Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 109. Akhir cerita Hendra Gunawan


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


"Minumlah!"


Ari menghidangkan minuman hangat kepada Puri yang kini ia bawa ke tempat tinggalnya selama ini. Sebuah hunian yang cukup besar serta memiliki fasilitas yang lengkap.


Puri terlihat mengenakan kaos milik Ari yang kebesaran namun malah membuat Puri tampak imut.


" Jadi selama ini kau tinggal disini?" bertanya seraya memindai hunian dengan cat monokrom yang mendominasi ruangannya.


Ari yang juga sudah membersihkan dirinya kini mengangguk. Ia memilih membawa Puri untuk menggantikan pakaiannya sebab sejujurnya ia khawatir jika Puri akan sakit.


" Nona sebaiknya..."


" Jangan panggilan aku dengan sebutan itu lagi. Aku tidak suka! Lagipula aku bukan lagi majikanmu!" ketus Puri yang kembali ke mode keras kepala.


Ia sangat kesal setiap Ari selalu memanggilnya menggunakan nama formal seperti itu.


Ari menghela nafasnya. Lalu dia harus memanggilnya apa?


" Saya harus segera pergi ke rumah sakit menemui Desi!"


" Aku ikut!" sela Puri yang tak mau kalah.


Ari mengerutkan keningnya.


" Seharusnya anda... maksudku kamu harus kembali kerumah, kita bisa bicara lagi besok. Kakakmu masih ada disana!" balas Ari yang kagok manakala menyebut kata aku kamu dalam perbincangan mereka kali ini. Membuat Puri menahan tawa .


" Aku belum mau pulang. Lagian kak Al pasti juga sudah berunding dengan Dante!"


Apa?


Ari memijat kepalanya frustasi. Puri benar-benar sulit di beri tahu. Ari akhirnya memilih diam sembari membuka ponselnya sebab ingin menelpon Tyo.


Namun saat ia baru menggulir ponselnya.


" Apa kau masih belum memaafkan aku?"


DEG!


Ari seketika mendelik saat Puri tiba-tiba main duduk di pangkuan Ari dengan posisi menghadap yang membuatnya mirip bayi yang minta gendong dari depan.


Oh sial!


...----------------...


" Bukan sus, tapi...kami orang yang menungguinya!" jawab Tyo yang tentu saja malu kala di tuding seperti itu.

__ADS_1


" Apa pasien tidak memiliki keluarga lain?"


Mbok enok yang melihat Tyo bingung kini tampak mengambil alih situasi.


" Dia adalah assisten rumah tangga sus. Saya juga merupakan pekerja yang sama dimana mbak Desi bekerja. Setalah ini akan ada yang datang, tapi jika ada hal darat biar kami urus terlebih dahulu!"


Dan penjelasan bernada lemah lembut dari wanita tua itu seketika membuat sang perawat paham.


" Janin dalam kandungan pasien tidak bisa di selamatkan. Untuk itu kami perlu persetujuan untuk tindakan selanjutnya yang jelas memiliki resiko. Selain itu, terkait soal biaya yang harus di bayarkan kamu juga butuh penjamin!"


Tyo yang tahu jika Ari pasti sedang kalang kabut dan tak akan bisa datang dengan cepat langsung pasang badan.


" Lakukan saja yang terbaik, soal biaya jangan khawatir!"


" Kalau begitu mari ikut saya!"


.


.


Sementara itu, Alsaki yang kini tengah duduk berbincang dengan Dante juga seorang pengacara terlihat sangat serius, tampak berkerumunan di samping Hendra Gunawan yang masih tak sadarkan diri.


Dan saat pria kurang ajar itu lekas siuman, maka terkejutlah dia demi melihat ada banyak orang yang mengerumuninya.


Nyonya Hapsari yang juga berada di sana dan tampak di dampingi oleh Dhisti kini diam seribu bahasa dengan tatapan kosong. Pikiran melayang dengan hati yang begitu sakit.


" Al..."


" Baiklah Ron, kita fix kan ini besok lagi. Aku akan menghubungimu lagi nanti" kata Dante sembari menyalami pengacara keluarga Alsaki yang jelas sebentar lagi bakal sering bolak balik ke kantor polisi guna menjurus birokrasi rumit itu.


Hendra yang melihat hal itu seketika bingung. Ia menatap istrinya yang kini buang muka ke arah lain.


