
...π»π»π»...
Meninggalkan dua anak manusia yang berada di antah berantah, disebuah rumah yang tak kalah sederhana terlihat seorang gadis yang menatap nanar sebuah cincin dengan batu cantik yang tersemat di jari manisnya.
Ya, Dhisti masih tak percaya akan Alsaki yang sudah melamar beberapa hari yang lalu.
" Bisa meledak itu batu cincin kalau elu pelototin mulu" Inka mencibir kesal sebab sedari ia masuk dapur hingga keluar kembali, Dhisti masih tampak menatap sebentuk cincin itu tak lekang.
" Masih belum percaya aja In kalau seorang aku, dilamar sama seorang Alsaki!"
" Terus elu jawab apa?" tanya Inka sembari meletakkan hasil masakan favoritnya yang kerap membuat kinerja usus besarnya lebih ekstrim, seblak level iblis.
" Dia nggak ngasih aku kesempatan ngomong!" Menjawab murung sebab bayangan Hendra Gunawan masih menjadi momok untuknya.
" Kok elo sekarang malah kelihatan ragu sih?" melirik Dhisti yang terlihat bimbang.
" Gimana nggak ragu, circle pertemanan kita aja beda In! Tapi..."
" Tapi sebenarnya elo suka kan? Dhis, gue kasih tau ya...hidup yang lelah itu adalah hidup yang memikirkan apa kata orang lain. Kayaknya kamu harus sering-sering baca quotes ini deh!"
Entahlah, apa semua orang juga begini? Selalu dilanda keraguan manakala sudah berada di ambang kejelasan.
Saat mereka masih asik ngobrol, pintu bercat coklat itu mendadak diketuk oleh seseorang.
" Tukang paket lagi?" bertanya kepada Dhisti yang juga melihat ke arah pintu.
" Aku nggak ada pesen!" menjawab dengan alis mengerut.
Maka Inka buru-buru beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu itu, lalu terkejutlah dia tatkala melihat seorang wanita cantik yang mengenakan kacamata berdiri di ambang pintu rumah Dhisti.
" Anda siapa?" Inka bertanya mengerutkan kening. Namun suara dari belakang membuatnya tahu siapa yang ada di hadapannya detik itu.
" Nona Luna?"
Inka kontan balik menoleh kepada Dhisti, saat suara sahabatnya itu terdengar syok.
Luna segera melepas kacamata yang dia kenakan, lalu berjalan masuk melintasi Inka yang tampak terbengong-bengong.
" Luna?"
" Aku dengar kau barusaja dilamar oleh Alsaki? Apa itu benar?"
Dhisti menatap seraut wajah yang menunjukkan emosi yang begitu kentara namun terkesan mengejek.
Yang ditanya hanya bungkam. Pun dengan Inka.
" Harus ku akui jika aku mungkin saat ini kalah denganmu!" berjalan maju tepat di hadapan Dhisti seolah menantang, " Tapi bisa jadi suatu saat kau akan menjadi aku!" menatap tajam Dhisti yang tak mengerti arti ucapan Luna.
" Kau tidak tahu seperti apa kehidupan seorang pengusaha sekaligus entertainer macam Alsaki. Tapi setidaknya aku sudah pernah mengatakan hal ini kepadamu!"
Inka menatap tak percaya ke arah wanita sombong yang kini terlihat mengenakan kacamata nya kembali lalu melenggang tanpa basa-basi.
" Selamat menikmati kehidupannya menyenangkan, mantan copet!"
" Kau!"
Dhisti segera menarik lengan Inka yang hendak membalas ucapan kurang ajar Luna sebelum gadis itu berbuat yang tidak-tidak.
" CK, kok elo diem aja sih Dhis? Gue aja yang denger panas, elo malah diem!" menggerutu kesal.
Namun yang di omeli hanya diam dan terlihat berpikir.
...----------------...
__ADS_1
Di hadapan pintu tinggi bercorak klasik, Alsaki menghela napas sesaat sebelum mengetuknya. Ya, pria itu tengah berada di depan ruang perpustakaan yang biasa di huni sang Papa.
