
...🌻🌻🌻...
Barangkali, rasa bersalah yang bersemayam dalam ruang jiwa Alsaki lah yang memantik keberaniannya menerobos kobaran si jago merah.
Tak berselang lama, datang beberapa unit mobil pemadam kebakaran dengan bunyi sirene yang membuat hati beberapa orang lega, termasuk Alsaki.
Mereka lantas bergerak cepat, para personel polisi yang kini mulai memenuhi area itu, tampak mengevakuasi beberapa tahanan dengan bahu membahu. Selang-selang besar terlihat mulai memuntahkan air dari tangki besar.
Punggung Alsaki telah basah karena keringat, namun dia tak mau menunda sedikitpun langkahnya untuk membawa Dhisti yang telah tak sadarkan diri.
Diluar suasana sedang kalut, kacau, serta tak terkendali. Dalam waktu yang benar-benar menegangkan itu pula, Alsaki meletakkan tubuh Dhisti yang tak berdaya diatas tanah.
" Dhisti, bangun!" kata Alsaki menepuk pipi lembab gadis itu.
Ia terus saja menepuk wajah gadis itu dengan raut panik. Melihat tak ada reaksi, tanpa menunggu lagi laki-laki itu tampak menekan hidung Dhisti lalu dengan segera memberikan CPR atau napas buatan.
HUP!
HUP!
Sebanyak dua kali, ia memberikan napas buatan yang ia lanjutan dengan memompa dada Dhisti dan berharap gadis itu mau siuman.
" Kumohon bangunlah!" serunya tegang dan terus memompa dada Dhisti di sela keriuhan para manusia yang berkelebatan memberi pertolongan.
" Tuan Alsaki, anda..."
Seorang petinggi Polsek tampak syok karena melihat Alsaki yang keadaannya turut kacau balau.
" Jangan bahas apapun sekarang, aku tidak apa-apa. Tapi sebaiknya kita bawa mereka yang terluka kerumah sakit, cepat!"
Sang komandan polisi yang masih kalang kabut seketika mengangguk manakala Alsaki meminta hal itu dengan kepanikan yang terasa.
Sedetik kemudian, Dhisti tampak terbatuk dan mulai membuka matanya. Membuat Alsaki spontan memeluk tubuh Dhisti yang masih tergeletak.
__ADS_1
" Syukurlah kau siuman. Aku sangat mengkhawatirkanmu!"
...Flashback On...
Tepat pukul 02.27 dini hari, Alsaki kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena hati yang gulana. Matanya bahkan belum terpejam sejenak pun.
Ia yang sangat kecewa kepada sang Papa, lebih memilih diam dan membiarkan kedua orangtuanya itu saling berbicara dulu. Puri mengatakan jika besok dia akan mengajak Alsaki untuk bertandang ke kantor polisi untuk berbicara dengan Dhisti.
Al langsung menyetujui. Lagipula semenjak tahu kebenaran yang di ungkapkan oleh Inka, ia semakin terpikat oleh pencopet cantik itu.
Namun, begitulah hidup. Riak dan gelombangnya tiada yang bisa menerka. Saat ia hendak membaringkan tubuhnya yang lelah, sebauh telepon dari Dante membuat ia mengurungkan niatnya.
" Dante, ada apa dia telpon jam segini?" bergumam seraya menatap layar ponselnya.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung menjawab telepon itu.
" Halo Dan, ada apa?"
" Maaf bos saya mengganggu tidur anda, saya sedang perjalanan pulang dan melihat ada kebakaran di kantor polisi XX, bukankah Dhisti masih ada disini dan belum dipindahkan ke rumah tahanan?"
Ia melesatkan dengan kecepatan tinggi, Ari yang melihat Alsaki mengeluarkan mobil di jam tak wajar itu sempat menawarkan diri untuk mengantar namun di tolak mentah-mentah.
