The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Tiba di Rumah Mewah.


__ADS_3

Krrriiiittttttttt... Bugh.


Keduanya terpental lagi ke tempat duduknya masing masing. Seketika sikap diam karena keterkejutan merajai suasana saat itu.


"Huh, untung saja!" Brio menghela nafas lega. "Kamu tidak apa-apa, Ay?" Brio melirik ke arah istrinya. Helaan nafas pendek dan tak beraturan masih terdengar di telinganya.


Wajah Ayla tampak pucat pias saat melihat kondisi di depannya. Mobil yang beruntun bertabrakan. Jika saja Brio tidak menginjak remnya kuat-kuat, mungkin mereka juga akan menjadi korban.


"Sayang!" Brio menggoyangkan bahu kanannya. "Sayang!" ulangnya lagi saat Ayla masih dalam keterkejutannya.


"Kita tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ayla sambil terbata-bata. Tidak ada siapapun yang dalam kondisi seperti ini yang bisa tenang.


"Tidak, Ay." Brio meremas lengannya. "Tidak ada yang perlu di cemaskan. Mobil kita juga tidak apa-apa," ungkap Brio menenangkan Ayla.


"Benarkah? Huft, aku takut sekali," ucapnya juga lega. Lalu, "Apa jangan-jangan ini pertanda?" gumamnya yang terdengar oleh Brio.


"Pertanda apa?"


"Tidak..." jawab Ayla langsung. "Kemarin aku hampir tertabrak, sekarang hampir menabrak. Haish..." batinnya bersuara.


"Hati-hati! Jangan kebut-kebut lagi!" pinta Ayla.


"Iya, maaf. Tadi aku buru-buru soalnya lapar banget. Terus aku mau ajakin kamu ke salon sama butik dulu."


"Memangnya kenapa? Baju aku kurang sopan?" Ayla mengerutkan alisnya. Beginikah orang kaya?


"Bukan itu. Ya, masa istri aku sederhana banget, sih. Nanti aku yang di marahi Ayah." Brio pun melajukan mobilnya dan meninggalkan kecelakaan yang terjadi di depan matanya. Dan menyerahkan semua pada pihak yang berwajib.


"Ada apa ini kenapa hatiku tidak tenang?" batin Ayla lagi saat dalam perjalanan.


Sesuai dengan perkataan Brio, mereka makan di pinggir jalan lalu setelah itu pergi ke salon dan butik. Ayla menerimanya dengan senang hati. Makanan yang sederhana namun enak, pelayanan yang memanjakan tubuh, dan pakaian yang indah kini sudah melekat ditubuhnya dengan sangat cocok.


Saat wanita yang masih gadis itu keluar dari ruang ganti, mata Brio membelalak takjub. Makhluk tuhan yang paling indah itu benar adanya. Baru kali ini dia melihat Ayla dengan wajah yang sangat fresh dan bersinar.


Brio menghampirinya dan memakaikan kalung yang baru saja dia terima saat Ayla berganti pakaian. Kalung yang sederhana namun akan terlihat bersinar saat Ayla memakainya. Simpel dan elegant.


"Kalau kamu selalu tampil seperti ini saja, aku ragu membawamu keluar," bisiknya saat memakaikan kalung.


"Ragu? Kenapa? Apa aku terlalu memalukan untukmu?" ketus Ayla. Setahu dirinya, dia sudah tampil seperti apa yang suaminya inginkan. Tapi, kenapa dia bilang ragu?

__ADS_1


"Iya, aku ragu karena aku takut ada banyak orang yang tertarik padamu. Kamu sangat cantik sekali," sanjungnya tak henti-henti.


"Itu artinya kamu meragukan kesetiaanku." Ayla membalasnya sedikit mencebik.


"Tidak. Kesetiaanmu itu sudah teruji klinis," kelakarnya. Dan tawa renyah kembali terdengar di telinga.


Sore hari Brio dan Ayla sudah tiba dirumahnya. Rumah yang begitu tinggi besar nan mewah. Bernuansa gaya eropa modern dan bercat putih. Tak kalah mewahnya dengan istana kepresidenan. Halaman luas dengan hamparan rumput ysng indah bak karpet bumi. Membuat mata Ayla tak berkedip menikmati indahnya rumah ini.


Namun sayangnya, keadaan rumah begitu sepi tidak seperti saat pertama Brio pulang. Para maid pun tidak ada yang menyambut kedatangan mereka, padahal Brio sudah mengatakan jika dirinya akan pulang bersama sang istri.


