
Levante turut berbahagia dengan kabar yang dibawa oleh Ayla. Dia mengatakan bahwa Presiden kampusnya sudah mempercayainya dan dia hanya perlu meminta keterangan dari dokter bahwa dirinya belum pernah hamil, apalagi menggugurkan kandungan.
Tapi Leva yang sejatinya adalah teman yang baik, langsung memberitahu Ayla untuk segera melaporkan pelaku penyebaran berita hoaks tersebut.
"Ayla, tidakkah kamu ingin melaporkan orang yang menyebarkan berita hoaksmu itu?"
Nampak Ayla sedang berpikir.
"Ay, menyebarkan berita bohong atau hoaks adalah sebuah tindak pidana. Dia bisa dikenakan Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang berbunyi:
Setiap Orang yang sengaja dan tanpa hak dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat diaksesnya informasi elektronik yang muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Dan ancaman pidananya diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016 pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau didenda Rp. 750 juta.
Atau juga bisa kenai Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang berbunyi:
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu suku, agama, ras, dan antargolongan.
Dan ancaman pidananya diatur dalam Pasal 45A ayat 2 UU 19/2016. Kamu tahu? Pidana penjaranya lebih lama dan lebih besar dari ancaman pidana pelanggar pasal sebelumnya yaitu paling lama 6 tahun penjara dan/atau denda satu milyar.
Kamu laporkan saja mereka agar tidak ada yang berani berbuat macam-macam. Terlebih kepada dirimu," ucap Levante dengan begitu semangat.
Ayla yang melihatnya menjadi tidak fokus dengan apa yang dia bicarakan. Dia lebih fokus kepada mimik Levante saat melafalkan pasal-pasalnya. Sungguh bak seperti pengacara kondang.
"Leva, aku semakin kagum padamu," ucap Ayla dengan masih menatapnya.
"Kok, kamu kagum padaku?" Dia mengambil nafasnya dalam-dalam. Lalu berkata, "Harusnya kamu segera melaporkannya, agar semuanya mendapat pelajaran dari kasus ini. Juga supaya mulut-mulut pedas mereka tidak digunakan secara gratis."
"Kamu terlihat bersemangat sekali," ujar Ayla lalu tersenyum.
"Bagiku memang hukum harus ditegakan, tapi apakah kamu yakin bahwa staff itu yang melakukannya?" Nampak Leva yang menggeleng. Dia juga merasa bahwa kiriman itu tidak dikirimkan oleh Staff Universitas tetapi orang lain.
"Nah, aku juga tidak yakin dia yang melakukannya, aku rasa ada orang lain. Tapi kurasa orang itu sulit untuk dicari." Ayla tertunduk saat mengucapkan kata terakhirnya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Menyerahkan semuanya kepada yang berhak. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan hinaan. Yah, anggap saja mereka sebagai gonggongan anak anjing. Bukankah lebih baik seperti itu? Aku hanya membutuhkan orang yang mempercayaiku. Dan aku mendapatkannya ada kau, Pak Sigra, dosen-dosen, sebagian temanku yang lain dan seseorang."
"Woohoo.. Seseorang?" goda Leva.
__ADS_1
Ayla hanya tersenyum kala mengingat Brio dimalam itu.
***
Hari ini Ayla pulang lebih lambat. Setelah kepulangannya dari rumah sakit bersama Levante, dia mengecek uang tabungan yang ada di ATM miliknya. Ternyata yang dia takutkan terjadi, uangnya habis dengan begitu cepat. Dia membutuhkan pemasukan agar kebutuhannya terpenuhi. Dia harus kembali bekerja.
Huh! Desahnya.
Apakah dia boleh meminta kepada Brio? Setelah tahu keadaan finansialnya, terlebih saat ini dia yang akan membiayai kuliahnya yang sangat mahal itu.
"Tuhan, kenapa kamu tidak memberiku beasiswa saja?" keluhnya yang hampir membuat kertas Daftar Riwayat Hidupnya terbasahi oleh air matanya sendiri.
Ya, setelah mengecek uang, Ayla segera membeli persyaratan untuk melamar pekerjaan, tak lupa dia mencuci poto, dan memfoto kopi persyaratan lainnya. Dia tidak ingin menunda-nunda lagi atau uangnya akan benar-benar habis dan ludes.
