Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 97. Pernyataan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Dante buru-buru membawa Agatha juga bayi itu menuju ke rumah sakit usai mengganti bajunya yang sempat terkena kotoran Raina. Agatha sedikit kagum sebab rupa-rupanya pria itu tak jijik sama sekali.


Setibanya mereka di rumah sakit, mereka lantas membawa Raina masuk. Jika dilihatnya sekilas, mereka memang tampak seperti seorang keluarga yang kerempongan dalam mengurus anak mereka yang sakit.


" Selamat pagi pak, ada yang bisa di bantu?" sapa petugas jaga yang berada di help desk.


" Tolong segera. Dia sedang demam dan diare!" seru Dante yang kali ini kembali terlihat panik sebab Raina rewel dan terus menangis.


Melihat Dante yang panik membuat petugas itu ketularan panik. Petugas dengan nama dada Yana itu seketika menekan pesawat telepon ekstensi untuk menghubungi dokter anak.


Petugas itu lantas meminta Agatha untuk menidurkan bayi itu untuk di periksa di brankar yang ada di ruang tindakan darurat.


" Ada apa ini sus?" tanya dokter yang baru saja masuk di ruangan sementara itu.


" Suhunya lumayan tinggi dok. Diarenya sangat encer cenderung air. Sepertinya kita harus lakukan observasi lanjutan sebab anak ini barusan mengeluarkan diare kembali!"


" Kalau begitu pindahkan ke dalam. Infus agar tidak dehidrasi!"


Mendengar kata Infus membuat Dante dan juga Agatha kompak merinding sebab membayangkan daging seempuk dan semuda itu harus di tusuk jarum infus.


" Maaf pak, mungkin salah satu bisa ikut saya untuk mengisi formulir!"


Dante mengangguk meninggalkan Agatha yang akan menemani Raina menuju ruangan perawatan.


Di meja pendaftaran.


" Siapa nama anaknya pak?" tanya petugas itu sebab seperti pasien harus rawat inap.


" Raina!"


" Nama ibu?"


" Tidak tahu!"


Membuat petugas itu langsung mendongak.


" Tidak tahu?"


" Nama istri anda tadi Pak?" memperjelas kembali sebab mungkin saja Dante yang panik tak fokus akan pertanyaan petugas itu.


" Dia bukan istri saya, dan saya juga tidak tahu namanya!" berkata santai seolah hal itu bukan merupakan hal yang aneh


Membuat petugas lain yang mendengar hal itu langsung keheranan. Kenapa ada pasien aneh seperti ini sih?


" Jadi nama wali saya isi siapa pak?


" Saya saja!" sahutnya masih datar.


" Baik dengan siapa?"


" Eldante Tarcius!"


Usai mengurus semua tethekbengek soal registrasi dan membayar deposit untuk biaya anak itu. Dante kembali menemui Raina dan wanita yang belum ia ketahui namanya itu seorang diri.


" Apa kata dokter?" langsung bertanya saat baru masuk dan membuat Agatha nyaris melemparkan gelas yang dia pegang sebab kaget.


" Bisa tidak ketuk pintu dulu kalau masuk!" dengus Agatha yang sangat kesal.


" Maaf. Jadi bagaimana keadaannya?"


" Aku belum tahu hasil lab nya. Tapi mereka meminta anak ini dirawat disini! Barusan di ambil darahnya!"


Dante menatap wajah polos yang kini memejamkan mata itu dengan hati trenyuh. Sungguh kasihan sekali nasib anak itu. Dan melihat keadaan Raina yang begitu memprihatinkan, membuat Dante semakin tak ingin meninggalkan anak malang itu.


Puas menatap Raina, Dante sejurus kemudian tak sengaja memperhatikan tampilan Agatha yang sedari kemarin tidak mengganti bajunya.


Tanpa berucap, laki-laki itu langsung pergi entah akan menuju kemana, dan membuat Agatha kembali kesal sebab tak menutup pintu ruangan itu dengan benar.


" Astaga, kenapa ada orang seperti itu di dunia ini?"


Selang satu jam kemudian, Dante telah kembali dengan tiga paper bag yang didalamnya berisikan satu stel baju, dalaman, handuk, sabun mandi dan beberapa bedak untuk Agatha.


Ya, rupanya laki-laki itu pergi untuk membeli personal effect untuk Agatha.


