
...🌻🌻🌻...
Alsaki baru saja membersihkan dirinya ke kamar mandi, lalu sejurus kemudian menarik selimut itu lalu bergabung di bawah selimut seraya memeluk tubuh istrinya yang entah sudah lelap sejak kapan.
" Maafkan aku sayang. Kau pasti sudah lama menungguku!" menghujani pipi istrinya dengan ciuman penuh rasa sesal.
Alsaki sangat menyayangi istrinya. Ia begitu tenang saat melihat wajah damai istrinya kala terlelap seperti itu. Rasanya, ia ingin berlama-lama dalam posisi seperti saat ini.
Lama dia menatap wajah yang jika tertidur terlihat bertambah cantik itu. Membuat Alsaki menusuk-nusuk pipi istrinya menggunakan jari karena gemas.
" Eughh!"
Alsaki menjadi terkikik-kikik saat melihat istrinya menggeliat dengan kedua alis yang menyatu.
Mungkin kesal.
Dan melihat reaksi istrinya yang tampak terusik itu dengan perasaan yang terus ingin tertawa.
Alih-alih berhenti mengerjai, Alsaki malah membuka selimut tebal itu lalu terkejutlah dia dengan apa yang di pakai istrinya.
Oh my God!
Sebuah pakaian dinas yang telah dikenakan oleh Dhisti membuat jakun pria itu naik turun. Ia seketika merasa bersalah sebab gara-gara pria sialan tadi, istrinya sampai ketiduran.
Tangan Alsaki terlihat bergerak menyusuri perut istrinya. Meraih kuncup itu lalu menyentuhnya hingga menimbulkan reaksi geli yang kini di dirasa oleh Dhisti.
" Eughhh!"
Bukan Alsaki jika tak mendapat apa yang dia mau. Pria itu kini semakin bersemangat untuk membuat istrinya terbangun.
Pria tampan itu terus menggerakkan tangannya dan berhasil membuat istrinya menggeliat kembali dengan wajah kesal.
" Mas!"
Alsaki malah tergelak saat mendengar istrinya berkata kesal. Bagiamana tidak kesal, perempuan itu sudah terlelap dan kini harus terbangun karena sebuah gangguan.
" Bangun, kau sudah memakai pakaian dinas kan? Jadi mari kita bekerja!" membisikkan kata-kata mendayu itu seraya terkekeh.
" Ambilkan aku air dulu. Aku haus!" pinta Dhisti dengan suara serak dengan muka yang masih di tekuk. Dasar pria!
Alsaki yang melihat istrinya kehausan tentu tak mau menunda lagi kemauan istrinya itu. Namun sebenarnya, itu semua merupakan alibi Dhisti. Dia ingin buang air kecil dulu serta membersihkan wajah dan bibirnya.
Jangan sampai saat sedang melakukan foreplay, mulutnya malah bau tempat sampah.
Lagipula, ia juga tahu jika suaminya itu benar-benar sudah menginginkan dirinya malam ini.
Sekembalinya Alsaki dari dapur dengan sebuah teko beling yang berisikan air putih, Alsaki heran sebab kenapa istrinya lama sekali. Membuatnya memilih untuk menyalakan televisi yang menayangkan drama percintaan.
Adegan penuh emosional sukses menyita perhatian Alsaki dan membuatnya tak menyadari jika istrinya sudah selesai dan kini berjalan mendekat ke ranjang.
Dhisti melirik sebentar televisi itu dan sejurus kemudian tangannya terulur menuang teko itu kedalam gelas, lalu kemudian meminumnya.
Dhisti lanjut merebahkan tubuhnya tepat di samping Alsaki, lalu dengan cepat pula tangan kekar pria itu menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Pada akhirnya, Dhisti turut menyaksikan film percintaan yang kini sedang dalam konflik itu, dalam posisi saling memeluk.
Dan tanpa mereka sadari disadari, hujan tiba-tiba mengguyur kawasan disana. Membuat suasana semakin syahdu untuk dilewati berdua.
Tangan Al yang semula menganggur kini perlahan mengusap lengan terbuka istrinya yang kini masih dalam pelukannya. Dhisti yang di elus lembut seperti itu, bagai terpancing. Merasa sesuatu yang hangat menjalar merasuk kedalam relung hatinya.
TIT
Detik itu juga, Alsaki memilih untuk mematikan lampu kamarnya, dan menjadikan kamar luas itu kini hanya tersuluh oleh sorot televisi besar mereka.
