The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Crumpled Face


__ADS_3

Dari semalam hingga siang ini, wajah Ayla seperti kain katun yang dicuci dengan cara manual lalu diperas dan dijemur dibawah terik matahari. Setelah itu dibiarkan begitu saja tanpa disetrika. Lusuh dan lecek, bagai tak ada gairah hidup.


Memang, benar sekali tidak ada gairah hidup lagi dalam dirinya. Apalagi setelah kemarin malam. Saat itu Brio menawarkan selembaran kertas berisi kompetisi Jurnalistik.


Awalnya dia sangat bahagia, namun senyumnya mendadak hilang seketika saat pikirannya kembali mengingat Brio yang memintanya memundurkan diri.


Dengan tegas Ayla menolak, "Hm," Ayla mendengus kesal, "Aku tidak butuh berikan saja pada yang mau," ucapnya sambil memberikan selembaran kertas itu.


"Ayla, tolong terima ini sebagai bentuk permintaan maafku. Dan aku akan mencabut kata-kataku yang sebelumnya. Aku perbolehkanmu untuk mengikuti lomba ini. Ya, mau, ya! Aku sangat mendukungmu. Aku juga ingin melihatmu bangkit."


"Maaf, Brio. Aku tidak bisa. Jangan kira saat kemarin aku mengikuti laranganmu," kilahnya. "Aku lakukan itu semua demi kebebasanku dan uang. Bukankah kamu selalu menganggapku dan uang itu seperti dua sisi koin, tidak dapat dipisahkan?" Dengan beraninya Ayla tatap mata Brio. Akan tetapi bukan tatapan cinta yang dia berikan melainkan tatapan mematikan bagi siapa saja yang disorotinya.


"Ayla, tolong terimalah!"


"Cukup Brio, cukup! Kamu sendiri yang melarangku kamu juga yang menyuruhku. Maumu apa? Di maafkan? Aku sudah memaafkanmu, puas! Tolong jangan ganggu aku lagi!"


"Huftt" deru nafas Ayla terdengar berat sekali. Leva meliriknya, temannya itu sedang meniduri bukunya sendiri.


"Kenapa hari ini kamu tidak bersemangat sama sekali?"


"Aku malas belajar, Leva. Biarkan aku tidur, ya. Tolong!"


"Ya sudah, nanti kalau ada dosen aku akan membangunkanmu."


"Iya, terima kasih." Tak lama Ayla pun memejamkan matanya. Akan tetapi dia tidak sepenuhnya tidur, pikirannya masih kacau. Sedikit menyesal karena dia dengan angkuhnya menolak kompetisi itu. Tapi jika diterimapun dia merasa rendah dirinya.


"Hahh.." Lagi-lagi dia mendesah kesal.


Tak lama dosen pun datang. Dan tanpa mereka semua sadari Brio pun ikut masuk dan duduk dikursi yang paling pojok. Dia amati Ayla yang sedang dibangunkan oleh Leva.


"Semalam kamu terus saja menangis. Pantas sekarang jadi mengantuk," batin Brio.


Tik tik tik


Jam dinding berdetik, waktu terus berlanjut. Penjelasan dosen bagaikan nyanyian merdu atau dongen bagi Ayla. Rasa kantuk itu kembali menyerang. Meski dia sudah menghalaunya dengan permen, pun tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya secara perlahan dia mulai tertidur.


"Itu siapa yang duduk di baris ke 3 kursi tengah," ucap Bu Dosen dengan lantang, semua mahasiswa meliriknya.


"Kamu mau kuliah apa tidur?" tegasnya. Ayla terperanjat dan segera bangun.


"Maaf, maaf, Bu." Dari mulai detik itu sebisa mungkin ia membuka matanya lebar-lebar. Sungguh sial sekali, semalam tidak tidur nyenyak dan hari ini kena omel dosen. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Tiga puluh lima menit kemudian, mata kuliah Bu Dosen cantik sudah selesai. Dan diakhir pertemuannya kali ini dia berucap tentang sesuatu yang mampu membuat semua mahasiswa takut berbuat kesalahan lagi dikelasnya.


