The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Lǎoshí, shuō wǒ shìgè yǒu qián rén!


__ADS_3

Semalaman suntuk Brio terus memikirkan tentang kebohonganya. Dan pagi ini pun masih tetap memikirkan bagaimana caranya untuk jujur pada Ayla tentang siapa dia yang sebenarnya.


Namun, lagi-lagi perasaan takut itu menghantuinya. Dia ingin jujur namun takut Ayla meninggalkannya.


"Hah!" desahnya, "Kenapa aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya? Apa aku harus langsung mengajaknya ke rumah? Tapi, percuma Ayah dan Bunda juga tidak ada di rumah," keluhnya. Memang dua minggu yang lalu ayah dan ibunya pergi ke Belgia untuk urusan bisnis dan akan pulang seminggu kemudian.


"Apa aku telpon Yaris dan minta dia untuk mengatakannya? Tapi 'kan tidak gentle kalau dia yang mengatakannya. Atau aku ajak saja dia jalan-jalan, buat dirinya bahagia sampai moodnya baik lalu aku akan mengatakannya dengan hati-hati supaya dia menerima penjelasanku. Ah, ya. Kenapa aku tidak berpikir begitu saja dari kemarin. Hehe..."


Akhirnya, Brio pun memiliki cara untuk mengatakannya. Namun sebelum itu, dia ingin merobak kamarnya lebih dulu. Tentu saja dia ingin tidur layaknya sepasang suami istri.


Mula-mula dia harus menyandingkan kasurnya dengan kasur Ayla. Lalu menggeser lemari dan meja kecil itu agar tidak menjadi pembatasnya lagi.


Dan sebelum acara rombak-merombak, ia kenakan masker juga sarung tangan. Agar debu-debu itu tidak terhisap juga menempel di tubuhnya. Dalam hal ini dia sangat anti dengan debu.


40 menit kemudian. Setelah selesai bersih-bersih, Brio langsung pergi mandi. Setelah rapi dia dudukan dirinya dikursi.


"Hah, lumayan melelahkan." Brio mengeluh sembari merileks-an tubuhnya, merenggangkan otot-otot.


Ceklek..


Ayla membuka pintu kamarnya.


"Kamu dari mana saja?" tanya Brio, dia pun bangkit merapihkan duduknya.


"Aku tadi maraton ke minimarket depan terus ketemu Mbak Navara, temen aku di kafe. Dia katanya lagi cari kontrakan, aku bilang kalau disini ada kontrakan kosong terus aku antar ke ibu kontrakan," ucap Ayla sambil mendudukan dirinya di sebelah Brio. Setelah kejadian di kampus itu baik Ayla dan Brio tidak mempermasalahkan tentang Ibu kontrakan yang jujur pada orang lain. Mereka hanya menanyakan siapa yang sudah bertanya tentang mereka berdua. Namun, karena mereka tidak memiliki orang yang dicurigai. Jadi, mereka berdua sulit untuk mencari siapa pelakunya.


"Oh, jadi Mbak itu sudah pindah?"


"Dia mau bilang ke suaminya dulu, katanya."


"Ya, sudah. Kalau begitu sebaiknya kamu mandi. Kita jalan-jalan siang ini."


"Kita mau kemana?" tanya Ayla antusias. Lalu beberapa saat kemudian raut wajahnya menjadi cemberut. "Kita 'kan sudah ada dirumah. Kemarin saja kamu bohong."


"Ya, Nyetku ngambek, nih." Brio terkekeh melihat wajah Ayla yang cemberut itu. "Kita akan jalan-jalan ke mall. Kita 'kan belum pernah jalan-jalan ke mall berdua," imbuhnya lagi.


"Benar? Tidak bohong?"


"Tidak." Brio menggeleng.


"Ya sudah, aku mandi dulu." Ayla hendak membuka pintu kamarnya.


"Tunggu! Biar aku saja yang pilihkan baju untukmu. Kamu tunggu saja di dapur." Brio pun masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya kembali.


Ayla menatapnya heran. Ada apa dengan suaminya itu? Kenapa dia tidak di perbolehkan masuk ke kamar? Apa kamarnya sudah dia buat seperti kapal pecah? Hmm.. Ayla hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Untungnya, Brio adalah orang yang suka memperhatikan orang lain. Meskipun dia tidak tahu dengan alat-alat yang digunakan Ayla pada wajahnya, tapi dia tahu semua itu penting bagi wanita. Jadi, dia mengambil dan keluarkan satu set baju yang sering Ayla gunakan dan juga satu tas kecil make up-nya.


"Ini..." Brio memberikan semua keperluan Ayla.


"Kamu kenapa sih?"


"Tidak, aku hanya ingin menyiapkannya saja." Brio tersenyum manis untuk menutupi hasil kerja kerasnya. Dia tidak ingin Ayla marah saat tahu kasur mereka sudah dia satukan.


Setelah selesai, mereka pun langsung berangkat ke tempat yang sudah di janjikan oleh Brio.


