
Ayla menatap papan tulis yang ada dihadapannya. Air mata itu lolos saat otaknya memutar kembali ingatan semalam.
Lalu dia mengeluarkan spidol dari tasnya. Menuliskan beberapa kalimat disana.
Tuhan, aku mencintainya.
Tapi Kau buat dia mencintai orang lain.
Tak apa, terima kasih atas waktu yang Kau berikan padaku.
Terima kasih sudah mempertemukanku dengannya
Terima kasih sudah menjadikanku bagian dari hidupnya, meski itu hanya sesaat.
Karena kamu bukan untukku, maka aku harus belajar melupakanmu. Terima kasih Nyu!
From, Nyet.
Ayla menatap lara papan tulis itu, lalu tak lama dia mundur dan meletakkan spidol di meja yang biasa digunakan para dosen.
Dengan tatapan kosong dia keluar dari kelasnya menuju toilet. Dia ingin menangis, rasanya berat menahan air matanya. Selain itu dia tidak ingin ada orang lain melihatnya menangis.
Sementara itu Brio yang baru saja tiba. Dia pakirkan vespa kuningnya secara sembarangan.
Berlari ke arah fakultas Ayla. Jarak yang lumayan jauh dari parkiran menuju fakultasnya membuatnya menguras waktu yang tidak sedikit.
Brio berlari seakan dia sedang berlomba lari. Cepat dan kencang. Tak jarang beberapa kali dia menabrak orang lain yang sedang berbincang.
Huh huh!
Dia mengambil nafasnya pendek-pendek. Dadanya terasa sesak, sudah lama dia tidak berlari. Tapi meski begitu, tidak terpikirkan olehnya untuk mengurungkan niat. Ia terus berjalan sambil memegangi tembok sebagai sandarannya.
Saat dia tiba di kelas Ayla, Brio melihat ada dua orang disana. Teman-temannya Avanza, Livina dan Agya. Dia berhenti sejenak mendengar percakapan kedua orang itu.
"Gya menurut kamu siapa yang akan menang?"
"Siapa lagi kalau bukan Avanza? Kenapa? Kamu harap Ayla yang menang? Ya, gak akan terjadilah. Kamu tahu 'kan Avanza orangnya bagaimana? Bahkan aku sempat dengar dia memperalat orang lagi," celetuk Agya.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Brio, orang culun yang suka kasih dia coklat. Aku dengar dia bahkan rela pura-pura mau menjadi pacarnya demi mengalahkan Ayla."
Nyuuut!
Diri Brio tersentak mendengar perbincangan mereka. Satu fakta yang dia tangkap. Jadi, selama ini dia hanya di peralat?
Hatinya sakit melebihi apapun. Orang yang dia kira sebagai peri dikehidupannya ternyata ... Bolehkah dia menamainya sebagai makhluk tak kasat mata yang sering menggoda?
__ADS_1
Dia berjalan mendekati kedua wanita itu.
"Hah, padahal Ayla tidak ada apa-apanya dibanding dia. Maksudnya dari segi harta dia ...." ucap Livina berhenti.
"Jadi, Avanza hanya ingin memanfaatkanku?"
"Brio..." lirih keduanya.
"Katakan!" bentaknya sambil menggebrak meja.
Kedua wanita itu terbelalak, tak disangka Brio akan membentaknya seperti itu.
"B B Brio, mungkin kamu salah dengar," ucap Agya terbata-bata.
"Apa kamu mengira aku tuli? Hah?" bentaknya lagi. Dia tak mampu menahan kenyataan pahit ini. Dia mengira kedekatannya memang murni dekat tapi ternyata itu hanya demi mengalahkan orang lain.
"Kalian tiga orang manusia yang tidak punya hati. Seharusnya kalian tidak masuk ke kampus ini," geramnya.
Lalu dia melirik kearah papan tulis, berjalan mendekatinya, kemudian membaca tulisan itu sampai akhir. Tulisan Nyet yang tak lain adalah Ayla membuat hatinya seperti tertimpa beban yang berat.
Jadi, benar wanita itu sudah menyukainya.
Perasaan bahagia bercampur sedih teraduk rata di hatinya. Fakta yang menyedihkan dan membahagiakan berdiri ditempat yang sama.
"Dia mencintaiku? Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku tidak menyadari bahwa wanita itu sudah mencintaiku?" lirihnya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia tidak boleh mengikuti keinginanku. Aku tidak boleh menghancurkan hidupnya."
Tanpa berpikir panjang Brio bergegas menuju aula. Tetapi disana dia tidak menemukan istrinya. Lalu dia keluar dan menanyakan pada siapapun yang di temuinya
"Kamu lihat Ayla?"
