The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Curhat Sampai Kecup


__ADS_3

Ayla dan Levante sudah berada di tangga dekat pohon tempat biasa anak-anak berkumpul. Leva menarik Ayla agar tidak menangis di kelas. Leva sangat tahu, Leva sangat mafhum semua teman-teman wanitanya yang lain kurang menyukai Ayla.


Bahkan pernah suatu hari, Leva dimarahi teman-temannya karena berteman dengan Ayla.


Entahlah dosa apa yang Ayla lakukan sampai mereka begitu membenci Ayla.


Mungkin karena Ayla yang pintar dikelasnya, populer di luar kelas, dan banyak disukai laki-laki tampan. Jadilah mereka membenci Ayla.


Toh, semakin banyak orang yang menyukai maka semakin banyak pula orang yang membenci, bukan?


"Katakan padaku kamu kenapa?"


Ayla tidak menjawabnya dia masih ingin menangis. Ada sedikit keraguan dalam dirinya untuk bercerita kepada Leva. Bisakah Leva menjadi pendengar yang setia? Karena banyak orang yang bisa menjadi teman tapi belum tentu bisa menjadi pendengar di kala susah.


"Ayla, percaya padaku, ceritakanlah! Aku hanya ingin meringankan bebanmu, kurasa dengan bercerita babanmu akan sedikit lebih ringan," ucapnya seakan tahu ketakutan Ayla.


Tidak ada cara lain selain mencobanya, lagi pula saran Levante ada benarnya juga.


"Aku memberikan coklat dan puisi untuk Avanza, titipan dari pacarku.." ungkapnya saat dia sudah berhasil menghentikan air matanya.


"Apa? Pacar? Jimny?" tanyanya bertubi-tubi.


"Bukan!"


"Lalu siapa? Kamu punya pacar, kenapa tidak memberitahuku?"


"Dia adalah laki-laki pilihan Bapakku, dia diminta untuk menjagaku selama aku disini. Orangtuaku memintanya untuk menjadikan aku sebagai kekasihnya. Katanya supaya dia menjagaku dengan sungguh-sungguh. Dan dia menurut saja. Meskipun, tidak ada cinta di antara kami. Dan sekarang dia sedang mengejar Avanza. Tapi hatiku merasa sakit, kenapa, ya?"


"Itu artinya kamu sudah mencintainya."


"Tidak mungkin.."


"Perasaan itu hadir tanpa diundang dan hilang tanpa diusir, Ayla."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan? Sungguh, Leva. Aku tidak kuat melihatnya, seakan berton-ton batu menimpaku begitu saja. Sesak, sakit, dan perih di waktu yang sama."


"Ayla, kenapa tidak nyatakan saja kalau kamu mencintainya? Lagi pula Bapakmu merestuinya, 'kan?"


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak ingin disebut wanita murahan karena menyatakan cinta lebih dulu."


"Pentingkah hal itu? Turunkan egomulah sedikit."


"Kami hanya pura-pura pacaran, Leva. Memang dari awalnya juga aku dan dia tidak saling mencintai," Ayla menjeda kalimatnya, "Tapi pada saat dia selalu ada untukku, entah kenapa aku terbawa suasana. Kamu tahu tentang Jimny yang hampir saja melecehkan aku? Dia yang menolongku. Rasanya nyaman saat bersama dengannya."


"Ayla, jika kamu terus menyimpan perasaanmu seperti ini, yang ada kamu yang akan terus tersakiti. Kalau kamu tidak bisa menyatakannya bagaimana jika kamu mulai memperhatikannya misalnya dengan mengantarkan makanan..."


"Sudah hampir setiap hari aku memasak makanan untuknya," batin Ayla.


"Membantu dia.." lanjut Levante.


"Ini aku sedang membantunya, tapi membantunya dekat dengan wanita yang dicintainya," gerutu batinnya lagi.

__ADS_1


"Selalu mencoba untuk berada didekatnya.."


"Hais, kalau dia tahu jarak tidur kami pun hanya 5 langkah, dia mau bilang apa, ya?" batinnya lagi yang menjawab.


"Cobalah lakukan apa yang aku sarankan! Aku rasa lambat laun dia akan menerimamu dan menyadari cintamu," sarannya.


Ayla tersenyum kecut sekecut cuka.


"Aku tidak yakin kalau aku bisa mengalahkan Avanza."


"Kenapa tidak mencobanya dulu?"


"Kalau masih tidak bisa?" sahutnya langsung.


"Cuma ada dua cara, nyatakan atau berbuat yang lebih agresif sedikit."


Ayla menyernyitkan alisnya, saran yang diberikan Levante membuatnya tercengang. Apa yang dia bilang lebih agresif sedikit? Maksudnya? Tidak akan. Ayla tidak akan melakukan hal yang akan dia sesali dikemudian hari. Tidak!


"Ma ma maksudmu?" Ayla menjadi gagap seketika. Sedangkan, tangannya menyilang kedadanya.


"Hahaha.." Sikap Ayla mengundang tawa Levante. Benarkah Ayla ini sering berpacaran? Mengapa dia begitu kaget dengan perkataannya?