Dan tepat di jam tiga dinihari, ia telah sampai di kantor polisi dan bertemu dengan Dante yang akhirnya menerjunkan diri untuk menolong musibah itu. Matanya tak henti membuat saat melihat kebakaran yang luar biasa itu, kini mulai melahap bagian lain kantor itu.
Entah apa yang menyebabkan hal itu terjadi, tidak ada yang berani berspekulasi sebab fokus mereka semua sama, yakni menyelamatkan semua manusia yang ada.
Ia yakin jika yang berjaga di kantor itu hanya beberapa polisi saja, sebab memang begitu jadwalnya. Membuat aksi penyelamatan berjalan agak lambat.
Alsaki memindai satu persatu wajah orang yang berhasil di evakuasi keluar, namun ia semakin gelisah manakala matanya tak menangkap sosok Dhisti diantara beberapa orang yang berhamburan keluar. Membuatnya nekat menerobos masuk dan mengabaikan larangan beberapa petugas.
Ia beberapa kali bertabrakan dengan tahanan yang lari guna menyelamatkan diri, kepanikan mendadak menggema di ruang hatinya, Alsaki terus masuk dan terkejut demi melihat Dhisti yang duduk bersimpuh di lantai dengan kobaran api yang mengelilingi sel yang dia huni.
...Flashback End...
__ADS_1
...----------------...
Dirumah sakit.
Meski masih terlihat segurat keresahan di wajah Alsaki, namun laki-laki itu terlihat lebih bisa mengendalikan diri bersama beberapa pemangku kepentingan yang juga ada dirumah sakit Bhayangkara.
Ya, para korban yang mendapat luka bakar patah atau ringan, pun dengan korban-korban yang mengalami syok kini tampak di boyong kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Musibah ini langsung menjadi trending topik di jagat maya. Cepatnya akses informasi membuat beberapa postingan yang di unggah oleh warga saat kebakaran berlangsung, kini menjadi buah bibir masyarakat.
" Sebenarnya apa yang menyebabkan hal itu Pak?" tanya Alsaki tak habis pikir.
" Tim kami masih melakukan penyelidikan tuan. Karena setiap malam, kami selalu patroli. Rasanya mustahil jika kejadian itu terjadi akibat keteledoran orang kami. Bisa jadi ini sabotase, tapi untuk mengungkap yang sebenarnya kami perlu segera melakukan olah tempat kejadian perkara!"
Saat keduanya masih larut dalam obrolan yang cukup serius, Inka yang mendengar kabar dari story masyarakat terkait kebakaran di kantor polisi itu langsung mencari informasi tentang dimana Dhisti berada.
Ia yang melihat daftar nama pasien yang dibawah ke RS. Bhayangkara untuk menjalani perawatan, langsung melesat ke sana demi melihat nama Dhisti yang rupanya berada diantara nama-nama itu.
Namun, alih-alih bisa menemui Dhisti, ia sangat terkejut manakala melihat Alsaki yang mengobrol dengan pria yang tinggi yang mengenakan kaos berkerah berwarna navy, dengan punggung bertuliskan POLISI.
" Alsaki, kau...." sapa Inka dengan suara terjeda.
" Inka?" balas Alsaki kaget karena tak menyangka Inka akan menyusulnya kemari.
" Aku tadi lihat info di beranda. Terus aku langsung ke kantor, enggak taunya..."
Alsaki tersenyum ramah kepada Inka yang nampak mencemaskan Dhisti. Meyakinkan dirinya jika gadis itu benar-benar teman yang baik. " Dhisti sedang di rawat di dalam bersama pasien lain, kita tunggu saja disini!"
Inka tertegun selama sekian detik saat melihat tampilan Alsaki yang cukup kacau ketimbang hari biasanya. Ia menduga jika pria itu pasti lebih dulu mengetahui kabar soal jebakan. Tapi bagaimana bisa?
Membuat Inka mengubah lagi penilaiannya soal Alsaki.
.
__ADS_1
.
.