
Ayla tampak cemas menunggu hasil pemerikasaan dari dokter. Dia takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada Livina. Terlebih lagi saat melihat darahnya. Ahh, rasanya dia yang lebih lemas daripada Livina sendiri.
Dia bangkit dari duduknya, melihat lagi ke jendela, Livina masih di periksa oleh dokter. Dia duduk lagi dengan gusar, karena merasa pemerikasaanya cukup lama. Apakah ada yang hal serius?
Entahlah, saat ini hanya dokter dan Tuhan yang tahu.
Brio menggenggam tangan Ayla lalu sedikit meremasnya, menyadarkan Ayla.
"Ayla.." lirihnya.
"Brio, aku takut."
"Tidak, dia tidak akan kenapa-napa. Kamu sudah menghubungi keluarganya?"
"Belum, aku tidak tahu."
"Lho, lalu ...."
Belum selesai Brio dengan ucapannya, Ayla langsung menghampiri Dokter yang memeriksa Livina. Yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?"
"Setelah di periksa, ibu dan kandungannya tidak apa-apa. Mungkin karena shock jadi terjadi pendarahan. Tidak perlu khawatir lagi, Mbak. Hanya saja tolong di jaga temannya untuk tidak mengangkat beban berat, berjalan jauh, dan hindari aktifitas yang berbahaya lainnya," saran sang Dokter.
"Hah.." Ayla bernafas lega. "Syukurlah, dok!" ucapnya kemudian. "Boleh saya masuk?"
"Iya, ya. Silahkan..." Ayla dan Brio pun segera masuk. Namun, saat hendak melangkahkan kakinya, Brio mendapat telpon dari Yaris yang memintanya untuk segera ke kantor Ayahnya.
"Ayla... Aku harus pergi sebentar, ada urusan yang lebih penting. Nanti malam aku akan menjemputmu," pamit Brio dan Ayla pun mengiyakannya.
Saat masuk, Ayla melihat Livina yang dalam keadaan termenung. Wajar saja dia begitu, Ayla pun juga akan sama jika mengalami masalah yang sama.
"Livina..." lirihnya menyadarkan Livina dri lamunan.
"Ayla..." lirih Livina. Dia mencoba untuk membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk.
"Liv, jangan duduk dulu! Tiduran saja. Kata Dokter kamu tidak apa-apa, tidak perlu cemas juga. Janinmu aman. Dan jangan melakukan hal-hal yang berat dulu, ya!"
"Iya, terima kasih, Ayla! Hanya kamu orang yang bisa aku percayai sekarang," lirihnya lagi.
"Hmm," Ayla tersenyum simpul. "Apa kamu sudah memberi kabar pada kedua orang tuamu? Maaf aku bertanya tentang ini."
"Sudah, Ayla. Aku sudah memberitahu mereka dan mereka dalam perjalanan kesini." Ayla melihat bibir Livina yang pias dan wajahnya yang pucat. Hatinya seketika menjadi tersentuh dan ingin melakukan lebih
"Apa kamu haus?" Livina pun mengangguk dan Ayla langsung memberikannya minum.
"Mm, Liv. Mengapa kamu bisa seperti ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Livina...." teriak sang Mamihnya, Terra. Dan ia langsung memeluk putrinya itu.
"Mamih? Papih?"
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Tampak Terra mengelus pelan rambut putrinya itu.
"Tidak, Mih. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," lirihnya.
"Dimana Baleno?" tanya Papinya, Juke, dengan nada marah. Memang dalam keluarganya Papihnya lah yang paling keras.
Ayla yang mendengarnya menjadi heran.
Baleno? Ada apa dengan Baleno? Bukankah dia kekasih Avanza? Kenapa disebut, hatinya membatin.
"Pih, tenang dulu! Anak kita baru saja terkena musibah. Kamu langsung menanyakan suaminya," sungut Terra.
Mulut Ayla menganga tidak percaya. Suami? Jadi ternyata Livina sudah menikah? Sungguh baru kali ini dia mendengarnya. Dan yang paling mengejutkannya adalah Baleno kekasih Avanza, suami Livina. Akan tetapi, sebisa mungkin dia sembunyikan raut keterkejutannya itu.
"Huh, anak itu memang tidak ada tanggung jawabnya!" sungut Juke kesal. Sedangkan Terra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, ini siapa, Sayang?" tanya Terra sambil melirik Ayla.
"Oh, ini Ayla, Mih, Pih. Dia temanku juga orang yang membantuku ke rumah sakit."
"Oh, terima kasih, Ayla. Sudah mau membantu anak saya."
Juke nampak keluar dengan tangan yang sibuk memainkan ponsel, sesekali pria paruh baya itu menempelkan ponselnya ke telinga. Mungkin dia sibuk menghubungi seseorang. Livina nampak bercengkrama dengan ibunya. Melihat itu Ayla pun jadi teringat dengan keluarganya di kampung.
Lima belas menit berlalu, meski ia pun sering diajak bicara oleh Terra, namun tetap saja rasa canggung menyelimutinya.
Akhirnya, Ayla meminta izin untuk pamit pulang. Tapi Livina mencegahnya.
"Tunggu dulu sebentar, Ayla." Terra yang mengerti dengan kode mata yang diberikan oleh Livina pun memilih pulang.