"Yang tadi tertidur buat narasi 50 lembar. Besok pagi harus sudah selesai dan ditunggu diruangan saya," ucap Bu Dosen.


Ayla pun mengacak-acak rambutnya kesal. Dia hanya tertidur beberapa menit saja harus digantikan dengan tugas yang menimal beberapa jam dia bisa kerjakan. Oh, apakah dunia sudah tidak berpihak lagi padanya?


"Sabar, Ayla. Apa kamu mau aku bantu?" Leva tawarkan jasanya. Sungguh hanya dia yang kini bisa membuat kepalanya tenang.


"Tidak usah aku bisa melakukannya. Oh, ya. Aku mau mencari tempat dulu. Aku tidak kuat lagi ingin tidur."


"Huh, ya sudah. Jika butuh bantuanku telpon saja aku, ya."

__ADS_1


"Oke."


Ayla pun segera mencari tempat ternyaman untuknya. Setelah berkeliling selama 15 menit akhirnya dia menemukan tempat itu. Didekat pohon yang tidak rindang ada sebuah kursi beserta sahabatnya meja. Dan itu akan menjadi bantal juga kasur bagi Ayla untuk beberapa saat kedepan.


Dia duduk disana, lalu mengirim pesan pada Leva, memberitahunya dimana dia berada. Setelah itu dia pakaikan headset dan tertidur.


Semilir angin yang sepoi-sepoi menambah kenyamanan bagi dirinya.


Brio yang sedari tadi mengikutinya mencoba menghampiri Ayla.


Dia tatap gadis yang sedang tertidur itu.


"Astaga, Ayla. Jika kamu ingin tidur segala waktu dan tempat selalu mempersilahkannya. Di tempat seperti ini saja kamu bisa tidur tenang? Hum, maafkan aku. Pasti ini karena aku. Kamu bahkan sampai dihukum juga karena aku," lirihnya. Brio pun mengikuti gaya tertidur Ayla. Mereka kini sedang berhadap-hadapan.


"Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta padamu. Bahkan aku tidak ingin ada siapapun duduk bersamamu." Dia usap hidung mancung Ayla. Membuat si empunya sedikit terganggu.


Brio pun bangun sebelum dirinya ketahuan dan menulis dikertas kosong lalu menempelkannya ke kotak bekal yang tadi pagi dia siapkan.


Makanlah! Jangan sampai perutmu kosong!


Kata-kata itulah yang terdapat di kertas kecil berbentuk persegi itu.


Dari kejauhan Agya dan Livina melihat adegan itu. Agya nampak penasaran dengan gadis yang sedang tidur itu.


"Apakah itu Ayla? Jika itu Ayla dan Brio apa hubungan mereka? Kenapa seperti dekat sekali?"


"Sudahlah, kamu jangan ingin tau urusan orang," ujar Livina.


"Tidak mungkin itu Ayla, mungkin orang lain," kilah Livina. "Dan juga kita sama-sama tahu Brio itu menyukai Avanza," tambahnya lagi.


"Jika itu memang benar Ayla, aku tidak ingin menyakitinya lagi," batin Livina seraya memperhatikan orang yang sedang tertidur itu.


"Tapi akhir-akhir ini aku jarang sekali melihat mereka bersama." Agya tampak mengingat-ingat.


"Itukan penglihatanmu. Lagipula kita juga jarang bersama Avanza. Dia 'kan selalu bersama Baleno," ujar Livina.


"Hai, kenapa nada bicaramu seperti cemburu begitu," kekeh Agya.


"Tidak!"


Waktu berlalu Ayla pun sudah kenyang dengan tidurnya. Dia segera membuka matanya dan bangkit. Mengangkat kedua tangannya dan menguap.


Hoaaam..


