
...🌻🌻🌻...
Team hore benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik. Dhisti membasuh wajahnya menggunakan tangan usia petugas itu memungkasi kalimat, tanda mengaminkan tiap butir doa yang terucap.
Kini ia telah resmi dan sah menjadi separuh jiwa Alsaki. Menyandang status sebagai istri, juga menantu keluarga Gunawan.
Layaknya sebuah hal yang patut dirayakan, selepas gelaran acara ijab kabul itu selesai, para tamu undangan di persilahkan menyantap hidangan sambil di hibur oleh para biduan kelas ibukota. Membuat suasana kian syahdu.
" Ayo Dan, makan yang banyak. Jangan pedulikan apapun selain perut kita harus kenyang!"
Inka terkikik-kikik saat membersamai sejumlah anak-anak yayasan yang kini antri mengambil makanan lezat hasil karya chef terkenal itu.
" Mbak, aku mau rolade itu dong!" seru Sauki kepada pelayan yang standby di meja makanan.
" Aku mau abon ikan yang ini!" pinta Dani kecil yang dengan telaten di layani oleh seorang pramusaji.
" Nah begitu Sak, Dan! Ayo, ambil banyak-banyak yang kalian mau. Kak Dhisti ngundang kita kemari untuk kenyang sekenyang-kenyangnya bukan?"
Namun Brio hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat calon istrinya ternyata sangat rakus dan lebih bar-bar.
" Apa, kau jangan mengomeliku. Kita bawa amplop rugi tebal kalau enggak makan banyak!" cetus Inka yang tahu arti tatapan Brio.
Semua orang terlihat senang akan pesta itu. Banyak jenis makanan yang tumpah ruah memenuhi meja persegi panjang yang di jaga oleh para pelayan yang rapi. Mulai dari makanan bercita rasa Nusantara, Chinese, hingga Western ada lengkap tersaji disana.
Dhisti terlihat sibuk berpose bersama Alsaki saat para tamu tengah menikmati jamuan makan sebelum mereka akan bersama-sama untuk memberikan ucapan selamat.
🎶 Akhirnya...ku menemukan mu...
Penyanyi pria berlesung pipi tengah membawakan sebuah lagu romantis yang semakin menambah suasa romantis disana.
🎶 Saat hati ini...mulai merapuh...
Tak sedikit yang terlihat turut membuka mulutnya, dan larut dalam nyanyian penuh makna itu. Sungguh sebuah penampilan yang begitu apik.
Dhisti terlihat senang akan apa yang sudah di persiapkan oleh Alsaki itu. Seumur hidupnya, ia bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan mendapat pesta semeriah ini.
🎶 Jika nanti ku sanding dirimu...
Miliki aku dengan...segala kelemahanku...
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih...tuk mencintaiku...
Namun di lain pihak, Puri yang merasa jika akhirnya kakaknya sudah mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang dia mau, kini memilih untuk sedikit menepi.
Gadis itu tidak tahu kenapa dirinya selalu dilanda rasa kesal, geram serta cemburu saat melihat Ari memperlakukan Desi dengan baik.
" Tengenku sekit!" menirukan ucapan Desi dengan suara menye-menye saat ia telah berada di tempat yang sedikit sepi dan jauh dari pesta itu.
" Sok romantis!" gumamnya kembali kali ini dengan wajah keruh. Benar-benar tak suka akan keganjenan Desi.
Dan tanpa dia duga, Ari yang sudah ada sejak beberapa menit yang lalu terlolong heran saat melihat Puri ngoceh sendiri.
" Dasar tidak tahu mal..."
" Astaga!"
Puri langsung memegangi dadanya kaget, sebab nyaris saja kepalanya menabrak dada bidang Ari yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
Sial!
" Maaf nona, saya diminta Ibu untuk mencari anda." tanya Ari yang tak menyadari jika Puri sebenarnya masih kesal kepada dirinya.
" Sekarang dimana Mama?"
" Ada di..."
Puri langsung ngeloyor pergi saat ia melihat Nyonya Hapsari sedang sibuk berbincang dengan beberapa keluarganya, yang nampak silih berganti turun dari menyalami Dhisti juga Alsaki.
