Terpikat Cinta Pencopet Cantik

Terpikat Cinta Pencopet Cantik
Bab 71. Pria bertanggungjawab


__ADS_3

...🌻🌻🌻...


Namun selera makan Puri sedikit terganggu saat ia berada di meja makan seorang diri. Ia tak pernah sendiri saat makan dimanapun, kecuali sedang galau. Membuatnya menutup kembali tudung saji dari rotan asli itu lalu menyeret langkahnya menuju luar.


Ia berjalan perlahan dan membuat Ari tiada menyadari kedatangannya. Ia tampak bersembunyi di sebelah benda yang nampak seperti lemari.


Rupanya, Ari tak seorang diri, laki-laki itu bersama seseorang dan tampak ngobrol santai.


" Aku kira itu calonmu Ar. Padahal udah kepalang seneng pakdemu ini, keponakan tersayang pulang bawa calon bojo ( istri)" seru Pakde Bowo terkekeh-kekeh.


Yang di ajak ngobrol hanya terlihat membalas dengan tersenyum sekilas tanpa berniat menjawab.


" Majikanmu itu ayu ( cantik) banget Ar, kok ikut kesini dalam rangka apa?" masih belum jemu untuk membahas soal Puri.


" Infonya sih ada proyek sama rekan-rekannya yang mau syuting di desa sebelah pakde!" menjawab sembari sibuk menggosok body mobil yang penuh dengan lumpur di jalan desa.


" Yang YouTuber terkenal itu?"


Ari mengangguk mengiyakan.


" Wah, itu sih..."


" Aaa!"


Grobyak!


Baik Ari maupun pakde Bowo seketika terkejut saat melihat Puri ambruk tertimpa lemari plastik yang sepertinya tak kuat menahan beban tubuhnya.


Ya, Puri yang asik menguping dan tak memperhatikannya kerapuhan benda yang ia gunakan sebagai sandaran, membuatnya kini malu bukan kepalang.


Maka Ari sekonyong-konyong mencampakkan selang yang semula ia pegang lalu berlari menolong Puri.


" Nona, apa yang anda lakukan disini? Anda tidak apa-apa?" bertanya dengan wajah cemas.


Yang di tanya malah fokus ke dada bidang Ari yang tampak membuatnya meneguk ludah. Dasar otak kotor!


" Tadi aku ..."


" Astaga, lutut anda berdarah!" menyela panik sehingga membuat sang empunya tubuh kontan menatap si dengkul.


Puri langsung terperanjat manakala Ari tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan wajah panik, saat ia masih berusaha melihat lukanya.


Bagiamana Ari tidak panik, anak majikan yang merupakan kesayangan dari Alsaki itu lututnya koyak karena tergores sesuatu. Darah yang mengalir cukup banyak reflek membuat Ari panik.


Pakde Bowo turut mengikuti keponakannya yang membopong wanita cantik itu masuk kedalam rumah. Namun sialnya, yang di bopong malah tampak menikmati wajah tampan Ari yang terlihat begitu keren saat tegang begini. Oh ya ampun!


" Ada apa Ar?"

__ADS_1


Ibu Ari yang baru kembali dari meninabobokan Danisa sebenarnya sudah terkejut sewaktu mendengar suara gubrakan dari dalam kamarnya tadi. Namun ia baru bisa keluar manakala anaknya telah terlelap.


Kini, ia semakin terkejut saat melihat Ari yang baru meletakkan anak majikannya itu keatas sofa,dengan lutut yang mengeluarkan darah.


" Astaga, kenapa ini nona?" Ibu memekik terkejut.


" Buk, tolong ambilkan Ari kotak P3K!" meminta tolong dengan wajah panik.


Ibu yang melihat hal itu cepat-cepat kembali masuk ke kamar untuk mengambil benda yang di pinta oleh anaknya. Puri yang merasa tidak enak hati karena malah membuat Ari repot kini hendak menolak hal itu.


" Aku tidak apa-apa Ar, ini hanya luka bia..."


" Saya hanya tidak ingin saya mendapat masalah nona. Kaki anda harus segera di obati, bila perlu besok kita ke rumah sakit!"


Bukan tanpa alasan, Ari tahu jika Puri merupakan anak kesayangan para anggota keluarga kaya raya itu. Selain karena khawatir secara pribadi, ia juga berupaya mengurangi hal-hal yang bisa saja menjadi resikonya nanti.


" Ini!" Ibu kembali dengan sekotak P3K dan langsung menyodorkan benda itu kepada anaknya.


" Ya sudah kamu lanjut obatin nona Puri saja, mobilnya biar pakde lanjutkan!"


Ari menengadah menatap Pakde Bowo dengan wajah tidak enak hati, " Tidak apa-apa kah pakde?"


" Tidak apa-apa, tapi..." berbisik dan membuat Ari memasang telinganya betul-betul.


" Jangan kebablasan!" imbuh Pakde seraya tergelak kencang, membuat Ari mendengus karena bisa-bisanya pakdenya menggoda di situasi menegangkan seperti ini.