Rintik hujan yang kian deras membuat suasana sendu itu bertambah indah.
Alsaki menatap dalam mata istrinya yang sejurus kemudian mengecup bibir ranum itu penuh cinta. Pria itu memindahkan posisi istrinya lalu mengungkungnya.
" Kau sangat cantik malam ini!" serunya sembari membelai kulit wajah istrinya yang begitu lembut.
" Kau juga selalu tampan!" meraba bibir sang suami yang masih menatapnya dengan tatapan sendu.
Detik berikutnya, pria itu tampak membuka pakaiannya. Wajah Dhisti menjadi merah manakala melihat Alsaki kini bertelanjang dada. Membuat dirinya merinding manakala melihat tubuh liat yang membuatnya terpancing untuk menyentuh.
Tangan Dhisti reflek meraba otot perut yang timbul itu. Mengagumi keindahan di depan matanya dengan tiada henti. Apakah dia sedang bermimpi?
Kedua tangan kekar itu kini melakukan tugasnya dengan baik saat ia mulai menindih tubuh istrinya. Mengusap lembut wajah istrinya lalu meniup ubun-ubun itu untuk beberapa kali.
Sesaat kemudian, Alsaki tampak melahap bibir istrinya kembali namun kali ini ia lakukan dengan lebih lembut dan tanpa tergesa-gesa.
Membuat Dhisti semakin hanyut dan terlena.
Kendati tak pernah melakukan hal itu sebelumnya, namun naluri seorang pejantan tak perlu di ragukan lagi. Alsaki benar-benar memperlakukan istrinya dengan sangat baik.
Pria itu menciumi tiap jengkal tubuh istrinya. Membuat aliran listrik itu bagai menyengat tubuh Dhisti yang mulai beraksi.
Dalam sayup-sayup suara rintik hujan, dan di saksikan oleh televisi yang masih menyala, Alsaki telah berhasil membuat pakaian pemantik gelora itu kini tercampakkan dengan cepat.
Tubuh yang menggiurkan itu adalah halal untuknya. Semua yang ada dalam diri istrinya juga ramai telah menjadi miliknya.
Tatapan sendu satu sama lain seolah menjadi penegas bila keduanya sama-sama membutuhkan hal itu untuk dirayakan bersama.
Cinta yang kini telah terbakar gairah, membuat dua insan itu hanyut dalam gelora yang semakin memabukkan.
__ADS_1
Punggung kekar yang mulai basah itu kini tak luput dari rabaan tangan lentik Dhisti. Bahkan bibir yang sesekali mende sah akibat pacuan yang di lakukan oleh suaminya itu, semakin membuat Alsaki bersemangat.
Dan saat Alsaki merasa milik istrinya telah siap untuk di masuki, ia memposisikan dirinya untuk menghujam celah itu menggunakan kepunyaannya.
Perempuan itu sontak memekik dan menjerit dalam hatinya, saat rasa panas yang kini bercampur dengan luapan kasih sayang itu mulai memuncak. Dorongan rasa penuh kasih serta rasa sakit, perih yang bercampur dengan ketidakberdayaan untuk menolak itu membuat Dhisti kini menyelam dalam lautan keindahan yang tak akan pernah dia lupakan.
Alsaki yang tahu jika istrinya kesakitan, kini mengecup kembali bibir itu manakala ia masih berusaha menembus pertahanan yang benar-benar rapat itu.
Hingga, saat berulang kali menghujam dan mengayun dengan tiada jemu, kini tembuslah sudah benteng pertahanan Dhisti yang benar-benar hanya untuk Alsaki seorang itu.
" Terimakasih sayang, kau telah menjaganya untukku seorang!" bisik Alsaki yang kini membiarkan miliknya terbenam untuk sejenak sembari membuat istrinya menghela napas.
...----------------...
Dante dan Agatha benar-benar sedang berada dalam situasi yang tidak pas. Mereka berdua akhirnya terpaksa membawa bayi itu masuk kedalam mobil sebab gerimis yang semula rintik-rintik, kini berubah menjadi hujan besar yang cukup deras.
" Hey kau ini perempuan, tolong kau urus dia!"
" Apa kau bilang, memangnya siapa kau berani menyuruhku? Aku memang perempuan, tapi aku tak mau mengurus anak ini. Mengurus hidupku saja sudah setengah mati apalagi mengurus orang lain.