" Sebenernya kenapa dengan nona Puri. Kenapa dia selalu seperti marah denganku?" gumam Ari yang lagi-lagi dibuat tak habis pikir oleh sikap Puri yang cukup misterius itu.
Begini salah, begitu salah. Bila ia menjawab, itu artinya ia mencari gara-gara.
Melihat semua tamu undangan masih sibuk makan di meja makannya masing-masing, Ari memilih pergi untuk menghisap rokok karena tidak tahu kenapa akhir-akhir ini perasaannya begitu aneh saat melihat Puri sedang sedih, gundah atau marah.
Ia memang memiliki tanggung jawab lebih selain menjadi supir, yakni memperhatikan keselamatan para anggota keluarga Gunawan. Alsaki memercayai dirinya semenjak kejadian mamanya yang nyaris kena sandra beberapa waktu lalu.
Namun, rasa ingin melindungi yang timbul dalam versi lain juga mendadak tumbuh dengan sendirinya. Membuatnya tidak tenang.
Ia mengepulkan asap rokoknya ke atas. Menghisap lagi dalam-dalam lalu kembali mengeluarkannya. Ari gundah. Mungkinkah jika ia sedang menyukai anak majikannya itu?
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia harus sadar siapa dirinya. Ia harus meyakinkan diri jika apa yang ia rasa tak lebih dari sebuah tuntutan pekerjaan.
" Lah, di cariin malah disini!" seru Brio yang sepertinya sudah kenyang dengan sajian yang terhidang di sana.
" Mumpung masih pada sibuk sendiri. Sebatang aja bolehlah!" sahut Ari yang sudah mulai akrab dengan pria bertato itu.
__ADS_1
Brio mengangguk setuju. Ia juga keluar sebab tak enak rasanya jika tak merokok selepas makan.
" Kok bisa ya, di acara pernikahan kaya gini, bapaknya bang Al kagak datang!" seru Brio sembari mengeluarkan sigaret kretek merk nomer wahid miliknya.
Ari yang mendengar hal itu juga baru teringat. Betul juga, apa benar jika Dhisti menikah tanpa mendapatkan restu dari orang itu?
" Tapi aku salut sama bang Al!"
Membuat Ari menoleh.
" Mungkin kata orang lain dia egois atau durhaka. Tapi kalau menurutku, dia itu tipikal pria yang obyektif dan berani ambil resiko!"
" Tidak semua orang berani seperti itu. Tapi aku berani bertaruh. Pasti saat ini yang dibicarakannya bukan Dhisti, melainkan pria tua itu!" membicarakan Hendra Gunawan yang memang kerap bersikap angkuh dan sombong.
" Jika dia bijak. Harusnya seburuk apapun keadaan serta permasalahan kekurangannya harusnya di tutupi. Perkara di rumah dia gak nyapa Dhisti ya terserah. Lagipula, yang kaya itu ternyata Mamanya bang Al!"
" Kalau seperti ini, orang pasti akan mempertanyakan kredibilitas seorang Hendra Gunawan!"
Ari semakin kaget. Darimana Brio tau semua hal itu. Dia saja yang tinggal serumahnya malah tidak tahu menahun soal itu.
" Hendra Gunawan itu gila hormat. Makanya dia gak mau punya menantu orang-orang gak berada karena sebenarnya dia takut kehilangan hidupnya yang enak itu!" kata Brio usai rokok nya berhasil ia hisap.
Namun saat mereka sibuk ngobrol, suara mic yang semula gaduh, riuh, serta ramai mendadak sunyi. Membuat dua laki-laki itu mengalihkan atensinya.
" Kenapa tiba-tiba sepi?"
Sungguh di luar sangkaan mereka, penyebab suasana yang mendadak sunyi itu tak lain adalah karena Luna yang tampak hadir dengan membawa banyak sekali hadiah.
" Buset, tuh perempuannya besar nyali juga datang kemari. Ayo Ar, kita kesana!" seru Brio yang langsung melempar sebatang rokok miliknya, yang bahkan belum separuh terbakar.