" Mandilah. Tampilanmu sangat menggangguku!" ketus Dante menyerahkan tiga paper bag itu kepada Agatha.


" Hey!" pekik Agatha yang terhuyung kala Dante menyerahkan barang itu dengan sedikit keras.


" Cepatlah mandi. Raina bisa kembali diare karena terkontaminasi kuman dari bajumu!"


" Apa kau bilang? Aku sudah mandi meski tidak mengganti baju brengsek. Kau sendiri yang tidak memperbolehkan aku pulang, kenapa sekarang malah menyalahkan orang?" menjawab sebab tak terima dikatakan bau.


" Sudah cepat sana. Jangan lupa buang bajumu itu!"


Dante memilih mendekat ke sisi Raina yang terlelap, dan tak lagi menggubris Agatha. Membuat gadis itu akhirnya pergi sebab ia memang sudah risih dengan pakaiannya.


Sepeninggal Agatha, Dante mengusap kening berkeringat anak itu dengan hati iba. Entah mengapa ia menjadi sangat tak rela jika melihat anak itu teraniaya seperti ini.


" Aku akan merawatmu jika tak ada orang yang bakal mencarimu nak! Tenanglah. Kau akan aman bersamaku!"


Beberapa saat kemudian, dokter sudah kembali dari ruangannya saat Agatha belum kembali. Dokter itu menjelaskan jika Raina demam karena sepertinya ada kuman yang masuk.

__ADS_1


Dante berpikir, mungkin karena Raina terlalu lama berada di ruang terbuka saat belum dia temukan kemarin lah penyebabnya.


Dokter itu juga mengatakan jika anak itu tidak cocok susu yang kini ia minum.


"Jadi sebaiknya susu apa yang harus kami gunakan dok?" tanya Dante kali ini lebih serius.


" Kemungkinan besar anak bapak ini alergi susu protein hewani. Saya sarankan untuk memberi produk susu dengan protein soya ya pak!"


" Soya?" menaikkan sebelah alisnya karena cukup asing dengan nama itu


" Benar Pak. Untuk malam ini saya akan berikan contoh produknya ya?"


" Terserah dokter saja. Yang penting dia sembuh!"


Dokter ramah itu mengangguk, sedikit terpana dengan wajah Dante yang menarik meski jarang tersenyum.


Satu jam kemudian, Agatha yang sudah selesai membersihkan dirinya masuk kembali ke ruangan Raina dengan baju yang sudah pas melekat di tubuhnya.


Wanita itu terlihat lebih segar dan juga wangi. Bahkan, Dante sempat terkejut dan diam selama beberapa detik.


" Apa kau yang memilihkan semua itu tadi?" bertanya kepada Dante yang sibuk dengan ponselnya.


" Hemmm!" Dante mengangguk seraya bergumam.


" B H nya kekecilan sialan!" berkata kesal sebab ia keburu memasukkan pakaiannya yang lama kedalam kresek.


Dante sedikit tersentak. Sebenernya bukan dia yang memilih pembungkus teletabis itu. Menyesal karena mengangguk saat Agatha mengajukan pertanyaan itu kepadanya tadi.


" Kau bisa membelinya lagi nanti. Aku juga tidak sempat mengukur itumu tadi!"


" Apa kau bilang?" sahut Agatha dengan mata melotot dan tangan yang langsung memukul lengan kekar pria itu.


" Hey, kenapa kau memukulku?"


" Diam kau mulut kurang ajar!"


...----------------...


" Puri!"


Nyonya Hapsari mengetuk pintu kamar anaknya sebab seharian ini ia tak melihat anak gadisnya itu berkeliaran didalam rumah.


" Pur!"


Merasa tak mendapatkan jawaban, membuat wanita itu akhirnya membuka kamar anaknya meski tak ada sahutan.


Nyonya Hapsari menyipitkan matanya manakala melihat Puri yang bergulung di bawah selimut tebal di jam jelang surup ini.


" Astaga, kamu demam nak? Kenapa kamu tidak bilang sama Mama?" seru Mama panik sesaat setelah meletakkan punggung tangannya ke kening Puri.


" Ari! Ar!" seru Nyonya Hapsari yang memanggil sang supir dengan kepanikan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.


" Ma, udah jangan teriak-teriak. Puri hanya capek. Puri mau istirahat saja!" kata Puri berusaha melarang sang Mama.


