Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 20. Sang Raja tega


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Kobaran api kemarahan di dada Al kini perlahan meredup manakala melihat wajah pias Dhisti yang nampak ketakutan.


" Anak ini menggemaskan sekali jika begini? Tunggu dulu, apa dia benar-benar sudah tau siapa aku?"


" Kenapa sekarang kau diam. Apa kau takut kalau..."


" Aku tidak takut. Untuk apa aku takut! Aku hanya kesal kepadamu!"


Al menarik sebelah bibirnya. Seringai tipis lagi-lagi muncul tanpa Dhisti sadari.


" Apa?" Dhisti bertanya dengan wajah takut dan langsung mundur kebelakang kala Al malah memanjangkan wajahnya tersenyum tepat di hadapan Dhisti.


Membuat mereka semakin tak berjarak.


" Ma-mau apa kau?" Dhisti seketika menutup wajahnya dan membuat berkas resume itu jatuh, saat Al semakin mencondongkan tubuhnya mendekat.


Al sengaja diam selama beberapa detik dan sibuk menatap Dhisti yang kini menutupi bibirnya. Takut kalau-kalau pria itu berbuat yang tidak-tidak terhadapnya.


" Hahahah, kenapa kau menutup bibirmu, kau berharap aku akan menciumu ya?"


What?


" Kau bahkan bau sekali!" Sengaja mengerjai Dhisti dan entah kenapa hal itu malah menjadi kesenangan tersendiri bagi Al.


Dhisti terlolong menatap Al yang kini tertawa lepas selepas- lepasnya. Dhisti sangat polos dan nampak bloon kalau sedang takut begitu.


" Brengsek sekali pria ini!"


Melihat Al yang tertawa, Dhisti justru ketakutan. Setelah ia tahu siapa Al, entah mengapa sekat tinggi yang menjulang mendadak muncul membentengi keduanya. Bahkan ia sekarang tak berani untuk sekedar menyela ucapannya.


Membuatnya Dhisti membuang pandangannya mencari aman.


" Astaga, kau ini benar-benar lucu. Apa kau tidak pernah di cium mantanmu itu, sehingga kau sangat berharap aku menciummu hahahaha?"


" Tertawa terus. Apanya yang lucu coba. Brengsek!"


Menggerutu tiada henti, sementara yang di gerutui tampak melanjutkan tawanya tanpa dosa.


Usai menghabiskan stok tawanya, pria itu kini terdiam sembari melirik Dhisti yang mendadak aneh. Wanita itu menjadi pendiam.


Atmosfer canggung semakin terasa mendominasi.


"Ehem!"


Al berdehem melebur kesunyian.


" Oke sekarang kita serius. Sebenarnya, apa yang laki-laki tadi itu lakukan kepadamu?


Dhisti agak kaget sebab Al mendadak mengajukan pertanyaan seperti itu tanpa tedeng aling-aling. Membuatnya tertegun selama beberapa detik sebab ragu apakah ia harus menjawab.


" Kenapa kau diam, apa sebenarnya kau kesal karena aku ganggu?"


Mendengus sebal sembari melempari tatapan sengit kepada Al yang tampak mencibir.


" Semua karyawan disana tadi membicarakanmu. Kudengar kau mengizinkan temanmu pulang dan hal itu memantik kemarahan managermu. Apa itu benar?"


" Hah, jadi mereka semua membicarakanku? Sialan. Tapi.. tunggu dulu, kenapa orang ini bisa tahu? Kenapa tiba-tiba ada di sini?"


" Kau tahu, suara mereka begitu lirih. Dan itu artinya, semakin lirih suara seseorang saat sedang bergosip, semakin mantap pula gosip yang dibahas. Apalagi, melihatmu kuseret keluar, mereka pasti juga membicarakanmu!"


Membuat Dhisti langsung menoleh kembali menatap Al dengan tatapan lebih kesal.


Mulutnya itu lho!


Bukannya menjawab, Dhisti yang sekarang begitu kesal dengan mulut Al benar-benar tak tahan sekaligus kepalang malu.


" Buka pintunya, aku mau pulang!"


" Tidak mau! Jawab dulu pertanyaanku tadi!"


Membuat Dhisti terkejut tak percaya.

__ADS_1


" Kalau iya emang kenapa? Lagipula, untuk apa kau datang kemari. Kau tidak sedang membuntutiku kan?"


Todong Dhisti yang membuat Al seketika speechless.


" Aku sudah menolongmu dari pria kurang ajar tadi. Jadi...kau harus membalas budi kepadaku!"


"Apa sudah gila ya?"


"Aku tidak memintamu menolongku, kau sendiri yang datang, untuk apa aku berkewajiban membalas?"Sergah Dhisti memberanikan diri.