Hanya dalam tiga puluh lima menit saja mereka sudah sampai di mall itu.


"Kamu tidak salah ajak aku kesini?" Ayla menatap Brio dengan heran. "Brio kita pulang saja, aku juga bahagia kok, kalau kita hanya beli roti, beli minum dan jalan-jalan di taman. Aku tidak suka menghamburkan uang sedang kita tidak tahu besok mau makan apa?" pintanya. Ayla memang tipe orang yang melihat keadaannya lebih dulu. Jika mampu kenapa tidak. Jika tidak jangan memaksa.


"Ayla, apa kamu sungguh berpikir jika aku tidak bisa mengajakmu kesini?" Brio bukan tidak suka dengan permintaan Ayla, justru dia sangat salut. Tapi sekali-kali juga boleh 'kan menikmati hidup.


Akan tetapi berbeda dengan pikiran Ayla. Dia merasa saat ini Brio sedang tersinggung akan ucapannya.


"Bukan begitu, Brio. Aku sangat senang kamu ajak kesini. Tapi aku lebih senang jika kita ...."


"Sudah, percayalah padaku! Besok kita masih bisa makan, jalan, dan yang kamu mau aku masih bisa menurutimu." Brio langsung mengajaknya masuk kedalam.


"Jangan risau, nikmati saja!" katanya lagi.


"Kamu sudah gajian, ya?" tanya saat mereka naik eskalator.


"Tidak. Aku hanya ingin menebus janjiku yang kemarin lalu aku ingin melihat istriku ini bahagia." Senyum manis milik Brio terpancar di wajahnya dan Ayla pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis.


Tanpa sadar Brio mengenggam tangan Ayla. Lalu dia berhadapan dengannya, "Bagaimana jika kita makan dulu? Hari sudah siang kamu juga pasti sudah lapar, iya 'kan?"


"Tapi jangan disana ...."


"Ayo!" Brio malah mengajaknya masuk kedalam. Dan setelah mendapatkan tempat duduk, Brio segera mempersilahkannya.


"Pilih sesukamu, kita akan makan sepuasnya. Jangan memikirkan harga!" kecam Brio membuat Ayla sedikit terkekeh.


Tapi setelah melihat menu, rasa ragu mendadak menyerangnya. Jika saja dia Jimny mungkin dengan senang hati Ayla akan langsung memilih. Tapi laki-laki dihadapannya ini adalah Brio. Kuliah saja dengan motor butut, rumah kontrakan kecil, pekerjaan saja serabutan, malah menyuruhnya makan sepuasnya? Astaga, kepalanya tidak terpentok tembok 'kan?


"Kenapa melamun?" tanyanya. Melihat raut wajah Ayla, akhirnya dia mengerti. "Don't worry, baby! I have a lot of guap now," ucapnya disertai memperlihatkan isi dompet.


Ayla cukup tertegun melihat isi dompetnya yang cukup tebal. Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Mengemis? Tidak mungkin. Tabungan? Ah, mungkin saja. Tapi awas saja jika dia kehabisan, Ayla pasti akan memarahinya.


"Ya sudah, aku tidak akan sungkan lagi kalau begitu," ujarnya dengan senang hati.


Ayla pun memesan makanan yang ingin dia pesan. Mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup pun ada dalam mejanya.

__ADS_1


Brio yang melihat itu hanya tersenyum tanpa berkomentar sedikit pun.


"Ayla sudah merasa senang dengan makanan yang enak ini. Mungkin ini waktunya untukku mengatakan yang sejujurnya kalau aku ini Brian. Ya, dia tidak akan marah 'kan jika perutnya sudah kenyang dan hatinya sudah senang?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.


"Ayla, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu ...." lirihnya pelan. Sesekali dia membenarkan letak kacamatanya itu.


"Hem, tentang apa?" Ayla sekilas menatapnya lalu melanjutkan kembali acara makannya.


"Aku ingin jujur bahwa sebenarnya ...." Ayla kembali menatapnya dengan lekat.


Tiba-tiba, drtt drtt...


Suara ponsel memotong pembicaraan mereka.


"Livina?" lirihnya saat melihat layar ponselnya.


"Iya, hallo!"


"..."


"Apa?"


"..."


"Iya ya, jangan panik! Aku kesana sekarang. Kamu tunggu aku, ya!" Buru-buru Ayla mengalungkan tasnya dan meminum minuman yang dia pesan.


"Ada apa? Kenapa kamu buru-buru sekali?" tanya Brio.


"Livina. Livina berdarah," ucap Ayla. Nada suaranya begitu khawatir.


"Hah?"


"Ayo, Brio! Kita segera ke Chanwell. Aku takut kandungannya kenapa-kenapa."


CNP


Continue in my Next Post.


*Don't worry, baby! I have a lot of guap now.


Jangan khawatir aku banyak uang😂


* Lǎoshí, shuō wǒ shìgè yǒu qián rén!


Jujur, aku ini orang kaya 😂😂

__ADS_1


__ADS_2