
Pagi yang tenang bukan berarti menandakan hari yang tidak suram. Seperti halnya hari ini Livina kembali di buat kesal oleh Baleno. Ban mobil yang biasa dia kendarai, di buat kempes oleh Baleno. Entah ada apa dengan pikirannya, Livina tidak bisa menebaknya lagi.
Akhirnya dia memesan taksi online melalui aplikasi yang baru saja dia unduh.
Baru saja dia sampai di kampusnya, ia melihat pemandangan yang sangat membuatnya mual seketika. Seorang Baleno yang terkenal keren dan gagahnya terus mengejar-ngejar Avanza.
Dia putar bola mata menatapnya jengah. Jika ditanya, adakah laki-laki bodoh? Livina pasti akan menjawab ada dan Baleno lah orangnya.
Untung kabar pernikahannya tidak semenyebar berita pernikahan Ayla dan Brio. Jika saja dia mengalami apa yang Ayla alami, mungkin dia tak sanggup untuk ke kampus lagi.
"Lihatlah! Suamimu sendiri yang mengejarku. Jangan sedih jika pernikahanmu hancur! Dan jangan menuduhku sebagai orang ketiganya," kecam Avanza tepat di telinga Livina.
Dada Livina berkecamuk mendengar Avanza berbicara. Dia pun tak ingin kalah, dia bisikan sesuatu di telinga Avanza,
"Kamu masih belum menyadari kalau kamu adalah duri di hubungan kami? Dengar, Avanza! Kami sudah di jodohkan sebelum kamu bertemu dengannya. Jangan so suci, aku tahu semua kartu as-mu!" Livina pergi dengan berbangga hati. Hal yang tak pernah bisa dia katakan sebelumnya, kini terlepas begitu saja dengan gampangnya.
Avanza menghentakan kakinya kesal. Livina yang selama ini dia kenal selalu diam jika dia mengatakan sesuatu yang pedas tapi kali ini malah melawannya.
"Lihat saja jika aku sudah bisa membuat Brian bertunangan denganku. Akan aku hancurkan kamu beserta keluargamu, Liv. Tunggu hal itu!" gumamnya.
"Sayang!" seru Baleno yang berada di belakangnya. Avanza pun segera pergi darinya.
"Sayang, tunggu dulu!" Baleno langsung menarik lengan Avanza dan membawanya pergi dari sana.
Setelah mendapatkan tempat yang lumayan sepi, Baleno pun segera mengenggam kedua tangan Avanza.
"Lepas!" Ronta Avanza.
"Tunggu, biarkan aku bicara dulu!" ucap Baleno sambil menatap matanya, "Sayang, aku terpaksa menikahi Livina," imbuhnya lagi.
"Bal, apapun itu aku tidak mau mendengar penjelasanmu lagi. Sudah, Bal. Aku tidak suka dengan laki-laki sepertimu."
"Tapi, aku hanya mencintai kamu, Avanza. Ya, aku akui aku memang sudah menikah dengan Livina, tapi tidak ada cinta di antara kami. Aku hanya korban."
"Korban? Korban apa? Livina yang hamil, Livina lah yang korban!" ucap Avanza sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Vanz, Sayang. Livina itu yang menggodaku, Livina juga yang memaksaku untuk bertanggung jawab."
"Tidak mungkin Livina menggodamu, Bal. Dia tidak mencintaimu dia mencintai Jimny."
"Sayang, kamu masih percaya dengan perkataannya? Jimny pergi, dan dia tidak bisa mendapatkannya lalu dia menargetkan aku."
"Apa benar begitu? Huh, laki-laki sepertinya tidak lagi dapat dipercaya," oceh Avanza dalam hati.
__ADS_1
"Oh, ya?" ucapnya sembari mendengus kesal.
"Sayang, aku terpaksa. Aku diancam olehnya dan jika aku tidak menikahinya, Ayahku akan mengirimku ke India sama seperti Jimny. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin terus bersamamu," ucapnya seraya mengelus pelan pipi Avanza dan Avanza menepisnya.
"Dengar, semua ini juga terjadi karenamu. Jika saja kamu mau membantuku mendapatkan tender itu, aku tidak akan menikahinya..."
"Oh, jadi kamu menyalahkanku?" sungut Avanza menyahutinya.
"Tidak, Sayang! Tolong, jangan marah padaku! Aku lakukan ini semua demi terus bersamamu. Ya, kembalilah padaku lagi, oke..." pinta Baleno dengan sungguh-sungguh.
"Aku janji apapun yang kamu inginkan akan aku berikan. Tapi tolong teruslah bersamaku, karena aku hanya mencintaimu," tambahnya.
"Sebelum aku mendapatkan Brio, aku bisa memanfaatkannya dulu. Sayang, jika dia tidak di manfaatkan," ucap Avanza dalam hati.
"Baiklah, aku beri waktu satu bulan untuk kamu bercerai dengan dia," ucap Avanza.
"Sayang, sebulan? Itu tidak cukup."