Malah bertengkar dan membuat bayi itu kembali menangis.
" Eh jangan menangis. Maafkan kami ya? Kau mau apa anak manis, hm?"
Dante turut panik saat melihat bayi itu kembali menangis dengan kencang. Astaga, sungguh membuatnya pusing.
Saat bayi itu menghabiskan sisa susu dalam dot hingga setengah terlelap, kedua orang itu kini terdiam di dalam mobil dengan pikiran yang sibuk.
" Kasihan sekali kau. Tapi aku sendiri juga hidup susah. Aku tak akan bisa merawatmu!" Agatha menatap muram bayi itu dengan tatapan tak lepas.
Pun dengan Dante. Entah mengapa ia menjadi tak tega dengan nasib bayi malang itu.
Saat anak itu menghabiskan sebotol susu yang di tinggalkan oleh orang tua biadabnya, tanpa disadari mereka berdua telah melupakan permasalahan mereka.
Berpikir heran, orang tua macam apa yang tega meninggalkan anaknya di pinggir jalan dengan kondisi macam itu.
Namun Dante yang melihat anak itu terus memanggilnya dengan sebutan ' papa ' menjadi merasakan hal aneh yang sulit ia jelaskan.
Gadis itu pun sama. Entah mengapa ia sebenarnya juga tak tega saat menatap wajah lugu yang mengandung kenestapaan itu.
Niat hati ingin menjarah harta pria itu, kini ia malah mendapat bayi yang membuat urusannya menjadi makin runyam.
" Kita serahkan saja ke panti asuhan!"
" Tidak!"
Membuat gadis itu membelalak kala mendengar penolakan yang begitu cepat dari mulut Dante.
" Kau tadi berniat meminta uang ku kan? Rawat anak itu dan aku akan membayarmu!"
" Apa kau pikir aku percaya kepadamu? Kita tidak saling mengenal. Bahkan kita bertiga tak saling mengenal. Kenapa aku harus merawat anak ini saat aku bisa bebas untuk mencari uang!"
Dante melirik gadis itu dengan wajah datar seperti biasanya. Ini sudah larut malam, jika menghubungi bosnya ia pasti akan kena semprot, tapi ia tak tega dengan anak yang memanggilnya papa itu.
Saat guntur menggelegar, anak itu berjingkat dan langsung menangis. Membuat kedua orang itu panik.
Dante yang tak tahu apapun soal kiat-kiat mengurus anak, kini hanya bisa panik sambil berharap gadis di dekatnya itu mampu menghadlenya.
Namun sialnya, gadis itu pun sama amatirnya dengan dirinya.
" Sial susunya habis!" pekik Agatha dengan wajah murung.
" Dimana ada toko susu?" tanya Dante kalang kabut sebab anak itu tak mau berhenti menangis.
" Aku juga tidak tahu brengsek. Sekarang lebih baik kau jalankan mobilmu, cari toko susu, belikan dia susu, lalu kita buatkan!"
Dante yang panik kini buru-buru melajukan mobilnya untuk mencari minimarket yang buka 24 jam.
" Sssttt cup nak, sebentar ya?"
Dante melirik cara gadis itu yang menggendong seraya mengusap lembut punggung bayi malang itu dengan hati resah. Kenapa mengurus bayi benar-benar memusingkan seperti ini?
Di bawah guyuran hujan dan petir yang membelah angkasa, Dante memarkirkan mobilnya tepat di depan minimarket.
" Susu apa?"
" Mana aku tahu. Kau tanyakan saja lah sama pegawainya!"
CK, baru kali ini Dante terlihat kalang kabut. Dan konyolnya, hanya gara-gara seorang bayi.
Dante masuk dengan kemeja yang setengah basah. Pria itu sejurus kemudian bertanya kepada pegawai minimarket itu dengan bingung.
" Aku ingin membeli susu!"
" Untuk anak usia berapa Pak?"
" Aku tidak tahu!"
Membuat diua pegawai itu saling bertatapan.
" Emmm bayi atau usia sekolah?"
" Bayi!"
__ADS_1
" Anak bapak kira-kira sebesar apa?"
" Bukan anakku!"
Membuat kedua orang itu kembali bersitatap.
" Woy, kenapa kau lama sekali sih?"
Ketiga pria itu langsung menoleh kaget, saat seorang gadis manis yang menggendong bayi itu terlihat marah-marah.
"Apa itu istrinya?"