Alsaki yakin, jika di jam pagi jelang siang ini sang Papa pasti berada di ruangan itu. Ia sengaja datang dan berniat melakukan apa yang telah di titahkan oleh sang Mama kepadanya beberapa waktu lalu.
TOK TOK TOK
" Pah, ini Al!" berucap datar dan terlihat dan bersemangat.
Tak berselang lama, terdengar sahutan dari dalam.
" Masuk nak!"
Ini adalah kali pertama bagi Alsaki menemui sang papa pasca kejadian tempo hari. Mau semarah apapun dia, Hendra Gunawan tetaplah ayahnya.
Alsaki melihat Papanya sedang sibuk melukis sebuah lukisan pemandangan desa yang larut dalam kehangatan sinar senja.
" Bagiamana menurutmu ini Al? Papa melihat pemandangan ini sewaktu papa pergi ke..."
" Aku pingin menikahi Dhisti!"
Ucap Alsaki tanpa basa-basi. Pria itu tampak tak ingin lagi membuang-buang waktunya bahkan hanya untuk mendengarkan celoteh sang papa.
Membuat pria dengan uban yang mulai tumbuh itu seketika terdiam. Sejurus kemudian pria itu nampak meletakkan kuas di dekat kanvasnya. Terlihat menghela napas panjang.
" Apa kamu..."
" Papa mengizinkan atau tidak Al bakal tetap menikahi Dhisti. Al cuma mau pamit sekaligus ngasih tau. Ini pilihan Al!"
Sorot mata Tuan Hendra tampak kecewa, namun ia cukup tak menduga jika putranya akan seberani ini.
" Dia bukan gadis baik-baik Al, reputasimu bisa di pertaruhkan disini!"
" Reputasiku atau reputasiku papa?"
Keduanya seketika hening usai Alsaki melontarkan kalimat sanggahan itu. Tuan Hendra terlihat tak bisa mengatakan apapun. Semua yang telah terjadi semakin menggerus hubungan baik antar papa dan anak itu.
Tuan Hendra pun tampak menahan diri dengan menarik napas berulang kali. Ia tak akan pernah bisa menghentikan putranya saat ini.
Alsaki yang tampak menyusut sudut matanya sewaktu pergi kini terlihat berjalan menuju luar untuk pergi ke suatu tempat.
Rupanya ia tengah menemukan Dante yang ia tugaskan untuk membantunya mengurus kelengkapan administrasi. Benar-benar tak ingin membuang waktunya sebab ia ingin mewujudkan salah satu impian kakek Dhisti.
" Semua sudah beres, tinggal menunggu milik nona Dhisti!"
Alsaki mengangguk puas, " Apa kau sudah menemukan seseorang yang membuat Kakek pingsan?"
" Pria itu bernama Lukman. Kendalanya, pria itu kini terlihat sulit untuk menjelaskan. Dia sedang sakit dan terlihat kesulitan bicara!"
" Apa kau bilang?" bertanya dengan wajah syok.
" Benar bos, Lukman sedang sakit!"
Sulit di percaya, padahal pria itu beberapa waktu yang lalu masih baik-baik saja. Benar-benar sebuah konspirasi yang gila dari si pelaku.
-
-
Malamnya, Dhisti yang tadi sore dikirimi pesan oleh Alsaki untuk makan malam, terlihat memenuhi permintaan pria itu dan mengajaknya bertemu sang Mama di acara malam malam di sebuah restoran kenamaan.
Dhisti sudah berdandan sederhana namun masih terlihat cantik sebab gadis itu sudah mulai bisa bermake-up.
" Kenapa melihat ku begitu?" tanya Dhisti saat mereka baru masuk kedalam mobil.
__ADS_1
" Memangnya kenapa?" berpura-pura biasa saja padahal dia sedang terpesona.
Dhisti terlihat mencibir saat Alsaki malah bertanya balik kepadanya.
