The Couple Of MissKin-g

The Couple Of MissKin-g
Gagal Semua


__ADS_3

Setelah pulang dari shift paginya, Ayla langsung duduk dan berjibaku dengan tugas-tugasnya. Dia harus membuat tugas kelompok pembuatan film pendek. Tugasnya memang kelompok tapi nyatanya Ayla kerjakan sendiri dirumahnya. Itu karena dia izin bekerja dan meminta pada teman sekelompoknya untuk menyisakan tugas untuk dirinya sendiri.


"Kamu tidak kuliah tadi pagi?"


"Tidak. Aku titip absen pada Leva. Manager-ku tiba-tiba memintaku untuk masuk kerja pagi. Ya sudah, mau tidak mau aku titip absen," ucap Ayla masih dalam keadaan fokus pada laptopnya.


"Kenapa bisa sampai bentrok begitu? Bukannya di antara kalian sudah ada perjanjian kerjanya?" tanya Brio sambil terus membaca buku yang sejatinya tidak dia baca. Dia gunakan itu hanya sebagai action-nya saja.


"Tadi di kafe ada acara penting. Temanku yang satunya tidak masuk, dia sedang sakit. Jadi, Pak manager memintaku untuk menggantikannya."


"Oh, begitu. Kamu sudah selesai belum? Aku bisa bantu kamu kalau belum." Brio tawarkan jasa.


"Tidak usah sebentar lagi selesai. Ini tugasku, Brio. Bagus dan tidaknya aku puas dengan kinerjaku sendiri."


Brio hanya mampu mengulum senyumnya. Dia sangat bangga pada istrinya itu.


"I'm pround of you."


Lima belas menit kemudian.


Ayla sudah selesai dengan tugasnya. Karena badan yang sudah lengket dengan keringat, akibat dirinya yang belum mandi, Ayla pun memutuskan untuk langsung pergi ke kamar mandi.


Sementara itu Brio memesan makanan melalui aplikasi. Dia tahu Ayla tidak sempat membeli makan dan juga memasakkan makanan untuknya. Maka dari itu dia berinisiatif. Sungguh sebuah hubungan suami istri yang saling mengerti satu sama lain.


Malam ini berbeda dengan malam sebelumnya. Cuacanya begitu panas dan membuat semuanya merasakan kegerahan. Apalagi setelah beraktifitas seperti Ayla, membuat tingkat kegerahannya meningkat dari pada yang Brio rasakan.


Ayla mengambil sampo dan membasahi sekujur tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki. Cara ini memang jitu mengusir hawa gerah di badan dan sekalian me-refresh kembali otak yang sudah panas akibat terus berpikir.


Setelah selesai dengan ritual mandi, Ayla keluar dengan handuk yang sudah dililitkan diatas kepala.


Sebelum masuk kekamar, dia lihat meja yang sudah di penuhi dengan makanan. Tak perlu menebak lagi, dia sudah tahu jika Brio adalah orang di balik makanan ini tersaji.


"Kenapa masih di lihat? Makanlah sebelum dingin!" ucap Brio yang baru keluar dari kamarnya. Ayla pun duduk lalu membuka kertas yang berisi nasi.


"Kamu tahu aku belum makan?"


"Siapa yang tidak tahu, Ayla? Jika perutmu sedari tadi berbunyi terus. Jangan seperti itu, ya! Kamu harus makan sebelum kamu lapar dan berhenti sesudah kamu kenyang. Biar kamu sedikit gemuk dan enak di peluk," celetuk Brio tanpa perasaan. Seolah mengatakan Ayla itu terlalu kurusan dan tidak enak di peluk.


"Dih, tidak romantis!" gerutu Ayla. Dia pun langsung melahap nasi beserta lauk pauknya juga tanpa perasaan.


"Aku kurus juga karena siapa? Sebelum menikah dengannya aku sedikit berisi." Ayla terus menggerutu karena kesalnya belum hilang.


Brio yang merasa Ayla yang sedang marah pun bertanya, "Kamu marah?" Tapi Ayla diam saja dan lebih memilih segera menghabiskan makanan itu.


"Ay," ucapnya seraya menyikutnya pelan.


