Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 84. Tince


__ADS_3

Dhisti sedang sibuk merapikan isi lemarinya saat bunyi bel apartemen itu membuat Inka bergumam.


" Siapa lagi sih yang datang?" kata Inka mematikan kran dan segera melesat menuju pintu


" Buka aja jangan ngomel terus!" tukas Dhisti menimpali.


" Ia Bu bos!"


kedua mantan copet itu akhirnya tergelak bersama. Hah, entahlah, mereka berharap jika kerukunan ini agar terus terjalin.


Rupanya, tersangka dari penekan tombol itu merupakan kurir paket yang mengantarkan sebuah bungkusan besar untuk penghuni unit elit itu. Usai menandatangi benda besar itu, keduanya kini terdiam heran.


Terperkur menatap box ekslusif yang mengundang rasa penasaran.


" Aku gak pesen loh In. Tapi kok bisa datang kesini ya?" Dhisti mencubit janggutnya seraya berpikir.


" Ya sama gue juga. Tapi ini buat elo Dhis!" menunjukkan ke arah airway bill yang ada di atas kotak itu.


Maka keduanya sepakat untuk membuka paket itu demi membunuh rasa penasaran yang kian membuncah.


Rupanya Alsaki mengirim beberapa pakaian serta sepatu dengan harga yang membuat bola mata Inka berubah menjadi hijau.


" Gila, ini merk asli bukan KW lagi Dhis. Buset!! Kita bisa beli tiga sepeda motor dengan harga segini Dhis. CK, emang kelas kakap calon suamimu!" seru Inka menggeleng takjub akan benda yang kini ada di hadapannya.


Ya, Alsaki sengaja membelikan semua itu untuk Inka juga Dhisti. Inka adalah bagian hidup calon istrinya, dan memberikan reward semacam itu bukanlah apa-apa.


Namun Dhisti justru bersikap sebaliknya. Jika Inka heboh dan terlena akan barang-barang mahal dan terlihat sangat berkelas itu, tapi Dhisti malah sedikit tidak setuju.


Kurang beberapa hari lagi acara mereka akan terselenggara. Segala persiapan tampak telah di depan mata. Kini, dimana mereka tengah fitting baju, Dhisti langsung mengutarakan ketidaksetujuannya itu kepada calon suaminya tanpa tanggung-tanggung.


" Kamu gak usah beli-beli yang mahal mahal-mahal kayak kemarin itu buat aku Al. Harga semahal itu bisa kita buat nyekolahin berapa kepala coba?" berkata murung sebab ia kurang setuju.


Namun Alsaki tetaplah Alsaki. Pria yang sedari menjadi embrio sudah berada dilingkup orang berada, pastilah memiliki alasan lain.


" Segala sesuatu ada harga karena uang. Dan bagiku, kau lebih berharga dari uang itu sendiri!"


Lihatlah, Dhisti selalu tak bisa mencegah laki-laki itu untuk menyenangkannya dirinya. Mungkin bagi Dhisti ini adalah pemborosan, namun bagi Alsaki, tidak ada hal yang lebih mahal daripada hubungannya saat ini.


Team rempong juga semakin rempong saat mereka kini mengadakan gladi resik. Ari yang bahkan berhari-hari terlambat tidur masih berusaha menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.


Pesta ini tidak besar. Namun Alsaki menuntut semua ini harus sesempurna mungkin. Ada banyak keluarga yang datang nanti, dan Alsaki ingin membuat semua orang terkesan, seperti ia ia juga terkesan kepada istrinya.


Sosok yang sederhana, namun menyimpan sejuta kebaikan serta keindahan di dalamnya.


Seperti siang ini, Ari yang masih sibuk untuk mengecek kelengkapan gedung yang besok akan digunakan untuk acara pernikahan bos-nya, merasa sedikit pusing dan memilih untuk duduk.


Sudah berkali-kali menghela napas namun pandangannya malah menjadi sedikit kabur.

__ADS_1


" Yang ini tolong lebih di tambah bunganya biar gak terlalu kosong. Kalau yang lain udah oke sih."


" Sama itu, tolong fotonya nanti jangan ada di sana ya. Harus kelihatannya tiap tamunya datang!"


Terlihat Puri yang cerewet itu kini memantau kinerja wedding organizer yang masih belum seperti keinginannya. Beruntunglah EO itu milik salah satu rekannya, membuatnya lebih flexibel dalam berkoordinasi.


"Besok jangan lupa wedding singernya jangan sampai telat loh ya. Aku gak mau sampai ada cela sedikitpun!"


Semua mengangguk kala Puri bertindak. Begitulah Puri, sangat cerewet dan perfeksionis. Beberapa waktu kemudian, saat dirinya hendak berbalik, ia tak sengaja melihat Ari yang lesu sembari terus memijat kepalanya.


" Kenapa dia?" bergumam sambil berjalan dengan tatapan tak lepas menatap ke arah laki-laki itu.


