The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Go Home


__ADS_3

Matahari jingga sudah mulai meninggi. Akan tetapi, udara sejuk selalu menemani. Kicauan burung yang mengusik mimpi dari alam yang masih terselimuti kabut. Ah, bagaimana caranya menggambarkan kampung yang begitu indah ini?


Suasana ini begitu asing bagi Brio, namun dia teramat menikmati keasingan ini. Dia hirup udara yang masih begitu jauh dari kata polusi. Menghembusnya dengan rasa gembira.


"Ayla, kemarilah! Ayo, kita buat salah satu adegan yang ada di film Titanic!" ajaknya pada sang istri. Saat ini mereka sedang berada di dataran tinggi di kampung Ayla.


Saat matahari belum menyingsing, Ayla mengajak suaminya ke tempat yang selalu menjadi favoritnya. Hamparan luas dan pemandangan yang indah. Tak ayal jika Ayla menyukai tempat seperti itu. Pemandangannya memang sangat cantik dan juga apapun yang berada dibawah bisa dilihatnya.


"Yang bagaimana? Apa yang sedang dilukis?" kelakarnya sambil menaikan satu alisnya.


"Yang seperti ini..." Brio menarik lengan Ayla, membawanya ke arah depan, dan memeluknya dari belakang serta dia benamkan wajahnya di bahu Ayla.


"Rentangkan tanganmu!" titahnya begitu lembut tepat di telinga Ayla. Ayla pun menurutinya. "Kalau yang sedang dilukis, kamu bisa praktikannya di kamar," ucapnya lagi langsung mendapat sikutan dari Ayla.


"Haha, apa? Kamu yang suka menggodaku duluan," papar Brio tak ingin disalahkan.


"Aa..." Ayla mengambil aba-aba hendak berteriak.


"Jangan berteriak! Gedang telingaku dekat sekali dengan mulutmu. Dan ya, apa kamu masih kesal denganku hingga ingin berteriak?" Brio menatapnya dari samping.


"Tidak, hanya terbawa suasana saja. Dihamparan luas seperti ini enaknya berteriak." Dia menghirup lalu menghembuskannya dengan pelan. Ayla sangat menikmati momennya ini.


"Ayla, maukah kamu ikut denganku pulang ke rumah? Aku akan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku." Pertanyaan Brio membuat matanya terbuka lebar.


"Aku takut." Rentangan tangan itu menurun.


"Takut apa?" Brio membalikan tubuh istrinya serta mencengkram kuat kedua bahu kecil itu.


"Aku takut orang tuamu tidak menyukaiku. Dan bila mengingat awal pernikahan kita, aku rasa sangat sulit untuk mereka percaya," ucapnya seakan tahu yang terjadi di keluarga Brio.


"Kenapa takut? 'kan masih ada aku. Aku yakin mereka juga akan merestui pernikahan kita. Ay, ini hanya masalah waktu." Tatapan teduh Brio meyakinkan Ayla.


"Huft.." Helaan nafas kasar yang ia tonjolkan "Berarti benar 'kan orang tuamu tidak merestui hubungan kita?" tanya Ayla sembari menatap mata Brio mencari jawaban yang paling jujur.


"Tidak, kata siapa?" Brio menjadi gelagapan. Ternyata istrinya ini menjebaknya.


"Sudah, jangan bohong. Katakan padaku bagaimana kedua orang tuamu?"


Brio pun menceritakan sifat kedua orang tuanya. Dia juga menceritakan kalau ibunya menyukai hal seperti ini dan seperti itu. Begitupun pula dengan Ayahnya.


"Bagaimana? Kamu mau tidak pergi kesana? Hanya berkenalan saja lalu kita pergi lagi..."


"Hanya sesimpel itu? Tidak akan menginap?"

__ADS_1


"Iya..."


Ayla tampak berpikir.


Benarkah hanya sesimpel itu? Jika tidak mencoba maka tidak akan tahu dan pasti Brio sangat kecewa padanya. Jika mencoba .... Ah, hati Ayla menjadi tak tenang dan tak karuan.


Dia lihat lagi Brio yang sedang menunggu jawabannya. Sorot matanya mengatakan dia ingin pergi kesana.


"Baiklah. Ayo, kita pulang dan berkemas."


"Benarkah? Huhuhhu..." Brio mengangkat tubuh Ayla dan memutarnya bahagia. Sempat dia berpikir bahwa Ayla tidak mau, tapi ternyata ....


"Hai, turunkan aku!" rontanya namun dengan rasa bahagia.


"Tidak, cium dulu aku!" pinta Brio sambil menggerlingkan sebelah matanya.


"Muach.." Ayla mencium kening suaminya dan mereka pun turun pulang sambil bergandengan tangan.