"Eh, kok ada kotak bekal disini." Ayla segera mengangkat kotak itu, dibawahnya terdapat tulisan, "Tulisan siapa, ya? Perasaan aku pernah melihatnya, tapi dimana?" Sambil berpikir dia membuka kotak bekal itu dan isinya adalah sandwich.


"Hah," Dia menghela nafasnya. "Sudah kuduga ini pasti Brio," terkanya benar, "Untuk kali ini aku tidak akan menolakmu karena aku juga lapar." Ayla mengambilnya lalu, "Jangan ke-geer-an," ucapnya sambil menghunus tajam kotak bekal itu.


***


Malam hari Ayla sedang sibuk dengan tugas yang tadi siang diberikan oleh Bu Dosen. 50 lembar narasi dia harus selesaikan malam itu juga. Karena waktu yang dia punya sangatlah sedikit, ia sampai meminta izin tidak bekerja.


Sudah banyak sekali dia izin semoga bosnya itu sedikit memberi hati padanya.

__ADS_1


Saat ditengah-tengah pengerjaannya tiba-tiba saja perutnya keroncongan. Dia sangat lapar sekali, diingat-ingat ternyata makan terakhirnya adalah siang tadi.


Ayla segera bergegas menuju dapurnya. Memasak mie untuk menghilangkan laparnya. Sedangkan Brio yang sedari tadi terlihat tidak peduli ternyata memperhatikan Ayla diam-diam.


Ya, sudah seharian penuh ini mereka tidak bercakap meski hanya sepatah kata pun.


Brio melihat ke arah kertas itu, dia sudah tahu Ayla sedang dihukum. Sejenak dia berpikir, mungkin ini bisa menjadi jalannya untuk dimaafkan oleh Ayla secara tulus dan berharap ia mau menerimanya lagi.


Brio pun langsung memegang balpoint dan segera menuliskan sesuatu disana.


Setelah selesai Ayla segera kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba sang perut sakit kembali. Akan tetapi bukan karena lapar melainkan ada kebutuhan alami lainnya yang harus dia keluarkannya sekarang juga.


Hanya beberapa menit saja Brio sudah menyelesaikan satu lembar. Tugasnya tidak susah dia juga sering mendapatkan tugas seperti itu.


Kembali lagi dengan Ayla yang baru selesai dengan aktifitas kamar mandinya, dia kembali kekamarnya dan mendapatkan Brio sedang mengerjakan tugasnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Ayla!" Brio segera bangkit dari meja lemari itu.


"Aku sudah pernah bilang, 'kan. Urusi saja urusanmu sendiri, jangan urusi urusanku. Apa kamu tidak mengerti?"


"Aku hanya..."


"Aku hanya apa?" potongnya cepat, "Brio, sudahlah. Aku tidak butuh bantuanmu. Lagipula aku bukan orang yang hanya bisa memanfaatkan orang. Aku bisa mengerjakannya sendiri," ketusnya.


"Aku hanya ingin meringankan bebanmu, itu saja," ucapnya sambil berlalu ke kasurnya. Melihat tatapan Ayla, dia menjadi keder sendiri. Takut Ayla mengomel lebih padanya lagi.


Hah, terima kenyataan dia sudah mempunyai istri segarang Ayla. Dan pula dia sendiri yang membuat mode garangnya menyala. Jadi, dia tidak boleh mengeluh sedikit pun.


CNP


Continue in my Next Post.


...Kembali lagi di showromnya Pricill....


...Update dari jam 06-12 malam. ...


...Stay tuned yaa.....


...Jangan lupaa, dukungannya. ...


...Kopi dangdut enakloh. Eh mawar juga gak papa biar romantis. ...


...Apalagi kalau vote yng merah itu, wahhh.. 😂😂...


...Like like like, koment komen komen, share share...


...Biar naik popularitas biar banyak yang baca. Biar tau mobil juga ada di novel. ...


...Hehehe.. ...


...Banyak permintaan yak 😂...

__ADS_1


__ADS_2