Ari yang mendengar majikannya menjerit kini berjalan sedikit tergopoh-gopoh.


" Ada apa Bu?"


" Cepat siapkan mobil. Kita kerumah sakit. Puri demam sekali!"


Laki-laki itu seketika terkejut. Pantas saja setelah pulang dari apartemen Alsaki tadi ia tak lagi melihat Puri berkeliaran di dalam rumah.


Dengan buru-buru pula, ia kini melakukan apa yang telah di perintahkan oleh majikannya itu.


" Ada apa ma?"


Tuan Hendra yang mendengar istrinya berteriak, kini datang dengan wajah panik dan menatap istrinya yang sedang resah.


" Puri sakit. Badannya panas sekali. Mama mau bawa dia ke rumah sakit!"


" Papa ikut!"


Selama perjalanan, Puri terus menggigil. Gadis itu bahkan tak sanggup untuk sekedar duduk. Ia kini tertidur dengan berbantalkan paha Mamanya, dan kaki yang berada di atas pangkuan sang papa.


" Lebih cepat Ar. Atau kamu cari jalan lain!" seru tuan Hendra yang semakin panik karena Puri juga muntah.


" Baik tuan!"


Ari menyempatkan diri untuk melihat wajah Puri yang pucat. Sedikit merasa bersalah sebab tadi pagi ia agak berkata keras terhadap Puri.


Setibanya mereka di rumah sakit, tuan Hendra dan Ari membawa Puri masuk sebab Nyonya Hapsari menuju ke toilet dulu guna membersihkan tubuhnya yang kotor, lantaran Puri mengeluarkan isi perutnya dengan banyak sekali dan mengenai rok wanita itu.


" Mohon di tunggu sebentar ya Pak, pengantar hanya sampai disini!" pinta petugas itu dengan ramah saat mereka berdua telah berada di bibir pintu ruang tindakan.


Kedua laki-laki itu kompak mengangguk.


" Oh iya pak, silahkan menuju ke ruang resepsionis untuk melakukan registrasi ya. Kami akan melakukan penanganan terlebih dahulu!"


Tuan Hendra yang mendengar hal itu langsung berinisiatif pergi untuk mengurus administrasi.


" Ar kamu tunggu disini saja ya. Ibuk lagi ke toilet tadi. Kalau kamu yang kesana, nanti enggak tahu apa-apa yang musti di urus!"


Ari mengangguk seraya tersenyum meski Hendra Gunawan sedikit menghinanya.

__ADS_1


" Baik tuan!"


Tuan Hendra akhirnya pergi menuju resepsionis, sementara Ari kini duduk lesu sebab memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Puri.


" Apa yang sebenarnya terjadi nona? Semoga anda baik-baik saja!"


Selama tiga puluh menit ia menunggu sendirian. Selama itu pula, pikiran dan hatinya selalu resah sebab menduga apa yang sebenarnya membuat Puri tiba-tiba sakit.


Nyoya Hapsari yang sudah terlihat berganti pakaian yang entah ia dapat dari mana itu terlihat muncul dari arah kanan, dimana Ari masih berada di sana.


" Suaminya saya kemana Ar?" tanya nyonya Hapsari yang seketika membuyarkan lamunan Ari.


"Ibu, anda sudah selesai?tuan sedang ke meja resepsionis Bu!" menjawab sesaat setelah ia berdiri.


" Kenapa enggak nyuruh kamu aja?" sedikit heran karena biasanya suaminya tak mau mengurusi birokrasi apapun.


Nyonya Hapsari akhirnya duduk bersama Ari sembari menunggu anaknya di periksa. Tak lagi memikirkan suaminya yang tumben mau membantunya mengurus ini itu.


" Pasti dia sedang stress makanya dia kumat begini. Tapi sayangnya anak itu selalu tidak terbuka kalau sama aku Ar!" kata nyonya Hapsari tersenyum sumbang yang menduga anaknya sakit karena pikiran yang terforsir.


Membuat Ari seketika menoleh demi mendengar secuil penuturan mengejutkan itu.


" Makanya dari kecil dia dekatnya sama Al. Bukan sama saya. Mungkin dia sedang banyak pikiran sekarang. Semenjak putus dengan Wisnu, Puri memang kadang sering bersikap tidak seperti biasanya!"