Saat Ayla sedang mengisi CV-nya, tiba-tiba saja Brio datang dengan secangkir kopi ditangannya, lalu meletakan disamping laptopnya.
"Brio, kamu tau tentang kelanjutan berita bohong itu?" ucap Ayla dengan antusias.
"Apa?" tanyanya santai. Bagaimana tidak santai dia adalah orang yang menyelesaikan masalah ini, otomatis dia tahu perkembangannya.
"Aku," Dia menjeda kalimatnya. "Tidak dikeluarkan dari kampus. Dan bahkan Pak Sigra, seorang rektor mempercayaiku, ah rasanya lega sekali! Semalam aku pikir aku akan di drop out, ternyata tidak," cerocosnya dengan cepat dan bernada sumringah.
"Oh, bagus dong." sahutnya dingin. Dia terus saja sibuk dengan laptopnya.
"Sama-sama," jawabnya langsung. Dia tahu Ayla tidak tahu tentang semua yang dilakukan oleh dirinya tapi dengan kata terima kasih itu membuatnya seperti dibutuhkan. Dan membuat predikat laki-laki sejati dikantongi olehnya.
"Aku dengar pelakunya sudah ditemukan," ucapnya lagi.
"Iya, Mahasiswa IT di universitas kita."
"Oh, sayang sekali ilmunya digunakan untuk hal tidak baik. Lalu apa hukumannya?"
"Entahlah, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang terpenting dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya, itu sudah cukup bagiku. Aku hanya bisa berdoa agar dia kembali ke jalan yang benar."
"Hehe, naif!"
"Ye, aku tidak mau pusing dengan urusan ini. Toh, yang terpenting lagi semua orang tahu bahwa aku belum pernah hamil, dan semua itu adalah fitnah. Cukup untuk membersihkan namaku yang sempat tercemar itu."
"Ya.. Tapi by the way kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Oh, ini aku sedang menulis CV ku. Aku akan melamar pekerjaan."
"Kenapa? Uangmu sudah habis?"
"Ya, kamu itu."
"Aku izinkan apa tidak ya? Jika tidak diizinkan dan aku penuhi segala kebutuhannya, dia akan curiga dengan pekerjaanku dan siapa diriku? Tapi jika aku izinkan apakah ini baik? Apakah aku sudah melakukan yang benar? Tapi kenapa hatiku menolak untuk mengizinkannya bekerja? Ah, sudahlah! Biarkan berjalan begini saja," batin Brio sambil menatap nanar pada Ayla.
"Kemana kamu akan melamar?"
"Aku tidak tahu, aku hanya membuat surat lamarannya saja dulu, nanti jika aku menemukan lowongan, aku langsung melamarnya."
"Semoga segera diterima. Untuk urusan uang bulanan biar aku yang akan memenuhinya. Kamu tenang saja dan simpan uang gajimu nanti untuk digunakan di kemudian hari."
"Benarkah? Kenapa kamu baik sekali?" tanyanya sambil menatap intens. Sontak saja Brio menjadi gelagapan.
"Me memaksudku, uang gajimu untuk bayar kontrakan nanti. Aku kan tidak sanggup jika untuk membiayai semuanya. Bagaimana kamu ini?"
"Hem.. baiklah."
"Ku kira dia mau menanggung semuanya. Huft, Ayla Ayla jangan mengharapkan sesuatu pada orang yang tidak bisa diharapkan. Lagipula kalian sama-sama susah harus saling bahu membahu, dia mau membiayai kuliahmu juga sudah sangat bersyukur. Lebih baik seperti ini saja, jika dia membiayai semuanya..." batin Ayla menjeda sambil berpikir.
"Aku harus memenuhi kebutuhannya, tidaaak!" Ayla berteriak dihatinya.
Lalu tanpa sadar dia silangkan kedua tangannya didada. "Aku tidak mau memenuhi kebutuhannya yang lain."
"Kamu kenapa? Dingin? Kurasa suhu udara malam ini normal, atau kamu masuk angin?" tanya Brio dan hampir memegang dahi Ayla.
"Tidak, tidak, tidaakk! Jauh, jauh, jauh!" teriaknya.
CNP
Continue in my Next Post
Mohon untuk dukungannya ya
Terima kasih!
Jangan lupa komentar ya pembaca senyap kuu
__ADS_1
Love you.
Maaf kemarin gak up 😢