"Terserah. Atau kita benar-benar putus untuk selamanya," ancamnya pasti.
Baleno pun menghembus nafasnya kasar. "Baiklah..." lirihnya. Baleno menarik Avanza ke dalam pelukannya, seraya berbisik, "Aku akan membuktikan bahwa aku hanya mencintaimu."
"Aku harus cari cara supaya harta itu datang padaku. Dan dengan begitu posisiku dirumah akan aman. Selanjutnya aku akan menikah dengan gadis pujaanku ini," batin Baleno.
Dirumah besar milik Accord, disanalah dua anak beserta kedua menantunya tinggal. Bukan mereka tidak memiliki rumah, melainkan Accord yang ingin kedua anak dan menantunya hidup rukun. Selain itu dia juga ingin ditemani di sisa-sisa akhir hidupnya.
Akan tetapi sang pemilik rumah sendiri sedang tidak ada disana. Ia sedang berada di kampung halamannya, di kota yang pernah menjadi pusat lalu lintas perekonomian pada pemerintahan Belanda, karena letaknya yang strategis dan juga kota yang menjadi tempat salah satu situs warisan di dunia. Dia berada disana untuk mengenang masa lalunya bersama sang istri.
Hari ini Serena sengaja mengundang Avanza untuk main ke rumahnya. Dia ingin segera mempertemukan Avanza dengan City.
"Kamu harus bersikap anggun didepan City dan juga Jazz," ucap Serena memberitahu.
"Iya, Tante."
"Dia tidak menyukai orang yang mempunyai niat buruk terhadap dirinya dan juga keluarganya."
"Aku sama sekali tidak akan berbuat buruk pada mereka," kilah Avanza.
"Hum, gadis ini. Dia kira aku tidak tahu apa?" batin Serena kesal.
"Mbak Rena!" seru City yang baru saja tiba, namun kedatangannya tidak bersama sang suami.
"City.. Kamu sudah datang? Di mana Jazz?"
__ADS_1
"Suamiku masih di jalan. Dia bilang ada yang harus dia selesaikan dulu."
"Oh. Lain kali suruh suamimu untuk tidak terlalu sibuk. Kasihan dia, takut stres."
"Aku juga sudah sering bilang, Mbak. Tapi ya, begitu tidak pernah di dengar."
Avanza hanya diam saja tanpa berniat menyalami atau apapun itu. Dia malah bosan sendiri saat dirinya di anggurkan seperti ini.
"Oh, Mbak. Ini calon menantumu?" tanya City sambil menghampirinya lalu Avanza langsung memasang muka manis dan menyalaminya.
"Bukan!" tolak Rena langsung. "Ini gadis cantik yang ingin aku kenalkan padamu," tambahnya lagi.
"Oh, siapa namanya? Cantik sekali, Mbak."
"Avanza, Tante."
Setelah berkenalan dan sedikit berbincang. Ada rasa kagum dalam diri City terhadap Avanza. Baik itu karena segudang prestasinya, sikapnya yang manis dan ramah, juga tentang dirinya yang sering melakukan kegiatan sosial dan bersedekah.
"Wah, Tante kagum sama kamu, Avanza. Orang tuamu berhasil mendidikmu. Ah, Tante juga kalah sama kedua orang tuamu. Tante mana bisa mendidik Brian. Dia itu nakal," ucap City seraya tertawa lepas. Dia sangat bahagia karena kepulangannya saat ini mendapat teman ngobrol yang satu frekuensi dengannya.
"Boleh juga dia berpura-pura. Kedepannya aku harus berhati-hati dengan gadis ini," batin Rena lain dengan City.
"Tidak, Tante. Tante sudah baik mendidik, Brian. Dia sosok laki-laki yang baik. Aku pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu dia menolongku karena mobilku mogok. Jika saja tidak ada dia mungkin aku tidak bisa pulang cepat saat itu," paparnya.
"Apa? Pernah bertemu dengan Brian? Mobilnya mogok?" batin City bertanya-tanya. Pikirannya kembali memutar ingatan beberapa tahun yang lalu sebelum Brian memintanya untuk menyekolahkannya di Universitas milik Ayah mertuanya. Dia juga ingat, Brian pernah bercerita bahwa dia mencintai gadis yang di tolongnya saat mobil gadis itu mogok.
"Nak, kamu kuliah di Universitas ***"
"Iya, Tante," jawab Avanza antusias.
"Jadi, gadis ini... Gadis ini yang membuat Brian mau merubah identitasnya? Gadis yang di cintai putraku ada di hadapanku. Pantas Brian ingin mengejarnya dia gadis yang sempurna," batin City lebih bahagia dari sebelumnya.
"Aku harus mempertemukan mereka segera. Aku tidak sabar melihat ekspresinya saat gadis uang di cintainya ada disini," bisik City lagi.
CNP
Continue in my Next Post.
Entah dua bab atau se bab lagi..
Kejutan akan datang.
Dukung teruss, biar author semangat. 😊
__ADS_1