"Maksudku, lepaskan tanganmu aku tidak menyarankanmu memberikan sesuatu yang berharga," ucapnya masih diselingi tawa renyahnya.


"Jadi, apa maksudmu?"


"Beri dia kecupan."


"Ketcup, saus tomat?" tanyanya polos. Memang jika seseorang sedang diserang panik, takut, dan stres perkataan yang diluar nalar pun pasti akan di ucapkannya.


"Iya, Merek saus tomat!"


Levante langsung mencari di nyai serba bisanya, nyai google. Jujur dia tidak mengerti dengan yang Ayla katakan. Saus sambal?


"Jadi, maksudmu aku harus memberikannya saus tomat? Leva, setahuku dia tidak terlalu menyukai saus. Mana bisa aku memberinya saus tomat, yang ada aku pasti dimarahinya, dan dia pasti menjauh dariku," cerocos Ayla tapi tidak didengarkan oleh Levante.


"Jadi, maksudmu ini.." ujarnya sambil memperlihatkan hasil pencariannya di google.


"Iya."


"Maksudku bukan yang ini. Maksudku adalah kamu memberikannya ciuman, kiss tapi yang singkat. Seperti ini.." Levante menunjukan tangannya.


"Bayangkan tangan ini adalah pipinya atau keningnya, dan lakukan seperti ini, muach." Leva menciumnya dengan singkat, "Seperti itu.."


Ayla tersenyum malu. Jadi, dia sudah salah sangka? Ahh, kenapa dia begitu bodoh? Sampai hal seperti ini saja dia tidak mengerti.


"Hehe.. Maaf, aku menuduhmu yang tidak-tidak."


"Tapi, Leva. Aku rasa cara itu sangat..."


"Ekstrem. Ya, memang! Aku juga merasa begitu. Itu saran terbodohku." Leva terkekeh sendiri dengan kelakuannya. "Jangan lakukan! Maaf, aku terlalu sering menonton drama-drama. Tapi satu hal yang harus kamu percayai, cinta akan hadir disaat yang tepat dan pada orang yang tepat."

__ADS_1


"Benar. Terima kasih, sekarang aku sudah lega sekali!"


Setelah selesai bercerita Ayla dan Levante memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Tapi sebelum mereka sampai ke kelas, mereka berdua melihat Livina dengan wajah yang pucat berjalan sempoyongan dari arah toilet.


Sejenak mereka berdua memperhatikan Livina dengan lekat. Dalam masing-masing hatinya berbisik, "Ada apa dengan Livina?"


Tapi sebelum mereka bertanya pada satu sama lain, Livina sudah ambruk pingsan terkapar dilantai. Tanpa memikirkan kejadian-kejadian masalalu yang sudah menimpanya, Ayla langsung menghambur lari kearahnya.


"Livina.. Livina.. "


Ayla segera meminta seseorang untuk membawanya ke poliklinik terdekat dari kampusnya.


Kejahatan yang pernah dia lakukan memang sangat sulit untuk dimaafkan. Akan tetapi, saat ini dirinya sangat membutuhkan pertolongan. Ayla tidak akan tega membiarkannya terkapar begitu saja. Dan lagi pula jika dia membalas kejahatan disaat lawannya sedang lemah itu adalah tindakan seorang pengecut sejati, bukan?


Tujuan yang awalnya ke kelas berubah menjadi ke poliklinik. Kini mereka berdua menunggu Livina sadar dari pingsannya. Memberitahu squad CTM? Huh, Ayla dan Leva tidak tahu nomornya. Menghubunginya dengan ponsel Livina? Mereka takut dituduh yang tidak-tidak.


Jadilah, mereka menunggunya sadar.


Lima belas menit berlalu, perlahan Livina mulai mengerjapkan matanya. Dia sudah sadar. Tapi saat matanya sudah terbuka sempurna, Livina terkejut dengan dua manusia yang ada dihadapannya.


"Leva, Ayla.."


"Ya, kami," sahut Ayla.


"Aku kenapa?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kamu kenapa? Dokter bilang kamu kelelahan, tapi aku rasa kegiatan kuliah kita biasa-biasa saja," ketus Leva. Memang sedari awal Leva sangat malas jika berurusan dengan CTM. Bagi Leva CTM adalah makhluk pisang, memiliki jantung tapi tidak punya hati.


"Kelelahan?"


"Aku rasa aku tidak pernah lelah..." batin Livina.


"Iya, kamu kelelahan katanya. Mm, begini, Liv. Karena kamu sudah siuman aku dan Leva akan pergi."


"O, terima kasih!"


"Ya.."


"Dia aneh sekali seperti sedang menyembunyikan sesuatu," batin Levante.


CNP


Continue in my Next Post


Mohon untuk dukungannya selalu.


Komentarmu, like, vote bunga atau lainnya, share, dan rate5 adalah dukungan yang saya butuhkan.


Tolong favoritkan untuk tau kabar selanjutnya.


Terima kasih!

__ADS_1


Salam sehat.


Jngan lupa patuhi 5M dan upgrade NT/MT-nya


__ADS_2