" Kau lupa siapa orang yang ada di resume itu?" Kembali menyeringai licik, membuat Dhisti tak bisa menjawab.


...----------------...


Pagi yang menggelar harapan menggantikan malam yang begitu mengesalkan. Dhisti semalam tak bisa barang sejenak memejamkan matanya.


Bukannya masak atau membeli sarapan untuk kakek, Dhisti yang tak kuasa menyimpan kekesalan itu akhirnya menceritakan semua yang ia alami kepada Inka. Mulai dari kekurangajaran Ramdan, hingga keterkejutannya soal Al.


" Apa kau bilang?"


Teriak Inka kaget demi cerita yang barusaja di sampaikan oleh Dhisti. Membuat Dhisti reflek membekap mulut combe sahabatnya itu.


" CK, mulutmu In!" Timpal Dhisti kesal dan perlahan membuka tangannya dari mulut Inka.


" Tunggu dulu Dhis, kau ini benar-benar tidak tahu wajah Alsaki yang sering nongol di TV ?" Tanya Inka menatap lekat-lekat sahabatnya.


Dhisti mengangguk murung. Itu memang benar adanya. Membuat Inka mendecak.


" Astaga. Kau ini bodoh tapi beruntung banget. Aku iri padamu karena bisa beberapa kali bersamanya, heeeee!" Merengek sambil kosel kaki.


Astaga, kenapa yang di ajak curhat jadi begini? Benar-benar diluar ekspektasi.


" Ngapain iri?" Sahut Dhisti dengan menarik sebelah alisnya. Tak mengira jika reaksi Inka akan se lebay itu.


" Ya iri lah coy, secara... Al itu ganteng banget, terus terkenal. Udah minta selfi belum sama dia?" Menyenggol bahu Dhisti hingga terhuyung.


" Buat apaan. Gak penting. Gak bisa digadein buat bayar setoran juga!" Tukasnya asal.


" Ih anak ini!"


Inka membelalakkan matanya bukan kaget karena perkataan gak mau bayar, tapi karena buat beresin apartemen orang itu.


" Apa? Gila, lu mau kesana? Ke apartemen orang itu? Aduh Dhis, sumpah aku iri banget!" Inka sudah seperti orang yang keranjingan. Merengek-rengek demi iri kepada Dhisti yang mendapat peluang berjumpa dengan Al.


" CK!" mendecak kesal karena Inka begitu menyebalkan. Bukannya prihatin atas penderitaan yang ia terima, wanita itu justru mengatakan iri lebih dari satu kali.


Sialan!


Ia akan kembali masuk sift siang hari ini. Biasanya ia akan mencopet sebelum masuk kerja guna menambah pundi-pundi rupiah yang harus ia setor kepada keparat itu. Namun karena hal brengsek ini, ia harus menunda niatnya itu.


" Datang jam sembilan tepat di alamat ini. Jika kau terlambat satu menit saja. Lihat apa yang bakal terjadi kepadamu!"


See? Pria itu benar-benar definisi dari dewa sial dalam arti sebenarnya.


Tidak usah di ancam pun, ia juga pasti tahu jika orang berduit itu pasti bisa merombak yang sulit jadi mudah. Termasuk menyingkirkan kutu kupret macam dirinya. Menyesal karena sempat memuji Al sewaktu menolongnya di malam ia di putus oleh Aris.


Ia masuk di sebuah bangunan licin dan mengkilat dengan brand properti terkemuka yang ada di kota itu, sejurus kemudian ia melangkah menuju lift yang berada di dekat tangga. Menekan tombol sesuai nomor lantai tempat dimana ruangan orang itu berada.


Ia bolak balik melihat jam di pergelangan tangannya demi memastikan jika dia aman. Mendecak kesal sebab nyatanya ia tersugesti datang lebih awal. Sial!


Dhisti berjalan dengan tatapan membaca petunjuk lokasi dimana unit milik Al berada. Sedikit kesal sebab unit Al rupanya berada di lantai paling atas. Membuatnya harus kembali ke lift lagi.


Hingga, ia yang lega karena telah berada di koridor yang tepat, kini menekan bel di samping pintu apartemen Al dengan perasaan campur aduk.


Takut, kesal, malu, dan minder.


Tak melihat reaksi apapun dari pintu yang bel nya tekun ia tekan itu, kini Dhisti kembali menekan bel sialan itu dengan wajah sebal.


" Jangan-jangan aku di kerjain lagi, CK!" Bernegatif thinking sebab lama sekali tak ada reaksi.


Dan sejurus kemudian.


CEKLEK!

__ADS_1


Dhisti yang semula melamun, kini tersentak sedari lamunannya demi pintu yang terbuka mendadak itu.


