Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 88. Kecupan manis


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Luna tak menyangka jika pria yang seharusnya sudah lenyap itu, malah ada di pesta Alsaki dan membuat semua rencananya berantakan.


Benar-benar brengsek!


Bagiamana bisa hal sialan itu terjadi? Kenapa semua cecunguk yang sudah ia bayar mahal tak ada yang becus untuk menjalankan perintahnya?


" Lepaskan aku brengsek!" memaki kesal pada Dante yang kini berada di depan kemudi usai memasukkannya kedalam mobil secara paksa.


Dante yang di maki tentu tak menggubris dan memilih untuk menaikkan kecepatan mobilnya. Membuat wanita itu ketakutan.


" Apa yang kau lakukan, cepat turunkan aku!"


Luna semakin ketar-ketir kala mobil itu berjalan ngebut. Tampaknya pria datar itu tak bisa di luluhkan dengan cara kasar.


" Dante, aku bisa membayarmu lebih malah. Bahkan, aku bisa memberimu kepuasan kalau kau mau!" seru Luna memberanikan diri untuk menawarkan penawaran yang mungkin bisa membuatnya bebas.


Dante mengeraskan rahangnya kala mendengar wanita itu yang mencoba merayunya.


" Sekalipun aku sangat ingin memenuhi hasratku, akan ku pastikan itu bukan dengan anda!"


Membuat Luna malu sebab berani-beraninya Dante menolaknya seperti itu.


" Dasar brengsek. Jangan-jangan kau memang tidak normal ya? Sikap juga kelakuan mu bahkan juga sangat aneh!"


Namun jangan sebut namanya Dante jika dia terpengaruh oleh ocehan bodoh perempuannya jahat itu.


" Inilah yang membuat anda berbeda dengan nona Dhisti. Hidup di kalangan atas gak menjamin tingginya harga diri!" cibir Dante yang baru kali ini mau berbicara banyak.


Luna tentu tak hanya malu, namun kali ini ia semakin dibuat marah oleh perkataan Dante yang telah membaringkannya.


Dante terus memacu mobilnya lalu sampailah dia di sebuah kantor polisi. Membuat Luna membelalakkan matanya.


" Dante, apa yang aku lakukan, kenapa kau membawaku kemari?" bertanya dengan nad yang mulai resah dan panik.


" Apa anda berpikir saya mengajak anda untuk bercinta di tempat ini? Anda pasti lebih tahu tempat ini digunakan untuk apa? saya rasa anda pasti lebih pintar!"


Luna menatap tak percaya pria yang bahkan sama sekali tidak tergoda olehnya itu. Kini, bayangan masa depan serta karir yang akan hancur terasa semakin mendekat ke arahnya.


Sementara itu, jelang petang Nyonya Hapsari akhirnya kembali ke kediamannya sebab ia telah berhasil membuat para keluarganya mengerti apa masalah sebenarnya.


Biarlah orang tahu bila suaminya memang memiliki tabiat tak baik. Ia menyadari, Tuhan membuka hal ini melalui Dhisti agar ia lebih bisa mawas diri.


" Mama mau istirahat dulu Pur. Kamu tolong cek semuanya sama Tince aja ya?" seru sang Mama yang mulai kehilangan kekuatannya.


Puri yang kasihan melihat sang Mama yang benar-benar muram, kini mengiyakan permintaan wanita itu meski sebenarnya ia juga sangat lelah.


Saat hendak kembali ke kamarnya, ia yang berpapasan dengan Desi, langsung membuang wajahnya.


" Untung anak orang kaya. Kalau hidup di desa, udah mati dari dulu dia!"


Puri yang mendengar suara lirih cenderung mirip gumaman itu langsung menyahut.


"Ngomong apa Lo?"


Namun yang di tuduh terlihat santai.


" Maaf nona, saya tidak ngomong apa-apa!"


" Ada apa ini?" tuan Hendra yang datang karena mendengar keributan seketika membuat Desi tertunduk.


