The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Seodrajat's Family


__ADS_3

Setelah menyetujuinya Serena segera mencari cara untuk membuat City, ibunya Brian, supaya mau membujuk Brian untuk pulang.


Sesudah dia menyusun rencana dengan suaminya, dia langsung menelpon City yang masih berada di Belgia.


Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu ini sebelum mereka benar-benar hancur.


"City, aku punya kabar baik untukmu dan juga Brian," ucapnya dengan bahagia untuk menyembunyikan rencananya.


"Kabar baik apa, Mbak?"


"Aku bertemu seorang gadis yang cantik dan juga baik. Aku ingin menjadikannya sebagai menantu tapi dia tidak mau mempunyai suami yang latar belakangnya dari dunia artis. Dia bilang kalau dunia artis itu tidak punya waktu, jadi dia takut ditinggalkan. Nah, untuk itu aku ingin mengenalkannya padamu."


"Ah, Mbak. Aku sih bagaimana Brian saja. Dia susah Mbak kalau di jodohkan. Mbak 'kan juga tahu kemarin saja saat dia mau dijodohkan malah memilih menyamar jadi orang culun. Supaya dia bisa membawa orang yang kami harapkan," jawab City seadanya.


"Nah itu, apa dia sudah menemukannya? Apa dia sudah mengenalkannya padamu? Belum 'kan?Menurutku, lebih baik kamu kenalan saja dulu pada gadis ini. Jika kamu tidak mau pun jangan memaksa, Mbak hanya ingin mengenalkannya saja padamu. Lumayan lho, dia anak orang kaya, cantik juga sopan. Bibit, bebet, bobotnya, pokoknya bagus deh. 'kan sayang kalau dianggurkan."


"Em, iya juga ya, Mbak. Ya sudah, Mbak. Kalau begitu nanti kita lanjutkan saja. Aku juga akan segera pulang. Besok siang mungkin akan sampai."


"Baiklah kalau begitu. Nanti aku atur jadwal bertemunya." Serena pun mematikan sambungan telponnya.


"Bagaimana, Mah? Apa kamu bisa merayunya?" tanya Mobilio, sang suami yang dari tadi mendengarkannya disamping.


"Ah, tenang saja, Mas. Soal urusan ini serahkan saja padaku. Aku ini ahlinya," ucapnya dengan bangga menjadi ahli sang perayu.


"Semoga setelah di bantu oleh keluarga Toyota, perusahaan kita tidak diambang kehancuran lagi," ucap suaminya penuh harapan.


"Iya, Mas! Aku juga harap begitu dan dengan begitu juga Ayah mertua akan melihatmu. Menganggapmu kompeten dan dia angkat kamu jadi ahliwaris perusahaannya. Hah, aku tidak sabar menunggu waktu itu."


"Benar, Sayang! Aku juga tidak sabar menunggu waktu itu."


Accord H. Soedrajat, sang ayah dari dua anak bernama Mobilio H. Soedrajat, sebagai anak pertama dan juga Jazz H. Soedrajat, anak kedua, mempunyai perusahaan yang sangat banyak. Dan salah satunya adalah dibidang perhiasan dan tambang batu bara. Selain itu masih banyak juga bisnis yang mereka jalani.


Karena kekayaannya yang sangat melimpah ruah, muncullah sifat ingin berkuasa dari dalam diri Mobilio. Merasa sebagai anak pertama, ia oikir dia lebih pantas untuk mendapatkan tahta setelah Accord.


Maka dari itu Accord memberikan masing-masing satu perusahaan kepada anak-anaknya. Dan barang siapa yang lebih bisa mengembangkan perusahaan itu maka dia lah orang yang akan memegang perusahaan lebih banyak dari yang lainnya.


Hal itu Accord lakukan supaya lebih jelas siapa yang lebih mampu dan siapa yang tidak. Dan menurutnya hal itu adalah adil bagi keduanya, mengingat sifat Lio yang seperti itu.

__ADS_1


Sementara di Belgia sana.


Jazz dan City sedang mengemas pakaian mereka. Mereka akan pulang lebih cepat dari yang mereka jadwalkan.


"Yah, Mbak Rena bilang kalau dia menemukan gadis yang baik dan cantik," ucap City saat dirinya melipat pakaian.


"Ya, terus. Dia mau jodohkan gadis itu dengan Oddysey, anaknya?" tanyanya sambil memasang dasi.


"Bukan begitu, Yah. Dia mau mengenalkannya pada anak kita, Brian."


"Ya, Bunda 'kan tahu kalau Brian itu tidak suka di jodohkan." Jazz mengencangkan dasinya.


"Tapi, Yah. Brian belum mengenalkan gadis manapun kepada kita. Tidak salah 'kan kalau kita mengenalkannya pada gadis lain."


"Lalu bagaimana dengan gadis yang mau di jodohkan dengan dia?"


