
Mereka adalah mahasiswi jurusan jurnalistik apapun akan menjadi berita bagi mereka bertiga.
Sebuah foto Ayla yang sedang berlari dengan celana yang bersimbah darah, mereka posting di sebuah akun jejaring sosial media yang rata-rata pengikutnya adalah seluruh mahasiswa dan mahasiswi Universitas tersebut.
SEORANG MAHASISWI YANG SEDANG BERSIMBAH DARAH BERLARI KEARAH TOILET. KABARNYA MAHASISIWI TERSEBUT SUDAH DITINGGALKAN OLEH KEKASIHNYA DALAM KEADAAN HAMIL. DAN DIDUGA MAHASISWI TERSEBUT MEMINUM OBAT PENGGUGUR KANDUNGAN UNTUK MENYEMBUNYIKAN AIB-NYA TERSEBUT.
Mereka membuat takarir yang sangat monohok, kasar dan tentunya hoax hanya untuk foto Ayla. Memang foto itu tidak memperlihatkan langsung pada wajahnya, akan tetapi bisa dipastikan semua orang tahu bahwa itu adalah Ayla.
Dengan bantuan mahasiswa IT mereka membajak akun yang hanya digunakan oleh Staff di Universitas tersebut. Sungguh mereka bertiga adalah ratu dari segala ular didunia ini. Karenanya tidak ada yang berani berurusan dengan mereka atau akan berakhir seperti ini.
"Setelah itu apalagi?" tanya Agya.
"Aku benar-benar ingin menghancurkannya," ucap Avanza dengan seringai senyum iblis. "Agar aku tidak memiliki saingan yang melebihi diriku," tambahnya lagi.
Livina tersenyum sempurna, tentu ini adalah sebuah gerbang untuk Livina memanfaatkan Avanza.
"Bagaimana jika kamu meminta bantuan Baleno? Menurutku, dia hebat dalam segala hal. Dia bisa mewujudkan keinginan kita," sarannya. Dalam keadaannya yang masih membenci Baleno dia tidak akan mungkin meminta bantuannya. Tapi situasi kali ini mengharuskannya untuk meminta bantuan Baleno, untuk itu dia memanfaatkan sahabatnya sendiri.
"Benar.." Setuju Avanza sambil menjentikan jarinya.
***
Postingan tersebut sudah menyebar luas keseluruh mahasiswa dan mahasiswi termasuk kepada Brio. Tadi siang dia mendengar mahasiswa lain mengatainya gila. Dan sekarang dia membaca postingan yang mengatakan Ayla sedang menggugurkan kandungan.
Sebenarnya, ada apa dengan Ayla? Kenapa banyak sekali orang yang tidak menyukainya? Dan siapa mereka semua? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya ada dalam benaknya. Yang terpenting saat ini adalah keadaan Ayla.
Dari jauh Brio langsung melajukan vespa kuningnya. Vespa yang selalu menemaninya untuk satu tahun terakhir ini. Bisa disebut vespa itu adalah teman dalam setiap perjalanannya.
Kini dia sudah berada didepan kontrakan petak pilihan Ayla itu. Dia hela nafasnya sebelum masuk kedalam. Saat masuk kedalam, terdengar suara air sedang menyala dikamar mandi yang berukuran hanya 180x120cm itu, ada seseorang yang sedang menggunakannya. Siapa lagi kalau bukan Ayla, karena pada saat ini Brio sedang berada di luar.
Awalnya sedikit khawatir tapi setelah mendengar suara pakaian yang sedang disikat, pikirannya pun sedikit menjadi tenang.
Brio segera menuju kamarnya, mencari ponsel Ayla dan menyembunyikannya ditempat yang sekiranya tidak bisa ditemukan Ayla. Entah kenapa Brio tidak ingin Ayla membaca postingan yang menjelekkan dirinya.
"Heaaah!" desah Ayla. "Bagaimana aku mencucinya? Direndam sudah, disikat sudah. Apa aku harus menaburkan semua detergen itu agar bau anyirnya hilang?" Ayla mengeluh. Sudah lelah menjalani hari, ada lagi yang mengejainya, dan sekarang dia harus mencuci. Terlebih mencuci dengan cara manual, sesuatu yang baru kali ini lagi Ayla lakukan.
"Apa aku harus membuangnya?" tanya pada diri sendiri. "Ya sudah, terserah padamu celana! Aku akan merendammu lagi tapi jika masih ada baunya maka aku harus me-lem biru kamu. Melempar dan membeli yang baru. Ingat itu!" ancamnya pada benda mati.
__ADS_1
Kreeet, Ayla membuka pintunya.
"Brio!" ucapnya sedikit terkejut.
"Ay," sahutnya sambil tersenyum kaku. Namun pada saat melihat pakaian Ayla yang basah, tiba-tiba saja dia bertanya, "Kamu sedang apa disana? Mandi?"