Dua pegawai itu mengira jika Dante pasti kena semprot istrinya karena tak becus memilih susu.
" Itu anaknya!"
Maka Dante langsung menunjuk bayi itu menggunakan dagunya, agar dua petugas itu bisa segera menemukan susu yang benar untuknya.
" Oh, pakai yang batita saja ya pak!"
" Terserah kau saja!" menjawab pasrah sebab ia benar-benar sudah pusing.
" Belikan dia botol sekalian!" pekik Agatha yang masih mengayun- ayun tubuh bayi itu.
" Botol!" seru Dante yang tak memiliki ekspresi kepada dua pegawai yang sebenarnya sedang mati-matian menahan tawa.
" Apa kau punya air panas. Tolong seduhkan sedikit pakai botol baru itu!" pinta gadis itu kepada dua pegawai yang masih meras aneh dengan pelanggannya malam ini.
Pasangan orang tua yang tak tahu umur anaknya, dan tak membawa botol saat bepergian, serta membiarkan anak mereka hanya memakai baju pendek di malam yang dingin seperti ini.
Dante yang kini duduk di depan minimarket itu tak sampai hati bila membiarkan bayi malang itu sendirian. Di tatapnya wajah bayi perempuan yang kini menyedot botol itu dengan rakusnya.
" Siapa orang tuamu yang tega membuangmu seperti itu?"
" Dia sudah tertidur!" seru gadis itu memberi tahu.
" Aku tahu!" jawab Dante singkat.
" Dengar ya. Kau saja yang mengurus anak ini, kau sepertinya orang kaya. Jangan aku. Aku tak mungkin mengurusi bayi ini!"
Mendengar mereka bertengkar, bayi yang semula terlelap kini terbangun sebab suara gadis itu membesar.
" Ma ma!"
Namun Agatha malah menjadi tertular untuk tersenyum saat bayi itu tertawa dan menampilkan gusi warna merah jambu itu sembari menepuk wajahnya.
" Astaga!"
Pekik Dante secara tiba-tiba dan membuat Agatha terkejut.
" Kenapa?" bertanya dengan alis mengkerut.
" Dengar, kau harus ikut denganku dan rawat anak itu dulu. Aku besok ada rapat penting!"
" Apa? Tidak mau! Enak saja!"
Bayi itu kembali menangis saat mendengar si gadis memekik manakala menolak Dante. Oh ya ampun.
" Tidakkah kau kasihan dengannya? Sehari saja dan besok kau boleh pergi!"
Melihat hujan yang juga derasnya bagai di tumpahkan dari langit, membuat gadis itu berpikir dan akhirnya mau.
" Baiklah. Tapi awas kalau kau menipuku!"
Dante kembali kedalam dan membeli sebuah payung lalu mengantar gadis dan bayi itu masuk kedalam mobilnya.
Saat di dalam mobil, kecanggungan menyeruak. Gadis itu berniat menjarah Dante namun kali ini malah akan pulang kerumah korbannya.
" Kau sepertinya penjahat kawakan!" seru Dante yang sebenarnya merasakan perih di lengannya akibat sayatan Agatha.
" Diam kamu! Aku sudah rugi banyak karena salah sasaran malam ini!"
Dante sedikit terkekeh. Mulut gadis itu benar-benar tajam.
Gadis itu langsung membelalak manakala Dante membelokkan mobilnya, dan melihat rumah besar yang begitu bagus
" Gak salah lagi. Dia pasti orang kaya!"
" Ayo masuk!"
" Tunggu dulu, kau tidak menipuku kan?" tanya gadis itu kembali dengan sikap yang masih ragu.
" Untuk apa kau menipumu. Cepatlah masuk!"
Dante yang memang tak banyak bicara merasa jika hari ini ia telah banyak bicara gara-gara gadis berandal itu. Gadis itu masuk dengan mata yang tak lepas menatap rumah mewah yang sepertinya selalu sunyi.
" Kau bisa tidur bersamanya disini. Ini rumahku, aku tinggal sendiri. Dapur ada di ujung. Aku sangat lelah. Besok kita bicara lagi !"
Gadis itu menatap tak percaya punggung manusia yang bahkan belum ia ketahui siapa namanya itu.
Kini, ia membaringkan bayi mungil itu ke atas kasur besar, lalu turut membaringkan tubuhnya. Ini gila, dia benar-benar berada dirumah calon sekaligus mantan korbannya.
.
__ADS_1
.
.