
...🌻🌻🌻...
Puri sampai tidak jadi curhat lantaran Dhisti malah kalap dengan makanan dari olahan daging yang di bentuk menyerupai bola itu.
" Kakak ipar? Kakak gak kenapa-kenapa kan?" bertanya sebab apa yang di saksikan nya itu benar-benar membuatnya syok.
Dhisti yang masih sibuk memamah biak nampak menatap Puri keheranan. Kenapa dia malah bertanya seperti itu?
" Kenapa kau menatapku seperti orang yang kesambet Pur?"
" Ya habis, coba lihat yang kakak makan? Kek orang kesurupan tau nggak?" menjawab dengan wajah resah.
Namun yang di olok hanya terkekeh, " Gak tahu juga ya Pur. Aku akhir-akhir ini berselera makan banget!"
" Iya juga sih, lebih gemukan juga kayanya!" timpal Puri memindai tampilan kakak iparnya yang semakin segar.
" Masa sih?"
Kembali mengangguk untuk kesekian kalinya, " Iya tuh. Mungkin karena kakak bahagia jadi pengaruh ke mood makan!"
" Mungkin!" jawab Dhisti meringis.
Namun berbeda dengan Al yang beberapa hari ini terus-menerus merasa tak enak badan. Dante yang sudah sering begadang karena Raina rewel kini juga di repotkan dengan Alsaki yang juga rewel manakala di kantor.
Membuat kepala manusia irit bicara itu benar-benar pusing karena kurang tidur
" Singkirkan pengharum ruangan itu Dan. Apa barang itu kadaluarsa? Baunnya menyiksa sekali!" kata Alsaki yang mencubit hidungnya guna menghalau bau sialan itu.
Dante bahkan sampai bolak-balik mencium pengharum ruangan otomatis itu berkali-kali, demi memastikan jika apa yang dikatakannya oleh Alsaki benar adanya.
Namun alih-alih turut merasa mual, Dante malah merasa pengharum ruangan itu begitu menyenangkan.
" Ini normal bos. Baunya masih fresh!" kata Dante mencoba menjelaskan.
" Hidungmu yang bermasalah Dan. Cepat buang sana!"
Malah menyalahkan Dante padahal hidungnya yang sedang konslet.
Dante akhirnya membuang barang tak berdosa itu ke tempat pembuangan sampah dengan tatapan iba. Iba karena barang waras wiris itu harus terbuang hanya karena kekonseletan bosnya.
Hadeh!
Tak berhenti disana, Alsaki yang siang jelang sore ini menemui relasi nya untuk penawaran menjadi ambasador produk minuman terbaru, malah merasa mual tanpa sebab.
Alsaki buru-buru berpamitan saat ia tak bisa lagi menahan gejolak yang kini menyiksa perutnya.
__ADS_1
" Maaf tuan. Bos saya sepertinya kurang sehat!" seru Dante yang kini sungkan terhadap pemilik perusahaan manufaktur terbesar di kota J yang harus menunggu Alsaki ke belakang.
Raka Chandrakanta. Ya, dia memilih Alsaki untuk menunjang pemasaran produk mereka sebab elektabilitas Alsaki saat ini benar-benar bagus.
" Tidak apa. Saya bisa menunggu!"
Pria tampan yang berkharisma itu sangat humble. Membuat Dante lebih tenang. Tidak menyangka jika orang yang akan berkerjasama denah bosnya merupakan CEO muda yang begitu ramah.
Sementara yang sedang mual dan tengah mengeluarkan isi perutnya, benar-benar tak sanggup untuk menahan rasa tak enak itu. Mulutnya sampai terasa pahit hanya karena rangsangan bau jeruk itu.
" Kenapa dengan ku? Sudah lama aku tidak sakit begini!" Al bergumam usai membersihkan dirinya. Heran sebab seingatnya, ia tak makan makanan yang berpotensi mengancam lambungnya belakang ini.
Dan lagi, ia benar-benar merasa aneh. Setiap mencium aroma pengharum ruangan dengan wangi jeruk, ia langsung mual.
Alsaki akhirnya mengenakan masker rangkap tiga agar pertemuannya kali ini dengan Raka bisa berjalan lancar.
" Anda akan berkerja sama dengan adik saya Kalyna nanti. Dia eksekutif produksi juga branding. Kami tunggu anda di kota J!"
" Terimakasih banyak Pak Raka. Saya sangat senang bekerjasama dengan anda!"
" Sama-sama!"
