Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 65. Bisakah kita memulainya dari awal?


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


" Minum dulu tuan!"


" Terimakasih Ar!"


Ari menatap seraut tegang yang kini duduk di sampingnya saat mereka masih berada di sebuah kantor televisi nasional.


Ya, Alsaki tak mau lagi menunda pemberesan nama baik Dhisti. Penjahat harus mendapatkan balasan yang setimpal. Dan dengan kerjasama antara siaran televisi bersama pihak penegak hukum, Alsaki berharap para masyarakat akhirnya tahu sebuah kebenaran.


Kini, ia tinggal memasrahkan semua birokrasi njelimet itu kepada Dante. Alsaki terlihat berjalan dulu meninggalkan Ari untuk menemui seseorang di mobil yang ada di basement.


Dalam perjalanan menuju ke ruang bawah tanah itu, Ari yang masih menunggu sebuah surat atas perintah Alsaki tanpa sengaja berpapasan dengan Wisnu.


" Wah supir sombong. Ada apa kau di sini?" sindir Wisnu yang terlihat berjalan bersama seorang wanita yang sepertinya seorang redaktur.


" Maaf tuan, saya buru-buru!" sela Wisnu malas menanggapi pria itu.


Namun baru saja melangkah, Wisnu tiba-tiba menahan dada bidang Ari yang hendak berjalan maju. Membuat rahang laki-laki tampan itu kontan mengeras.


" Kesombongan mu melebihi majikanmu rupanya sialan. Akan aku buat kau kehilangan pekerjaanmu setelah ini!" ancam Wisnu menatap Ari penuh kebencian.


" Saya menantikan hari itu tuan. Semoga hari anda menyenangkan, permisi!"


Wisnu langsung mundur dua langkah saat Ari mendorongnya dengan begitu keras. Tatapan sedingin udara di kutub itu membuat Wisnu semakin geram.


Ari tampak tak terganggu dengan ancaman Wisnu. Laki-laki itu sejurus kemudian menemui Alsaki yang sudah lebih dulu berada di basement dan sibuk berbincang dengan petinggi kepolisian juga seorang lawyer yang akan ia pakai jasanya.


" Kenapa lama sekali, mana dokumennya?" tanya Alsaki dengan wajah tak sabar saat melihat Ari.


" Maaf tuan, ini dokumen yang anda minta!" Ari menyerahkan dokumen itu dengan wajah biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu. Padahal, keterlambatannya adalah karena ulah calon adik ipar Alsaki yang sepertinya batal.


Alsaki tak lagi mempermasalahkan soal keterlambatan Ari manakala dokumen itu telah ia terima. Dokumen penting itu sejurus kemudian ia serahkan kepada sang lawyer sebagai bahan untuk kasus Dhisti.


" Baik tuan Alsaki, permintaan anda akan segera saya proses. Dan untuk tersangka AR, kami akan segera melakukan serangkaian prosedur guna memberikan hukuman yang sesuai!"


Ari turut merasa lega manakala Alsaki menjabat tangan kedua orang penting itu dengan hormat. Usai memungkasi pertemuan padat dan singkat itu, mereka berdua tampak melajukan mobil mereka menuju ke rumah sakit.


...----------------...


BRUAK!


" Apa-apaan orang itu!"


Luna melempar remote televisi miliknya sesaat setelah melihat breaking news yang memberitakan soal orang yang rupanya ada sangkut pautnya dengan Dhisti. Merasa berang dan tak terima dengan apa yang terjadi.


Uang sudah tergelontor dengan jumlah yang tak sedikit, namun upayanya masih saja tampak sia-sia.

__ADS_1


Dalam hati yang begitu terbakar kemarahan, ia langsung menghubungi tuan Hendra detik itu juga.


" Halo Om, bagaimana ini?" ucapnya ta sabar sesaat setelah panggilan telepon itu tersambung.


" Tenang dulu Lun. Tak ada cara lain, kita harus mundur satu langkah untuk mengatur strategi lain. Kita bisa hancur jika terus melawan!"


Membuat Luna frustasi lalu melempar ponselnya dengan kesal sebab mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan kebutuhannya.


Di tempat lain, Ridho yang juga melihat berita itu juga merasa sangat lega karena bisa di pastikan setelah ini Dhisti akan bebas. Ia buru-buru mengetik sebuah pesan yang ia tujukan kepada Alsaki.


" Kalau lo butuh bantuan, gue siap!"


Ridho tahu jika sahabatnya itu jatuh cinta kepada mantan karyawannya yang memiliki pribadi sederhana, apa adanya, dan suka menolong itu.


" Aman, biar gue fight dulu!"


Ridho tersenyum kala membaca balasan dari Alsaki. Ia turut merasa senang akan hal itu. Namun tiba-tiba ia teringat akan Luna. Dimana temannya itu, kenapa sudah sangat jarang datang ke cafe semenjak Ridho memberhentikan Dhisti.


