The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Berubah Pikiran


__ADS_3

Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Malam sudah siap menyama. Bulan sudah siap meninggi. Antara sinarnya rembulan dan gelapnya sang malam tidak dapat dipastikan siapa yang akan menang.


Ayla menghela nafasnya secara pelan. Kegundahan dihatinya sedang dimulai. Bagiamana jika seperti ini? Bagaimana jika begitu? Jujur dia sangat takut berada di rumah mewah ini. Benar kata sebagian orang rumah mewah belum tentu membuat hati tenang.


Ayla menghembus nafasnya kembali dan kali ini lebih panjang. Bebannya memang tak terlihat tapi amat berat dia rasakan.


"Ayla," seru Brio mencari Ayla yang tidak di temukan di kamarnya.


"Apa?" jawab Ayla yang ternyata berada di balkon kamarnya.


"Ayo, kita turun. Mereka semua sudah datang," ajaknya seraya menggenggam tangan Ayla.


"Aku... Brio, apa kamu yakin kita hanya akan berkenalan saja lalu kita akan pergi dari sini ...." lirih Ayla hati-hati.


Brio seketika teringat dengan yang di janjikannya pada Ayla. Pagi ini dia membujuknya dengan kalimat itu. Padahal sebenarnya dia ingin sekali tinggal lebih lama lagi dengan keluarganya. Bagaimana pun selama dia dalam penyamaran, ia tidak pernah pulang. Dan berubah menjadi Brian hanya saat dirinya dibutuhkan oleh perusahaan.


"Begini, Ayla. Apa kamu tidak keberatan untuk tinggal disini lebih lama lagi?" ucapnya juga tak kalah hati-hati dengan Ayla.


Sementara dalam hati Ayla dia menggerutu, "Benar saja apa yang aku pikirkan saat tiba dirumah ini. Dia tidak ingin pulang. Ahh, bagaimana jika kedua orang tuanya tidak menyukaiku? Akan sangat tersiksa tinggal disini. Mungkin perkataan temanku juga benar, ibu mertua tidak akan sebaik ibu kandung. Tuhan, lindungilah aku..." batinnya menjerit.


"Ay, bagaimana? Kamu tidak mau, ya?"


"Ah,"


"Bagaimana caranya mengatakan ini. Ibu mertuaku adalah ibu kandungnya. Tidak mungkin aku langsung men-jugde-nya jelek dihadapan anaknya ini, 'kan?" batinnya lagi. Tangan Ayla sudah meremas kuat ujung pakaiannya.


"Den Brian dan Nona di tunggu di ruang makan." Suara maid yang terdengar dari luar. Suara itu bagai menarik Ayla yang sedang berada di ujung tanduk.


"Brio, ayo kita makan dulu!" Kali ini Ayla yang menarik lengannya.


Suasana di meja makan seperti suasana di medan perang, bagi Ayla. Hawa dingin menyelimuti hatinya. Dalam meja persegi panjang itu, disebelah kirinya diduduki oleh keluarga dari Brio. Dimulai dari Jazz, City, Brio dan terakhir Ayla. Sedangkan di sebelah kanannya diduduki oleh keluarga sang penyanyi favoritnya, Oddysey. Sama seperti dalam keluarga Brio. Bangku pertama diduduki oleh kepala keluarga hingga anak. Bedanya tak ada perempuan lain disana selain Serena. Sedangkan kursi paling depan dibiarkan kosong saja. Kursi itu adalah kursi yang biasa di duduki oleh kakek Brio.

__ADS_1


Ayla melirik ke depannya, ada seorang wanita berumur 40 tahunan yang menghunus tajam kepadanya, diikuti seorang laki-laki yang disampingnya juga melihatnya dengan tatapan tidak suka. Sedangkan di samping wanita itu terdapat orang yang dia pujai. Rasa ingin menyapa, berfoto atau sekedar meminta tanda tangan pun sepertinya harus dia urungkan.


Sedangkan disebelahnya, Ayla tidak dapat mengartikan tatapan kedua mertuanya itu. Mereka seperti acuh tak acuh pada Ayla. Hanya satu senyuman saja yang Jazz berikan padanya. Tapi, satu senyumannya itu berhasil membuat Ayla sedikit tak gentar.


Setelah makan malam selesai, Brio menariknya ke depan. Ia ingin memperkenalkan istrinya di hadapan semuanya. Namun, keluarga dari paman Brio memilih pergi. Dia menolak keras Ayla berada disana. Bahkan Oddysey pun ditarik paksa oleh Serena. Alih-alih dengan mengatakan bahwa mereka sibuk dan Oddysey yang harus latihan.


Hati Ayla menciut kembali. Salah apa dirinya hingga tidak di terima? Jika boleh meminta maka dia akan meminta untuk mengulangi kembali pertemuannya dengan Brio.


Melihat itu, Brio tidak ingin istrinya bersedih. Dia menarik kembali Ayla tepat kehadapan Bunda dan Ayahnya.