Setelah sampai dirumah, Brio dan Ayla pamit pergi ada keluarganya. Tentu saja, Xenia dan Rocky menyetujuinya. Akan tetapi, saat Brio mengajak mereka, mereka bilang tidak bisa dengan berdalih, "Kebun Bapak nanti tidak ada yang mengurus. Bentar lagi masa panen. Lain kali saja kita berdua kesana," ucap Rocky.


Mereka berdua pun berangkat menggunakan mobil Brio. Kemarin Rocky meminta Carry dan warga kampung lainnya untuk membantu mendorong mobil Brio. Dan alhasil sekarang mobil itu berjalan kembali.


"Minumlah obat herbal ini, kamu belum sembuh total," pinta Ayla sambil memberikan satu sachet obat herbal.


"Kalau kamu mau tidur, tidur saja," titah Brio.


"Tidak. Aku akan menemanimu, sekalian bertanya, kamu bagaimana bisa memanggil kakak pada Oddysey?"


"Oh, jadi kamu masih kepo dengan penyanyi favoritmu itu?" cebik Brio kesal bahkan melajukan mobilnya pun agak sedikit kencang.


"Ye, cemburu. Maksudku bagaimana kalian bisa bersaudara? Dia anak kakak Ayahmu atau Ibumu?"


"Dia anak kakak Ayahku," jawabnya singkat. Makin-makin membuat Ayla semangat bertanya.


"Oh, saudara satu kakek. Tapi, kenapa kalian berbeda, ya. Maksudnya yang bersaudara tidak selamanya beda, 'kan? Pasti ada satu kemiripan. Tapi, aku lihat kalian sangat berbeda jauh."


"Maksudmu dia tampan aku tidak?" Ayla terkekeh dengan perkataan nyeleneh Brio.


"Tidak, maksudku Oddysey pintar bernyanyi tapi kenapa kamu tidak?"


"Aku juga senang bernyanyi, bahkan suaraku sangat lembut dibanding Oddysey," ucapnya begitu sombong, "Kamu mau dengar?"


"Boleh, sekalian untuk menemaniku tidur." Brio menepikan mobilnya, lalu mengetikan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


"Lho, kenapa kamu tepikan mobilnya."


"Tidak enak kalau menyanyi tanpa ada musiknya," kilah Brio. Ayla pun mempercayai perkataannya. Lalu kemudian dia mencari posisi ternyamannya. Tak lama terdengar nada biola, saksofon, terompet dan teman-temannya.


Ayla kembali bangkit.


"Tunggu, tunggu ini terdengar seperti ... Seriosa? Kamu mau mengikutinya?"


"Tidaklah, kamu dengarkan saja dulu. Anggap ini suaraku," ucapnya santai sembari tersenyum manis.


"Miris, bohong lagi, bohong lagi," gerutu sang istri. Tak lama dia memilih tertidur sambil mendengarkan Frühlingsstimmen - Walzer, Op 410, Johann Strauus ll (1825-1899) yang di bawakan oleh artis populer di negrinya.


Suara yang mendayu-dayu itu sangat mujarab untuk langsung membuatnya tertidur.


Saat dalam pemberhentian di lampu merah, Brio melirik istrinya. Melihat tidurnya yang tenang hatinya menjadi senang, damai, dan tentram.


Seraya berbisik, "Semoga Bunda menerima kamu, Ay. Dan bila itu tidak terjadi aku akan selalu memilihmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Tapi aku sangat yakin kamu akan sangat di terima disana. Percayalah padaku."


Lalu dia melajukan lagi mobilnya dan membelah jalanan.


Hari semakin siang, perut mereka berdua saling berbunyi satu sama lain. Mereka pun memutuskan untuk mampir ke restoran yang berada didepan. Akan tetapi, jalanannya sangat macet. Jarak yang hanya tinggal 1 km lagi mereka rasakan seperti 10 km. Entahlah, apa yang terjadi didepan sana.


Mau tak mau mereka berjalan seperti bekicot. Mungkin mereka ingin menerapkan definisi dari biar lambat asal selamat. Tapi, yang semuanya rasakan adalah sudah lambat semua terhambat.


Setelah sampai di restoran yang mereka inginkan, kesialan terjadi lagi. Restoran itu menggantung papan bertulisakan 'closed'. Huh, keduanya memandang satu sama lain.


"Kamu lapar banget, ya?" tanya Brio. Ayla pun mengagguk dengan tidak enak.


"Jika sebentar lagi sampai ke rumahmu lebih baik makan disana saja," saran Ayla.


"Tidak, kita akan makan langsung. Tapi, bagaimana jika kita makan di kaki lima?"


"Aku mengikutimu saja." Laki-laki yang ada dihadapannya itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang menurut Ayla lebih cepat dari biasanya.


Akan tetapi, tak lama terdengar bunyi, kriiiiiiet. Brio menekan pedal remnya.


Brugh....


CNP


Continue in my Next Post.


Mohon untuk dukungannya selalu.

__ADS_1


😊


__ADS_2