
Ayla masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Brio. Tinggal disini? Bersamanya? Apa dia yakin?
"Kenapa kamu mau tinggal disini?"
"Ya tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada yang melarang. Sudahlah, bantu aku bawa barang-barang itu masuk!"
"Sebentar," Ayla menahan Brio. "Disini kontrakannya sempit. Barang sebanyak ini mau di taruh dimana?"
"Ya, didalamlah. Kalau diluar nanti kehujanan, Ayla." Brio hendak keluar lagi.
"Tunggu! Kenapa kamu meninggalkan apartment? Bukannya disana lebih nyaman?" tanya Ayla sambil menatapnya. Tentu saja dia berusaha mencari kebenaran dari jawaban Brio. Agar hatinya tidak salah mengira.
"Apartment? Aku sudah tidak akan tinggal disana lagi, soalnya Yaris yang akan mengisi. Katanya dia sudah selesai dengan urusannya. Jadi, dia akan tinggal disana lagi. Lagi pula kamu juga punya hutang budi padaku. Jadi boleh 'kan aku tinggal disini?" alasannya.
Dia mengucapkannya dengan sangat lancar. Usut punya usut ternyata sebelum datang kekontrakan Ayla, dia sudah tahu pertanyaan apa yang akan dilayangkan kepadanya.
"Oh!" jawabnya singkat, raut wajahnya terlihat sedikit kecewa. Mana mungkin Brio datang padanya karena tidak ingin ditinggalkan. Mustahil! Sangat mustahil!
"Barangnya tidak bisa di masukkan sebelum kita membereskan kontrakannya," tambah Ayla. Memang meski kemarin sudah berjam-jam membersihkan, tapi Ayla masih belum nyaman dengan kontrakannya itu.
"Ohh, begitu. Oke!" Brio langsung memakai maskernya.
"Kenapa pakai masker?"
"Ya 'kan akan berurusan dengan debu, 'kan?"
Ayla yang mendengarnya hanya melongo super duper melongo. Baru kali ini ada orang yang terkenal miskin sejagat kampus, ketika membersihkan rumah harus memakai masker dengan alasan debu. OMG! Bagus memang, tapi itu sangat pemborosan, pikir Ayla.
Mereka pun langsung bergegas untuk merapihkan dan membersihkan kontrakan mereka.
Awalnya sih Brio memang seperti sudah siap akan bertempur melawan debu. Tapi nyatanya Ayla yang mengerjakan itu semua. Sedangkan dirinya sendiri bertugas untuk memandori Ayla.
Ayla hanya bisa mengelus dada menahan kesal.
Setelah selesai barulah barang-barang itu mereka tata. Dan tentu kali ini Ayla yang memandorinya. "Enak saja, gantian dong!" Kalimat itulah yang pantas untuk diucapkannya kali ini.
"Itu kasur mau di bawa kemana?"
"Bawa ke kamarlah."
"Tapi kamarnya cuma satu, kamu tidur disini saja," ucap Ayla menyuruhnya untuk tidur di ruang tamu.
"Aneh kamu, ya, ada kamar juga." Brio langsung masuk kekamarnya.
"Kamu mau satu kamar denganku, enak saja!"
"Kenapa kamu takut aku berbuat lebih kepadamu?" tanyanya. Brio menatapnya bermaksud menggoda Ayla.
__ADS_1
"Tidak. Sudah kelihatan kok kamu tidak normal," hinanya.
"Cih! Bukan masalah normal atau tidak normal. Laki-laki juga berpikir, mana ada yang mau sama perempuan orang utan sepeti kamu," cibirnya balik. Jika seandainya dia memiliki sindrom pinokio mungkin saat ini dia sedang cegukan. Buktinya malam itu dia menutupi seluruh badan Ayla dengan selimut. Dia takut dirinya khilaf, melihat Ayla hanya memakai Hoodie.
"Diiih, awas ya! Do not touch me seinci-pun," tegasnya. Enak saja dia bilang primata.
"Ya sudah, begini saja. Aku sebelah sini kamu sebelah sana," ucapnya sambil menunjuk kearah kiri untuk Ayla dan kanan untuk dirinya.
"Ya, sudah. Tapi lemari ini di taruh ditengah-tengah, ya, supaya jadi pembatas."
"Terserah kamu!"
"Ya sudah, rapihkan saja bajumu sendiri! Aku mau masak," ujarnya sambil melenggang pergi kearah dapur.
"Hey!" teriaknya. "Bagaimana cara merapihkannya?" Dia mengacak acak rambut bagian belakangnya.