Ari yang mendengar itu malah teringat akan apa yang terjadi pagi tadi. Apakah Puri stres karena memikirkan ucapannya tadi?


Oh sial!


" Nona pasti baik-baik saja Bu. Ibu jangan kepikiran yang aneh-aneh. Kalau ini kepiting, nanti tekanan darah ibu bisa naik seperti waktu itu!" balas Ari yang memang peduli dengan majikannya yang berhati baik itu.


" Terimakasih ya Ar. Kamu ini selalu baik sama kita. Istirahat kamu jadi kurang karena sering ada hal-hal diluar dugaan kaya begini!"


Ari tertegun. Andai nyonya Hapsari tahu jika ia dan Puri memiliki hubungan yang lebih dari majikan dan pembantunya, apakah Nyonya Hapsari masih bisa berkata ramah?


Karena lama menunggu suaminya, Nyonya Hapsari memilih untuk mencari kedepan dan meminta Ari untuk duduk di sana sebab takut kalau-kalau dokter sudah selesai memeriksa.


" Biar saya cari dulu Ar. Kamu tunggu sini aja. Kalau kamu yang cari, nanti malah kamu kena omel!"


Namun saat ia telah tiba di depan meja resepsionis, tuan Hendra yang melihat kedatangan istrinya buru-buru mematikan sambungan teleponnya.


" Papa telepon siapa?" tanya nyonya Hapsari dengan alis bertaut.


" Enggak, tadi pas mau balik kebetulan Haryadi nelpon, dia mau menikah katanya!" kata tuan Hendra sedikit gelagapan.


" Haryadi? Bukannya istrinya baru meninggal seminggu yang lalu?" kembali bertanya dengan wajah syok.


" Gak tahu juga ma, udah jangan urus urusan orang lain. Gimana keadaan Puri?" memilih mengganti topik pembicaraan sebab ia sebenarnya hanya menggunakan pembahasan itu untuk alibi.


Namun yang di bicarakan sedang berbaring lemah diatas ranjang. Ari yang akhirnya masuk sebab saat dokter memanggil disana tak ada siapa-siapa selain dirinya, mau tak mau masuk terlebih dahulu untuk melihat kondisi Puri.


" Kalau tuan Hendra sudah datang, mohon di info untuk menemui saya di ruangan ya?"


Ari mengangguk" Terimakasih dokter!"


Sepeninggal dokter, Puri menatap Ari yang juga menatapnya penuh rasa prihatin.


" Apa nona butuh sesuatu?"


Puri mengangguk lemah, " Air!"


Ari dengan sigap mengambilkan air lalu memberikannya kepada Puri. Dengan telaten pria itu membantu Puri meminum air dari dalam botol yang sudah ia beri penyedot


" Maafkan saya nona!" katanya sesaat setelah meletakkan botol keatas nakas.


" Ar, jangan salahkan dirimu. Semua yang kau katakan tadi benar. Dan aku mungkin sedikit terkejut akan hal itu! Mungkin aku harus banyak belajar menjadi orang yang sedikit lebih dewasa!"


Membuat Ari merasa bersalah.


Sedetik kemudian, Puri meraih tangan Ari lalu menggenggamnya penuh merindu.


" Apa kau juga menyukaiku?" bertanya seolah ingin segera mendengar jawaban yang jelas.


" Nona, apa yang anda katakan. Kita sed..."


" Jawab aku Ar. Apa kau juga menyukaiku?" timpal Puri yang menatap wajah Ari dengan penuh rasa ingin tahu.


Ari menghela napas. Menatap dalam-dalam di manik mata layu itu yang kerap membuatnya resah.


" Nona. Anda juga harus tahu posisi..."


" Jawab saja kau menyukaiku atau tidak!" terlihat tak ingin bertele-tele.


Membuat Ari kembali menghela napasnya lebih dalam lagi guna menetralisir kegundahan.


Laki-laki itu sejurus kemudian mengangguk, menatap wajah pucat Puri dengan sorot mata mendalam.


" Ya nona. Saya menyukai anda!"


Membuat sebuah senyuman kini muncul di wajah pucatnya.


Namun tanpa mereka ketahui, nyonya Hapsari yang berada di balik pintu itu rupanya mendengar semua percakapan mereka.


Membuat Ibu dari Alsaki itu seketika mematung.

__ADS_1


.


.


__ADS_2