The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Malaise


__ADS_3

Pagi ini didepan gerbang rumah yang sangat besar, tergeletak seorang pria yang cukup tampan akan tetapi berpenampilan sedikit berantakan dan diwajahnya terdapat memar yang sudah membiru.


Siapa lagi jika bukan Jimny Suzu.


Yaris sengaja menggeletakannya tepat di gerbang rumah mereka. Agar nanti sinar mataharilah yang akan membangunkannya.


Pada jam 07.00 pagi, Ignis sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Namun ketika Pak Satpam membuka setengah gerbangnya, dia langsung berlari keluar mengecek siapa yang tengah tertidur didepan gerbang rumah tuannya.


Tentu saja Pak Satpam terkejut dengan orang yang sedang berbaring dihadapannya. Orang itu adalah tuan mudanya sendiri.


"Tuan, Den Jimny, Tuan!" teriaknya. Lalu dia menghampiri Ignis dan mengulang perkataannya lagi.


"Jimny?"


"Iya, Tuan. Itu didepan gerbang," tunjuknya.


"Bawa dia kedalam Pak! Saya harus segera pergi." Tidak ada reaksi lain darinya, semisal mengangkat anaknya masuk kedalam. Ignis selalu acuh pada putra keduanya itu.


"Baik, Tuan."


Pak Satpampun hanya bisa menurut. Dalam hatinya sedikit menggerutu, "Kok sama anak sendiri begitu? Kasian Den Jimny kurang perhatian dari bapaknya.."


Dia pun segera memapah Jimny ke pos nya terlebih dulu baru setelah itu dia membukakan gerbangnya. Lalu memapahnya lagi kedalam.


"Bu, Bu, Den Jimny..." Pak Satpam berteriak.


"Astaga, Nak!" Mata Arena membulat sempurna. "Tolong bawa dia keatas, Pak!" ujarnya.


Jimny sudah berada diatas kasur kingsize miliknya. Dia masih tampak tenang tertidur. Sedangkan Arena dia sengaja tidak segera berangkat bekerja. Dia memilih untuk mengobati luka diwajah anak tercintanya.


"Nak, kenapa kamu bisa seperti ini? Pulang dengan bau alkohol dan banyak luka lebam diwajah, kamu sebenarnya kenapa, Nak?" lirihnya. Arena merasa sangat sedih melihat kondisi Jimny sekarang.


Satu jam kemudian, Jimny tersadar. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit karena pukulan dari Brio.


Sekelibat dia teringat akan kejadian semalam. Dalam keadaan mabuk dan dengan brutalnya dia hendak membuat kesalahan besar kepada kekasihnya.


"Aylaa..." teriaknya. "Ah..." Kepalanya menjadi pusing ketika dia bangkit dari tidurnya.


"Dimana Ayla?" Dia belum sepenuhnya tersadar bahwa dia sudah berada dirumah.


"Jim.." panggil Arena yang mendengar teriakan Jimny. "Kamu sudah sadar, Nak?" katanya lagi.


"Mah, dimana Ayla?"


"Ayla? Kamu sudah berada dirumah, Sayang."


"Tapi yang semalam," gumamnya. Dia teringat lagi ada seseorang yang memukulnya sampai pingsan. Tapi dia tidak tahu siapa orang itu.


"Mah, kenapa Jimny bisa ada disini?"

__ADS_1


"Kamu ditemukan tergeletak di depan rumah. Mobilmu ada di apartemen FR. Apa kamu semalam menemui wanita itu.."


"Iya, Mah." Jimny mengusap wajahnya kasar. Pikirannya melayang pada satu wanita yang dicintainya.


"Apa kalian sudah putus? Mamah berharap seperti itu. Ingat, Nak! Papa kamu selalu membanggakan Baleno. Dia selalu menyayanginya dan tak pernah menyayangimu. Untuk kali ini saja bantu papamu dengan menikahi Livina. Perusahaan kita sangat membutuhkan bantuan dari perusahaan ayahnya. Ya, kamu mau ya, bantu papa! Supaya kamu juga mendapat kasih sayang dari Papa, seperti Baleno.."


"Mah, Jim tidak cinta pada Livina. Jim sudah tidak peduli kasih sayang dari Papa. Mama saja sudah cukup. Jim inginkan Ayla!"


"Jim, papamu pasti marah besar dan, dan semua fasilitasmu pasti akan di cabutnya. Mama sudah tidak bisa memberimu fasilitas lagi. Semuanya sudah ada ditangan Papa," jelasnya.


"Lagipula wanita itu sepertinya tidak mencintai kamu, Jim." lanjutnya lagi.


"Mah, Mama bisa melihat perubahanku, 'kan? Semenjak aku pacaran dengan dia, aku berubah menjadi lebih baik."


"Memang, Jim. Tapi mamah lihat Livina juga bisa membuatmu menjadi lebih baik. Dan yang paling utama, Jim, dia mencintai kamu."


"Mah, perjodohan ini untuk Kak Bal. Bukan aku, kenapa mamah malah memaksaku?" bentak Jimny.


Dirinya masih sedikit pusing karena pengaruh alkohol, dia juga tidak ingin mendengarkan apapun dari siapapun meski itu ibunya sendiri.


"Jim!" bentak ibunya.


"Sudahlah, Mah. Kepalaku sedang pusing. Mamah malah membicarakan ini pagi-pagi. Dan asal mamah tau, jika aku sudah bilang tidak maka tidak," bentaknya lagi.