"Kalian tahu Ayla dimana?"
"Aylaaaa..."
Dia berteriak mencari Ayla. Dari kelas ke kelas, tempat nongkrong yang ada di belakang kampus, perpustakaan, bahkan sampai atap kampus pun dia tidak menemukan Ayla..
"Kemana kamu, Ayla?"
"Apa dia sudah ada di aula lagi?" terkanya. Segera dia berlari kesana. Dia tidak akan tahu jika dia tidak mencarinya lagi.
Sedangkan orang yang Brio cari sudah duduk di tempat dimana diadakannya kompetisi itu. Sambil terus menarik dan menghembus nafasnya secara perlahan. Dia lakukan itu agar dirinya tidak menangis didepan semua orang.
Acara sudah dibuka beberapa saat yang lalu dan sekarang Avanza sudah berada diatas. Dengan wajah yang sangat bahagia dia mempresentasikan proposalnya.
Ayla tersenyum kecut melihatnya. Seharusnya dia juga sama dengan Avanza. Mempresentasikan proposal yang sudah dia buat dari jauh-jauh hari. Tapi kedatangannya kesini hanya untuk mengumumkan pengunduran dirinya.
__ADS_1
Tak lama Ayla di panggil kedepan. Mereka yang ada dihadapannya, penonton, para dosen, dan para dewan juri sudah antusias dengan proposal Ayla.
"Selamat pagi semuanya!" Ayla menundukan kepalanya. Meyakinkan hatinya bahwa dia adalah orang yang kuat.
"Saya, Ayla Lindsey Daihatsu. Di depan semuanya saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya." Ayla menelan saliva yang terasa pahit melebehi pare itu, "Saya tidak bisa melanjutkan kompetisi ini dan saya mengundurkan diri dari kompetisi ini. Terima kasih!" Ayla sedikit menundukan kepalanya.
Semua orang tidak ada yang tidak terkejut. Bahkan sang sahabat, Levante sampai berdiri. Berharap yang didengarnya ini tidaklah benar. Livina hanya mampu memejamkan matanya. March ternganga mendengar keputusan Ayla yang menurutnya sangatlah bodoh.
Para penonton semuanya bertanya, kenapa? Dan Avanza, tentu akan tersenyum bahagia. Bom yang dia berikan benar-benar ampuh. Brio memang hebat. Kini tidak ada yang menghalanginya untuk mendapatkan nomor pertama, gelar sang juara, gelar sang dewi kampus. Tidak ada.
Sedangkan Brio yang baru saja tiba disana terkulai lemas. Ayla sudah mengumumkan pengunduran dirinya. Dia terlambat beberapa detik.
Dia mengusap rambut bagian belakangnya beberapa kali. Kecewa pada dirinya sendiri.
Ayla berjalan sedikit berlari dia tak mampu untuk menyembunyikan kesedihannya. Brio menghadangnya.
"Kenapa kamu.." Belum selesai Brio dengan perkataannya, Ayla sudah memotong.
"Aku sudah melakukan apa yang kamu mau. Semoga kamu bahagia dengannya. Dan aku menunggu penepatan janjimu.."
Degh, rasanya nyelekit sekali. Tidak lagi bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ayla pergi dan Brio terdiam. Dia sudah menghancurkan mimpi orang yang tulus padanya.
"Aylaaaaa..." Dia berteriak sekeras-kerasnya.
Ayla terus berlari, meski terasa sakit dikakinya dia paksakan. Dia butuh pelepasan beban dihatinya. Seperti biasa dia naik keatas atap kampus, dan berteriak disana...
"Aaaaaaaaaaahhh.." Menangis sesegukan disana.
"Kenapa, kenapa ini semua terjadi kepadaku, Tuhan. Apa Engkau tak mau melihatku bahagia atau memang Kau mempunyai rencana lain? Tapi apa?" Dia berteriak melepaskan segala bebannya.
CNP
Continue in my Next Post
Maaf jika tidak sesuai harapan kalian.
Terima kasih banyak yang sudah menunggu.
Maaf update-nya sore. Soalnya kalau mau maghrib atau malem itu enak nulisnya.. Hehe.
Hampuraaa.
...Jangan lupa dukung, yoo!...
...Like, komentar, rate 5, share, faforitkan, dan vote....
...Dukungan kalian akan menambah semangat bagi para Author! Semampu kalian aja, kalau bisa semuanya. Hoho.. (buat nambah popularitas😁)...
__ADS_1
...Jangan lupa share juga biar tau di novel juga ada showroomnya lhoo!...
...Terima kasih!...