
...🌻🌻🌻...
Sebagai orang tua yang memiliki dua anak yang sudah winayah ( berusia pantas untuk menikah) , Nyonya Hapsari tentu memiliki impian untuk segera melihat anaknya menikah dengan wanita yang dia cintai, memberikan cucu yang sehat dan lucu, agar masa tuanya lebih berwarna.
Namun ia menyadari, tiada tebu yang kedua ujungnya manis. Al merupak pria sibuk dan bertanggungjawab. Membuatnya tak memiliki waktu lebih untuk membahas hal ini. Apalagi, semenjak suaminya terkena diabetes, seluruh pekerjaan dijalankan oleh anak sulungnya itu.
Kendati demikian, pria itu selalu memprioritaskan keluarga diatas segalanya. Bahkan, meski tak suka, Al selalu menyanggupi permintaan adiknya yang ini itu. dan membuatnya kini harus menanggung repot karena terkenal itu rupanya tidak selalu mendatangkan kesenangan.
Hanya saja, kali ini mereka tidak tahu jika Al agaknya telah menyukai seseorang yang sangat berbeda dengan wanita yang selama ini dikenal oleh mamanya.
Wanita yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya, dengan cara unik. Al yang tahu jika keluarganya merupakan orang yang detail betul dalam kesetaraan, merasa sedikit memiliki ganjalan dalam hal ini.
Dhisti orang sederhana, namun berhasil menarik perhatian Al melalui sikapnya yang penuh welas asih, juga kepolosan di beberapa hal yang mengundang gelak tiap bertemu.
Al suka akan hal itu.
Pertemuannya yang tak sengaja beberapa waktu yang lalu, membuat Al semakin penasaran. Apalagi, ia yang teringat akan ucapan kakek terhadapnya saat Dhisti berada di dalam, semakin membuatnya kagum.
" Dia mau kerja apa saja. Udah tiga tahun ini jadi tukang bersih-bersih di mall. Bayarannya lumayan!"
" Dia tulang punggung keluarga kami!"
" Saya cuma bisa begini. Gak bisa bantu apa-apa selain bikin sarapan. Maklum sering nyeri karena sudah uzur juga. Saya gak nyangka orang seperti anda ini bisa kenal sama cucu saya. Dia memang gak pernah nonton TV, lebih tepatnya tidak sempat. Makanya sampai tidak mengenali anda!"
Al yang beberapa waktu lalu tekun mendengar celoteh sang kakek yang sumrambah itu, terlihat begitu cocok. Memanfaatkan waktu yang sebentar untuk sedikit menunjukkan siapa mereka satu sama lain.
" Saya aja juga heran kek, kok ada orang yang enggak tahu siapa saya. Tapi itu malah bagus. Malah bisa bantuin saya!"
Hingga , sebuah suara dari depan membuat lamunan Al buyar.
" Dhis!"
" Dhisti!"
Suara orang yang Al yakini merupakan kakek itu, sukses membuat Al sontak berdiri dan segera menyongsong pria tua itu.
" Kakek?"
" Nak Al ? Kau disini?" jawab Kakek dengan mata membulat karena terkejut.
Kakek yang terkadang pikun itu malah lupa dengan janjinya sendiri.
" Kuharap kakek tidak melupakan rencana kita?" tutur Al menarik senyum demi melihat keterkejutan pria tua itu.
__ADS_1
" Astaga, maafkan aku! Maafkan aku. Ahh, semua ini gara-gara Santoso yang mengajakku tadi. Ah, maaf ya nak. Orang tua memang seperti ini. Ada Dhisti kan?" jawab kakek muram dengan sorot mata tak enak hati.
Al menggeleng. " Saat saya datang, pintunya kebuka lalu saya masuk. Mungkin dia sudah pergi!" bohong Al.
" Astaga, harusnya dia libur hari ini. Tapi ya seperti itulah anak muda. Dia pasti pergi bersama Inka untuk kerja prilen ( freelance)!"
Membuat Al tertarik untuk menggali.
" Freelance apa kek?"
" Kakek tidak tahu. Prilen itu dagang atau bagaimana?. Ayo masuk-masuk !"
Al terkekeh sembari mengekori laki-laki tua itu. Keluarga sederhana yang selalu berhasil membuatnya merasa tentram.
Al lantas menunggu kakek untuk bersiap-siap. Ia pandang rumah sederhana yang selalu Dhisti upayakan untuk terlihat lebih bersih itu dengan tatapan iba. Lagi-lagi, kilasan ingatan kembali kepada ucapan kakek beberapa waktu lalu.
" Dari kecil udah sama saya. Kami ini tak lebih dari dua orang kesepian yang sama-sama menghibur!"
" Kadang juga mikir, gimana kalau saya tiba-tiba mati dan Dhisti masih sendiri?"
