
...🌻🌻🌻...
Jika Dante sedang merasakan tantangan baru yang cukup ekstrim dalam hidupnya, Puri malah justru dilanda rasa bersalah sebab kakaknya benar-benar marah.
Ia kini duduk di hadapan Dhisti yang sudah mendengar sebagian ceritanya bila ia telah menyukai Ari.
" Berjanjilah untuk tidak memberitahu kak Al soal ini dulu ya kakak ipar!" menyentuh lengan Dhisti sebagai bentuk meminta dukungan. Ia takut jika kakaknya malah salah mengartikan dan menyalah Ari kembali.
" Kakak mu ini tipikal orang yang sangat memikirkan keselamatan anggota keluarganya. Kalau soal perasaanmu, aku tidak berani banyak berkomentar. Sebab kamu sendiri yang bisa merasakan. Tapi kau pasti akan lebih di perhadapkan dengan hal sulit jika memilih hubungan dengan orang yang berbeda kasta denganmu. Terlebih papa..."
Saat Dhisti menggantungkan ucapannya, Puri menjadi termenung.
Semua yang dikatakan Dhisti memang benar. Apalagi ia adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Gunawan. Tapi ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia merasa bahagia saat berdua dengan laki-laki itu.
Dan saat mereka masih hanyut dalam obrolan. Suara bel yang berbarengan dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat keduanya sepakat mengakhiri perbincangan bersifat rahasia itu.
" Jika itu Ari, suruh dia menghadap kepadaku di ruang kerja!" titah Alsaki yang membuat Puri semakin murung.
Dhisti yang melihat raut muka Alsaki mengeruh berusaha meyakinkan Puri jika semua akan baik-baik saja.
" Bagaimana ini kakak ipar?" tanya Puri resah.
" Kau tenang saja dulu. Ari pasti akan bisa menghadap dengan tenang nanti. Kau juga harus meminta maaf kepada Ari nanti Pur. Sekarang kau tahu kan, kadang tindakan kita yang kurang perhitungan malah membuat orang lain merugi.
Puri mengangguk. Menghela napas berulang kali agar bisa membuatnya tenang. Dhisti lantas berjalan meninggalkan Puri untuk membuka pintu dan memang benar jika Ari lah yang datang.
" Selamat pagi nona!" sapa Ari yang semakin sungkan kepada Dhisti yang kini telah menjadi nyonya Alsaki.
" Pagi Ar. Silahkan masuk!" menjawab ramah seperti saat mereka pertama bertemu.
Ari terlihat mengikuti Dhisti, melewati Puri begitu saja tanpa tidak menyapa gadis itu. Kelihatannya, Ari benar-benar tegang.
" Apa dia marah denganku? Di bahkan tidak menatapku!" batin Puri yang semakin manyun saat melihat Ari bablas melewatinya.
Ari masuk ke ruang kerja Alsaki. Ia melihat anak sulung Nyonya Hapsari itu sedang duduk dengan posisi membelakangi dirinya.
" Selamat pagi tuan!" tegur Ari seperti biasa saat bertemu dengan anak majikannya itu.
Al lantas memutar kursinya dengan wajah tak terbaca. Pria itu sejurus kemudian menatap Ari untuk beberapa saat sebelum mulutnya bersuara.
" Apa benar jika kau sibuk dengan Desi sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengantar Puri?"
Ari kontan mengangkat wajahnya lalu menatap dua bola mata yang seperti berpijar itu dengan lekat selama sekian detik.
" Bisa di katakan begitu tuan. Saya minta maaf!" ucapnya tenang lalu buru-buru menunduk kembali.
Membuat Alsaki menarik napas panjang.
" Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jika sampai sesuatu terjadi kepada Puri lantaran dia kau biarkan pergi sendirian lagi. Maka aku rasa kau sudah tau konsekuensinya!"
Ari langsung mengangguk tanpa menyela ataupun membela dirinya. Pria itu terlihat begitu notice dengan apa yang di ucapkan oleh tuannya.
" Baiklah. Dia masih ada kepentingan dengan istriku. Kau bisa menunggunya dibawah!"
Sejurus kemudian, Ari pamit untuk menunggu pergi dari sana. Ia sama sekali tidak marah kepada Al. Mungkin jika ia diberi kesempatan memiliki harta lebih seperti Alsaki, tentu dia juga akan berlaku sama terhadap Danisa.