Ari langsung di seret oleh Brio yang agaknya memiliki sikap sama seperti Inka, kepowers.
" Apa yang kau lakukan disini?"
Ridho yang geram kepada Luna menyeret lengan gadis itu karena telah mengacaukan pesta pernikahan yang semula tergelar dengan meriah.
Membuat semua pasang mata memusatkan atensi mereka terhadap Luna.
" Aku hanya ingin memberikan selamat kepada Alsaki Dho, apa salahnya? Lagipula aku di undang, akan sangat tidak sopan jika aku tidak datang!"
Ya, Nyonya Hapsari memang mengundang Luna sebab ia merupakan teman Alsaki.
Namun Alsaki justru terlihat geram, sebab Dhisti sudah nampak pias saat lagi-lagi ia di permalukan soal kasusnya yang beberapa waktu lalu mencopet, serta alasan Hendra Gunawan tak merestui hubungan mereka.
Benar-benar jahat.
DUAR!
Maka semua orang langsung berbisik-bisik. Luna tergelak mengejek dan membuat para tamu saling menggerutu memvonis.
" Cukup Luna, kau benar-benar keterlaluan!" hardik Alsaki yang sudah tidak tahan dengan semua sikap wanita itu.
" Benarkah, benarkah jika aku yang keterlaluan?" menatap Alsaki yang matanya sudah memerah. Dante yang melihat hal itu kini pasang badan sebab takut kalau-kalau bosnya gelap mata dan main tangan.
Namun saat keduanya saling beradu mata yang mengandung kadar kemarahan, suara seorang pria membuat Luna mendelik.
" Tu- tuan. Wa- wanita itu. Wanita itu yang datang dan mengatakan ji- jika dia adalah as- assiten anda tuan!"
DEG!
Luna kontan menoleh dan matanya langsung membelalak manakala melihat Lukman ternyata berada di sana.
" Apa? Ba- bagaimnaa bisa dia ada disini?"
Alsaki yang mendengar hal itu sontak geram. Jadi Luna adalah wanita yang selama ini dia cari.
" Apa yang kau bicarakan? Apa kau gila, siapa kau, aku bahkan tidak mengenalmu!" elak Luna menyergah ucapan Lukman yang Dhisti undang untuk datang ke pestanya.
" Tu- tuan percayalah, di- dia wanita yang saat itu datang sebelum Sofyan meninggal!" seru Lukman lagi yang bicaranya masih gagap sebab baru sembuh dari sakitnya.
Ya, pria itu telah di racuni beberapa waktu yang lalu oleh seseorang yang misterius. Dhisti yang berada di sana seketika maju sebab muak. Ia sudah tak tahan lagi.
" Kenapa kau sangat membenciku, hah? Aku bahkan tidak pernah mengusik kehidupanmu, Al mencintaiku dan aku juga mencintainya lalu salah kami dimana?"
" Aku bahkan sempat menghormatimu karena mengira wanita terhormat sepertimu akan bisa berlaku terhormat. Tapi aku rasa aku sangat salah!"
" Kau pembunuh, kau yang membunuh kakekku!" jerit Dhisti yang langsung di tarik oleh Inka yang tau jika Dhisti sedang emosi.
Nyonya Hapsari yang melihat hal itu tentu tak bisa tinggal diam. Membuat suasana seketika berubah menjadi tegang.
" Aku kecewa kepadamu Luna!"
PLAK!
Bagai di telanjangi, Luna yang kini merasakan pipinya kebas seketika membeku karena tak percaya jika nyonya Hapsari yang selama ini baik kepadanya malah melontarkan pernyataan yang membuatnya sedih, terlebih menamparnya di muka umum.
" Tante?" ucap Luna menatap wajah nyonya Hapsari tak percaya.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka kau ternyata sejahat itu Lun!"
" Dante!" pekik Al yang sudah berada di ujung kemarahannya. Ia sudah sangat murka kali ini.
" Saya bos!" Jawab Dante yang kini sudah berada diantara mereka.