"Ayah, Bund, ini Ayla istriku. Dia berasal dari kampung. Tapi dia gadis yang pintar dan berprestasi. Dia juga sedang kuliah di jurusan jurnalistik di kampus kita." Singkat Brio memperkenalkannya.


"Ayah, masih tidak menyangka kalau Ayah akan dapat menantu secantik Ayla. Kamu pintar mencari wanita, Brian." Sebuah senyum terbit di keduanya.


"Bagaimana, Bund. Brian tak salah pilih, 'kan?" tanya Jazz mencairkan suasana. City melirik dari atas kebawah.


"Benarkah dia gadis yang matre? Tapi seluruh mahasiswa kampus juga mengatakannya. Bukan hanya satu tapi hampir semua orang. Ah, aku tidak boleh percaya dengan penampilannya yang sederhana ini. Tidak semua yang covernya baik dan bagus isinya akan baik dan bagus juga. Mungkin saja dia sedang menggunakan topengnya. Tidak mungkin jika orang-orang itu berbohong, 'kan?" batin City sambil meniliknya lebih lekat lagi. Disana dia tidak menemukan satu barang branded pun yang terpasang. Hanya baju yang berasal dari butiknya dan juga sebuah kalung yang Brio minta untuknya.


"Iya, Yah. Oh, ya. Maaf, Brian. Bunda sedang sibuk dan tidak bisa menemani kalian lebih lama," ucapnya begitu lalu pergi.


"Maafkan Bundamu, Brian. Dia besok akan bertemu klien yang dari Bangkok. Pembangunan real estate-nya sedikit bermasalah. Mungkin dia terbawa suasana kantor," kilah Jazz menyembunyikan fakta yang sesungguhnya.


"Tidak apa-apa, Yah. Ya, 'kan, Sayang?" Sekilas Brio melirik istrinya.


"Iya, O-om," jawab Ayla merasa sungkan menyebut Ayah.


"Lho, kok, Om? Panggil saja Om ini dengan sebutan Ayah. Om ini Ayah dari Brian lho, bukan pamannya," kelakar Jazz.


Ternyata memang benar, jangan melihat orang dari cover-nya. Orang yang Ayla lihat dingin dan sedikit menakutkan ternyata bisa melucu.


"Eh, iya, Yah."

__ADS_1


"Nah, begitu dong."


Mereka bertiga pun berbincang asik disana. Hal yang tak Ayla sangka, seorang Jazz Soedrajat yang Ayla baru saja ketahui dari google sebelum dia bertemu adalah orang yang kaya raya bahkan bahasa gaul sering menyebutnya tajir melintir saking tidak habisnya ini adalah orang yang supel, ramah dan mau menyempatkan waktu untuk dirinya yang bisa di katakan hanya debu dalam cawan berlapis berlian.


"Ayla, Ayah minta kamu jangan sampai sakit hati dengan perlakuan Bundamu. Dia sebenarnya baik, percaya pada Ayah. Dia baik hanya saja dia butuh waktu dan chemistry dari kamu. Orangnya memang suka tidak percaya sebelum dirinya benar mengalami, maksud Ayah dia mengira kamu ...." Ucapannya terhenti. Dia takut kalimat selanjutnya akan menyakiti menantu barunya itu tanpa sadar.


"Iya, Ayah. Aku mengerti. Aku menikah dengan Brio juga karena kesalahpahaman. Semua orang tentu tidak akan percaya. Dan pasti semuanya menganggap aku wanita yang tidak-tidak."


"Ay..." Brio menggenggam tangannya erat.


"Baiklah, Ayah pergi dulu. Ayah takut mengganggu waktu berdua kalian," ucapnya sedikit terkekeh menggoda sang menantu.


"Ayla, jika kamu mau kita pindah ke apartemen, aku siap malam ini juga," ucap Brio menahan Ayla yang hendak naik tangga menuju kamarnya.


"Lho, kenapa?"


"Aku merasa tidak enak padamu, orangtuamu masih mau menyambutku dengan baik setelah tahu aku membohonginya. Sedangkan, orang tuaku sendiri ...."


"Bagaimana jika aku bilang aku ingin tinggal disini? Aku ingin mendapatkan restu dari Ibumu. eh, Bundamu." Ayla menatap netra mata suaminya lekat.


Brio tak percaya itu. Sungguh apakah ini Ayla? Barusan dia mengatakan jika di ingin tinggal disini? Dia ingin berjuang?


"Terima kasih!" Brio menggendong Ayla menuju kamarnya dengan perasaan bahagia.


CNP


...Dukungannya selalu ku nanti.... 😊...


...Maaf satu-satu ya, bukan tidak mau carzzy up atau apa. Aku takut ada yang baru mulai baca dn udah males karena babnya banyak 😢😢...


...Aku juga gak sangka nisa sampe 100 bab. Padahal masih banyak yang belum di bahas, alias masih lama ke end.. 😆...

__ADS_1


...Dan, ya tolong kebaikan hatinya untuk men-share novel ini pada siapapun yang Anda temui.. Hehehe...


...Makasih... ...


__ADS_2