" Tanya aja sama pembantu kurang ajar itu!" sahut Puri yang kesal dan langsung ngeloyor pergi.


Tuan Hendra berjalan mendekat ke arah Desi yang tampak takut. " Maafkan anak saya. Anak saya memang seperti itu!"


Desi mengangguk sebab sedikit kaget. Tak menyangka jika pria itu tak memarahinya.


" Terimakasih tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu!"


Hendra Gunawan terlihat mengangguk lalu sejurus kemudian menatap Desi yang berlalu dengan tatapan penuh arti.


...----------------...


Seperti rencana yang sudah dibuat sebelumnya, Alsaki langsung pulang menuju apartemennya dan berniat menyusun acara bulan madu setelah ini.


Inilah alasan dia menggunakan jasa gedung yang dekat dengan unit apartemennya, sebab ia ingin segera menikmati waktu berdua bersama Dhisti.


Yeah!


" Buruan mandi, biar hilang capeknya!" seru Dhisti sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sembari berjalan di belakang suaminya.


" Sebentar nanggung!"


Dhisti mengintip diagram yang tengah di pantau oleh suaminya di dalam laptopnya. Keterangan-keterangan rumit yang bahkan tidak ia ketahui itu, membuatnya semakin pusing.


" Apa tidak bisa besok saja ngerjain itunya? Kamu gak capek?" tanya sang istri yang merasa suaminya itu benar-benar workaholic.


" Udah punya istri, gak boleh ada kata capek!" menyahut seraya terkekeh. " Aku harus sering capek karena udah ada kamu!"


Dhisti langsung mencibir seraya melangkah masuk ke kamar.


Setibanya ia di dalam, ia lupa jika ada banyak sekali kado yang menumpuk di dalam kamarnya. Kado itu di bawakan oleh Brio juga Inka sesaat sebelum mereka berdua pamit.


" Astaga, banyak sekali!"


Tangan Dhisti terulur kala ada sebuah bungkusan sederhana, yang diatasnya tertulis nama para anak-anak asuhnya.


" Selamat menikah kak Dhisti. Semoga selalu bahagia!"


Tulisan itu pasti di tulis oleh Sauki. Tulisan yang ukuran hurufnya tidak konsisten, serta penempatan tanda baca yang tidak benar itu membuat dia mengharu biru.


Tulisan dari anak-anak luar biasa, yang mampu membuat hidupnya selalu merasa bersyukur di masa-masa sulitnya dulu.


Ia membuka kardus itu lalu menemukan sepasang mug besar, dengan gambar karikatur wajah Dhisti juga Alsaki.


Ini gambar Sauki. Ini ide dari Heru. Maaf kalau kurang bagus ya kak, tapi semoga setiap kak Dhisti buatkan teh untuk Om Alsaki pakai mug ini, kak Dhisti jadi ingat kita terus.


Siapa yang tidak terharu saat membaca kata-kata luar itu? Sebuah gambar bagus meski ia yakin jika semua itu digambar dengan alat yang sederhana.

__ADS_1


Gambar itu lalu di print ulang dan di tempelkan secara permanen di keramik mug yang unik itu. Entah dimana mereka melakukannya, namun yang jelas, ini sangat berarti.


"Aku yakin Sauki dan kawan-kawannya pasti akan jadi seniman hebat suatu saat nanti!"


Dhisti yang tak mengetahui jika Alsaki membuntutinya bahkan melihat semua yang ia lakukan, kini buru-buru menghapus air matanya.


" Mas sejak kapan ada disini?" bertanya kaget.


" Kau sudah terlalu sering menangis. Aku hanya ingin air matamu hanya keluar saat kau merasa bahagia, hm!"


alih-alih menjawab, pria yang resmi menyandang status sebagai suami itu malah menarik Dhisti kedalam dekapannya.


Dhisti meresapi pelukan yang ia terima saat ini. Pelukan hangat yang ia harapkan akan selalu ada sampai ajal menjemput mereka.


" Kau sangat harum. Bolehkah aku..."