" Pastikan dia mendapat apa yang seharusnya dia dapat!" berkata memerintah dengan ucapan penuh penekanan.
" Baik bos!"
" Kemari kau!" Dante berusaha menarik lengan Luna dengan kasar lalu menyeretnya keluar. Membuat semua yang ada di sana menatap dengan tatapan penuh ketegangan.
" Tidak, apa yang kau lakukan. Lepaskan aku brengsek!"
" Al pria itu gila, kenapa kau percaya jika aku yang melakukannya. itu fitnah!" masih berusaha mengelak dari kenyataan.
" Sebaiknya simpan penjelasan anda di kantor polisi nanti!" gertak Dante yang membuat Luna seketika ciut nyali.
Kini, selain menyisakan kecanggungan yang menyeruak, Dhisti merasa dirinya begitu kerdil. MC yang melihat suasana berubah menjadi mencekam, kini mengambil alih situasi.
" Kepada para tamu undangan dipersilahkan untuk kembali menikmati sajian, karena bintang tamu kita malam ini akan segera menghibur anda sekalian!"
Dhisti yang kehilangannya senyumnya kini memutuskan untuk kembali ke kamar dan berniat memperbaiki make up-nya yg sedikit berantem akibat air matanya.
" Temani istrimu. Biar Mama yang urus semuanya!"
Alsaki mengangguk. Ia paham perasaan istrinya yang baru saja di permalukan oleh Luna.
Di dalam kamar, Dhisti terlihat menatap nanar bayangan wajahnya di cermin. Perempuan itu bahkan tak mengalihkan pandangannya kala Alsaki turut memasuki kamarnya.
" Hey!"
Alsaki memeluk Dhisti dari belakang sembari menghujani leher istrinya dengan ciuman penuh dukungan. Ia tahu, istrinya pasti saat ini merasa sedih karena di permalukan.
" Aku sudah membuatmu malu!" kata Dhisti yang semakin terisak.
" Apa yang kau katakan?" mengusap lembut punggung istrinya.
" Setelah ini nama keluarga mu pasti akan mendapatkan cap buruk karena ku!"
Alsaki tersenyum di balik pelukannya." Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
" Luna telah mengatakan hal itu kepada semua, bahkan awak media pasti..."
" Awak media?" potong Al sembari tertawa. Membuat Dhisti buru-buru melepaskan pelukannya.
" Kenapa kamu tertawa?"
Alsaki mengusap pipi istrinya sambil tersenyum penuh arti, " Jadi kamu takut kejadian tadi masuk berita?"
Dhisti mengangguk polos. " Sayang, aku sudah meminta Dante untuk tidak memasukkan satu media pun!"
" Terus yang di bawah tadi?" masih ngeyel.
" Mereka fotografer. Tugas mereka hanya mengambil foto, bukan membuat berita!"
" Apa kamu serius?"
Alsaki mengangguk mengiyakan. Membuat hati Dhisti lega.
" Syukurlah Mas. Aku senang mendengarnya!" sahut Dhisti yang kembali memeluk tubuh harum suaminya.
Alsaki juga tersenyum lega sebab sepertinya Dhisti menangis bukan karena dia malu, melainkan karena mencemaskan nama baik keluarganya yang sebenarnya tidak perlu di cemaskan.
Tapi tunggu dulu, dia memanggil Alsaki dengan sebutan apa tadi?
" Sebentar, kamu barusan memanggilku dengan apa tadi?"
Membuat Dhisti melepaskan pelukannya lalu mendongak menatap seraut tampan yang kini juga menatapnya penuh arti.
" Panggilan?"
Pria itu mengangguk, "Yang tadi, yang pas kamu meluk aku!"
" Mas?" bertanya memastikan. Semakin membuat Alsaki senang bukan main.
Pria itu mengangguk.
" Panggil aku seperti itu mulai dari sekarang, kau mengerti!" menjawil hidung sang istri.
Maka Dhisti langsung membulatkan mata manakala bibirnya di kecup oleh suaminya sesaat setelah hidungnya dijawil.
.
.
.
__ADS_1