" Apa tante Hapsari sudah ada di sana dengan..."
" Mama sendiri!" sahut Alsaki yang mengetahui arti dari keraguan pertanyaan Dhisti.
Membuat suasana seketika hening.
" Dhis, sekalipun papa belum membuka hatinya buat kamu, tapi kamu tolong jangan pernah mempermasalahkan kondisi ini. Selepas kita menikah nanti, aku sama kamu akan tinggal di apartemenku!"
Dhisti hanya diam saat punggung tangannya di ciumi mesra oleh Alsaki. Entahlah, harusnya ia bahagia, tapi ucapan Luna tadi pagi berhasil membuatnya sedikit risau.
Mereka lantas berangkat dan tiba di restoran yang sudah di booking untuk acara malam ini. Hanya ada Nyonya Hapsari, Alsaki juga Dhisti dalam acara itu.
" Dhis!" sapa nyonya Hapsari senang saat melihat kedatangan dua sejoli itu.
Maka Dhisti langsung meraih tangan bersemat cincin-cincin berlian itu, lalu menciumnya takzim.
" Apa kabar Tante?" menyapa penuh kesantunan.
" Baik, seperti yang kamu lihat. Ayo duduk, kita makan dulu baru ngobrol!"
Alsaki tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kala melihat interaksi keduanya. Pria itu bahkan memotret kehangatannya mereka lalu mengirimkannya kepada Puri.
π±"Jangan iri!"
π± "Jahat banget aku di tinggalπ"
Alsaki tampak tekrikik-kikik saat berhasil membuat adiknya kesal.
π± "Kakiku sedang sakit!" mengirimkan sebuah foto dengan kaki yang di balut perban.
Alsaki langsung merubah raut wajahnya panik demi melihat foto kaki adiknya yang cedera. Namun saat ia hendak mengetik balasan, Puri terlebih dahulu mengirimkan pesan susulan yang membuat Alsaki diam.
π± " Kakak jangan ngasih tau Mama, semua ini karena kecerobohanku. Nanti malam aku telpon ya. Selamat bersenang-senang."
Meski sedikit khawatir, namun Alsaki lebih memilih menuruti permintaan adiknya guna menjaga kondisi yang sedang apik ini. Tak mau kehilangan momen penuh kehangatan ini, hanya karena kecerobohan sang adik. lagipula, Puri memang sering lebay. Begitu pikirnya.
Usai menikmati makanan lezat dan pasti berharga fantastis itu, Nyonya Hapsari terlihat memulai pembicaraan mereka.
"Dhisti, kamu pasti sudah tahu tujuan acara kita malam ini kan?"
Dhisti yang merasa aura keseriusan mulai muncul, terlihat menata hatinya untuk siap dengar dengaran.
" Bagi saya seorang Ibu, mengetahui anaknya akan memperistri seseorang tentulah sangat senang. Apalagi gadis itu adalah gadis berhati baik macam kamu!"
Alsaki yang menyaksikan hal itu tampak tegang.
" Tapi, kamu kan juga tahu kondisi yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang mudah!" menghela napas sesaat, "Menikah bukan perkara yang mudah nak, dalam hari-hari yang kalian lalui nanti akan banyak aral juga persoalan yang bakal menguji sebatas mana kalian saling mencintai!"
Dua sejoli itu saling melirik saat sang Mama semakin serius manakala berucap.
" Dhis, menjadi istri Alsaki akan banyak sekali ujian. Bukan maksud Tante menakut-nakuti tapi agar kamu bisa lebih siap!"
Membuat Dhisti sejenak teringat akan ucapan Luna yang sepertinya relevan.
Beberapa detik kemudian, wanita cantik di usianya yang tak lagi muda itu terlihat menyatukan tangan Alsaki dan Dhisti dalam genggamannya. Menatap dua wajah tegang itu secara bergantian.
" Apapun yang saat ini sedang terjadi, Mama merestui kalian!"
.
__ADS_1
.
.