The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Keberhasilan dan Kesedihan


__ADS_3

Pagi hari ini adalah pagi yang cukup membahagiakan bagi seorang Ayla. Ya, hasil kerja kerasnya cukup memuaskan. Semua ini juga berkat mantan pacarnya, Jimny. Tugas yang diberikan oleh Dosen killer itu yang terkenal dengan nama samudra Pak Civic, Ayla dapatkan nilai yang sempurna.


Bagi seorang mahasiswa huruf yang ditulis oleh Pak Civic disetiap tugas yang dia berikan adalah penentu untuk mereka, apakah mereka akan mendapatkan tugas baru atau mereka sudah selesai dengan tugasnya.


Dan nilai yang didapatkan Ayla adalah nilai yang tak perlu mendapatkan tugas baru lagi.


"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih?" goda Leva yang sedari tadi memperhatikan wajah Ayla yang terus berseri.


"Hehe!"


"Kamu keren, Ay!" pujinya.


"Tidak kok biasa saja. Mungkin sedang beruntung saja."


"Sayangnya, Avanza juga dapat nilai yang cukup bagus. Aku tahu, pasti itu karena buku yang dia curi itu, kan?"


"Sepertinya, tapi tidak apa-apalah, jangan dipikirkan!"


"Lihat!" Tunjuk salah seorang mahasiswi pada kertas yang tertempel dimading. "Avanza dan Ayla mendapatkan nilai yang lumayan sempurna," ucapnya tanpa tahu seseorang yang sedang dibicarakannya ada dibelakang.


"Wah, iya. Mereka berdua hebat sekali sedangkan kita harus mengulanginya lagi," sahut temannya sedih.


"Hebat dari mana? Kalau itu Avanza aku juga sangat percaya dia kan sangat rajin. Kalau Ayla aku tidak yakin ini hasilnya sendiri," cibirnya.


"Maksudmu apa? Mengapa kamu tidak yakin?" tanya temannya lagi. Sedangkan Ayla dan Leva dibelakangnya hanya mendengarkan saja.


"Ini pasti bantuan Jimny, kala itu kan masih ada dirinya. Kita lihat saja nanti, setelahnya tidak ada Jimny pasti nilainya turun."


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Bagaimana jika nilainya masih tinggi?"


"Ya hanya satu jalan lah, pasti dia merayu dosennya. Kamu tau video yang tersebar itu?"


"Ya!"


"Harusnya kan dia dikeluarkan dari kampus. Tapi Rektor malah memaafkannya dan menyuruhnya membuat surat keterangan belum pernah hamil. Aku juga jadi curiga, jangan-jangan Rektor adalah korban selanjutnya. Apalagi dia kaya."


Leva yang sudah geram dengan hinaan yang mereka lontarkan kepada Ayla, ikut menyahuti.


"Kalian bicara apa? Kalian tahu tuduhan tanpa mendasar itu fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Itu sama saja kalian sedang membunuh seseorang secara tidak langsung."


"Tuduhan tanpa mendasar bagaimana? Toh sudah jelas kan dia memang suka merayu laki-laki kaya," sungut orang yang sedari tadi mencibir Ayla.


Saat Leva mengangkat tangannya, Ayla menariknya kebelakang.

__ADS_1


"Sudah, Leva! Terima kasih karena sudah membelaku! Dan untuk kalian berdua, tolong jangan asal bicara!" ucapnya penuh penekanan namun sedikit bergetar.


Ayla langsung berlari meninggalkan semuanya dan disusul oleh Leva. Namun Ayla berlari begitu cepat sehingga tidak terkejar lagi oleh Leva.


Ayla memasuki area perpustakaan. Disana memang ada banyak orang tapi semuanya senyap, karena memang seperti itulah peraturannya.


Ayla mengambil satu buku, lalu dia duduk di sudut ruangan yang menjadi favoritnya, sambil mendengarkan lagu menggunakan headset dengan volume yang cukup keras. Baginya saat sedang bersedih selain memakan makanan yang pedas dan memakan es krim, mendengarkan lagu dengan volume yang cukup keras juga bisa mengurangi gejolak amarah dihatinya.


***


Sedangkan di atap kampus, ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang berbincang. Saat setelah tahu bahwa Avanza mendapat nilai yang bagus, Brio segera mengiriminya pesan. Dia ingin menemui Avanza secara langsung dan Avanza menyuruhnya untuk bertemu di atap kampus. Tentu saja untuk menghindari pengawasan Baleno padanya.


"Avanza, maaf aku sudah tidak sopan ingin bertemu denganmu. Mm, begini.. aku sudah membantumu mengerjakan tugas.." ucapnya sedikit terbata sambil beberapa kali memundurkan frame kacamatanya. Entah dia pun tidak tahu saat berdekatan dengan Avanza dirinya mendadak menjadi gugup.