" Ar kamu kenapa?" menyentuh bahu Ari.


Yang di sapa langsung berjingkat sebab terkejut.


" Nona, anda sudah selesai?" langsung berdiri sebab mengira jika gadis itu akan mengajaknya pergi kembali.


" Belum. Kok kamu pucet, kamu sakit?"


Ari langsung diam saat punggung tangan yang berbau wangi itu menyentuh keningnya. Membuatnya merasa berdebar.


" Hanya sedikit pusing, nanti juga sembuh nona!" menjawab dengan penuh kesopanan.


" Ce, Tince!"


" Tince!" pekik Puri sedikit keras manakala yang di panggil tak juga menampakkan batang hidungnya.


Sedetik kemudian, seorang bencong berambut ungu menyala datang berlenggak- lenggok memenuhinya panggilan sang big bos dengan wajah ketar-ketir.


" Ada apa bos? " bertanya kemayu guna merayu Puri yang sudah terlihat kesal.


" Kamu awasin mereka dulu ya. Pokoknya buat seperti apa yang udah kita rencanakan kemarin. Kabarin aku jika ada yg perlu di butuhin. Tinggal nunggu mas Aji aja buat meja yang aku minta nanti!"


" Ye mau kemana memangnya nek?" bertanya curiga.


" Ada urusan bentar!"


Tince malah melirik Ari yang langsung tampak ketar-ketir saat dilihat olehnya. Sepertinya, laki-laki itu geli terhadap manusia modelan Tince.


" Kalau urusan yang begini aja eike gak pernah di ajak. Mau dong nek yang satu begini!" berkata sedikit merayu sambil mengepakkan kipasnya.


" Ada nanti, stok masih aman!" sahut Puri yang kini meraih tasnya.


" Serius, yang mana nek?" jawab Tince antusias.


" Tuh yang pegang kabel!"

__ADS_1


Menunjuk ke arah pria ompong yang kulitnya hitam legam.


" Sialan lu nek!! Bukannya bahagia, eike malah langsung kena penuaan dini kalau sama itu dedengkot!"


Ari dan Puri langsung tergelak bersama saat melihat Tince mendengus karena merajuk.


...----------------...


" Tekanan darahnya sangat rendah. Bisa jadi di sebabkan karena kurang istirahat. Saya sarankan untuk istirahat dulu sampai infusnya habis!"


" Tapi dok saya..."


" Terimakasih banyak dok atas bantuannya. Nanti akan kamu hubungi lagi!" Puri menyahut sebab tahu jika Ari akan menolak.


Ari tentu saja tidak enak hati. Puri membawanya kerumah sakit hanya untuk berisitirahat sementara pekerjaannya belum rampung.


" Kalau begitu saya permisi dulu!" seru sang dokter. Membuat Ari terpaksa diam.


Seusai Puri kembali dari mengantar sang dokter. Ari yang hendak bangkit dari posisi berbaringnya segera di cegah oleh Puri yang mendorong dadanya kembali perlahan.


" Nona saya..."


" Udah diam. Aku nggak mau kamu sakit!" menyergah dengan tatapan tak mau di bantah.


Keduanya akhirnya bersitatap selama beberapa detik. Membuat suasana seketika senyap.


" Kamu dari Minggu lalu kurang istirahat. Sekarang diam dan tidur. Besok acara kak Al kau gak mau kamu sampai tumbang Ar!"


Ada sebuah kejujuran yang di rasa Puri manakala mengucapkan hal itu. Yakni sebuah tasa takut jika sesuatu terjadi kepada pelindungnya itu.


" Kau sudah banyak berbuat untukku, untuk kak Al. Untuk keluargaku. Mungkin ini yang aku bisa, aku juga tidak terlalu mengerti seperti wanita kebanyakan yang hidupnya mandiri. Tapi aku hanya berusaha membuat orang yang perduli kepadaku tetap dalam kondisi baik-baik saja!"


Keduanya masih hanyut dalam tatapan yang sulit di artikan. Ari larut dalam suasana yang tak bisa ia jelaskan saat ini. Wanita ceroboh itu ternyata memiliki kebaikan hati yang sudah berulangkali kali ia lihat.


" Tidurlah. Aku akan istirahat juga disana!" seru Puri yang tiba-tiba sadar dari lamunannya kala menatapnya dua bola mata Ari.


Ia sendiri juga tak bisa menafsirkan apa yang ia rasa. Apakah ia hanya sebuah empati, ataukah semua itu manifestasi dari perasaan lain?


Meski kecanggungan tiba-tiba hadir usai Puri bergegas menjauh, namun entah mengapa Ari malah merasakan hal lain yang mulai meresap kedalam batinnya.


.


.


.


Sebentar lagi Alsaki dan Dhisti nikah woy.

__ADS_1


Udah pada terima undangan kan? Ayo kita serbu kesana. Mommy tunggu di dekat terminal ya🤣🤣🤣


__ADS_2