Sikap mengasihi cenderung melindungi memang bisa di implementasikan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengoptimalkan kinerja serta fungsi Ari sebagai guard yang cukup berkompeten.
Puri yang melihat Ari keluar dengan wajah menunduk langsung menyongsong pria itu dengan cemas. Terlihat merasa begitu menyesal sebab ia sadar diri telah menjadi biar onar.
" Kenapa lama sekali? Kau di apakan?" bertanya dengan wajah yang khawatir sekali seraya menyentuh lengan pria itu namun buru-buru di lepas.
" Jika sudah selesai saya ada di bawah nona!" berkata sembari melepaskan tangan Puri yang menempel di lengannya.
Puri langsung muram begitu punggung lebar itu mulai menjauh dari pandangannya. Ia yakin Alsaki pasti telah memarahi laki-laki.
Saat melihat Alsaki keluar dari ruang kerjanya, Puri langsung mencecar kakaknya dengan omelan.
" Apa yang kakak lakukan? Apa kakak memarahi Ari?" langsung menodong kakaknya bahkan membuat Alsaki tak sempat menutup pintu itu dengan sempurna.
" Apa kau sudah makan? Jika belum kau bisa membantu kakak iparmu menyiapkan sarapan!"
Yang di todong pertanyaan malah membahas hal lain dengan wajah tak merasa bersalah.
" Aku tidak bertanya itu. Aku bertanya apa kakak memarahi Ari?" mengerutkan kening sebab mulai geram.
" Jika kau ingin aku tidak memarahinya, maka bersikaplah konsekuen. Kau tahu Pur, aku bahkan tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa anggota keluargaku!"
" Sebaiknya kau belajar lagu untuk memahami kata-kataku!"
Puri langsung membeku usai di hujani kalimat menonjok oleh kakaknya. Jawaban yang sungguh ambigu. Tapi dari ekspresi wajah Ari, pria itu pasti memang telah di marahi oleh kakaknya. Hanya saja mungkin dia tak berani mengatakannya. Begitu pikir Puri.
Ari yang kini tiba di lantai dasar memilih untuk menuju ke cafetaria yang ada di dekat kantor administrasi apartemen itu untuk menghilangkan kepenatan.
" Cappucino sama muffin satu!" seru Al saat pelayan datang menghampirinya.
__ADS_1
" Dine in atau take away?"
" Dine-in!" jawab Ari yang duduk dengan wajah lesu.
Ari menyalakan rokok lalu menghisapnya gusar. Jika ada buku tentang teknik memahami wanita di dunia ini, ia yakin jika halamannya pasti akan setebal tumpukan baju yang tujuh hari tidak terjamah untuk dilipat.
Namun dengan kejadian ini, ia akhirnya tahu. Bahwa selain Dhisti, Puri juga sama berharganya di mata Alsaki.
" Silahkan tuan!" kata pramusaji itu dengan sopan.
" Terimakasih!" jawab Ari yang ingin tertawa sebab ia di panggil tuan oleh gadis muda itu.
Ari menyeruput minuman itu sembari menunggu Puri yang entah ada acara apa ia datang kemari.
Bayangan wajah Puri yang khawatir terhadap dirinya tadi semakin membuat Ari heran. Kenapa sikapnya barusan dengan sikapnya saat tadi berada dirumah sangat berbeda.
Namun yang di khawatirkan justru tak memiliki selera untuk curhat sebab sang kakak rupanya tidak pergi bekerja. Benar-benar salah perhitungan.
" Jadi apa yang mau kau ceritaku? Aku dengar kau mau curhat dengan kakak iparmu?" tanya Alsaki saat dia mulai menyendokkan nasi goreng daging buatan istrinya.
Sengaja ingin menggoda adiknya yang terlihat masih merajuk kepadanya.
" Gak jadi. Males!" sahut Puri melirik malas.
" Kok males. Emangnya soal apaan sih?" kejar Alsaki yang makin membuat adiknya sebal bukan main.
Puri tak menjawab. Ia merasa kesal kepada kakaknya yang hanya memanggil Ari untuk di marahi. Padahal, dia sudah berusaha menjelaskan bila itu semua adalah salahnya.