"Ya, 'kan kita belum pernah melamarnya betul-betul. Ya, anggap saja itu hanya rencana," balasnya singkat.


"Yah, Bunda tidak mau Brian menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya. Bunda juga tidak mau kalau wanita itu suatu saat akan menghancurkan Brian. Bunda tidak mau, Yah," timpalnya lagi dengan sedikit nada sendu.


"Siapa yang mau, Bun? Ayah juga sama tidak mau. Tapi 'kan kamu tahu sendiri anak kita bagaimana. Dia menentang keras perjodohan. Karena dia merasa bahwa dia masih bisa mencari yang lebih baik. Toh, kita juga sudah memberikannya clue mencari jodoh. Bahkan dia sampai mau merubah identitasnya demi itu."


"Bund, kita bicarakan ini setelah sampai di Indonesia saja. Ayah masih ada kerjaan lain yang harus dituntaskan hari ini juga, supaya kita bisa pulang lebih cepat. Ayah rindu masakkan Indonesia," tolaknya halus. Menurutnya perbincangan ini harus melibatkan anaknya. Toh, dia yang akan menjalani kehidupannya. Jadi, Jazz tidak ingin ambil pusing soal anaknya itu. Lagi pula dia juga masih muda, tak perlu sibuk-sibuk mencari jodoh. Lebih baik bekerja dulu, belajar mencari nafkah dulu, baru melaksanakan pernikahan.


Lain dengan keluarga Soedrajat lain pula dengan Livina dan Baleno, di apartemennya Chanwell.


Hampir tiap hari Baleno menyiksa Livina. Mulai dari kamar yang dia buat berantakan, dapur yang dia buat acak-acakan dengan noda kecap, saus, dan lainnya. Dan ruangan lain penuh dengan kaleng minuman, dus bekas pizza, dan snack-snack tidak menyehatkan. Sengaja dia lakukan itu karena ingin membuat Livina kesusahan.


Tetapi Livina malah enjoy dengan semua itu. Jika dia ingin mengerjakan maka akan dia kerjakan, jika tidak maka dia akan pergi atau berdiam diri di kamar dan mengunci pintunya.


Dia sedang hamil, dia tidak boleh stres, pikirnya seperti itu.


Tapi tiba-tiba tanpa diminta dan tanpa di beritahu seorang ART datang ke apartemennya. Seolah ini menjadi sisi cahaya lain dalam kegelapan hidup yang dia jalani.


"Cari siapa ya, Bu?"


"Apa benar ini apartemen Den Baleno dan Nona Livina?"

__ADS_1


"Iya, benar. Ada apa ya?"


"Saya diminta Bu Arena untuk menjadi ART disini. Beliau bilang Nona sedang hamil muda. Jadi, saya di perintahkan kesini untuk membantu Nona."


"Oh, sebentar biar saya tanyakan dulu."


Setelah mengkonfirmasi pada mertuanya, memang benar dia telah mengirimkan seseorang untuk membantu Livina. Tentu saja dengan tangan terbuka dia menerima bantuan itu. Meski ART itu hanya bekerja pagi sampai sore saja tapi tetap tidak mengurangi rasa syukurnya terhadap sang Ibu mertua.


Akan tetapi berbeda dengan pikiran Baleno, saat setelah dia melihat ada orang lain di rumahnya dia berkata,


"Oh, jadi sekarang kamu meminta Ayahku untuk menyewa ART lagi? Dasar wanita pengadu. Lihat saja aku akan membuat kalian kesusahan."


"Silahkan saja! Tapi sebelum itu tanyakan dulu pada Tante Arena. Apa dia sudah mengirimkan seseorang ke rumah ini? Tanyakan, aku tidak takut padamu!" Tantang Livina dengan tegasnya. Dia sudah hilang sopan santun jika berhadapan dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Livina memang seorang wanita, tapi dia tidak ingin dianggap lemah. Sebisa mungkin dia melawan orang yang membuatnya menderita. Ini merupakan salah satu pertahanan yang ia miliki. Jika tidak seperti ini mungkin dia sudah stres sejak dini.


Setelah Baleno tanyakan pada sang Ibu, dia merasa kesal karena kebaikan ibunya itu. Rencananya bisa gagal jika ada orang lain, dia tidak bisa sepuasnya menyiksa Livina.


"Aku akan mencari cara lain untuk membalasmu, Liv!" batin Baleno meradang.


CNP


Continue in my Next Post


Aduh duh duh duhhh..


Ampyun bukan kalian aja yang males baca yang begini. Aku aja yang bikin sama 😂😂


Pengen nulis yang indah-indah nya aja.


Tapi tidak akan ada terang jika tidak ada gelap.


Tidak akan ada bunga jika tidak ada pupuk organik.


Tidak akan ada cerah jika tidak ada mendung..


Tolong di nikmati saja, ya..

__ADS_1


Supaya agak nyambung dengan cerita selanjutnya..


Love youu all😊


__ADS_2