Mereka berjabat tangan dengan begitu erat. Pertemuan yang kurang sempurna namun di pungkasi dengan keramahan.
Beberapa waktu kemudian
Dante yang melihat bosnya seperti itu untuk pertama kalinya juga heran. Ada apa gerangan? Kenapa bosnya mirip orang kena racun?
" Lah Dan, mas Al kenapa?" pekik Dhisti yang barusaja membuka pintu apartemennya dan melihat suaminya di papah lemas.
" Mungkin bos sedang masuk angin nona. Beliau seperti ini sejak pagi tadi!" kata Dante murung.
Membuat Dhisti langsung panik.
" Kamu sakit masih nekat kerja aja mas? Ayo-ayo bawa masuk!" seru Dhisti yang kini mengambil alih tubuh suaminya.
Alsaki bahkan tak sanggup untuk sekedar menjawab. Semua bau yang ia hirup malah seolah semakin menyiksa hidungnya.
" Aku nggak sakit sayang. Tapi..."
" Huek!"
Al langsung melesatkan dirinya menuju kamar mandi saat perutnya tiba-tiba bergejolak kembali tatkala pengharum otomatis itu menyemprotkan aromanya.
Oh ya ampun!
__ADS_1
Dhisti yang melihat suaminya muntah-muntah seperti itu benar tak tega. Ia sejurus kemudian menyiapkan jahe hangat guna meringankan rasa mual yang kini di dera suaminya.
Dante tak berani meninggalkan Al meski Agatha sudah menerornya dengan puluhan panggilan. Ia yakin, jika perempuan itu sedang uring-uringan sebab Raina akhir-akhir ini juga sedang batuk pilek.
" Aku panggilkan dokter ya mas?"
Al menggeleng. " Aku gak sakit Sayang. Tolong kamu copot saja semua pengharum ruangan itu sayang. Aku benar-benar tersiksa saat menciumnya!"
Dan berita aneh itu terdengar juga ke telinga nyonya Hapsari. Membuat wanita itu akhirnya mengunjungi sang anak yang saat ini di kabarkan tak masuk kantor.
" Dia gak mau makan ma. Padahal Dhisti masak kesukaannya hari ini!" menjelaskan dengan wajah murung.
Al terlihat tertidur sambil mengenakan masker rangkap tiga, karena hari ini ia benar-benar tersiksa saat mencium aroma nasi.
" Dhis, kamu lebih gemukan sekarang ya?" tukas Mama yang tak sengaja memperhatikan menantunya.
" Benarkah ma?"
Nyonya Hapsari mengangguk. " Iya nih, kamu gemukan. Jadi makin seger!"
" Gimana gak seger, kapan hari aja makan habis lima mangkok. Aku sampai malu!" timpal Puri yang baru kembali dari kamar mandi, dan membuat Dhisti meringis sebab malu.
" Jangan banyak-banyak makan yang berlemak begitu. Awas kegemukan! Nanti kamu haidnya jadi gak lancar kalau gemuk. Kalau gak lancar, nanti sulit program hamilnya" kata Mama muram dan mencoba menasihati menantunya.
Namun, Dhisti menjadi termenung saat mendengar kata haid. Ia baru ingat jika bulan lalu dia belum haid hingga tanggal sekarang ini.
Namun kediaman Dhisti malah di salah artikan oleh nyonya Hapsari.
" Dhis, kamu gak marah kan sama mama?" tanya nyonya Hapsari yang mengira Dhisti tersinggung akibat dia tegur. Membuat gadis itu terkesiap sedari lamunannya.
" Enggak sama sekali ma. Dhisti malah senang mama perhatikan seperti itu. Hanya aja..."
" Hanya kenapa?" potong Nyonya Hapsari tak sabar.
" Dhisti sepertinya bulan lalu enggak haid deh ma!" jawab Dhisti seraya menggigit bibir bawahnya.
" Hah, yang bener kamu?" tanya Nyonya Hapsari kembali dengan wajah antusias cenderung senang.
" Jangan-jangan..." kata Puri yang berhasil mensugesti ketiganya menoleh ke arah Alsaki yang wajahnya di bungkus masker berlapis seperti mumi.
" Ada apa? Kenapa kalian menatapku begitu?" tanya Al dengan wajah bodohnya manakala tiga wanita itu membidiknya dengan tatapan mencurigakan.
.
.
__ADS_1
.
Buat yang pingin tahu kisah Raka Chandrakanta, bisa baca karya Mommy satunya yang berjudul "Menjadi Ibu untuk anakmu!"