" Sudah nak?"
Suara kakek lagi-lagi berhasil mengusir lamunannya. Al menoleh dan melihat kakek telah mengenakan baju batik. Pakaian terbaik yang pria tua itu miliki. Al tersenyum lalu mengangguk penuh keramahan.
Kakek yang di tawari Al untuk memeriksakan diri awalnya menolak. Namun Al membujuk dan berdalih jika ia ingin membalas kebaikan Dhisti yang sudah menyelamatkan adik kesayangannya.
Entah berapa banyak lagi dia akan menggunakan alasan yang sama, yang sejatinya hanyalah sebagai kedok jika ia memang ingin dekat dengan Dhisti yang super sulit itu.
" Besar sekali nak rumah sakitnya?" terpukau demi melihat bangunan bertingkat yang kinclong.
Al yang menggandeng pria tua yang cara berpakaiannya kontras dengan dirinya itu, sontak mendapat tatapan penuh selidik dari kata khalayak di rumah sakit itu.
Ia tekun mendengarkan penjelasan sang dokter. Bahwa di usia senja seperti kakek, memang sulit menghindari penyakit seperti itu. Namun kakek lega karena setelah dilakukan check up lengkap tidak ditemukan penyakit menahun yang beliau idap.
Al juga mendengarkan secara saksama saran dokter yang meminta kakek untuk mengurangi garam.
Kini, kakek yang sumringah terlihat senang karena Al membelikan banyak sekali susu tinggi kalsium yang wajib di konsumsi Kakek setiap hari. Tak hanya itu, berbagai jenis suplemen kesehatan yang tak ia ketahui merk-nya itu, sudah berada dalam genggamannya.
" Bagaimana cara Kakek membalas kepadamu ini nak Al. Kakek gak nyangka bisa kenal sama kamu?"
Al tersenyum senang. Inilah indahnya seni memberi, Al merasa hatinya semakin damai kala berbuat kebaikan.
" Mungkin dengan membiarkan saya untu sering datang kemari?"
__ADS_1
Kakek tergelak demi mendengar kelakaran Alsaki. Mengira jika itu merupakan sebuah banyolan semata. Padahal, Alsaki jujur mengatakan hal itu.
.
.
Hari terus berganti tanpa bisa siapapun hindari. Telah seminggu kejadian itu berlalu. Dhisti yang sempat mengomel karena kenapa kakek mau menerima bantuan Al akhirnya luluh juga demi melihat kerlingan penuh harap dari sorot mata teduh itu.
" Dia pria yang baik. Mungkin hanya kasihan dengan kita. Jangan menolak rezeki!"
Benar. Kenapa Dhisti percaya diri sekali. Mungkin hanya kasihan. Dan soal ciuman, mungkin ia memang sedikit marah di hal itu. Atau, mungkin benar yang di katakan Luna jika Al pasti sedang ada masalah dengan wanita cantik itu. Namun yang lebih aneh lagi, hatinya turut dibuat berdebar akibat kejadian itu.
Membuatnya termenung sebab merasa di lecehkan oleh Al yang semena-mena.
Kesibukan pekerjaan masih menjadi penghalang utama untuk Al menemui Dhisti. Ya.. walaupun hal itu merupakan suatu kelegaan bagi Dhisti.
Selama itu pula, Al semakin meyakini jika dia memang menyukai wanita bernama Adhisti itu. Usai membereskan beberapa persoalan di kantor, ia bergegas menuju ketempat Idho dan berniat menemui gadis itu.
"Udah gak masuk dua hari, izin sakit katanya!"
" Apa, kok elu nggak bilang?"
Merasa aneh akan sikap Al yang semakin tak biasa. Ridho kini memberanikan diri untuk bertanya serius.
" Jangan bilang orang yang elu bicarakan ke gue soal clue hati berdebar kapan hari itu adalah Dhisti!"
Al tertegun kala mendengar Ridho yang kini membidiknya dengan ucapan menohok.
Membuat Al membasuh wajahnya dengan kasar. " Gue gak tau Do, tapi makin hari gue makin gak bisa ngilangin wajah gadis itu dari pikiran gue. Gue udah coba, tapi... entahlah, I think she has something special."
Ridho tidak kaget akan hal itu. Ia memang sudah menaruh kecurigaan sejak awal.
" Terus gimana dengan Papa sama Mama Lo? Apalagi, gue denger dari Luna, Mama sama Papa elu udah ketemu Luna buat ngobrolin tentang kalian. Ya... meski, mungkin belum segamblang itu. Elu tahu sendiri kan, Luna itu suka sama elu. Dan menurut gue, akan fatal gak sih kalau elu nyakitin hati tuh cewek?"
Al seketika speechless demi mendengar ucapan Ridho malah menyeretnya ke titik ambigu.
Oh God!
.
.
.
__ADS_1