
...🌻🌻🌻...
" Maaf Al, tapi..."
Alsaki langsung membeku sesaat setelah mendengar kalimat berada kecewa itu.
" Tapi kenapa? Jika masalahnya karena papa, itu akan menjadi urusanku Dhis!"
" Tolong beri aku kesempatan. Setidaknya, jangan menghindariku!" imbuhnya semakin resah.
Dhisti menarik tangannya yang semula di genggam oleh Alsaki. Ia merasa tak nyaman. Entah kenapa, ia mendadak teringat dengan Hendra Gunawan. Pria itu pasti masih memiliki dendam kesumat terhadapnya
" Apa kau sudah makan? Kau pasti tidak tidur semalaman!"
Dhisti mencoba mengganti topik pembicaraan. Sebenernya, ia masih ragu untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya. Tapi, ia harus mengapresiasi tindakan Alsaki yang telah berhasil menemukan Arif.
" Aku tidak lapar!" jawab Alsaki sedikit merajuk sebab Dhisti malah mengganti tema pembahasan.
" Makanlah, kau sangat lelah. Tenang saja ini tidak beracun! Hukumanku bisa di perpanjang jika kau mati disini karena kelaparan!"
Alsaki mendengus. Ia selalu saja kalau dengan gadis itu.
" Kalau begitu suapi aku. Aku tidak tidur semalaman gara-gara memikirkanmu. Sekarang kau harus tanggung jawab. Cepat suapi aku!"
" Aaaa!" Alsaki sudah mangap namun yang di tunggu justru menahan tawa.
Ya, Dhisti merasa Alsaki begitu lucu pagi jelang siang ini.
" Kau menertawakan aku ya?" cetus Alsaki kala menyadari jika Dhisti malah menertawakan dirinya. Membuatnya mendengus sebal.
" Kau mau di suapi pencopet?" tanya Dhisti setengah mencibir. " Tidak takut?" goda Dhisti dengan alis yang terangkat sebelah.
Alsaki membetulkan kembali posisi duduknya lalu sedikit condong ke sisi Dhisti. Membuat gadis itu mengernyit.
" Untuk apa aku takut. Aku bahkan telah terpikat cinta pencopet cantik!"
" Emuuaaach!"
Alsaki berbisik dan sejurus kemudian ia mencium pipi Dhisti penuh kemenangan. Membuat gadis itu ingin mencekik Alsaki yang kini tergelak penuh kemenangan.
...----------------...
Di belahan tempat lain, Ari yang kini berjalan dengan posisi sedikit di belakang Puri yang ceria, tampak seperti bodyguard yang mengawal putri raja di sebuah pusat perbelanjaan eksklusif yang cukup terkenal di kota itu.
Ya, Puri benar-benar ingin menghabiskan waktunya untuk berbelanja dan bersenang-senang hari ini. Suasana hatinya sangat baik pasca melonggarnya kasus Dhisti. Dan jujur, ia turut bahagia bila kakak yang ia sayangi itu juga bahagia.
" Menurutmu, ini sama ini bagus mana?"
Menunjukkan sebuah dress tanpa lengan berwarna mustard dan putih gading kepada Ari.
Ari yang melihat pakaian seperti itu tentu saja bingung. Ia tak pernah berbelanja di tempa semahal ini.
" Maaf nona, tapi menurut saya semua bagus! Semuanya cocok untuk nona!" menjawab jujur.
" CK, kau ini, kalau begitu kau malah membuatku bingung lagi tau. Kalau yang ini bagaimana?"
Kembali memperlihatkan sebuah dress dengan bagian belakang yang terbuka. Membuat Ari sedikit kurang setuju.
" Maaf nona, tapi menurut saya anda kelihatan cantik jika mengenakan pakaian yang seperti itu!"
__ADS_1
Tunjuk Ari kepada sebuah pakaian dengan dada bermodel A yang lebih sopan. Membuat wajah Puri memerah.
" Apa kau serius?"
Yang di tanya mendadak juga malu. Ya, Ari malu sebab ia mengatakan dengan penuh kejujuran.
" Saya kurang mengerti dengan mode. Tapi setiap anda mengenakan baju seperti itu, anda terlihat manis!"
Puri menjadi senang dengan kepolosan Ari mengenai pakaian. Ia bertanya bukan tanpa alasan, penilaian orang lain itu penting.
" Baiklah kalau begitu, aku akan membungkusnya. Oh iya, kau juga boleh pilih yang kamu suka, aku akan bayar!"
Namun yang di tawari buru-buru menolak.
" Terima kasih banyak. Tapi anda tidak perlu melakukan hal itu!" tolaknya halus.
" Ayolah, ini sudah aku katakan aku ingin mentraktirmu. Cepat pilih, ini perintah!"
Ari meneguk ludahnya resah. Ia tahu harga baju di tempat ini sangatlah mahal. Dan ia bukanlah tipikal orang yang gemar mengenakan outfit dengan harga yang setara dengan biaya sekolah adiknya.
" Maaf sekali lagi nona, tapi ini tidak perlu! Anda bisa mentraktir saya makanan saja nanti!"