"Haha.." Ayla hanya menjawabnya dengan sebuah tawa.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Kamu kira aku akan mandi dengan masih menggunakan pakaianku? Aku sedang mencuci."
"Oh..!"
Sebenarnya Brio tahu Ayla sedang mencuci, Brio tahu keluhan Ayla pada celananya, Brio mendengarnya tapi dia memilih berpura-pura tidak tahu demi kebaikan Ayla.
"Kamu sudah makan?" tanya Ayla. Dia lupa dengan perkataannya siang tadi yang mengatakan tidak akan memasakan sesuatu untuk Brio.
Perasaannya masih digeluti dengan rasa malu, kesal, marah dan rasa penasaran tentang siapa yang tega melakukan hal itu padanya. Meski dalam hatinya dia sudah mencurigai Squad CTM tapi dia tidak memiliki bukti nyata yang mengatakan kebenarannya. Dia tidak bisa begitu saja memfitnah orang. Bahaya nanti jika dia memfitnah mereka tanpa bukti. Karena kini dia tidak memiliki benteng untuknya berlindung. Jimny, sudah bukan bagian dari hidupnya.
"Belum," sahutnya cepat.
"Maaf, uangku hanya cukup untuk membeli ini. Ini saja beruntung pendagang sayurnya memberikan stock terakhirnya. Tapi, tenang saja ini masih fresh, kok."
"Iya," Brio mencicipi makanan itu. Makanan yang jarang sekali dilihatnya saat dirinya berada dirumah.
"Bumbu makanan ini.." ucapnya sambil mencoba menebak.
"Bumbu makanan ini sederhana," potong Ayla langsung. "Aku hanya menggunakan bawang merah dan garam untuk tempe dan tahu. Kalau sayur bening ini aku hanya menggunakan garam, gula dan bawang merah."
"Sesederhana itu? Memang enak sih, walaupun tidak selezat buatan Chef dirumah, tapi setidaknya aku bisa memakannya," ucapnya tanpa sadar.
Ayla menatap heran kearahnya. "Chef?" ucapnya.
"Iy..ya! Chef, ibuku.." ucapnya terbata.
"Oh, memang masakan ibu itu masakan yang paling terenak didunia."
__ADS_1
Acara makan sudah selesai mereka lakukan. Kini keduanya sedang berada dikamar. Brio sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Ayla melentangkan tubuhnya dikasur menatap langit-langit kontrakan. Pikirannya kembali pada masalah yang menimpanya.
Oh ya, dimana ponselnya?
Dia segera bangkit dan mencarinya kesana kemari. Akan tetapi dia tidak menemukannya. Hanya satu cara untuk menemukannya, meminjam ponsel Brio.
Brio yang sibuk dengan tugasnya menjadi lupa dengan postingan yang menjelekan Ayla. Dia memberikan ponsel tersebut.
Ponsel Brio sudah berada ditangan Ayla. Saat jempol kanannya hendak menekan menu telepon tangan kirinya lebih dulu menekan tombol multitasking dan terlihatlah postingan yang sedang memfitnah dirinya.
Seketika saja ponsel tersebut jatuh keatas permadani yang kemarin lusa dibelinya itu..
Brugh
Sontak Brio kembali tersadar dengan kekhawatiran yang sesaat tadi dia lupakan.
"Ay!" Nampak Ayla yang masih tercengang dengan kiriman dari akun Universitasnya itu.
"Ay!" Brio menghampirinya.
Air mata Ayla sudah berlinang, lalu dia tadahkan wajahnya keatas, dia kerjapkan beberapa kali matanya itu, agar air matanya tidak keluar.
"Aku tau ponselku pasti disembunyikan olehmu. Tolong kembalikan!" pinta Ayla dengan nada dingin.
"Tidak!" Kepala Brio menggeleng-geleng.
"Berikan! Aku tidak apa-apa, Brio." Dia mencoba menutup matanya, dan mengangkat sudut bibirnya. "Lihat, aku sudah bisa tersenyum, bukan? Tolong berikan padaku!" pinta Ayla lagi kali ini dengan nada yang ramah.
Brio segera mengambil ponsel milik Ayla yang tadi disembunyikannya. Rencananya gagal total karena kecerobohannya sendiri.
"Ayla, aku yakin kamu tidak seperti apa yang mereka bilang. Dan aku yakin kamu tidak akan melakukan hal apapun yang merugikan dirimu sendiri. Sebagai teman aku percaya, kamu harus kuat!" ucapnya penuh keharuan biruan.
Inilah yang Ayla butuhkan, kepercayaan dari orang terdekatnya. Sebuah senyum mulai terbit diwajahnya. Dia cubit lengan Brio yang sedari tadi terulur memberikan ponsel.
"Lebay kamu." Ayla sambil tertawa mengucapkannya. Sungguh raut wajah Brio sangat lucu sekali saat mengatakan hal yang serius tadi.
CNP
__ADS_1
Continue in my Next Post
Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dsn jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!