Dhisti merasakan gelenyar aneh saat ceruk lehernya di ciumi oleh Alsaki. Dhisti nyaris terlena dengan sentuhan lembut suaminya itu.


Namun sejurus kemudian.


" Maaf mas, tapi aku lupa memberitahumu jika baru saja tamu bulanan ku datang!"


" Apa?"


...----------------...


Sejak dua hari ini, kediaman Gunawan terlihat semakin suram saat Alsaki kini sudah resmi tinggal di apartemen. Malam nanti rencananya mereka akan makan malam bersama, untuk menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga mereka.


" Ar, kamu mau kemana?" tanya Nyonya Hapsari saat melihat supirnya berjalan menuju ke arah depan.


" Mbok Enok di belakang meminta Desi membeli beberapa bahan Nyonya. Dan saya mau mengantar Desi!"


Puri yang duduk di sofa terlihat tak menggubris kedua orang yang sejatinya membuat dirinya cemburu itu.


" Nona, apa anda mau nitip sesuatu?" tanya Ari ramah.


" Enggak!" menjawab ketus.


" Baiklah kalau begitu!" balas Ari masih tersenyum.


Ada rasa tak enak kala melihat Puri kembali cuek kepadanya. Oh Tuhan, kenapa sebenarnya aku ini?


Malam harinya, saat Dhisti datang bersama dengan Alsaki, Hendra Gunawan lagi-lagi tak menunjukkan batang hidungnya. Namun semua itu sama sekali tak menyurutkan niat Nyonya Hapsari untuk melakukan niat baiknya.


" Dhisti, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Gunawan. Saya ingin kamu sekarang memanggil saya dengan sebutan Mama, dan kamu Puri panggil kakak iparmu dengan panggilan yang sopan.


Kedua wanita itu mengangguk. Mamanya selalu saja bijaksana. Dhisti lagi-lagi merasa beruntung karena memiliki mertua yang amat bijak.


" Jangan tanyakan yang tidak ada disini. Ayo makan yang banyak. Al pasti sedang butuh banyak tenaga,hm?" goda Nyonya Hapsari kepada pengantin baru itu.


Namun yang di goda hanya tampak meringis. Tenaga apaan, palang merah datang di saat yang tidak tepat begitu. Begitu pikir Alsaki kesal.


" Setelah ini Mama kepingin kamu belajar sedikit demi sedikit soal apapun yang kamu senangi. Yang penting bisa bermanfaat. Mama dengar kamu sangat menyukai anak-anak. Mungkin kamu bisa belajar mengurusi yayasan agar kamu juga tidak boring dirumah!"


Mereka makan dalam keadaan santai sambil sedikit membahas tentang usaha mereka.


" Wow, apa menunya malam ini?"


Dhisti langsung canggung saat Hendra Gunawan tiba-tiba bergabung di meja makan dan seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Pria itu bahkan tak menatap Dhisti sama sekali.


Al tampak geram namun sang Mama meminta Al untuk diam menggunakan bahasa matanya.


" Papa mau makan apa?" tawar Nyonya Hapsari.


" Apa aja. Yang penting Mama yang ambilkan!"


Kesemuanya akhirnya menyudahinya obrolan tadi sebelum waktunya. Mereka akhirnya makan dalam kecanggungan.


Desi yang malam ini mengamati hal penuh kejanggalan itu menjadi sedikit penasaran, kenapa tuan besar tidak ada di lokasi pernikahannya anaknya tadi? Bukankah itu sesuatu yang mengherankan?


Di lain pihak, Ari yang beberapa hari terakhir sering terlambat makan kini merasa tubuhnya sangat tidak baik-baik saja. Ia menuju kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya yang kosong dan terasa pahit.


Tak hanya itu, rasa perut yang melilit menjadi indikasi jika sepertinya ia harus merasakan buah dari keteledorannya.


" Ya Allah mas, sampean kenapa?"


Mbok Enok yang melihat Ari muntah langsung memekik kaget. Membuat Desi yang baru kembali dari depan langsung berlari.


