
...🌻🌻🌻...
Tyo tampak terburu-buru sekali sebab ia kini menjadi panik lantaran mbok Enok juga semakin terisak-isak. Wanita tua itu merasa kasihan sekali dengan kondisi Desi yang begitu lemah.
Apalagi, darah segar yang mengalir dari pangkal selang kangan itu menambah rasa takut juga kekhawatiran yang semakin menjadi.
BRAK!
Tyo yang baru selesai memasang sabuk pengaman sampai berjingkat saat Ari tiba-tiba masuk membanting pintu mobil itu dengan begitu kerasnya. Tak menyangka jika teman barunya itu sudah cepat sekali menyusul ke mobil.
Namun saat mobil itu mulai berjalan, Puri yang entah muncul dari mana tiba-tiba menghadang mobil itu dengan sikap impulsif sebab nyaris saja tertabrak.
" Ari aku mau bicara!" teriak Puri yang menghadang mobil Tyo yang kini terhuyung sebab menginjak rem secara mendadak.
"Sial, Ar cepat minta wanita itu menyingkir, kita tak punya waktu banyak!" kata Tyo yang kesal bercampur resah saat melihat Puri yang ngawur.
Namun alih-alih menurut, Ari justru membuka kembali pintu mobil itu lalu keluar kembali. Membuat Tyo terperanjat.
" Pergilah, ada yang ingin aku bereskan dulu!" kata Ari berbicara kepada Tyo melalui kaca jendela yang terbuka dengan wajah sangat serius.
Tyo mengangguk dan langsung tancap gas. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu bersama Puri. Tapi yang jelas, ia harus segera membawa Desi agar bisa segera mendapatkan pertolongan.
Puri yang tak bisa berhenti memikirkan Ari sebab benar-benar merasa bersalah, tampak kabur saat kakak iparnya tengah mengurus Mamanya yang tampak syok. Ia bahkan tak mengindahkan teriakan kakaknya yang masih sibuk mengurus Hendra Gunawan bersama beberapa pekerja yang baru tahu kejadian menggemparkan itu.
Alsaki yang tak bisa meninggalkan Hendra, juga Dhisti yang tak bisa meninggalkan nyonya Hapsari, akhirnya membiarkan Puri dan berniat akan menyusulnya setelah ini.
Hujan yang semula sedikit reda, kini kembali turun dengan intensitas tinggi. Membuat kedua manusia itu bermandikan hujan dengan posisi saling berhadapan.
Mata Puri berkaca-kaca dengan pijar kesedihan yang bercampur penyesalan yang menyala terang. Membakar semua kebodohan, yang selama ini tiada Puri sadari.
Menyeretnya ke dasar penyesalan yang paling dalam.
Sedetik berikutnya, saat kebungkaman masih mewakil sejuta rasa ; rindu, kesal, sayang, sesal dan cinta, Puri yang tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya terlihat berlari lalu menubruk tubuh tinggi Ari dan memeluknya erat.
Ari memejamkan matanya manakala tubuh yang hanya setinggi dadanya itu kini memeluknya erat.
" Maafkan aku!" lirihnya dalam isak yang kian pecah sembari membenamkan wajahnya ke dada bidang Ari.
Hanya kata itu yang sanggup terlontar dari bibir Puri meski jauh dalam relung hatinya ada banyak sekali ungkapan yang ingin ia lontarkan.
Hujan terus mengguyur dua sejoli yang kini memeluk dalam kebisuan. Alsaki dan Dhisti yang berlari dari arah rumah Mamanya seketika berhenti mendadak demi melihat adegan mengharukan itu.
__ADS_1
" Mas?" tanya Dhisti yang muram saat melihat Puri memeluk Ari yang masih mematung. Sepertinya mereka benar-benar sedang dalam masalah serius.
Alsaki menghela napas. Ia tahu mereka pasti bisa berbicara dengan kepala dingin. Ia percaya kepada Ari yang ia rasa sudah cukup dewasa.
" Biarkan mereka. Biar Puri belajar mengatasi masalahnya sendiri!" kata Alsaki dengan wajah yang masih muram.
" Tapi mas?"
" Udah, ayo kita masuk dulu. Dante sebentar lagi datang!"
Dhisti akhirnya mengangguk. Ia tahu semua orang pasti pernah memiliki titik terendah dalam hidupnya masing-masing. Suaminya pasti memiliki alasan lain kenapa membiarkan Puri bersama Ari berbicara.