Di sisi lain, Alsaki yang sudah tiba di rumah sakit lebih dulu berbincang bersama Komandan kepolisian yang tengah berada di sana. Para penegak hukum itu rencananya akan memindahkan beberapa tahanan yang terluka ke kantor polisi lain yang terdekat, sembari menunggu putusan pengadilan.


" Kakak!"


Alsaki yang mendengar suara Puri langsung menoleh dan menjadi kelabakan kala di tubruk oleh adiknya yang cukup manja itu.


" Apa-apaan ini, hey cepat turun! Kau bertambah gendut ya?" tukas Alsaki manakala adiknya masih bergelayut di depan tubuhnya. Pura-pura keberatan dengan bobot adiknya.


" Selanjutnya lakukan tugasmu sendiri bro. Aku sudah menaburkan kata-kata ajaib tadi. Good luck ya!" bisik Puri sambil meringis. Membuat Alsaki turut senyam-senyum.


" Mama mana?" tanya Alsaki yang tak melihat sang Mama bersama Puri.


" Mama mau pergi sama temannya katanya. Biar sudah lah. Gak kira ada penjahat yang berani sama polisi. Lagipula, Mama pasti stres dirumah belum baikan sama papa. Oh ya kak, Ari aku bawa ya, mau beli sesuatu!"


" Beli apaan?" tanya Alsaki penuh kekepoan.


" Ada deh, mau tau aja!" balas Puri menjulurkan lidahnya.


Alsaki menggelengkan kepalanya saat melihat adiknya yang masih saja manja seperti itu. Tiba-tiba ia terkesiap karena mendadak jantungnya tremor manakala teringat jika ia akan menemui Dhisti detik itu juga. Oh my God!


Puri yang suasana hatinya tengah bahagia, kini datang kepada Ari yang barusaja keluar dari toilet.


" Ar anterin aku yuk!" seru Puri membuat Ari kaget.


"Kemana nona? Bu Hapsari dimana nona?" mencemaskan sang nyonya besar.


" Mama udah pergi nostalgia sama temannya yang polwan tadi. Ayok lah, semua orang lagi happy kali karena kebebasan Dhisti, aku mau beli sesuatu sekalian traktir kamu, ayo!"


Yang diajak berbicara justru fokus menatap lengannya yang kini di geret oleh Puri. Membuat jantung Ari berdegup kencang.

__ADS_1


Dhisti yang baru dipindahkan ke ruangan dengan satu brankar atas permintaan nyonya Hapsari, kini berjingkat saat Alsaki membuka handle pintu dengan kerasnya. Membuat kecanggungan menyeruak.


" Maaf!"


Dhisti mendadak kikuk saat melihat Alsaki yang terlihat lelah kini menutup pintu ruangan itu rapat- rapat.


Dhisti merasa kasihan. Apa laki-laki itu baru saja tidur?


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Alsaki yang masih berdiri di jarak beberapa meter dari tempat Dhisti berdiri.


" Seperti yang kau lihat. Hanya luka kecil, bukanlah sesuatu yang patut di khawatirkan!" jawabnya tersenyum biasa


" Aku minta maaf!"


Suasana mendadak senyap selama beberapa detik.


" Kau tidak perlu meminta maaf!"


Keduanya terlihat sama-sama menelan ludah akibat canggung.


" Maafkan aku karena tidak mencari tahu terlebih dahulu alasan kau melakukan semua itu!"


Dhisti hanya tersenyum tanpa ekspresi. Gadis yang selang infusnya sudah di lepas itu terlihat menuju ke nakas lalu membuka seal sebotol air mineral.


" Minumlah, kau terlihat seperti barusaja ikut maraton!" tuturnya sembari menyodorkan sebotol minuman itu kepada Alsaki.


" Dhis!"


Alsaki menahan tangan Dhisti yang barusan menyerahkan sebotol minum kedepan dadanya. Membuat mata Dhisti melebar karena terkejut.


" Semoga apa yang aku lakukan tadi belum terlambat meski kakek tak bisa lagi melihat itu semua!" seru Al menatap muram Dhisti dengan tatapan penuh penyesalan.


" Apa? Jadi Alsaki yang melakukan semua tadi? Tapi .. bagiamana bisa?"


" Sekarang, bisakah aku tarik kembali ucapanku tempo hari?"


Dhisti yang ditatap dalam oleh Alsaki dengan tatapan yang begitu dalam seketika merasakan getaran yang tak bisa dia jelaskan.


Alsaki nampak meletakkan botol minum ke atas meja di depan sofanya, lalu mengarahkan tangan kekar itu untuk menyibak rambut hitam Dhisti. Membuat jarak mereka begitu dekat.


" Maafkan aku sekali lagi. Dan, bisakah kita memulainya kembali dari awal?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2