Puri terlihat mengalah saat Ari kembali menolaknya untuk kedua kali. Namun tanpa Ari ketahui, gadis itu diam-diam memilihkan baju yang ia rasa fit dengan tubuh supirnya yang memiliki wajah tampan itu.
Sembari menunggu Puri di kasir, Ari yang berdiri tepat di sebelah jajaran sepatu perempuan, tertarik dengan sepatu anak-anak yang begitu bagus.
Tangannya mendadak terulur untuk melihat harga yang ada di badrol putih itu.
" Kenapa ada sepatu semahal ini? Aku bahkan bisa membelikan ibu empat gram emas dengan uang sebanyak ini!"
Ari sebenarnya terkejut namun ekspresinya masih saja datar. Tak ada yang tahu jika laki-laki itu sedang heran dengan mahalnya harga sepatu yang barusan ia pegang itu.
Membuatnya berbisik kepada kasir.
Ari yang semula duduk kini bangkit saat melihat Puri berjalan ke arahnya dengan banyak sekali kantong belanjaan.
" Biar saya bawakan nona!"
Puri tersenyum senang melihat supirnya yang begitu sigap. Usai meletakkan semua belanjaan Puri ke bagasi, Ari kaget karena Puri ternyata kini duduk di depan.
" Aku di depan ya? ngantuk gak ada teman ngobrol!" seru Puri yang asik mengenakan sabuk pengaman.
Ari mengangguk gugup sebab tak biasanya ia duduk bersebelahan dengan anak majikannya itu.
" Kita makan dulu yuk!"
Ari tentu saja menyanggupi, itu sudah menjadi bagian dari tugasnya untuk mengantar. Namun tak di sangka, ia yang biasanya menunggu di luar bersama satpam kini terkejut manakala Puri berbalik.
" Kok disini, ayo masuk! Jangan sampai kamu nolak ajakanku untuk ketiga kalinya!"
Ari meneguk ludahnya saat menatap Puri yang sudah hendak merajuk.
" Baik nona, saya kira..."
" Kamu kira aku makan sendirian? Enak aja, udah ayo ikut cepetan!"
Ari lagi-lagi menatap lengannya yang kini di tarik oleh tangan putih itu. Sungguh, Puri kini terlihat lebih humanis ketimbang waktu-waktu sebelum dia mendapat masalah bersama Wisnu.
Mereka tampak duduk disebuah kursi yang saling berhadapan. Ari yang selalu bisa bersikap tenang dengan pakaian yang selalu rapi membuat pelayan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih.
__ADS_1
" Mbak aku mau tomyam, red velvet cake sama minumnya yang ini aja!"
Sang pelayan terlihat cekatan manakala mencatat setiap pesanan yang keluar dari mulut Puri.
" Emmm, suaminya mau di samakan juga?"
Membuat Ari sontak menoleh dan berniat mengajukan banding, " Maaf say..."
" Kamu mau sama atau enggak?"
Ari semakin melongo manakala Puri tak keberatan dengan kesalahpahaman itu. Oh ya ampun!
" Sa- samakan saja !" jawabnya bahkan sampai tergagap- gagap.
" Samain aja ya mbak!" pungkas Puri tersenyum dan membuat pelayan itu seketika undur diri sembari mengangguk santun.
" Baik, mohon di tunggu. Permisi!"
Sepeninggal pelayanan itu, Ari seketika merasa canggung. Ia heran kenapa Puri malah diam dan tak menyangkal akan sangkaan yang keliru itu.
" Kata Mama, kamu Minggu depan izin cuti?"
Ari kembali mendongak saat Puri tampak mengganti suasana dengan topik pembicaraan lain. Gadis itu bahkan terlihat begitu santai.
" Benar nona, saya sudah lama tidak pulang. Adik saya kebetulan libur sekolah. Saya ingin menengok mereka sebentar!"
Puri tertarik dengan pembahasan Ari soal keluarganya. Karena jujur, selama ini mereka memang tidak pernah banyak ngobrol.
" Naik apa kamu pulangnya?"
" Biasanya... saya naik kereta nona!"
Puri kembali diam. Mendadak ia memiliki ide gila. Ia sedang menghindari Wisnu dan otaknya sedang stres karena pertengkaran kedua orangtuanya. Mungkin jika dia ikut Ari bertamasya ke desa, sepertinya akan membuat hidupnya sedikit rileks.
Lagipula, kedua orangtuanya yang sedang tidak bertegur sapa itu pasti akan berlanjut dalam waktu yang tidak bisa ia prediksi. Selain itu, kakaknya juga pasti akan sangat sibuk bersama Dhisti.
Minuman datang lebih dulu dan langsung di raih oleh Puri yang kehausan.
"Berapa lama kamu cuti?" bertanya sembari memainkan sedotan sesaat setelah menghabiskan separuh isi gelasnya.
" Mungkin satu Minggu nona!" jawab Ari menjeda niatnya untuk meminum minumannya.
Puri terlihat mengangguk dan tampak berpikir. Membuat laki-laki itu akhirnya bisa meminum minumannya.
" Aku udah mutusin, aku akan ikut kamu liburan ke desa!"
Hah?
Membuat Ari seketika tersedak minumannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.