"Ya, dia marah," batin Brio saat tidak ada respon dari Ayla.


Setelah selesai makan, Ayla benar-benar langsung merebahkan diri diatas kasur sambil memainkan ponsel melihat sang artis favoritnya. Bahkan sang suami pun kini sedang dia abaikan. Hehe, biarlah. Ayla ingin merasakan suatu masa dimana ia belum sibuk mengurus ini dan itu.


Lain hal dengan Brio, merasa dirinya terabaikan, dia pun merebahkan tubuhnya disamping sang istri. Memperhatikan gelagat-gelagat lain darinya.


Ayla yang sedikit merasa risih pun menyampingkan dirinya membelakangi sang suami. Sikap ini sebenarnya tidak boleh, tapi mudah-mudahan sang suami mengerti jika dirinya sedang kesal.

__ADS_1


"Kamu lagi apa?" tanya Brio memulai percakapan. Padahal dirinya tahu jika Ayla sedang menonton.


"Sudah tahu masih tanya lagi," cebiknya kesal.


"Oddysey?" tanyanya saat dia melihat siapa orang yang berada di layar ponsel Ayla.


"Iya, itu kamu tahu. Dia penyanyi pendatang baru yang sedang melejit-lejitnya," ucapnya masih dengan nada kesal.


"Oh, jadi kemarin kamu izin menonton konser juga menonton konsernya?" Kali ini Brio yang terlihat kesal.


"Iya, memangnya kenapa? Salah?" Ayla membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan Brio, "Dia itu salah satu penyanyi faforitku. Dia pintar, bersuara lembut, terlihat ramah, penuh cinta..."


Cup.


Belum selesai Ayla bicara, Brio sudah mengecup bibirnya dengan perasaan sedikit kesal. Kesal karena Ayla lebih mengagumi kakak sepupunya sendiri dibanding dirinya yang sudah jelas statusnya.


"Brio!" pekik Ayla seraya mencengkram kedua bahu Brio menjauhkannya dari tubuhnya.


"Apa?" Brio kembali pada posisinya yang semula.


"Apa yang kamu lakukan?" Ayla juga kembali pada posisi awalnya, membelakangia Brio.


"Memangnya salah jika aku mencium istriku sendiri?"


"Tapi 'kan kamu harus menunggu persetujuannya dulu dariku," ucapnya sedikit bernada tinggi.


"Menunggu kamu khilaf itu susah, Ayla. Dan lagi pula itu hukumanmu karena sudah memuji laki-laki lain dihadapanku. Aku tidak suka itu."


"Aku cemburu, Ayla. Yang kamu puji itu kakakku," batinnya kesal.


Grepp..


Brio memeluknya dari belakang, menggosok-gosokan hidunya di punggung Ayla.


"Awas, jangan peluk-peluk! Aku kurus tidak enak di peluk," ucapnya sambil mengendikan bahunya supaya Brio melepas pelukannya itu. Tapi, semua itu tidak sesuai keinginannya, Brio malah memeluknya semakin erat.


"Maaf, aku tahu kamu marah karena ucapanku tadi saat kita makan. Aku hanya bercanda. Maafkan aku..." lirihnya, lalu kemudian dia arahkan tubuh Ayla untuk berhadapan dengannya.


Brio mensejajarkan tubuhnya dan pandangan mereka pun bertemu dalam ruang yang sama. Menatap Ayla sebentar saja timbul rasa ingin lebih dalam diri Brio. Dia ingin lebih dari sekedar menatap.


"Ayla, aku mohon padamu, jangan puji orang lain dihadapanku," lirihnya lagi sambil mengikis jarak di antara mereka.


"Aku tidak suka itu." Mata Brio terus menatap Ayla.


"Tapi 'kan, aku juga ...."


"Shuut..." Brio menempelkan jari telunjuknya di bibir Ayla, "Jangan ada lagi tapi, aku mohon! Cemburuku luar biasa. Aku bisa membiarkanmu bebas menonton konsernya tapi aku tidak bisa membiarkanmu memujinya." Brio mengusap lembut pipi Ayla dengan jempolnya.


"Aku mencintaimu.."


