Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 77. Kekalahan Hendra Gunawan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Puri benar-benar terpana akan tampilan menawan Ari saat itu. Pakaian yang ia belikan sangat pas di badan tegap Ari.


" Ah dia tampan sekali!"


" Emmm sampaikan salam saya ke Danisa Bu, saya pamit dulu!" buru-buru menepis pikirannya yang mulai teracuni oleh sesosok pria tampan yang menjadi supirnya itu.


Danisa sedang tertidur. Puri memilih untuk pergi pagi-pagi sekali karena ia tak ingin merepotkan keluarga Ari lagi.


" Mas Ari mau kemana?"


Saat Ari sibuk memasukkan koper milik Puri ke dalam bagasi mobil, Desi tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah rantang yang tampaknya berisi makanan.


" Eh Des, ini aku mau nganter nona Puri!"


Namun yang di sebut malah terlihat kesal saat melihat interaksi keduanya. Puri memang tak suka dengan Desi yang sok dekat dengan Ari sejak pertama mereka bertemu.


" Buruan Ar, aku udah telat!" berkata ketus sebab entah kenapa ia kesal dengan Ari yang meladeni gadis itu.


Are you jealous?


" Baik nona, sebentar!"


Membuat Desi seketika muram. " Ini makanannya gimana mas?"


Ari langsung menjadi bingung. Yang satu tiba-tiba terlihat merajuk padahal beberapa menit yang lalu masih fine- fine saja, yang satu juga tampak kesal karena sebenarnya pagi ini Desi memang sudah berjanji untuk membawakan makanan kesukaan Ari.


Oh astaga, beginikah repotnya berurusan dengan betina?


" Setelah ini kita makan sama-sama ya. Aku gak lama kok!" jawab Ari dengan terburu-buru.


" Ar buruan!" pekik Puri yang sengaja ingin membuat Desi kesal.


Ari seketika menjadi gelagapan saat melihat Puri tiba-tiba marah. Oh tidak!


" Perasaan tadi gak kenapa-kenapa, kok sekarang balik jadi mode judes lagi?" membantin dengan wajah resah.


Selama di perjalanan Puri benar-benar tak berbicara. Dia kesal dengan laki-laki di sampingnya itu. Tidak tahu kenapa, tapi ia sangat tidak suka jika melihat Ari berinteraksi dengan si brengsek Desi.


" Apa nona tidak ingin membeli sesuatu dulu, tadi ibu bilang kalau nona tidak mau sarapan." bertanya dengan sangat hati-hati.


" Nggak! Ntar pacar kamu ngomel karena kamu kelamaan nganterin saya!" menjawab ketus seketus - ketusnya.


Kini Ari tahu, seberapapun ia mencari celah untuk hati-hati dalam bertutur, berurusan dengan betina yang sedang marah tanpa sebab memang tak mudah.

__ADS_1


Yang berkata ketus terlihat melirik Ari yang akhirnya diam. Sedikit sebal juga karena Ari malah tak lagi membalas tuduhannya


" Tuh kan bener, gadis itu pacarnya beneran kan? Dia aja diem gitu!" menggerutu kesal dalam hatinya.


Setibanya ia tempat yang telah di ditunjukkan oleh Puri sebelumnya, Ari tertegun saat melihat keadaan yang ternyata masih sangat sepi.


" Kenapa masih sepi? Kata nona Puri tadi dia sudah terlambat. Apa aku salah tempat? Tapi bener disini kok lokasi yang di kirim ke aku!"


" Nona, apa ini benar tempatnya?" bertanya guna mengklarifikasi keraguannya.


" Iya!" jawab Puri ketus.


Ari lagi-lagi merasa bingung, kenapa dengan anak majikannya itu. Sebenarnya, apa salahnya sehingga membuat moodnya menjadi begitu buruk?


Ari akhirnya memilih menurunkan barang bawaan milik Puri. Namun reaksi yang terjadi sungguh membuat Ari makin geleng-geleng kepala.


" Biar aku sendiri!" sergah Puri saat lengan tangan Ari sudah mengetat dan hendak mengambil koper itu.