" Masuklah!" kata Ari yang tangannya masih menganggur sebab sebenarnya ia masih sedikit kesal dengan Puri yang susah di beri tahu.
" Tidak mau. Kau harus memaafkan aku dulu!" masih mengeyel dengan tangan yang tak mau ia lepaskan.
" Anda bisa sakit!"
" Aku tidak peduli!"
Ari kembali menghela napas. Gadis ini benar-benar keras kepala dan selalu semaunya sendiri.
Lama sekali mereka memeluk dibawah guyuran hujan. Tak seorangpun berminat untuk angkat bicara. Hingga akhirnya Ari yang menyadari sebuah mobil datang dan itu merupakan Dante, ia langsung melepaskan pelukan Puri dengan sedikit paksaan.
" Tuan, anda..."
" Empat mata lebih baik. Aku ada di kantor besok!"
HAP!
Ari menangkap kunci mobil yang barusaja di lempar Dante ke arahnya sembari tersenyum. Ari sedikit tergeragap sebab ini merupakan kali pertamanya Dante tersenyum ke arahnya.
Ari sebenarnya juga agak heran. Darimana Dante tahu jika dia memang membutuhkan kendaraan.
Puri yang mendengar hal itu langsung masuk kedalam mobil lalu duduk di jok depan tepat di sebelah kemudi. Membuat Ari yang tak memiliki pilihan segera membuka pintu kemudi sebab ia khawatir Puri akan masuk angin.
Di dalam mobil.
" Mama anda pasti sangat membenci saya sebab saya telah menghajar papa anda hingga babak belur!" kata Ari dalam mode dingin yang membuat Puri semakin berengut.
" Aku bahkan malu mengakui dia sebagai orang tua!" sahut Puri yang membuat Ari terkejut sebab tak menyangka jika jawaban yang keluar akan seperti itu.
__ADS_1
Keadaan seketika menjadi hening. Ari sebenarnya masih begitu marah. Rasanya ia masih ingin menghancurkan wajah pria biadab itu hingga hancur namun ia juga sadar jika pria itu masihlah ayah dari perempuan yang ia sayangi itu.
" Lalu sekarang apa?" tanya Ari tanpa menoleh dan berhasil membuat Puri mencak-mencak.
" Sekarang apa bagaimana? Kau menghilang seenaknya. Dan sekarang kau hanya bilang apa? Apa kau tahu selama ini bag..."
Ari yang mendengar Puri histeris seketika menghentikan mobil, menekan tuas handbrake lalu dengan gerakan cepat mematikan mobil itu.
" Kenapa mobilnya kau matikan? Apa kau..."
Ari yang merasa sebal dengan Puri yang terus saja mengoceh, kontan menarik tengkuk gadis di depannya itu lalu sejurus kemudian mencium bibir Puri.
Puri yang kini di cium oleh Ari seketika menangis. Ia sangat merindukan Ari bahkan sangat. Ia rindu sentuhan pria itu, dan semua kesederhanaan yang dimiliki oleh Ari.
Usai emosi itu tersalurkan, Ari perlahan melepaskan ciumannya lalu menangkup wajah Puri dengan tatapan muram.
" Apa nona masih memiliki perasaan yang sama kepada saya saat setelah apa yang barusaja saya lakukan kepada papa anda?"
...----------------...
Tyo menatap cemas pintu yang sudah tertutup itu bersama mbok Enok yang terus saja menangis. Wanita tua itu agaknya benar-benar terpukul dengan kejadian naas yang menimpa Desi.
" Duduk sini dulu mbok. Saya belikan mbok minum dulu!" kata Tyo yang kasihan.
Mbok Enok mengangguk. Ia terus berdoa dalam hatinya supaya teman kerjanya itu selamat dan baik-baik saja.
Tak berselang lama, Tyo kembali dengan membawa minuman juga tissue untuk wanita tua itu.
" Ini mbok minum dulu!"
Mbok Enok mengangguk lalu meminum air yang seal botolnya sudah di buka oleh Tyo. Detik itu juga, Tyo yang masih merasa spot jantung turut meminum air yang dia beli guna menetralisir rasa tegang yang berlebih.
" Keluarga pasien?" tanya salah seorang perawat yang baru muncul dari balik pintu.
" Saya!"
Tyo buru-buru meletakkan kembali botol minumannya, manakala seorang suster memanggil.
" Apakah anda suaminya?"
Maka mbok Enok dan Tyo saling bertukar pandang dengan wajah bingung untuk menjawab.
__ADS_1
-
-