" Aku mau pulang saja. Sepertinya hari ini kalian tidak akan kemana-mana ya?" rajuk Puri yang baru mengetahui bila Alsaki hari ini stay at home.
Alsaki tergelak. Jadi adiknya itu tidak tahu jika dirinya sedang ingin berquality time bersama sang istri.
" Bahkan mungkin jika kau tidak datang, aku tidak akan pernah keluar dari kamarku!" berbisik tepat di telinga adiknya dengan nada cabul.
" Kakak!" pekik Puri yang geli terhadap banyolan sang kakak.
Alsaki semakin tergelak saat Puri merajuk karena malu mendengar ucapan itu. Dhisti yang sebenarnya juga malu hanya bisa memijat keningnya sebab baru tahu bila Alsaki itu benar-benar gesrek.
Beberapa menit kemudian, Puri memilih pulang saat Dhisti akan berjanji untuk menemuinya besok.
" Aku tahu mungkin ada beberapa hal yang ingin kau bicarakan tanpa di ketahui kakakmu. Bagaimana kalau besok atau lusa kita ketemuan saja, kebetulan aku akan ada acara bersama Inka!"
Membuat Puri berlega hati. Itu yang memang dia perlukan. Waktu Indonesia menggosip.
Sepeninggal Puri, Dhisti yang sudah kembali masuk kedalam merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tadi.
" Menurut kamu?" memeluk Dhisti dari belakang sambil membenamkan wajahnya ke ceruk leher sang istri.
...----------------...
Ari sedang menggerus rokok ketiganya saat Puri terdengar memanggil namanya.
" Ari!"
Ari menoleh lalu bangkit berdiri saat Puri kini mendekat ke arahnya. Namun sialnya, Puri malah menarik kursi lalu duduk tepat di hadapannya.
" Duduklah dulu. Aku ingin berbicara sama kamu!" meminta Ari untuk duduk kembali sebab ia harus meminta maaf.
" Aku minta maaf Ar! Kamu nggak marah kan?" menatap Ari sembari menarik tangan besar pria itu dengan rasa bersalah.
" Sebaiknya nona menjaga sikap bila di luar begini!" seru Ari yang ingin Puri tahu bila semua ini hanyalah kesia-siaan.
" Aku gak peduli Ar. Aku tadi pagi cemburu ngelihat kamu berduaan sama Desi. Aku suka sama kamu Ar! Aku pingin kamu itu notice ke aku!" meluapkan isi hati dengan wajah muram.
Ari membeku selama beberapa detik saat mendengar Puri malah mengungkapkan perasaannya. Membuatnya malah menjadi semakin terseret ke jurang kebimbangan.
" Nona, tolong jangan seperti ini!" berusaha melepaskan jemari Puri yang menggenggam tangannya sebab menyadari bila mereka sedang berada di tempat umum.
" Kamu tadi enggak di apa-apain kak Al kan? Aku bakal balik dan memarahi kak Al jika dia memukulmu, aku.."
" Nona!" menahan Puri yang sudah hendak bangkit dengan impulsifnya.
Membuat Puri seketika terdiam dan kembali duduk.
" Kalau anda ingin orang-orang di sekeliling anda tetap aman, maka sebaiknya anda juga jangan bersikap seenaknya sendiri!"
Deg
Langsung terlolong kala mendengarkan Ari mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang sebenarnya meragu.
" Meski anda menyukai saya, atau saya menyukai anda sekalipun, kenyataannya adalah anda itu tetap merupakan majikan saya yang musti saya lindungi sebab untuk itulah saya di bayar!"
Duar!
Mata Puri mulai memanas. Apa yang di sampaikan oleh Ari barusan benar-benar membuatnya sedih.
__ADS_1
" Tolong untuk tidak bersikap kekanak-kanakan nona! Tidak semua orang yang saat ini menjaga anda akan terus berada di sisi anda!"
Hati Puri semakin sesak dengan air mata yang mulai mengembun di pelupuk matanya. Wanita itu merasa tertampar sekali dengan kata-kata Ari.
" Jika anda sudah selesai mari kita pulang!"
Selama di perjalanan. Puri memilih diam dan tak membuka mulutnya sama sekali. Gadis itu bahkan duduk di jok belakang, persis saat ia masih tak begitu mengenal Ari.