" Ada apa mbok?" bertanya cemas.


" Mau ngambil minyak kayu putih mbak. Itu mas Ari muntah-muntah apa masuk angin ya?"


" Apa? Dimana dia sekarang?" langsung panik demi mendengar Ari yang dikabarkan sakit.


" Di kamarnya mbak!"


Desi buru-buru menuju ke kamar pria itu lalu membuka pintu itu dengan keras.


" Mas Ari kenapa?"


Membuat Ari setengah kaget.


" Perutku Des, perutku sakit sekali!" menjawab sambil menahan nyeri di ulu hatinya.


Desi yang panik langsung keluar untuk meminjam mobil sebab ia yakin jika maag yang di miliki Ari pasti kambuh.


Mengabaikan jam makan sebenarnya harus laki-laki itu hindari. Tapi apa daya, ia yang kepikiran dengan sikap Puri yang aneh kepadanya malah kehilangan selera makannya.


" Mau keman kau?" tanya Ari di sela ringisannya.


" Aku mau minta tolong tuan Alsaki!"


" Tidak usah, jangan gila. Aku hanya masuk angin!"


" Kau terlalu menuruti kemauan gadis manja itu sehingga kau mengabaikan kesehatanmu sendiri. Jika kau mati, mereka pasti dengan mudah bisa mencari gantimu, tapi apa mas Ari pernah berpikir gimana dengan perasaan bulek Yuli, Danisa bahkan aku yang selalu tidak mas Ari lihat!"


Membuat laki-laki itu langsung terdiam.


" Aku tidak apa-apa Des. Aku hanya butuh istirahat!"

__ADS_1


Desi yang kesal dengan Ari yang susah untuk diberi tahu, kini segera pergi sebab ia tak bisa bertengkar dengan pria itu. Berdebat dengan Ari adalah hal yang paling tidak bisa dia lakukan.


Namun Nyonya Hapsari yang melihat Desi melintas dengan raut keruh menjadi tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


" Desi, ada apa? Apa ada masalah?"


Membuat gadis itu menyadari jika di ruang keluarga itu sedang berkumpul para majikannya.


" Tidak nyonya. Hanya ..."


" Hanya apa?"


" Mas Ari muntah-muntah dan..."


" Apa muntah?"


Maka semua mata langsung tertuju kepada Puri yang terlihat memekik panik saat mendengar Ari muntah. Desi yang melihat reaksi Puri menjadi sangat kesal.


" Permisi Nyonya, saya mau beli obat!"


Namun saat gadis itu baru saja melangkah, Nyonya Hapsari terlihat membuka suara.


" Jangan beli. Ambil di kotak obat di dekat dapur. Ada banyak macam obat disana. Kalau belum juga sembuh, langsung bawa ke dokter!"


Desi seketika mengangguk namun sebelumnya ia melirik Puri tajam. Gadis itu kesal kepada Puri sebab ia menduga Ari kelelahan karena terlalu terforsir menuruti kemauan gadis manja itu.


Kini, Puri menjadi termenung saat mengetahui jika Ari sakit. Dhisti yang melihat reaksi adik iparnya menjadi saling menatap dengan suaminya. Sepertinya ada yang aneh.


Dhisti dan Alsaki diminta menginap disana untuk malam ini. Nyonya Hapsari ingin mereka menghabiskan malam ini bersama meraka. Ia tahu, setelah ini mereka pasti akan sangat jarang berkunjung.


Saat malam telah larut, kesemuanya sepakat untuk menyudahi obrolan hangat tanpa Hendra Gunawan sebab bibir mereka telah menguap berkali-kali.


Namun saat semua sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, Puri yang masih kepikir Ari mengendap-endap menuju ke kamar laki-laki itu di bawah cahaya yang sudah redup.


Meski ragu dan bolak-balik menggigit kukunya, namun Puri akhirnya memberanikan diri mengetuk kamar laki-laki itu.


