau.


" Memangnya mereka bilang apa mbak?"


Ragu Nita hendak menjawab. Tapi mengutarakan sekarang lebih baik dari pada bergunjing di kemudi.


" Kamu...ada main sama..."


Mengerti akan kata yang di maksud Nita selanjutnya, sontak membuat Dhisti berang.


" Jadi mereka nuduh aku jual dir...."


" Dhis, di panggil ke ruangan Pak Fery!"


Belum juga tuntas Dhisti membahas kesalahpahaman itu kepada Nita, seorang karyawati lain datang membawa berita yang semakin membuat kepalanya pening.


" Ada apa lagi?"


...----------------...


Dari serentetan kejadian naas beberapa hari ini, semua semakin terasa menjengkelkan kala ia melihat seraut datar dari wajah pria bernama Dante, yang kini berada di ruangan Pak Fery.


Bagaimana bisa?

__ADS_1


" Saya tinggal ya!" ucap pak Fery kepada Dante seraya menepuk pundak pria gagah itu.


Dhisti hanya menunduk saat big bosnya melewati dirinya dengan wajah yang sulit di artikan. Dan sedetik kemudian, ia menatap sengit pria datar yang membuatnya selalu bertanya-tanya. Apakah pria itu benar-benar manusia?


" Saya hanya ingin mengantarkan ini!"


Mata Dhisti melotot demi melihat kartu nama elegan yang menunjukkan nama lengkap Alsaki berikut jabatan, alamat website, email, nomor hape, serta alamat kantor yang tertera komplit di sana.


" Kenapa? Kenapa tiba-tiba memberiku nomor ini?" Tanya Dhisti bingung. Menatap Dante dengan sorot mata penuh tuntunan.


" Bukankah anda meminta nomor telepon Pak Al kepada Ida tadi?"


What?


Sejenak berpikir. Siapa Ida?


Namun saat otaknya lekas bekerja dengan baik, ia menutup mulutnya yang terkejut demi mengingat jika Ida merupakan nama resepsionis wanita di perusahaan Alsaki yang sempat berdebat dengannya tadi.


" Jadi wanita itu mengadu?"


" Tolong sampaikan saja kepada dia, tolong kembalikan Pak Ramdan ke posisi semula. Apa haknya memecat orang itu?" Bersungut-sungut meluapkan kekesalan dengan sedikit memberanikan diri kepada sosok yang tetap datar itu.


" Anda bisa menyampaikan hal itu sendiri nanti. Saya harus segera kembali!"


" Apa? Sudah gila ya? Cuman diminta menyampaikan saja apa bedanya sih?" mengeram jengkel pada sosok yang kaku itu.


...----------------...


Dante memicingkan matanya kala melihat sang bos tergelak puas. Al tertawa bukan main. Pria itu tertawa di hadapan Dante yang bahkan tak menarik satu senti pun senyumnya.


Benar-benar definisi dari kesenjangan sosial.


" Jadi benar dia menemuimu hanya ingin meminta pria cabul itu kembali? Dasar bodoh!" Bergumam seraya menggeleng tak percaya.


Namun yang di ajak ngobrol masih bergeming. Menatap bosnya yang sungguh menikmati informasi yang barusan ia bawa.


" Apa jadwalku besok kosong?" tanya Al melipat kedua tangannya ke dada.


" Anda hanya akan memimpin rapat internal di jam 9!"


Al mengangguk paham. " Antar aku besok ke suatu tempat!"


Dante yang semakin terheran-heran kenapa bosnya bisa tampak sebahagia itu dalam kurun waktu belakang ini, menduga jika gadis dengan sorot yang selalu mempertontonkan jiwanya yang tak pernah sepi itulah penyebabnya.


Selama lima tahun ia membersamai Alsaki, tak sekalipun bosnya itu bertingkah konyol macam saat ini. Dan Dante merupakan orang yang tak percaya dengan sebuah kebetulan. Apa yang tejadi kepada bos-nya itu pasti ada satu indikator sebab akibat yang terjadi.


Malam menelan terangnya buana dan menggantinya dengan keheningan yang mendobrak ruang pekat. Dhisti yang malam itu telah janjian dengan Inka, tampak menyedot sebuah minuman dingin walau hawa di sekitar sebenarnya telah dingin.


Mungkin Dhisti panas dalam. Atau emosi atas sikap datar Dante membuat letupan emosi itu kian membara.

__ADS_1


" Sory telat, perutku konslet abis makan ramen kadaluarsa kemarin!"


Mata Dhisti membulat bukan karena mendengar kata kadaluarsa. Tapi kebiasaan gila sahabatnya itu tak hilang juga. Menkonsumsi bahan makanan yang sudah dekat ajalnya dengan dalih sayang kalau dibuang.


" Kamu ini susah banget di kasih tahu In. Nyari mati kamu ini!" Jengkel Dhisti kepada rekannya yang memang sudah gila itu.


Inka merupakan wanita out of the box yang sangat sulit ia selami. Semakin paradoks Inka, semakin santai dan semakin pintar pula akalnya. Dan anehnya, gadis itu selalu selamat dari marabahaya.


" Alah aman lah. Udah kadung ketelen juga. Udah jadi tai!"


Dhisti menatap kesal sahabatnya yang menyandang gelar penghobi film bejat itu. Tak terlihat sorot penyesalan dalam raut wajahnya yang selalu menganggap enteng segala hal.


" Nih, tolong kamu yang bilang. Aku..."


" Tenang, kapan lagi bisa ngobrol sama orang terkenal!"


Menyambar sebuah ponsel demi mengetahui jika alasannya datang kesana adalah untuk membantu Dhisti bernegosiasi kepada Alsaki.


Maka Inka terlihat serius saat menempelkan ponsel Dhisti ke cuping telinganya. Terlihat tak sabar dengan hati berdebar.


Tut


Tut


Tut


" Halo!"


" Ih Dhis...di angkat Dhis..."


Yang di seberang mengerut kening heran kala suara bernada sukacita itu merambat melalui ponsel. Suara cekikikan itu menular dan membuat si pemilik nomor menarik senyum. Membuat Puri yang malam itu berada di dekat kakaknya melirik heran.


Sejurus kemudian, wajah penuh misteri Kak Al membuat Puri yang asik membaca novel thriller menutup bukunya.


" Roman- romannya, kakak ini sedang..."


" Sedang apa, keseringan baca novel romansa jadi makin aneh tau nggak kamu!" Sahutnya sembari memfokuskan diri pada ponsel yang sudah menutup sambungan teleponnya.


Sementara yang di usuk rambutnya hanya nampak mencibir.


Sedetik kemudian, dengung kabar menggelitik itu sampai juga kepada pria yang barusaja membersihkan diri dari aktivitas pekerjaan bersama majikan yang nampak kasmaran.


" Besok kita jadi kesana Dan. Jangan sampai terlambat!"


Dante yang malam itu sedang mengaduk segelas susu cokelat tertegun saat membaca pesan bosnya.


" Rencana aneh apalagi yang akan anda lakukan bos?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2