The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Jika Sudah Mendapakannya, Bebaskan aku!


__ADS_3

Brio mencari-cari Ayla dengan menanyakannya pada karyawan lainnya. Akan tetapi tidak ada yang tahu keberadaan Ayla. Akhirnya dia memutuskan pulang dan menunggunya di kontrakan.


Dengan wajah yang lebam, perut yang sakit, kaki yang berjalan dengan tertatih-tatih, dia pulang menuju kontrakannya. Jika seandainya kecurigaannya benar terhadap Ayla, maka dia tidak bisa dimaafkan.


Tapi sebenarnya apa motifnya melakukan hal itu? Jika benar ini karena nilai, sungguh dia bodoh dan keterlaluan.


Brio sudah berada didepan kontrakannya. Dia segera masuk dan mendapati Ayla yang tengah sibuk dengan buku-buku pelajarannya.


"Disini kamu rupanya." Senyum Brio menyeringai seram.


Ayla mendongkakan kepalanya. Terkejut bukan main, Brio sudah tidak ada rupanya. Segera dia bangkit dan bertanya, "Brio! Kamu kenapa?" ucapnya, sambil hendak mengelus pipi Brio.


Brio menepis tangan Ayla. "Katakan ini semua adalah ulahmu!"


"Apa maksudmu? Brio, ayo kita obati dulu." Ayla segera berlari kearah dapur kecilnya. Dia mengambil es batu dan handuk kecil untuk mengompres lukanya agar tidak bengkak.


Ayla menggiring Brio ke ruang depan. Mereka duduk berhadapan disana. Ayla sibuk dengan luka Brio, sedangkan Brio berpikir keras agar Ayla mau mengakui kesalahannya.


"Katakan! Dari mana saja kamu? Bukankah tadi kamu ada di kafe?"


"Itu..."


"Haruskah aku bilang kalau hatiku sesak melihat kalian berdua," bisiknya dalam hati.


"Katakan! Kamu kemana?" bentak Brio.


"Kamu kenapa sih? Kenapa marah-marah sama aku? Ditolak Avanza?" jawabnya dengan nada tinggi.


"Haha, akhirnya kamu mengakui..."


"Mengakui apa?"


"Kamu 'kan yang beberin rencana makan malam aku sama Avanza ke Baleno? Dia datang tapi kamu tidak ada."


"Huh," dengus Ayla kesal. "Kamu sudah tahu Avanza itu milik Baleno, mengapa kamu terus mendekatinya?"


"Berarti benar kamu yang sudah melaporkan aku?"


"Melaporkan? Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu?" ucapnya dengan terheran-heran.


"Kamu masih berbelit dan tidak mau mengakui..."


"Untuk apa aku mengakui apa yang tidak aku lakukan?"


"Kamu marah 'kan karena nilaimu dan nilai Avanza sama, iya 'kan? Tugas Avanza, aku yang menyelesaikannya dan kamu marah kepadaku, iya 'kan? Dan kamu gunakan malam ini untuk membalas dendam kepadaku. Itu semua benar, 'kan?" bentaknya lagi.

__ADS_1


Ayla memejamkan matanya mendengar suara marah Brio. Lalu, "Huh," Ayla tersenyum kecut sekali. Mengapa orang yang ada dihadapannya ini begitu tega kepadanya.


"Ya, aku memang kesal kepadamu karena telah membantu Avanza. Tapi aku tidak pernah sepicik itu sampai membahayakan orang," lirihnya sedikit bergetar.


"Bohong kamu! Aku tahu kamu tipe orang yang ambisius. Tidak mungkin kamu tidak melakukan sesuatu.." bentaknya untuk kebeberapa kalinya.


"Kamu tidak percaya padaku?"


"Tidak, karena aku mempunyai bukti."


"Apa yang bisa membuatmu percaya? Hum.."


"Aku akan percaya padamu jika kamu membantuku mendapatkan Avanza."


Ayla tersenyum remeh, "Are you crazy? Seharusnya kamu sadar diri kamu itu siapa."


"I'm not crazy, Ay! Aku sadar aku siapa dan karena itu aku sangat mencintai Avanza."


"Mencintai? Sangat mencintai, 'kah?" tanyanya sambil menatap lekat Brio. Sungguh sesak sekali rasanya mendengar pernyataan Brio.


"Ya, sangat mencintai..." tegasnya.


"Hum! Baiklah. Aku akan membantumu. Dan saat nanti kamu mendapatkannya, maka bebaskan aku..." ucapnya dengan lantang, namun matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku membantumu bukan untuk membuktikan bahwa aku salah atau tidak. Itu tergantung kepercayaanmu. Aku membantumu karena aku ingin segera bebas darimu. Besok aku akan mulai membantumu.."