" Mama tolong maafkan papa ma!" kata Hendra yang mencoba mencari muka.


Namun alih-alih menjawab, tangan pria itu segera nyoya Hapsari tepis sebab ia benar-benar merasa muak.


Pengacara itu akhirnya meninggalkan tempat yang kini di penuhi kecanggungan itu dengan wajah ketar-ketir. Sungguh, ia yang melihat wajah marah Alsaki benar-benar memilih untuk pergi saja.


Dan sepeninggal pengacara itu.


" Aku atau kau yang maju?" tanya Nyonya Hapsari diantara Alsaki, Dante juga Dhisti yang kini diam.


" Apa maksud mama?" balas Hendra Gunawan yang terlihat pias dan kebingungan.


" Aku...atau papa yang mengajukan perceraian!"


DEG

__ADS_1


Maka Hendra Gunawan seketika mendelik.


" Bercerai? Tidak, aku tidak mau bercerai!"


" Mama maafkan papa ma, papa akan melakukan apapun agar mama mau memaafkan papa ma!"


" Mama!"


" Mama!"


Nyonya Hapsari langsung enyah meninggalkan Hendra Gunawan yang kini berteriak meminta wanita itu berhenti. Namun hati yang teramat marah, membuat Nyonya Hapsari tak mau menghiraukan teriakan bajingan itu.


" Al, tolong maafkan papa!"


Tak berhenti disitu, Hendra Gunawan jelas mencari bala bantuan agar dirinya tak jatuh dalam kemiskinan.


Alsaki menghela napas sebab jujur hatinya sangat sakit demi mengetahui kelakuan busuk papanya.


" Aku tidak tahu harus mengatakan apa saat ini kepada papa. Tapi sebaiknya papa harus mengikuti hukum yang berlaku atau Ari tidak akan pernah mengampuni papa dan aku pun tak bisa melakukan apa-apa lagi!"


Saat bibir Alsaki masih bergetar saat mengatakan hal itu, dua orang petugas kepolisian datang untuk menciduk hendra Gunawan.


Ya, Alsaki telah menelpon kantor polisi dan ingin masalah ini di selesaikan secara hukum yang berlaku di negara itu.


" Apa-apaan ini Al, apa kau yang menghubungi polisi? Aku ini Papamu Al, kenapa kau tega!" teriak Hendra Gunawan yang semakin pias saat tangannya kini di cekal oleh dua polisi tampan nan gagah itu.


Alsaki berkali-kali menghapus air matanya saat papanya kini di gelandang menuju ke kantor polisi. Dante undur diri sebab dia harus menunggui jalannya pemeriksaan Hendra Gunawan.


Anak mana yang tak sedih saat melihat orangtuanya seperti itu. Namun ia tak ingin papanya semakin mendapat hukuman lain yang bakal semakin memberatkan hidupnya.


Al menyadari sepenuhnya, bahwa tabiat bukan berasal dari keturunannya, melainkan lahir dari pribadi insan itu sendirian.


Dhisti yang melihat suaminya larut dalam tangis yang terdengar pilu itu, kini memeluk tubuh kekar suaminya dengan hati yang turut sesak.


Walau ia belum sepenuh memaafkan Hendra Gunawan, dan ia pun sadar diri jika laki-laki masih belum menerimanya sebagai menantu, namun sejujurnya ia juga tak tega jika semua harus berakhir seperti ini.


" Aku benar-benar tak mengira jika akan seperti ini sayang!" kata Alsaki pilu.


Dhisti mengusap lembut punggung pria tinggi itu dan berusaha menenangkan suaminya. Sesungguh, ia juga sangat merasa prihatin. Tapi perbuatan laki-laki itu sungguh-sungguh biadab.


Nyonya Hapsari yang sudah lelah dengan semua yang terjadi kini terlihat berteriak di dalam kamarnya melampirkan kekecewaan sekaligus amarah yang kini bersarang di dadanya.


Dia membanting semua foto, bahkan benda yang pernah menjadi kenangannya bersama sang suami karena rasa kesal.


Telah lama mereka menjalani pernikahan ini. Dia pikir cukup sampai Dhisti saja yang nyaris menjadi korban suaminya, namun saat ia melihat kelakuan Hendra yang sudah seperti binatang, Nyonya Hapsari tak bisa lagi menahan diri untuk bercerai dari laki-laki itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2