
...🌻🌻🌻...
Malam harinya, Puri mengajak Alsaki untuk pergi ke butik dimana mereka akan memesan gaun untuk pernikahan nanti. Tapi sebelum itu, mereka juga sepakat untuk menjemput Dhisti terlebih dahulu sebab ini merupakan kepentingan mereka berdua.
Dan tanpa di ketahui oleh Puri, Alsaki malam itu telah meminta Ari untuk mengantar mereka. Membuat gadis itu terperanjat saat melihat Ari sudah standby di dekat mobil.
" Kita gak jadi pergi bertiga?" tanya Puri mencari klarifikasi kakaknya.
" Kamu pikir aku mau mengemudi? Ogah lah, mending di belakang bisa mesra-mesraan!"
Jawaban kurang ajar Alsaki sukses membuat sang adik mencibir kesal. Maunya!
Ari yang melihat Puri masih seperti kesal terhadapnya hanya berani menyapa sekilas. Tidak tahu apa pula salahnya.
" Udah jangan banyak protes, kamu cepetan duduk depan, disini nanti buat Dhisti!" berkata sambil mendorong adiknya untuk duduk di jok depan bersama Ari.
Puri mendengus namun sebenarnya hatinya sangat senang. Dasar Puri!
" Mas, mas Ari mau kemana?"
Saat Ari hendak memasuki ruang kemudinya, Desi yang melihat Ari berpakaiannya rapi mendadak bertanya dengan wajah ingin tahu. Membuat Ari syok.
" Astaga, kenapa Desi malah keluar?"
" Aku mau nganter tuan Alsaki. Kamu ngapain disini?" bertanya dengan nada resah sebab Desi seharusnya masih harus bekerja kan?
Puri yang melihat kejadian itu tentu saja gatal untuk mengomentari.
" Hih, kok bisa sih mama nerima kerja tu anak. Gak profesional banget kerjanya!" cibir Puri dengan mulutnya yang kerap kehilangan kendali.
Ari yang mendengar hal itu langsung menjadi tak enak hati. Namun Alsaki yang terlihat sibuk berbicara dengan Dhisti melalui sambungan teleponnya, tampak tak terlalu menyadari jika ada peperangan yang terjadi di depan sana.
" Maafkan saya nona!" meminta maaf demi melihat sang majikan yang kesal karena ulah Desi.
" Des, sebaiknya kamu masuk dan selesaikan pekerjaan kamu!" kata Ari yang langsung memasuki mobil itu tanpa menoleh lagi. Ia tentu tak enak hati dengan anak-anak majikanmu.
Desi seketika menghentak kakinya kesal manakala melihat Ari yang malah memintanya untuk masuk dengan sikap acuh tak acuh. Di detik itu pula Puri langsung menatap sinis Desi yang pasti kesal setengah mati dengannya.
__ADS_1
Haha asain Lo!
Tak cukup disitu, Puri yang masih melihat Desi yang tak mau pergi akhirnya memilih untuk mengerjai gadis itu dengan tidak tanggung-tanggung.
" Awh!" pekik Puri yang berpura-pura kesakitan.
" Ada apa nona?" tanya Ari panik yang tidak tahu jika Puri hanya bersandiwara.
Puri menatap licik Desi yang tampak terbakar cemburu akibat ulahnya. Gadis ini benar-benar telah menabuh genderang perang.
" Kakiku sakit! Awh, apa di gigit semut ya? Coba kamu lihatin Ar!"
Alsaki yang masih hanyut dalam percakapan syahdu bersama calon istrinya terlihat mengerutkan kedua alisnya kala Ari menunduk dan melihat kaki Puri.
Namun yang di khawatirkan justru tersenyum penuh arti manakala melihat Desi yang sudah enyah dari hadapannya dengan kemarahan yang pasti sedang menyiksa.
Yes!
...----------------...
" Kalian tunggu sini aja, aku kesana dulu!"
Setibanya ia di dalam rumah, Alih-alih mengajak gadis itu untuk segera berangkat, Alsaki malah terpana akan tampilan baru Dhisti, yang kini lebih berani bermake-up dan membuat pria itu semakin jatuh cinta.
" Puri mana? Katanya ikut?" tanya Dhisti yang tak menyadari jika calon suaminya itu sedang klepek-klepek.
Namun yang diajak ngobrol malah mendekat dengan tatapan penuh arti. Oh astaga, ini benar-benar gila.
" Aku kayaknya gak bisa ngebiarin kamu tinggal sendiri lebih lama kalau kamu makin cantik kayak gini!"
Membuat yang di puji seketika tersipu malu.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Dhisti sambil meraih tasnya dan menepikan sorot mata predator itu.
Namun tanpa di duga, Alsaki terlihat menahan tangan Dhisti dan kini menarik pinggang gadis itu merapat ke tubuhnya.
" Bolehkah aku mencicipi rasa lipstik yang kau pakai saat ini?"
__ADS_1
Membuat Dhisti membelalak.
Di lain pihak, Puri yang merasa kakaknya pergi terlalu lama sampai terlihat kesal karena kulitnya mulai di cumbui nyamuk genit.
" CK, mana sih kak Al? Jemputnya di Vrindavan apa gimana sih, lama amat?" menggerutu kesal karena ini sudah melebihi waktu wajar untuk menjemput.
" Nona diam!" pinta Ari yang melihat hewan menyebalkan itu, hinggap tepat di hidung Puri.
Puri langsung membeku saat seekor nyamuk dengan kurang ajarnya malah bertengger manja di hidungnya. Membuat gadis itu seketika ketar-ketir saat tangan Ari mulai mengincar binatang penghisap darah itu dengan tangannya
" Apa yang kau lakukan?" bertanya dengan wajah panik.
" Tolong tenang nona!" Ari yang melihat binatang itu seketika gemas.
Dan sejurus kemudian.
Plak!
" Aduh!"
Ari justru memekik karena pipinya malah di tapuk oleh Puri, yang juga melihat seekor nyamuk hinggap di pipi kiri laki-laki tampan itu.
" Astaga maaf, apa sakit? Sory ya? Aku gemes banget soalnya. Nih, mati kan dia!" menunjukkan ketangkasannya yang kini telah berhasil membuat nyamuk itu tewas dalam sekali tepukan.
Wow, Daebak!
" Tidak apa-apa nona! Lagipula, rasanya tidak sakit. Tidak perlu meminta maaf!" berkata sebiasa mungkin meski sebenarnya pipinya terasa begitu panas dan kebas. Damned!
" Benarkah?"
Ari mengangguk sebab tak ingin membuat Puri merasa bersalah.
" Terimakasih ya nyamuk, aku jadi bisa menyentuh pipinya hihihi. Emmm halus juga pipinya, apa dia pakai skincare?"
.
.
__ADS_1
.