
"Hallo, Ayla!" Livina sudah mengangkat panggilannya. Ayla beberapa kali menengok kearah Brio. Tampak Brio yang hanya mengusap-usap hidungnya.
"Ayla..." serunya lagi.
"Hai, Liv!" ucap Ayla sedikit terlonjak.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Livina.
"Ya, aku baik-baik saja. Begini..." lirih Ayla sedikit ragu. Brio yang melihat itu segera meraih ponsel Ayla dan mematikannya.
"Sudah, jangan dilanjutkan! Maafkan aku yang terbawa emosi tadi. Jangan katakan apapun!" Brio letakan ponsel itu di meja.
"Tidak, Brio. Aku rasa itu ide yang bagus jika aku mengatakannya." Ayla meraih kembali ponsel itu.
"Apa kamu yakin? Setahuku dia juga menyukai Jimny, 'kan? Lalu bagaimana nanti tanggapannya? Dia juga teman Avanza, Ayla." Ya, dia sempat mencemaskan Ayla. Ia takut akan ada seseorang yang mencibirnya.
"Aku tahu, tapi dia tidak seperti Avanza. Dia juga mempunyai rahasia. Jadi, bukankah adil jika dia juga mengetahui rahasiaku?"
"Ay..." Brio memandang Ayla, "Jangan katakan!"
"Tidak, aku akan mengatakannya. Aku tidak malu mempunyai suami seperti dirimu. Aku akan mengakuinya, Brio," tegasnya. Ayla memang sudah menerima Brio sebagai suaminya dalam bentuk apapun.
"Katakan saja kalau kamu juga punya suami!" titahnya. Dia juga tidak ingin melihat Ayla terluka jika sampai mengakuinya sebagai suami saat keadaannya seperti ini.
Wajah Ayla nampak sumbringah, dia sangat setuju jika dia hanya harus mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki suami. Tapi satu kata yang dia herankan, kata 'juga' apa arti kata 'juga' itu?
Ah, sudahlah. Jangan di pikirkan sekarang!
Drtzz drtzz..
Kali ini ponsel Ayla yang berbunyi. Livina kembali menelponnya. Sungguh rasa keponya seseorang itu tidak bisa di prediksi. Buktinya Livina seperti sangat ingin tahu tentang kehidupannya. Begitu pikirnya.
Ingin marah pun ia tidak bisa, karena semua ini adalah kesalahannya. Dia yang lalai dan juga kurang hati-hati.
"Hallo, Liv!"
"Kamu tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada bahaya, 'kan disana?" tanya Livina. Terdengar nada suaranya seperti sedang khawatir.
"Aku baik-baik saja, Liv. Tenang saja!"
"Hah, syukurlah. Dua kali kamu mematikan ponselku. Aku takut terjadi sesuatu denganmu," ocehnya.
"Ay, kenapa kamu diam saja?" tanyanya lagi. Saat tidak ada suara apapun yang menjawabnya.
"Liv, aku..."
"Ada apa? Aku menganggumu, ya? Tadi ada pacarmu. Ah, maafkan aku, Ayla. Aku tidak bermaksud menganggu kalian."
"Tidak, Liv, tidak. Kamu tidak menggangguku," jawabnya cepat. Ada secercah keraguan dalam hatinya. Saat dia edarkan pandangannya, dia tidak melihat Brio ada disampingnya lagi. Entah kemana orang itu pergi Ayla tidak tahu.
"Ay, jika kamu sibuk aku bisa mematikan ponselnya. Dan kita bisa bicara lain kali," ucap Livina menyarankan.
"Tidak, Liv. Begini saja aku sudah tahu rahasiamu dan tidak adil jika kamu tidak mengetahui rahasiaku." Ayla sudah gemetar saat hanya mengatakan kalimat itu saja.
__ADS_1
"Ayla, tidak apa-apa jika kamu tidak mau bercerita padaku. Ayla, aku tahu semua orang mempunyai privacy-nya masing-masing. Jangan anggap beban saat kamu tahu rahasiaku!"
"Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak menganggapnya beban."
"Ayla, maafkan aku menjeratmu dalam masalah ini. Soal rahasiamu kamu bisa mengatakannya lain kali saat kamu sudah siap."
"Tidak apa-apa, Liv. Aku tidak keberatan tentang hal itu. Tapi, maafkan aku. Aku belum bisa bercerita padamu, bukan tidak mnganggapmu teman tapi seperti apa yang kamu bilang, hatiku belum siap."
"Kamu ini." Livina terkekeh sendiri mendengar suara ketidaksanggupan Ayla mengatakan rahasianya. "Soal itu jangan dipikirkan aku akan menjaga rahasiamu sebagaimana kamu juga menjaga rahasiaku," jelasnya.
"Terima kasih, Liv! Sudah mau mengerti keadaanku," balas Ayla.
"Kamu sedang telpon siapa?" Livina tersentak mendengar teguran Baleno. Dengan cepat jempolnya memutuskan panggilan itu.
"Aku, aku sedang berbincang bersama sahabatku," ucapnya seraya meletakan ponselnya.
"Oh," Baleno hanya bisa ber-ohh saja. Karena ia tahu tidak mungkin Livina menerima panggilan dari Avanza. "Tadi Ayah menelponku menanyakan kapan tanggal pengecekan kandunganmu?"
"Oh, iya. Dua hari lagi aku harus cek kandunganku. Memangnya kenapa?" tanya Livina sambil menetralkan rasa canggungnya itu.