Brio kembali menyatukan bibir mereka dengan lembut. Akan tetapi dalam seperkian detik kecupan itu berubah menjadi pagutan. Ayla yang sedikit menikmati berubah posisi menjadi terlentang. Sedangkan Brio seakan tertarik dan sedikit mengukungnya.


Dia terus menikmati bibir lembut istrinya. Sekali-kali Ayla pun membalas. Tapi Brio menuntut ingin dirinya saja yang bermain. Setelah puas Brio melepas pagutannya.

__ADS_1


"Jangan puji kakakku..." bisiknya tepat di telinga Ayla. Lalu dia kembali menciuminya dan kali ini malah berpindah ke arah leher jenjang Ayla. Mengesapnya sedikit. Secara tidak sadar Ayla memundurkan dirinya. Bayangan itu, bayangan malam itu bersama Jimny kembali muncul.


"Brio! Apa yang kamu bilang tadi?" ucapnya mengalihkan segalanya. Mengalihkan Brio dari aktifitasnya dan juga mengalihkan dia dari perasaan takut yang muncul tiba-tiba.


"Hem.." Wajah Brio tampak memandangnya heran.


"Apa yang kamu bilang tadi?" ulang Ayla.


"Jangan puji kakakku!" ulang Brio lagi dengan datarnya.


"Pfttttt.. Hahah..." Tiba-tiba Ayla tertawa mendengarnya. "Kamu jangan nge-prank aku, ih," ucapnya masih dengan gelak tawa.


"Aku serius..."


"Brio, jangan bohong! Aku tidak menyukainya. Dan lagipula aku tidak percaya dengan ucapanmu tadi. Mana mungkin seorang Oddysey mempunyai adik. Dia itu anak tunggal. Dan ibarat kasta kalian sangatlah jauh. Kamu jangan ngadi-ngadi! Aku tahu kamu cemburu, tapi tidak perlu bohong dengan mengatakan kamu ini adiknya."


"Tapi, Ay. Aku serius."


"Sudahlah, Brio. Iya, aku janji. Aku tidak akan memuji laki-laki lain lagi."


"Ay, dengarkan aku! Aku ini orang kaya. Aku Brian.." ucapnya sungguh-sungguh.


"Haha, sudahlah, Brio! Becandamu tidak lucu. Aku tidak tahu Brian, aku hanya tahu rumornya saja. Dengar! Memang aku menyukai uang, tapi kamu tidak perlu berbohong demi mendapatkanku. Karena aku sudah mencintaimu dan hatiku sudah menerimanya. Tidak peduli kamu ini miskin, cupu. Tidak peduli!" tegasnya.


"Kamu tidak percaya padaku?" ucapnya dengan lesu.


"Aku percaya tapi tidak dengan kali ini. Ya sudah, ini sudah malam. Aku juga ingin tidur." Ayla pun langsung mematikan lampunya dan memejamkan mata lalu memeluk gulingnya. Bukan dia tidak ingin berbincang lagi, tapi dia takut hal yang tadi terjadi lagi.


Hatinya masih takut, dirinya masih teringat dengan kejadian malam itu dengan Jimny. Hingga apapun yang terjadi dia berusaha selesaikan detik itu juga. Tapi sungguh dalam hatinya dia menepis perkataan Brio tadi.


Dia tidak percaya!


Mana mungkin ada orang kaya yang mau hidup susah? Tidak! Sangat tidak mungkin. Jika ada orang miskin yang mau hidup seperti orang kaya, seribu persen dia baru akan percaya.


Ucapan Brio tadi, mungkin lebih tepatnya hanya bualan Brio saja. Demi melanjutkan hot activity-nya yang dia gagalkan.


CNP


Continue in my Next Post.


Nah, uwu 'kan?


Tapi Ayla masih ingat 😂


Udah jujur tuh, tapi Ayla tidak percaya..😂😂


Gimana dong?


Bobok lah ya.. 😂😂


Hampuraaa, aku belum bisa mampir kakak author baik.


Kemarin-kemarin kuotaku sedikit

__ADS_1


Nah, sekarang udah abis waktunya.


Maaf, ya!


__ADS_2