"Ya, lalu?"


"Aku ingin menagih janjimu di aplikasi chat malam itu," tegasnya.


"Janji? Janji apa?" tanya Avanza dengan ketus.


"Kamu berjanji, jika nilaimu bagus maka kamu bersedia diajak olehku dan kali ini aku akan mengajakmu makan malam."


"Si culun ini ternyata mengingatnya," batin Avanza.


"Kapan?" tanyanya lagi.


"Memangnya malam minggu depan kamu mau mengajakku kemana?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam saja di restoran."


"Baiklah aku setuju, kirim saja alamat restorannya."


"Benarkah?" Mata Brio berbinar. Ini kali pertamanya dia mengajak wanita yang diincarnya dan dia pun mau.


"Iya!"


"Daripada aku harus memikirkan Baleno yang tidak ingin jalan bersamaku. Lebih baik aku jalan bersamanya. Setidaknya dengan begini, aku bisa memanfaatkannya kapan saja," batin Avanza.


Setelah menyutujuinya Avanza langsung pergi. Sedangkan Brio sudah meloncat-loncat kegirangan.


***


Lagu sudah diputar beberapa kali oleh Ayla. Tapi hatinya masih tetap bergemuruh. Rasa amarah, benci, kesal ingin dia keluarkan secara bersamaan.

__ADS_1


"Ah, aku tahu! Atap kampus."


Dia segera menaiki beberapa tangga untuk sampai pada tempat tujuannya. Dia membutuhkan ruang yang luas dan juga terbuka untuk berteriak. Dan atap kampuslah tempat yang terbaik untuk saat ini.


Ayla sudah sampai di atap, angin kencang langsung berhembus menyambutnya. Hamparan bangunan-bangunan kecil dibawah sana sudah terpampang nyata di pandangannya.


Seketika saja Ayla berteriak. "Haaaaaaaaaaaaaah" teriaknya dengan sekali nafas. Tetapi tetap hatinya masih belum tenang.


Dia coba lagi untuk yang kedua kalinya. "Haaaaaaaaaah, haaaaaaah.." Kali ini dua teriakan. Tetapi tetap saja hasilnya masih sama, belum bisa mengurangi rasa kesalnya.


Dia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Kemudian mengulanginya untuk beberapa kali.


Seseorang yang berada tepat dibelakangnya, hanya memperhatikannya tanpa mau menganggunya atau meninggalkannya sekalipun.


Dia masih ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Ayla selanjutnya.


"Tuhaaaaannn!" teriak Ayla tiba-tiba. "Mengapa kau melakukan ini? Apakah ini adil untukku? Kau tahu aku hanya ingin hidup dengan tenang! Mengapa semua orang membenciku? Bisakah kau membuat mereka diam?" Dia berteriak mengeluarkan semua keganjalan dihatinya.


Salahkah dia?


Dia hanya ingin meraih mimpinya?


Lalu dia mengahampiri tembok pembatas atap kampus. Dia menangkup kedua pipinya dengan tangan yang bertumpu pada tembok tersebut.


"Aku hanya ingin hidup tenang dalam meraih mimpiku.." ucapnya sedikit berbisik bahkan tak terdengar oleh seseorang yang berada dibelakangnya sekalipun.


Seketika saja air matanya luruh, "Mengapa kalian semua jahat? Mengapa kalian tidak mengerti diriku?" lirihnya lagi.


"Kalian mencibirku aku diam, kalian menghinaku aku terima. Tidak bisakah kalian berhenti? Cukup sampai disini! Aku sama seperti kalian, aku juga punya hati." Dua tetesan air matanya jatuh bersamaan.


Karena masih kesal dan marah, terutama pada dirinya sendiri yang tak bisa membungkam mulut mereka semua. Ayla meninju tembok itu dengan tangan kosongnya.


"Haaaaah..." teriaknya.


"Berhenti!" ucap seseorang dibelakangnya.


"Berhentilah menyakiti diri sendiri! Dan berhentilah menangis!" ucapnya lagi sambil memberikan sapu tangan bertuliskan BandA


Ayla menolehkan wajahnya dan cukup terkejut dengan seseorang dibelakangnya.


"B...B..B..Brio!"


CNP

__ADS_1


Continue in my Next Post


Mohon dukungannya. Karena dukungan kalian adalah penyemangatku. Untuk dukungannya bisa berupa Like, komentar, share, vote, rate 5, dan jangan lupa untuk mem-faforitkan novel ini. Stay tuned terus, terima kasih !!😂😂😂


__ADS_2