Ari tahu ia mungkin sedikit keterlaluan dalam menyadarkan Puri. Tapi ia berharap jika wanita itu akan berubah sebab nasib orang tidak ada yang pernah tahu.
Pintu yang di banting jelas saat mereka tiba di rumah, menandakan bila Puri mungkin saja kesal akan perkataan Ari. Tapi Ari juga harus mengatakan hal itu agar semuanya berjalan seimbang. Keluarganya masih sangat membutuhkannya kali ini, dan meski ia sebenarnya juga mulai memiliki rasa kepada Puri, namun kenyataan yang ada sangat sulit ia lawan.
Dia hanyalah seorang supir.
...----------------...
" Bagaimana lukamu?"
Dante mendongak saat sepuluh menit mereka makan dalam kebisuan yang menyeruak.
" Luka apa?" menjawab datar.
" CK, luka yang kemarin! Yang aku lakukan!" mendengus saat merasa Dante tak jua paham.
" Oh!"
Agatha langsung mengerutkan kening saat melihat reaksi Dante yang diluar dugaannya.
"Sial, kenapa bisa datar begitu sih orang ini?"
" Aku harus pergi!" kata Agatha beberapa detik kemudian.
Membuat laki-laki itu langsung menghentikan kegiatan makannya sebab perkataan Agatha cukup membuatnya tersentak.
" Lalu bagaimana dengan anak itu?" bertanya masih dengan muka datar.
" Ya aku tidak tahu. Kau kan yang membawanya kemari, jadi kau yang harus mengurusnya! Lagipula, kau kan sudah berjanji kemarin. Aku menjaga anak itu sampai kau pulang bekerja!"
Membuat Dante kalah telak.
" Memangnya kau mau pergi kemana?"
" Bukan urusanmu!"
Dante menghela napas sebab wanita di depannya itu benar-benar tipikal wanita yang keras.
" Kalau kau ingin pergi untuk merampok orang lagi, maka sebaiknya kau pikir dua kali!" menyeringai licik dan membantu Agatha melirik tajam.
" Lagipula, lebih baik kau berada disini untuk merawat bayi itu dan aku akan membayarmu!"
" Apa? Apa dia serius? Tidak tidak, dia pasti membohongiku!"
" Kenapa harus aku. Kau bisa mencari pembantu lain kan?" sedetik berubah pikiran karena ia pasti sedang di cari oleh seseorang.
" Karena kau sudah terlibat dalam kasus ini!" menjawab dengan seringai licik.
" Kasus? Kasus apa?" bertanya bingung.
" Aku bahkan bisa melaporkanmu ke polisi karena kau telah berusaha merampokku dan melukaiku. Bekas lukanya masih ada. Dan kamera cctv di mobilku, jelas menjadi bukti yang lebih dari cukup untuk menyeretmu ke penjara!"
Dante menarik sebelah alisnya seraya menyeringai kala mengatakan hal itu.
" Bengsek!" Agatha spontan memaki karena ia kini menjadi takut.
Dante menatap lekat-lekat wanita dengan tindik di lidah dan di alis itu secara langsung. Wanita unik itu benar-benar kelihatan pucat usai ia bohongi.
" Jadi bagaimana? Kau pasti akan memilih tawaranku yang pertama bukan?" masih menyeringai dan membuat Agatha semakin kesal.
Saat mereka sibuk berdebat, Raina terdengar menangis dan membuat keduanya langsung berlari menuju kamar.
" Astaga, kenapa badannya demam?" seru Agatha panik yang barusaja menyentuh tubuh anak itu.
" Yang benar saja kau!" turut berkata khawatir seraya menggeser tubuh Agatha sebab ingin memastikan.
Dante seketika mendelik kala menyentuh kening bayi itu.
" Sebaiknya kita bawa saja dia ke dokter!" seru Agatha semakin panik.
Dan saat Dante telah mengambil bayi itu, tangan Dante tiba-tiba terasa hangat dan indera penciumannya juga mencium bau yang sangat menyiksa hidungnya.
" Ada apa?" tanya Agatha serius demi melihat wajah Dante yang tiba-tiba terdiam dan tampak seperti mengendus sesuatu.
" Astaga, dia mencret!"
.
__ADS_1
.