Lihatlah, gara-gara kecerobohannya, Puri bahkan telah membuat orang lain menjadi repot. Ibu Ari harus terbangun dari istirahatnya, Ari yang kini malah repot mengurusinya, dan pakde Bowo yang akhirnya menjadi tukang cuci mobil dadakan.


Ya, apes, kesialan, kemalangan, kenaasan memang datangnya acapakali tidak kita ketahui.


Apa yang di kerjakan Ari sepertinya telah usai, Ibu yang berkali-kali menguap membuat Puri tak enak hati. Pun dengan Ari.


" Ibu istirahat saja dulu! "Ari kontan menoleh. " Ibu pasti capek, Ibu istirahat gih. Nanti Ari yang beresin!" menatap muram sang Ibu.


" Tidak apa-apa?" sang Ibu membalas dengan tak enak hati.


" Nggak apa-apa, mata Ibu udah merah banget. Pasti seharian sibuk. Udah sana ibu masuk, habis ini Ari juga istirahat!" meyakinkan Ibu karena dia memang kasihan.


Sepeninggal Ibu, kecanggungan langsung memenuhi atmosfer tempat itu. Puri yang malah kehilangan fokusnya akibat jarak Ari dengannya yang begitu dekat, terlihat bolak balik menelan saliva.


" Tadi, sebenarnya aku mau ajak kamu makan, aku gak enak kalau makan sendiri, e gak taunya..."


Kini ganti Ari yang merasa bersalah. Puri merupakan tamu, dan tentu saja wanita itu akan tidak enak jika makan sendiri. Harusnya dia yang menemani.


" Maafkan saya nona, saya pikir saya akan cepat-cepat tadi, tidak taunya ada pakde saya datang. Sebaiknya kita makan sekarang, mari!"


Puri kembali terhenyak saat tangan besar itu mulai mengajaknya berjalan. Ia tampak sedikit meringis saat mulai melangkah tapak demi tapak. Bagiamana ini, kenapa kakinya berubah agak nyeri saat digunakan untuk berjalan?

__ADS_1


" Nona, apa lukanya terasa begitu sakit?" Ari bertanya saat melihat raut Puri yang terlihat kesakitan.


Puri kontan menggeleng, ia tak boleh terlalu menunjukkan jika itu sakit. Ia sudah terlalu tak enak hati kepada Ari.


" Kalau begitu, ayo kita makan, aku lapar!" kata Puri.


" Baik, sebentar saya ambil baju saya dulu!" menjawab usai memastikan Puri telah duduk dengan posisi pas.


Puri masih ingat betul aroma maskulin yang sempat ia cium tadi. Entahlah, rasanya imajinasi Puri terlalu tinggi tiap melihat tubuh indah itu.


Aku pasti sudah gila! Astaga, kenapa dengan diriku!


Sekembalinya Ari dari mengambil baju, mereka lantas makan. Puri terkejut dengan rasa masakan Ibu supirnya itu, rasanya benar-benar otentik dan lezat. Ini kalau di kota, nilai jualnya pasti tinggi.


" Ibu kamu pinter masak ya?"


Ari mengangguk, " Biasa di panggil masak kalau ada yang hajatan di sini!"


Puri mengangguk dan mulai mengabaikan rasa lututnya yang sakit. Jujur, ini merupakan acara makan yang paling berkesan. Selain itu, entah kenapa pula Puri malah sering melirik Ari yang masuk dengan tekun, cepat dan tak mengeluarkan bunyi apapun.


Usai makan, Ari bahkan sigap membereskan piring kotor ke meja cuci, menyimpan lauk ke tempatnya, lalu membereskan hal itu dengan cekatan.


Daebak!


Puri seketika terlolong tatkala melihat Ari yang mencuci piring bekas pakai mereka. Merasa sangat malu sebab ia bahkan tak pernah melihat selimutnya sendiri.


" Orang ini semua- semua di kerjakan. Aku aja gak pernah nyuci piringku sendiri dirumah!"


" Nona silahkan istirahat, ini sudah sangat malam!" berkata usai mengelap tangannya yang semula basah.


Puri terkesiap dari lamunannya saat mendengar suara laki-laki itu. Asik melamun soal Ari benar-benar membuatnya tampak bodoh.


" Sudah selesai ya? Cepat sekali."


" Loh kamu mau kemana?" bertanya saat Ari melewati dirinya.


Yang ditanya lanjut tersenyum dan membuat Puri merasa lain. " Saya mau mandi dan tidur di rumah sebelah. Pakde nemenin saya!"


Puri malu, ini di desa dan ia merupakan tamu dari luar keluarga. Mungkin itulah yang menjadi alasan Ari tinggal berpisah.


Pria itu benar-benar memiliki sikap dan sifat yang begitu baik. Entah kenapa, Puri meleleh demi melihat laki-laki yang begitu bertanggungjawab seperti Ari.


" Astaga, sepertinya aku menyukai pribadi laki-laki itu!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2