
Pagi-pagi Ayla bangun. Tetapi, ia tidak mendapatkan Brio disampingnya. Dia raba-raba kasurnya, tetap sama tidak menemukannya. Bahkan kasur itu tidak hangat lagi. Artinya Brio sudah lama pergi meninggalkannya.
"Dimana dia?" Ayla membuka matanya yang sipit itu, mengerjapkannya beberapa kali, "Brio..." lirihnya parau, "Dimana dia?" ucapnya lagi seraya beranjak dari kasurnya.
"Awh..." pekik Brio. Kaki Ayla sudah berada di lengannya.
"Kenapa kamu tidur di bawah?" Ayla melonjak dan segera berjongkok dihadapan suaminya.
"Panas," ketus Brio seraya bangkit dari tidurnya.
"Panas? Apa kamu sakit? Aku tidak merasa panas sama sekali. Malah sangat nyaman. Wah, Brio kasurmu lebih nyaman dibanding kasur yang ada di apartemen."
"Iya, saking nyamannya kamu bahkan menendangku," gerutunya dalam hati.
Flashback.
Ayla turun dari panggkuan Brio. Dia berlari ke kasurnya karena Brio hampir saja melewati batasan yang telah mereka buat. Sebuah ciuman masih Ayla memperbolehkan. Akan tetapi, jika lebih dari itu maka tolong Ayla belum siap. Dan Brio pun menyetujuinya.
"Maafkan aku, bukan aku tidak ingin memberikan hakmu. Tetapi, kita masih kuliah. Aku takut fokusku akan terbagi dan aku akan lambat lulus. Jika sudah lulus maka aku akan fokus padamu dan an-nakmu," ucapnya sedikit terbata saat mengatakan kata terakhir.
Brio memandang matanya lekat sambil menggenggam erat tangannya, lalu kemudian menciuminya.
"Sebenarnya masih banyak cara aman, misalnya memakai alat kontra*sepsi atau kamu meminum pil kb. Dan atau kita menghitung masa suburmu. Diam-diam aku sering membaca novel online dan mereka mengatakan begitu," papar Brio memberikan jalan tengah. Bagaimana lagi? Nafsu sudah menguasai.
"Benarkah?" Ayla menyernyitkan alisnya sebelah dan Brio mengangguk.
Ayla memandang langit-langit kamar Brio. Internit yang putih dihiasi beberapa lampu di tengahnya. Menerangi keseluruh penjuru kamar.
"Bukankah kamu juga yang bilang? Jika kamu akan memberikan hak itu hanya pada suamimu saja?" tanya Brio lagi.
"Kapan?" Ayla menerawang kembali. Apakah benar dirinya pernah mengatakan hal itu?
"Kamu lupa? Kamu yang telah mengatakannya pada Jim ..." ucapnya terhenti. Dia lupa dengan mengatakan nama laki-laki itu artinya dia sudah mengasah cula badak disampingnya.
"Jim? Jimny?" Dia teringat jika dirinya pernah mengirimi Jimny pesan yang seperti itu, "Oo, jadi kamu sudah mulai mengganggu privasiku? Katakan! Kapan kamu melihatnya, hah?" Ayla meniliknya dan menjadi lebih garang.
"Hehe, maafkan aku." Brio menengkurapkan tubuhnya dan pandangan mereka bertemu, "Jika kamu ingin melihat ponselku juga tidak apa-apa. Aku tidak akan membunyikan apapun dari dirimu. Dan kamu pun tidak boleh menyembunyikan apapun dariku. Apapun masalahnya, kamu anggap aku bisa atau tidak bisa menyelesaikannya maka katakanlah! Jangan ragu! Kita akan cari sama-sama solusinya, oke!"
"Wah, tuan pembohongku yang ulung ini sudah insyaf rupanya." Ayla mengelus pelan pipinya. "Brio, ah Brian. Dengan penampilanmu yang seperti ini tanpa rambut klimis dan pakaian yang di masukan ke celana, aku harus memanggilmu apa?"
"Terserah. Sayang juga boleh," ucapnya mantap
"Mm... Jujur saja, aku mulai takut dengan penampilanmu yang gagah ini."
__ADS_1
"Takut itu untuk orang yang tidak percaya kalau pasangannya mempunyai hati yang setia. Dan sekarang kamu sedang meragukan akan kesetiaanku," dengus Brio pelan, namun agak menyakitkan bagi Ayla. Kini Brio pun membenarkan posisinya mengikuti gaya sang istri. Menghadap ke langit-langit kamar.
Cup, Ayla mencium sekilas pipi Brio. "Bolehkah aku tidur sambil memelukmu?"
Tanpa menjawab lagi Brio langsung menariknya kedalam pelukan, "Tidurlah!" Wanita itu segera memejamkan matanya. Hangat, badan Brio sangat hangat. Ditambah udara dingin dari AC membuatnya sangat nyaman. Tak lama Ayla pun tertidur pulas dalam dekapan sang suami.
"Kapan aku bisa menjadi laki-laki satu-satunya untukmu," batin Brio sambil menyugar rambut Ayla kebelakang.
Jam itu terus berputar, hingga entah apa yang terjadi, tiba-tiba Ayla menendangnya tanpa ampun. Mulai dari kaki, betis, hingga paha tidak ada yang tidak ditendangnya.