"Untuk sekarang obati lukamu... jika tidak ada uang untuk berobat, aku bisa meminjamimu uang. Wan an!" lirihnya. Ayla segera pergi kekamarnya. Tentu saja karena perkataan Brio sangat menyakitinya. Bahkan rasanya lebih sakit dari diselingkuhi oleh pacar yang disayangi.


"Kenapa rasanya sesak sekali saat dia bilang ingin bebas dariku? Ada apa dengan hatiku ini? Tidak jelas!" gumamnya.


"Shitt.."


Sreekk brugh


Brio menendang kaki meja yang ada dihadapannya. Memang kesal saat ditanya 'siapa dirimu?' oleh Ayla. Tapi lebih sesak saat dia meminta untuk dibebaskan.


Sementara yang terjadi dengan Ayla...


Dia menutupi kepalanya dengan bantal, berharap dia tidak mendengar suara Brio dan juga berharap Brio tidak mendengar gerutuan dan tangisannya.


"Apa dia bilang sangat mencintainya? Siapa dia ingin mendapatkan Avanza? Huh, dia tidak sekeren Baleno, tidak se-macho March, tidak setampan Jimny, tidak sekaya Oddysey, dan tidak sesempurna Brian Soedrajat. Kenapa dia begitu angkuh?" gerutunya dengan suara kecil, sedang air matanya sudah menetes beberapa kali.


"Kenapa aku jadi sesedih ini.." Ayla mengusap air matanya, "Tidak apa-apa, Ayla. Kamu kuat! Kamu bisa buktikan kepadanya bahwa kamu tidak picik. Lelaki sama saja, tidak ada yang baik. Aku merindukan rumah, Ibu...." lirihnya sambil terisak-isak.


"Sudahlah, Ayla. Lelaki seperti dia tidak pantas di tangisi apalagi di cintai. Dia tidak pantas mendapatkan itu," lirihnya lagi. Dia terus menutupi kepalanya dengan bantal.

__ADS_1


****


Baleno dan Avanza sedang berada didalam mobil. Baleno marah besar karena Avanza diam-diam menemui Brio. Untungnya saja, saat Avanza keluar dari rumah, dia yang baru saja tiba di depan rumah Avanza langsung mengikutinya dari belakang. Jika tidak, dia tidak akan tahu apa yang akan dilakukan oleh laki-laki cupu itu kepada kekasihnya.


"Kenapa kamu menemuinya? Bukankah sudah aku peringatkan bahwa kamu hanya milikku, dan jika ingin bertemu dengan orang lain kamu harus meminta izin dariku."


"Sayang, dengarkan aku dulu."


"Dengarkan apa, Avanza? Kamu berniat menyelingkuhiku? Apakah kamu tadi tidak dengar? Dia melamarmu, Avanza!" bentaknya. Sungguh dia tidak bisa menahan amarahnya itu.


Ya, laki-laki mana yang tidak marah saat tahu kekasihnya dilamar orang lain.


"Aku hanya memanfaatkannya!" jawab Avanza juga dengan membentak. Dia memang tidak bisa dibentak. Jika sampai itu terjadi dia akan langsung membalasnya.


"Bukankah aku sudah bilang padamu? Kalau aku ingin mengalahkan Ayla, dia bisa membantuku. Sedangkan orang yang ada dihadapanku ini, tidak pernah peduli dengan masalahku. Kemana saja kamu akhir-akhir ini, pesanku jarang dibalas, dan kamu jarang memberi kabar." Avanza masih membentak.


"Sayang, maafkan aku." Baleno memegang kedua bahu Avanza, lalu menghadapkannya kearah dirinya, "Aku sungguh tidak berniat begitu. Aku selalu memprioritaskanmu, aku sedang berjuang untuk masa depan kita." Dia usap lembut pipi Avanza.


"Sungguh?"


"Iya, sungguh." Baleno mencium lembut bibir Avanza. "Maafkan aku.." lirihnya saat dia sudah melepaskan ciumannya itu.


"Tolong, lakukanlah sesuatu untukku! Aku ingin Ayla hancur dan tidak menyaingiku lagi. Aku ingin hanya aku yang nomor satu di kampus."


"Cepat atau lambat itu akan terjadi.. Bersabarlah!"


"Aku harus mencari tahu siapa Brio itu. Tidak mungkin dia orang biasa," batin Baleno.


CNP


Continue in my Next Post.


...quote...


...Jika Anda pernah perhatian...


...Kenapa Anda tidak pernah peka, Tuan! ...


Mohon untuk dukungannya selalu.


Komentarmu, like, vote bunga atau lainnya, share, dan rate5 adalah dukungan yang saya butuhkan.


Tolong favoritkan untuk tau kabar selanjutnya.


Terima kasih!

__ADS_1


Salam cinta


__ADS_2