"Tidak. Kamu saja sendiri yang kesana. Aku sedang sibuk," tolaknya langsung.
"Bukankah kamu memang selalu sibuk? Aku bisa meminta Om Ignis atau Tante Arena, kok. Buat antar aku," ketusnya.
"Ck, mengancam. Iya aku yang akan pergi bersamamu."
***
Dia sangat jarang berinteraksi dengan suaminya itu. Apalagi karena dirinya dan juga Brio yang bekerja. Waktunya amatlah sedikit baginya untuk berkomunikasi.
Saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi. Ayla memulai perbincangannya,
"Brio, stok makanan kita sudah habis ...." Belum selesai Ayla mengatakannya Brio sudah mengeluarkan dua lembar uang bergambar dua orang berpeci.
"Belilah!" Brio melanjutkan makannya lagi.
"Apa kamu ada waktu? Tolong antar aku!" Brio meliriknya.
"Apakah dia mau di antar menggunakan vespa butut?" pikirnya, "Bukankah dia saja kemarin tidak jadi memberitahu Livina kalau dirinya sudah punya suami?" imbuhnya lagi.
Ya, saat kemarin Brio tidak menghilang kemanapun. Dia ada dan mendengarkan Ayla. Ada setitik kekecewaan dalam dirinya saat Ayla memilih tidak mengatakannya. Beberapa detik yang lalu dia bersih keras ingin mengatakannya, beberapa detik kemudian ada keraguan dalam dirinya. Brio benar-benar tidak mengerti dengan pikiran wanita.
"Please, Brio! Antar aku ya!" pintanya dengan sangat.
"Baiklah..."
"Aaa, kamu memang laki-laki terbaik." Ayla langsung memeluknya dari samping.
"Hah, Begini 'kan Bu caranya menghibur suami?" batinya dari hati yang paling dalam.
"Setelah ini kita langsung berangkat, oke!" Brio pun hanya mengangguk cepat. Pelukan memang salah satu obat mujarab untuk mencairkan hati seseorang.
Kini mereka berdua sudah menunggangi kuda besi berwarna kuning itu. Berjalan keluar dari gapura kawasan tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Ayla memegangi pinggang Brio dari belakang. Tidak erat tapi Brio sangat bahagia. Dia tidak perlu lagi bermodus untuk di peluk istrinya.
"Ay, lagi khilaf?" candanya.
"Ish, memangnya tidak boleh kalau hanya pegangan seperti ini. Ya sudah!" Ayla menarik kembali tangannya. Melipatnya ditubuhnya sendiri.
"Ya boleh dong. Jangan ditarik!"
"Oh, ya, Brio. Kenapa kamu mendadak jadi pendiam dua hari ini?"
"Tidak, aku hanya sibuk akhir-akhir ini," kilahnya. Brio tidak ingin Ayla tahu kekecewaannya. Biarlah untuk masalah sekecil ini ia pendam sendiri dulu.
"Oh." Ayla pun mendekatinya dan mulai berpegangan lagi. Senyum manis pun terbit di antara keduanya. Brio segera melajukan motornya sedikit lebih kencang.
***
Di Apartemen Chanwell.
Karena dua hari sudah berlalu. Kini saatnya mereka pergi ke dokter kandungan. Baleno memang sangat malas jika harus bepergian bersama istrinya, akan tetapi dia tetap selalu mendampinginya karena perintah dari Ignis juga Arena.
Kedua orang tuanya itu selalu mencoba mendekatkannya dengan Livina. Bukan hanya karena hartanya saja tapi juga karena bayi yang dikandung Livina adalah cucu mereka.
"Sehabis pulang dari dokter kandungan aku ada urusan bersama March. Jangan lama-lama di dokter kandungannya!" titah Baleno sembari mengambil kunci mobil.
Tampak Livina yang diam saja. Dalam hatinya dia ingin sekali ke tempat belanja untuk membeli camilan. Tapi Baleno tidak mau mengantarnya. Nasib memiliki suami yang tidak perhatian.
Mereka sedang berhenti di lampu merah. Entah ada apa di depan sana, para pengendara yang searah dengan Baleno sudah menunggu sekitar 5 menit, namun lampu lalu lintas itu belum berganti menjadi kuning ataupun hijau.
Sekilas Baleno melihat motor yang tampak familiar bagi dirinya. Motor vespa butut berwarna kuning itu mengingatkannya pada Brio.
Dia tilik lebih jelas, orang yang mengendarainya adalah benar Brio. Akan tetapi yang menjadi persoalannya adalah seorang wanita yang ada di belakangnya.
"Siapa wanita itu?" gumam Baleno.
"Hah, wanita mana?" ucap Livina yang sedari tadi sibuk dengan Dorama Thailand.
"Itu yang menggunakan vespa kuning. Kamu melihatnya?" tunjuk Baleno.
Livina pun mengikuti arah tunjuk Baleno, dia pun sama dengannya menilik lebih jelas siapa penumpang vespa kuning di depannya.
Sementara Baleno buru-buru mengirimi March sebuah pesan.
Lampu merah berubah menjadi kuning dan langsung ke hijau.
Baleno segera mengikuti vespa kuning yang diyakini dikendarai oleh Brio tersebut.
CNP
Continue in my Next post.
...Sepintar pintarnya tupai melumpat pasti akan jatuh juga. ...
...Secerdik cerdiknya kancil berlari pasti akan teterkam harimau juga...
__ADS_1