"Pergi..." teriaknya sambil menendang pinggangnya.
Bugh.. "Akh..." Brio terpental jatuh kebawah.
"Ayla," lirihnya dengan suara parau. Namun, tak lama kemudian dia tertidur kembali.
Flashback off.
Kini Ayla sedang duduk di tempat yang seharusnya wanita duduki. Kursi yang satu set dengan meja, diatasnya ada sebuah cermin dan berbagai merk perawatan kulit serta make up. Apalagi kalau bukan meja rias. Ya, setelah dia mandi dia segera mendudukan dirinya disana.
Tentu dia harus tampil cantik didepan semuanya juga didepan suaminya.
"Brio, kamu mau kemana? Kenapa pakaianmu formal sekali?" tanya Ayla yang melihat Brio dari cermin yang sedang dia gunakan.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir. Jika ada apa-apa aku akan menelponmu." Ayla menghampirinya dan membawakan tas yang akan di bawa Brio.
"Baiklah." Ayla pun mengantarkannya hingga Brio benar-benar masuk ke mobil yang dikendarai Yaris.
Setelah itu dia masuk kembali.
"Hah, apa aku sedang bermimpi? Baru saja aku mengantarkannya bekerja. Inikah rasanya istri dari anak konglomerat?" Ayla terkekeh dengan ucapnya sendiri. Beberapa kali dia mencubit pipinya untuk menyadarkan diri bahwa semua ini bukanlah mimpi.
Saat dia akan menaiki tangga, tiba-tiba suara perempuan setengah baya memanggilnya.
"Ayla!" seru wanita yang ternyata adalah ibu mertuanya sendiri.
"Apa tujuanmu datang kesini?" tanyanya saat mereka sudah saling berhadapan.
"Tu-tujuanku? Aku ingin mendapat restu darimu, Bund-da.." ucapnya ragu mengatakan 'Bunda'.
"Bunda? Aku masih belum menerimamu sebagai menantuku. Dan mungkin tidak akan. Karena saya tahu tujuan orang sepertimu datang kesini! Saya tekankan sekali lagi, jangan macam-macam dengan keluarga saya apalagi Brian, anak saya."
"Maksud, Ibu? Ayla tidak mempunyai tujuan apapun datang kesini selain mendapat restu Ibu. Jika Ibu sudah merestui hubungan kami, aku dan suamiku akan pergi dari sini."
__ADS_1
"Suamimu? Dia adalah anakku. Dan aku yang akan menentukan dia akan tinggal dimana. Dan, ya. Jangan gunakan topeng polos dan pura-pura baikmu itu dihadapanku!" tekannya. Lalu dia berlalu dan pergi.
Sesaat nafas Ayla tercekat, mendengar perkataan ibu mertuanya yang terakhir. Pura-pura baik? Polos? Entahlah, jika memang iya darimana dia tahu kalau Ayla sedang berpura-pura? Bertemu saja baru 3 kali ini.
Tapi, meskipun demikian tak mengurungkan niatnya untuk tetap tinggal disana. Bahkan sekarang dia ingin membuktikan jika dirinya tak sedang berpura-pura.
Baru saja dia dua langkah menaiki tangga, suara perempuan kembali terdengar. Dan kali iini adalah suara Serena.
"Kamu berhenti!" Saat Ayla berhenti dengan segera dia menghampiri.
"Ada apa ya, Bibi?" tanya Ayla.
"Bibi, Bibi, enak saja kamu memanggilku Bibi. Panggil aku Nyonya disini. Kita itu beda kasta dan derajat. Kamu harus sadar itu." Lagi-lagi kecaman yang Ayla dapatkan.
Dalam hati Ayla menjerit, sabar!
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Nah, pintar. Berhubung kamu tinggal disini gratis. Makan, minum, tidur, mandi gratis. Jadi, sebagai pembayarannya kamu harus mengepel, menyapu, membersihkan tangga ini dan menguras kolam renang."
"Apa?" Ayla terbelalak mendengarnya.
"Ini adalah perintah dari Ibu mertuamu juga. Jika kamu tidak mau maka pergilah dari sini. Itu mudah sekali, 'kan?"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi, tapian. Jika kamu ingin tinggal disini maka kerjakan! Jangan mengadu! Atau kamu akan tahu akibatnya," ancamnya lagi.
Ayla diam dan hanya tersenyum simpul. Beginilah jalan hidup. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini. Dia mendapatkan kebahagian begitu mendadak, tidak aneh jika harus membayar mahal.
"Tidak usah sedih, Ayla. Lagi pula hanya mengepel, menyapu, membersihkan tangga, dan menguras kolam, bukan? Hal yang simple bagimu." Dia tersenyum ditengah penderitaan yang akan dia jalani.
Batinnya memang menjerit, keras sekali. Tapi, bibirnya harus tersenyum melengkung. Sekali lagi dia harus meyakinkan hatinya jika dirinya kuat.
CNP
Continue in my Next Post.
...Maaf aku baru hadir lagi. ...
...Huh, cape sekali rutinitasku. ...
...Nah, kemaren aku libur sambil lanjutin cerita. ...
__ADS_1
...Semoga masih ada yang menunggu. ...