" Wow, kau sangat antusias kemari ya? Kau bahkan datang sebelum jam yang aku tentukan!"


" Apa, kan kau yang bilang kalau aku tidak boleh terlambat. Brengsek juga nih orang!"


Hanya berani mengumpat dalam hati.


" Masuk!" Seru Al yang wajahnya terlihat menyeringai.


Ia hanya menundukkan kepalanya lalu masuk. Entahlah, ia juga heran kepada dirinya sendiri, kenapa ia menjadi setakut itu saat mengetahui siapa Al sebenarnya.


Dan jujur, Dhisti sangat tidak suka berurusan dengan orang gedongan seperti Al.


Ia memindai sekeliling ruangan dimana tempat itu benar-benar kinclong dan rapi. Terlihat beberapa barang elektronik futuristik yang membuatnya bingung bagaimana cara menggunakannya.


" Apanya yang mau di bersihkan?"


Wanita itu langsung berucap demi melihat keadaan yang benar-benar bersih. Bahkan ia yakin, jika ada lalat yang nyasar kesana, binatang itu pasti langsung tergelincir.


" Aku lapar, sebaiknya kau masak dulu!"


" Apa? Aku tidak bisa masak!" Bohong Dhisti demi menolak kekejaman Al. Yang benar saja, bukankah dia datang bukan untuk itu?


Ia menatap kesal Al yang malah melempar tubuhnya ke atas sofa tanpa mempedulikan ocehan Dhisti. Laki-laki itu terlihat menikmati aksi penindasan yang saat ini dia lakukan.


Yeah!


" Aku tidur sebentar. Gara-gara kamu, aku jadi tidak tidur semalam. Sekarang masaklah sebagai bagian penebusan dosamu, semua bahan ada di dapur. Setelah itu, kau bisa bersih-bersih dan pergilah!"


Pria brengsek!


Dhisti benar-benar ingin mencekik manusia yang kini mulai memejamkan matanya itu. Benar-benar raja tega.


" Padahal aku yang tidak bisa tidur semalam. Sekarang kenapa dia yang malah enak-enakan tidur?"


Hah, ya sudahlah. Dari pada mengomel dan membuat semua semakin lama, Dhisti akhirnya menggulung kemeja flanelnya hingga ke siku, lalu menuju ke kulkas untuk melihat bahan-bahan yang ada.


Kekesalannya sedikit memudar manakala ia melihat ice cream dalam lemari es itu. Ia membuka lalu mengambil beberapa scup ice cream lalu menikmatinya.


" Emmm ini enak sekali." Bergumam dengan wajah penuh sukacita.


" Hah, aku bahkan lupa untuk menyenangkan diriku sendiri. Pumpung raja tega itu tidur, lebih baik aku makan ini dulu!"


Ia begitu menikmati makanan lembut, dingin nan manis itu. Sudah lupa jika tugasnya kesana adalah untuk menjadi babu.


Usai menghabiskan satu mangkuk ice cream, gadis itu tampak mengambil beras, lalu mencucinya, dan sejurus kemudian memasaknya ke panci bagus berwarna hijau tosca. Terpaksa menanak nasi di alat itu sebab alat-alat elektronik di tempat itu terlalu canggih dan membuatnya tak mengerti cara menggunakannya.


Sembari menunggu nasi masak, ia terlihat cekatan memotong-motong sayuran juga memfilet ayam. Potong sana potong sini, iris sana iris sini, membuat dapur itu kacau balau.


Dengan cekatan pula, wanita itu membereskan semua kekacauan yang telah ia buat, manakala makanya itu telah siap. Tak meninggalkan satu kotoran pun, di tempat yang sangat licin itu.


Sedetik kemudian, ia melihat ke arah jam tangan yang telah menunjukkan waktu yang agak terik diluar. Membuat dia mempercepat perkejaannya. Ia takut akan terlambat nanti ke mall.


Tepat di jam 12.30, pekerjaannya beres. Ia buru-buru mencuci tangannya lalu melihat Al yang tampak masih tertidur.


" Apa benar jika dia tak bisa tidur semalam?"


Menatap wajah Al yang semakin tampan jika matanya terpejam seperti itu. Usai membatin, ia yang tersadar jika waktu cek log tinggal beberapa menit lagi, kini bergegas membuka pintu lalu keluar tanpa pamit.


Persetan akan Al yang bakal mengoceh nanti. Yang jelas, dia sudah mengerjakan apa yang diminta oleh Al.


Selesai.


Namun keterkejutannya bertambah menjadi dua kali lipat, kala sosok tinggi mendadak menghadang langkahnya sewaktu ia tiba di lantai dasar.


" Selamat siang nona, saya Dante. Saya di perintahkan tuan Al untuk mengantar anda bekerja!"


" Apa?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2