Ari semakin dibuat kebingungan saat Puri merampas koper yang hendak ia tarik. Namun alih-alih mampu mengangkat, Puri yang keberatan malah nyaris ambruk.


" Awas nona!"


" Aduh!"


Jika di lihat dalam gerakan slow motion, dua sejoli itu sudah mirip seperti drama telenovela jaman jadul. Dimana seorang pria menahan tubuh sang wanita dari samping, dan membuat keduanya menjadi bersipandang. Oh man!


Bersedekap dengan wajah bermuram durja. " Sialan, kenapa aku malah deg-degan begini!"


Ari sebenarnya ingin tertawa saat melihat Puri yang pasti kini terserang malu.


" Apa teman nona masih lama?" bertanya sambil meletakkan koper itu, karena kasihan kepada Puri yang malah dibuat menunggu.


Namun yang di tanya justru salah mengartikan pertanyaan Ari.


" Kalau kau keberatan, kua bisa pulang sekarang. Kau pasti sudah tak sabar ingin membuka makanan bersama pacarmu itu kan?" berkata kesal dengan wajah bersungut-sungut


" Sebenernya kenapa dengan nona Puri. Kenapa semua yang aku lakukan selalu salah?"


Namun Ari malah mendudukkan tubuhnya di kursi samping sambil membuka ponselnya. Pria itu terlihat mengetik sebuah pesan kepada seseorang. Membuat Puri makin melirik kesal.


" Mobilnya saya tinggal saja ya nona. Ada teman nona yang laki-laki kan?"


Membuat Puri langsung tersentak.


" Apa maksud kamu?"

__ADS_1


" Nona pulang tidak berbarengan dengan saya. Saya tidak enak kalau mobi..."


" Tidak mau. Kau yang harus membawanya. Lagipula Danisa kan masih belum kau ajak keliling pantai. Kau jangan banyak bicara lagi, ini perintah!"


Langsung tak setuju saat Ari mengatakan menolak membawa mobilnya dengan wajah tak enak hati.


" Jadi anda tidak marah karena mobilnya saya bawa?" Ari bertanya dengan sangat hati-hati.


" Bicara apa kamu, ya tentu tidaklah!" mendengus sebal.


" Maafkan saya nona. Tapi, kenapa anda terlihat sangat marah kepada saya nona?"


Yang di tanya langsung menelan ludah sebab bingung harus menjawab apa.


...----------------...


" Apa mama sudah menyetujui rencana Alsaki?"


Nyonya Hapsari yang sedang mengenakan anting di depan meja riasnya, mendengar suara suaminya yang tiba-tiba berjalan dari arah belakang. Membuat wanita itu sedikit menatap dari pantulan cermin.


" Bukankah dia juga sudah meminta izin kepada papa?" tanya nyonya Hapsari dengan wajah yang kehilangan gairah saat berbicara kepada suaminya.


Jangan di tanya kenapa, semenjak wanita itu tahu jika tuan Hendra merupakan seorang pemain wanita, separuh rasanya mendadak sirna. Hanya karena anak-anak mereka lah, nyonya Hapsari masih menahan dirinya untuk tetap bertahan.


" Kenapa Mama menyetujui?"


" Bukankah tujuan hidup kita adalah untuk melihat anak-anak hidup bahagia?"


" Tapi tidak dengan Dhisti ma!"


" Lalu dengan siapa?" Nyonya Hapsari langsung menoleh dan menatap tajam suaminya. Membuat tuan Hendra tertunduk.


"Papa tenang saja, setelah menikah mereka tidak akan tinggal disini. Jadi, papa bisa terbebas dari rasa malu papa!"


Yang di sindir seketika mendongak. Pria itu merasa telah kehilangan harga dirinya saat semua anggota keluarganya tak anda yang mengindahkan perkataannya.


Dan ternyata, di diamkan oleh anak dan juga istrinya benar-benar menjadi sebuah siksaan yang amat berat untuknya.


" Lakukan apa yang papa mau, karena mama juga bisa melakukan apa yang mama mau. Pun dengan anak-anak!"


Membuat tuan Hendra Gunawan seketika tertampar oleh ucapan menohok istrinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2