TOK TOK TOK


Tak ada sahutan, ia kembali mengetuk pintu itu dengan perasaan was-was. Takut kalau-kalau mbok Enok bangun.


TOK TOK TOK


CEKLEK!


" Nona!"


Ari spontan mendelik saat Puri malah menerobos masuk, lalu buru-buru mengunci pintu kamar laki-laki itu.


Damned!


" Nona, apa yang anda lakukan? Saya bisa..."


" Pssst, katanya kamu sakit? Kamu telat makan lagi ya?"


Mengabaikan wajah Ari yang sudah pias karena resah dan takut. Ari tak habis pikir, gadis di depannya itu benar-benar impulsif. Bagaimana jika ada yang tahu jika mereka kini ada di kamar?


" Nona saya sudah baikan, tapi tolong anda jangan berada di sini, saya takut jika..."


" Kamarmu sangat sempit. Apa kau tidur dengan nyenyak di kamar sekecil ini?"


Astaga, lihatlah. Dia bahkan tidak mengindahkan permintaan Ari yang sudah sangat ketar-ketir itu.


" Nona, kita bisa mendapat masa..."


" CK, bisa diam gak sih. Kamu belum makan ya?" tuding Puri yang melihat sepiring makanan masih utuh di atas nakas itu.


"Sekarang cepat makan itu. Kenapa nasinya masih utuh? Kau juga belum minum obat?"


Ari benar-benar kehabisan akal untuk mengusir anak majikannya itu. Astaga.


" Aku akan pergi saat kau sudah makan dan meminum obatmu!"


Apa?


" Baiklah. Saya akan segera memakannya. Tapi tolong sebaiknya anda segera pergi. Saya..."


" Iya-iya, udah cepat makan!" menyergah sebab sebenarnya ia amat khawatir akan kondisi Ari.


Puri senang karena Ari akhirnya mau makan meski berada di bawah ancamannya. Gadis itu tidak tahu, jika perut Ari benar-benar sangat sakit.


Meski tak memiliki selera, Ari akhirnya memasukkan makanan itu suapan demi suapan. Ia semakin ketar-ketir kala Puri turut mendudukkan dirinya ke kasur berukuran 160x 200 itu pada kamar yang hanya berukuran empat meter persegi itu.


" Nona, anda tahu jika ini sangat berba..."


" Habiskan makanmu dan aku akan cepat pergi!"


Ari hanya menghabiskan makanan itu separuh sebab rasa makanannya benar-benar terasa pahit di mulutnya. Pria itu juga sudah meminum obat yang sudah di siapkan Desi tadi agar Puri segera keluar.


" Terimakasih banyak atas perhatian anda nona. Tapi sebaiknya anda segera kembali ke kamar anda!" pintu Ari dengan suara lembut.


Puri yang melihat Ari kini pucat jelas merasa bersalah. Pria itu tak pernah menolak setiap perintahnya.


" Maafkan aku Ar. Kamu kayak gini karena aku sama kak Al!" berkata muram.


" Tidak nona, saya tidak apa-apa. Saya hanya ceroboh karena tidak mengindahkan peringatan anda untuk menjaga waktu makan saya dengan baik!"


Keduanya saling menatap dengan tatapan dalam yang sulit di artikan. Puri benar-benar sudah gila, gadis itu berada di dalam kamar seorang laki-laki di jam yang sudah berlari menuju ke waktu dini hari.


" Nona, sekali lagi saya moho..."


CUP


Ari langsung membeku saat pipinya tiba-tiba di kecup oleh Puri. Bahkan, gadis itu juga tak percaya jika baru saja dia telah mencium Ari dengan tidak tahu malunya.


" Aku- aku pergi. Istirahatlah. Kau harus sehat. Ini perintah!"


Ari bahkan masih mematung saat pintu itu telah tertutup. Kini, Puri merasa malu sendiri namun entah mengapa ia juga merasa senang karena barusaja mengecup pipi pria tampan yang telah menarik perhatiannya itu.


" Astaga, aku benar-benar sudah gila!"

__ADS_1


__ADS_2