"Rumah kamu besar tapi sepi sekali," celoteh Ayla heran. Setahunya saat Ayla pertama datang ke rumah mewah itu, masih banyak penghuninya.


"Iya, sepertinya mereka sedang sibuk," dalih Brio sedikit kecewa. Bukan kecewa terhadap Ayla yang seperti menyinggungnya melainkan pada semua orang yang berada dirumah kakeknya itu.


"Ayo, masuk! Jangan hiraukan mereka selagi aku masih ada kamar dirumah ini," kelakar Brio menyabarkan sang istri.


"Kamu ini, bahasanya..." Brio pun meraih tas yang Ayla jinjing.


Mereka berdua pun langsung masuk ke kamar Brio. Kamar yang juga di penuhi dengan nuansa cat putih. Rapi tidak seperti kamar-kamar anak laki-laki pada umumnya.


Terdapat ranjang yang besar, almari yang tinggi besar juga berwarna putih, dan juga kamar mandi yang bisa dikatakan seluas kontrakan Ayla.


"Ini lebih besar dari apartemenmu. Kenapa kamu bisa tinggal di kontrakan kecil denganku?"


"Ya sudah. Aku mandi dulu. Kamu letakan pakaianmu di lemariku, oke!" tunjuknya pada lemari.


"Hem, baiklah."


***


Lain halnya dengan Ayla yang baru saja menjadi anggota rumah keluarga Soedrajat.


Baleno mempersiapkan kepergiannya bersama Livina ke rumah orang tua Livina.


Kedatangnya pun disambut hangat oleh Terra dan Juke. Meskipun, awalnya mereka sama-sama tahu akan kelakuan Baleno yang buruk. Tapi, tidak membuat mereka untuk balas memperlakukan buruk padanya. Apalagi setelah Livina sering menelpon Terra dan mengatakan kalau suaminya itu sudah berubah.


Meskipun, mereka tidak sepenuhnya percaya, tapi mereka harus menerima kenyataan. Dan mereka sepakat untuk memberinya kesempatan.


"Maaf Om, Tante atas kelakuan Baleno kemarin," ucapnya setelah menjelaskan beberapa kejadian kemarin.

__ADS_1


"Iya, Nak. Jangan di ulangi lagi, ya. Itu pesan Tante," ucap Terra dan di angguki oleh Baleno.


Setelah berbincang-bincang dengan keluarga Livina. Baleno beserta istrinya segera masuk ke dalam kamar Livina.


"Kamar kamu bagus, ya? Siapa yang dekor?" tanya Baleno sembari menatap ke sekelilingnya.


"Aku dong." Livina memasukan pakaiannya dan pakaian Baleno.


"Kamu mau berapa hari disini?" Baleno duduk di pinggiran kasur.


"Aku maunya sih disini selamanya, tapi takut kamu tidak nyaman. Jadi, terserah kamu saja." Livina melempar kembali.


"Oke, terserah kamu saja. Tapi, aku tidak bisa selamanya ada disini. Bagaimana?" tawar Baleno.


"Kamu mau kemana?"


"Ya, sekarang Ayah suka panggil-panggil aku buat bantu-bantu di kantor. Katanya sekalian belajar untuk masa depan. Aku tidak mau mengandalkan Ayah saja, ya 'kan? Jadi, aku menyetujuinya," ucap Baleno dengan serius.


"Aku bangga sama pemikiran kamu."


"Oh, bukan sama aku-nya?" Baleno menarik Livina dan mendudukannya diatas pahanya.


"Ya, sama kamu juga lah..." jawab Livina sambil melingkarkan kedua tangannya di bahu Baleno.


Terra yang sekilas mengintip kemesraan Baleno dan Livina menjadi lega hatinya. Akhirnya, anak perempuannya itu bahagia. Dan momen inilah yang selama ini Terra tunggu.


Hatinya selalu saja berdoa, semoga putrinya diberkahi dalam rumah tangganya. Dan dilancarkan dalam kelahirannya.


"Mih, Mamih lagi apa?"


"Pih, ternyata Livina benar. Baleno sudah berubah, lihat!" Juke sedikit mengintip anak dan menantunya dari pintu yang terbuka sedikit.


Entahlah, hatinya masih tidak bisa menerima. Akan tetapi, agar tidak merusak suasana yang hangat ini dia tidak mengatakan apapun.


"Ya, biarkanlah mereka. Jangan ganggu!" ucapnya kemudian dia berlalu begitu saja diikuti Terra.


CNP


Continue in my Next Post.

__ADS_1


jangan kabur dulu yah geess..


bantu yang lagi nikahan.. 😐😐


__ADS_2