"Kamu melawan mamah karena wanita itu?" teriaknya lagi, kesal karena dibentak oleh anak kesayanganya.


"Mah, walaupun tidak adanya Ayla aku tetap tidak akan menerimanya. Jangan salahkan Ayla dalam hal ini, Mah!" kecam Jimny. Dia segera berlalu meninggalkan mamahnya ke kamar mandi. Badannya sudah lengket dan berbau alkohol.


Sedangkan Jimny yang sudah berada dikamar mandi. Berdiri didepan wastafel, memikirkan Ayla, kekasihnya. Yang mempunyai prinsip yang ketat dalam hubungannya. Dia tidak ingin disentuh oleh siapapun sebelum dirinya memiliki ikatan yang memperbolehkannya.


Tapi sekarang Jimny sudah melanggar kesepakatan tersebut. Apa yang harus dilakukannya? Meminta maaf? Apakah Ayla akan memaafkannya?


Belum lagi dalam benaknya tersirat pertanyaan, siapa orang yang memukulnya dengan brutal dan tanpa ampun itu? Siapa orang yang mengantarkannya kedepan rumah?


Sayangnya dia tidak ingat siapa orang itu, laki-laki ataukah wanita. Dia tidak mengingatnya sedikitpun.


"Arrgghh..." Dia menyingkirkan barang-barang yang ada didepannya. Dia merasa gelisah karena Ayla dan juga merasa kesal pada dirinya yang tidak mampu mengontrol diri.


***


Di apartemen Brio.


Setelah membalut luka Ayla. Brio, Ayla dan Yaris mereka bertiga memakan makanan yang tadi sudah dipesan Yaris.


Ayla tampak takut pada lelaki di hadapannya itu. Dia selalu memegang tangan Brio erat, bahkan tak pernah lepas seperti lem dan prangko.


Entah kenapa kejadian semalam membuatnya sedikit menghindar berkontak dengan laki-laki? Mungkin ini adalah trauma. Trauma terhadap lawan jenis.


"Dia siapa? Apa dia pemilik apartemen ini?" tanya Ayla sedikit berbisik.

__ADS_1


"Tenang saja, jangan takut! Dia Yaris, memang benar dia pemilik dari apartemen ini, atasanku." Brio terpaksa berbohong agar Ayla tidak takut.


Yaris yang diperkenalkan sebagai pemilik apartemen, merasa kaget. Rasanya ini seperti terbalik, dia yang kaya dan Brio yang miskin.


Oh, apakah ini mimpi?


Brio yang mengerti keterkejutan Yaris, memberinya kode agar menurut dengan mengerjapkan kedua bola matanya.


"Aku Yaris, temannya.." Yaris memperkenalkan dirinya, dia mengulurkan tangannya hendak berjabatan.


"Ayla, istri Brio," ucapnya spontan. Langsung dia merevisi kata-katanya kembali, "Ma maksudku teman Brio."


Brio sedikit tertegun mendengar Ayla memperkenalkan diri sebagai istrinya. Tapi kenapa dia merevisinya lagi? batin Brio mengeluh.


"Saya sudah tahu." Yaris tersenyum simpul melihat kegugupan Ayla.


Setelah berkenalan, Ayla merasa sangat nyaman. Dia tidak terlihat ketakutan lagi pada Yaris. Apalagi saat makan, Ayla memakan makanannya dengan lahap. Memang sedari semalam dia menahan laparnya itu. Dan alhasil tanpa ragu dan gugup dia melahap habis makanannya.


Urusan perut memang lebih penting daripada yang lainnya.


Brio nampak senang melihat kelakuan Ayla. Meski mentalnya sedikit terguncang tapi perutnya tidak ikut terguncang. Itulah yang kini membuatnya menjadi tidak terlalu khawatir dengan kondisi Ayla.


"Hei, pelan-pelan! Kamu tidak perlu berebutan dengan kami.." ucap Brio sambil tertawa. Satu tangannya mengusap sudut bibir Ayla yang terkena bumbu makanan.


"Aku sangat lapar.." ucap Ayla, mulutnya terisi penuh dengan makanan.


"Aku tidak yakin jika kamu akan menceraikannya, Brio. Kamu terlihat menyayanginya meski rasa itu belum terasa," batin Yaris.


"Ahh, rasanya gerah sekali melihat mereka berdua. Meski mereka tidak saling mencintai tapi mereka adalah sepasang suami istri. Aku harus segera pergi dari sini.." suara batinnya lagi.


"Ekhemmm! Bos dianggurin," celetuk Yaris.


Dan mereka bertiga tertawa ria.


Meski itu hanya beberapa jam yang lalu, itu sudah berarti masa lalu. Jam ini adalah masa ini dan satu jam kedepan sudah termasuk masa depan. Jadikan pelajaran tanpa melupakan, jangan menutup diri meski sedikit terkekang.


"Semoga, traumanya tidak lama. Dan semoga dia kembali ceria seperti biasa," batin Brio berdoa.


CNP


Continue in my Next Post


*Malaise artinya adalah perasaan yang tidak jelas karena kegelisahan atau kekesalan. Sama dengan makna depression (depresi ) atau despair ( keputusasaan )


...Quote...


...Semua orang punya masalah dan masa lalu...


...Dan karnanya jadikanlah pelajaran...

__ADS_1


...Agar bisa menangani masalah dimasa depan....


__ADS_2