"Mamih pulang dulu ya, Sayang, Ayla," pamitnya.
"Ayla," lirihnya saat Sang Ibu sudah pergi.
"Pasti kamu kaget saat mendengar nama Baleno dan juga kata suami dari Papihku." Ayla pun tersenyum kikuk dan mengangguk.
"Sebenarnya ...." Livina tanpa canggung lagi menceritakan kisah dan rahasianya. Dia sekarang sangat yakin kalau Ayla adalah orang baik dan bisa di percaya.
"Dan aku terjatuh karena Avanza mendorongku. Aku tidak marah padanya, karena memang pasti sakit melihat pacar sendiri sudah menikah dengan sahabatnya sendiri. Tapi, disisi lain aku berjuang demi anakku. Jika aku mengalah karena persahabatan, anakku tidak akan memiliki Ayah kandungnya. Jika aku berjuang, aku akan bermusuhan dengannya. Posisiku sangat tidak menguntungkan." Terlihat Air mata menggenang di bibir matanya.
"Tapi, aku memilih berjuang dan bermusuhan saja dengannya, lagi pula setelah anak ini lahir aku berniat untu cerai dengannya. Dia menikahiku hanya karena harta kakek saja. Bukan karena kami." Livina menyeka air matanya itu.
Ayla merasa sakit mendengarnya, sebagai seorang perempuan dia pun dilema jika hal itu terjadi padanya. Ternyata, dibalik Livina yang jahat padanya ada kesedihan mendalam dalam hidupnya. Ayla pun merasa simpatik kepadanya.
__ADS_1
"Liv, Tuhan memberikanmu ujian karena Tuhan percaya kamu bisa melewatinya. Aku juga yakin kesedihanmu akan segera berakhir."
"Terima kasih, Ayla. Sudah mau mendengarkan dan memahami keadaanku. Oh, ya. Aku dengar kamu dan Brio ...."
"Iya, kami sudah menikah. Awalnya dari kesalahpahaman. Dia dibuat mabuk oleh March dan Baleno. Dan kebetulan kami satu apartemen, dia masuk ke kamarku yang tidak aku kunci. Orang tuaku datang dan melihat kejadian itu. Jadi, kami menikah di hari esoknya."
"Apa sekarang kalian sudah saling jatuh cinta?"
"Iya, aku sangat mencintainya. Dia tidak tampan, dia juga tidak kaya, tapi dia baik dan selalu ada," ucap Ayla mantap.
Livina tersenyum mendengarnya, turut bahagia karena salah satu temannya sudah menemukan kebahagiaan. Tapi,
"Ayla, apa kehidupanku juga akan sama bahagia?"
"Hm.." Ayla mengangkat alisnya, "Kalau itu, aku tidak tahu, Liv. Aku tidak bisa mengatakan iya atau tidak," ucapnya sedikit tidak enak hati. "Tapi jangan berkecil hati, semua orang punya takaran kesedihan dan kebahagian yang sama rata, kok," hiburnya, padahal dia sama sekali tidak tahu apa yang dia bicarakan.
"Benarkah?"
"Iya, jika Baleno tidak baik untukmu suatu saat kamu akan menemukan yang baik atau Tuhan akan membuatnya lebih baik. Percaya saja!" tambahnya lagi.
"Hmm, Ayla semenjak aku berkenalan denganmu aku merasa hidupku lebih berharga. Terima kasih, Ayla. Mm, maukah kamu jadi temanku? Aku sangat bahagia jika kamu mau."
"Liv, pada dasarnya bukankah kita teman?"
"Hehe, iya. Aku malu padamu, kamu selalu baik padaku."
"Hais, sudahlah jangan diingat-ingat lagi..." Mereka pun tertawa bersama.
Sedangkan di lain tempat namun dalam naungan langit dan udara yang sama.
Baleno terus meminta maaf pada Avanza. Dia terus berada di depan gerbang rumahnya dan terus mencoba menghubungi Avanza. Tapi sayang Avanza mematikan ponselnya dan menyuruh pak satpam untuk tidak memberinya masuk.
"Ini semua gara-gara kamu, Livina!" teriaknya di dalam mobil. "Aku tidak akan membuatmu bahagia meski itu sedetikpun. Aku akan membuatmu menderita semenderita Avanza hari ini. Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku. Lihat saja!" janjinya pada dirinya sendiri.
Dia sangat mencintai Avanza, tapi juga dilema karna harta. Jika dia tidak bisa merebut harta itu maka dia akan bernasib sama dengan Jimny.
Huh, membayangkannya saja serasa dia tidak akan sanggup apalagi sampai dirinya menjalaninya. Tidak! Intinya dia harus dapatkan keduanya. Harta dan Avanza.
"Semoga kamu tidak mem-blokku, Sayang. Aku harus berbicara padamu. Aku harus jelaskan." Baleno pun segera men-chatnya dengan harapan dibaca oleh Avanza.
CNP
Continue in my Next Post.
Jangan lupa dukungannya!
Like, komentar, share, FAVORIT, HADIAH, VOTE dan tentunya rate5 oke..
__ADS_1
Biar popularitasnya naik, pembacanya banyak, hati Authornya senang😂😂