***
Kini Ayla sudah selesai menata baju Brio kedalam lemarinya. Dia ingin memasak tapi dia belum memiliki rice cooker dan juga bahan-bahan yang di beli Brio masih belum lengkap.
Akhirnya dia berakhir di sebuah lemari plastik.
"Brio, ada yang kurang."
"Apa?"
"Oh, okay! Wanginya wangi apa untuk ruangan?
"Terserah!"
"Okay.." ucapnya langsung bangkit dan akan beranjak.
"Eeeh! Wanginya yang fresh ya," pinta Ayla.
"Iya." Brio pun membalikan tubuhnya ke arah pintu.
"Ehh, wangi melon bagus, kopi juga aku suka, jeruk juga lebih baik."
"Iya, nanti aku beli." Brio melangkah satu langkah lagi. Tapi Ayla menghentikannya.
"Jangan yang lavender aku tidak suka, apalagi melati seperti orang yang sudah mati."
"Iya, tidak lavender tidak juga melati." Brio menjawab tanpa menengok.
"Jangan musk juga wanginya nyengat ke hidung," teriaknya. Karena Brio sudah berada di luar kamar.
"Iya, tidak akan," jawab Brio juga dengan berteriak.
__ADS_1
Ayla berlari ke arah luar, dan berteriak lagi.
"Jangan yang apel ya, wanginya terlalu segar jadi ingin makan," titahnya lagi. Membuat Brio pusing dan membalikan badannya.
"Jadi kamu mau yang mana?" tanyanya. Dia berusaha menahan amarahnya.
"Terserah!" jawab Ayla polos.
Brio yang sudah kesal setengah mati dengan ocehan Ayla. Dia menarik lengan Ayla untuk ikut bersamanya. Pusing, mungkin itulah yang dirasakan olehnya. Terserahnya Ayla hanya dia yang tahu.
"Pegangan!" perintahnya saat vespa miliknya sedang melaju.
"Tidak mau, pegangannya ke sendiri saja," ketusnya. Ini adalah kali pertama mereka menaiki motor berboncengan. Jangan berkhayal ada adegan romantis disini karena Ayla dan Brio, keduanya dalam mode kesal.
Motor vespa kuning itupun berhenti disalah satu minimarket dengan maskot lebah bertopi dan berinisial "S". Merekapun masuk kedalamnya dan langsung disambut oleh kasir tersebut.
"Selamat datang selamat berbelanja," ucap kasir tersebut menyapa.
Ayla dan Brio langsung menuju rak bagian yang mereka inginkan. Ayla memilih pengharum ruangan dan pengharum baju di pilih oleh Brio sendiri.
Tak sengaja Ayla melihat detergen, dia pun menambahkannya kedalam keranjang. Jiwa wanitanya pun kembali keluar. Tidak hanya pengharum ruangan, dan juga detergan. Mereka membeli banyak barang, seperti bahan makanan instan.
Ayla memilih mie, Brio memilih pasta. Ayla memilih ikan kaleng, Brio memilih daging kaleng. Ayla memilih cabe kering, Brio memilih keju.
Ayla jadi aneh dengan kelakuan Brio, apa dia seorang Raja yang ber-time travel dan dilahirkan kembali di keluarga biasa. Kenapa pilihannya menjurus pada orang yang punya banyak uang? Pikirannya pun berputar pada komik yang sering dia baca.
Belanja pun sudah selesai. Mereka memisahkan barang-barang yang masing-masing mereka pilih.
"Ada yang mau ditambah lagi?" tanya si kasir.
"Tidak, Mbak" jawab keduanya berbarengan.
"Tolong dipisah struk-nya, ya, Mbak! Saya bayar sendiri," ucap Ayla. Dia tidak ingin membayar belanjaan Brio. Tentu saja karena dia masih kesal.
Brio pun melirik tak suka padanya, dan Ayla sendiri mengalihkan padangannya kearah lain. Melihat itu Kasir pun tersenyum sendiri, paham dengan situasi yang sedang terjadi.
Setelah selesai berbelanja Ayla mengajak Brio untuk makan di pinggir jalan. Kali ini Brio tidak mempermasalahkan hal ini. Dia hanya manut dan makan bersama dengan Ayla.
Tak ada obrolan di antara keduanya. Ayla sibuk dengan ponselnya, dia sedang memilih barang-barang yang akan dia butuhkan untuk rumahnya. Untuk kali ini dia akan meminta Brio yang membayarnya. Uang istri ya uang istri bukan, dan uang suami adalah uang istri juga, prinsip itulah yang akan dilemparkan padanya jika Brio menolak.
CNP
Continue in my Next Post.
Masukin ke Favo untuk tau kapan aku update yaa.
Terima kasih!
__ADS_1
😊 salam sehat!