
Sebuah mobil Jeep sudah Ayla dan Levante naiki. Kini mereka meluncur pada tempat yang akan mereka tuju. Sebelumnya mereka mencari di internet, kontrakan atau indekos yang kosong, berharga murah, dan dekat dengan kampusnya.
Beruntung, dewi fortuna ada bersamanya. Mereka dengan cepat menemukan satu kontrakan yang pas sesuai dengan kriteria yang Ayla inginkan.
Tiga puluh menit sudah mereka membelah kemacetan di jalan yang mereka lewati. Seharusnya mereka sudah sampai 15 atau 10 menit yang lalu, tapi karena macet mereka menjadi terlambat.
Memang kemacetan adalah faktor utama keterlambatan manusia atau bisa jadi karena rakyatnya terlalu kaya sehingga masing-masing manusia sudah mempunyai kendaraannya sendiri.
Hum, entahlah!
Kini dihadapan keduanya adalah sebuah bangunan bersejajar, bercat kuning, dan terdiri dari 5 pintu. Dari depan terlihat luas. Keduanya mengira kontrakan ini terlalu besar untuk Ayla seorang.
"Ini kontrakannya, silahkan dilihat dulu, Mbak!" ucap Ibu pemilik kontrakan. Pemilik tersebut terlihat masih muda, dan membuat Ayla termotivasi untuk menjadi bos kontrakan. Karena bos kontrakan adalah definisi lain dari D4 'Duduk Diam Dapat Duit'.
Saat Ayla membuka pintunya ternyata tak sesuai dengan dugaannya. Kontrakan ini hanya cukup untuk dirinya seorang. Ada satu kamar, kamar mandi, dan dapur yang menyatu, dan juga ada ruang depan atau bisa disebut ruang serba guna.
"Bagaimana?"
"Mm, bagus. Bagaimana dengan harganya?"
"Ouh tenang saja, Mbak. Harga dijamin tidak akan kecewa dan sesuai dengan lainnya," ucap si Ibu sambil tersenyum
Setelah setuju dengan harganya, Ayla kembali melihat-lihat. Dia mendikte barang-barang yang akan nanti dia perlukan. Tidak ada peralatan dapur, bahkan satu lampu ada yang mati. Disana hanya terdapat sebuah kursi panjang, meja dan juga kasur kecil dikamarnya. Okay, masih banyak barang yang harus dibelinya.
Tak apalah, sesuai dengan harga!
"Thanks ya! Sudah mengantarku kesana dan sudah mau direpotkan," ucapnya saat mereka sudah berada di apartemen FR.
"Yee, tidak apa-apa kali. Oh ya, mau sekalian aku bantu beres-beresnya?" tanyanya. Langsung mendapat penolakan dari Ayla.
Tentu saja dia tidak ingin Leva mengetahui bahwa dirinya sedang tinggal dengan seorang laki-laki meski statusnya sudah sah sekalipun. Perasaannya masih remang-remang pada Brio.
"Ok, aku pamit dulu." Levante segera pergi dari apartemen Ayla.
***
Malam harinya.
Ayla sedang memasukan pakaiannya kedalam koper. Untungnya, seminggu yang lalu dia tidak mengacak-acak barangnya. Jadi, hanya membutuhkan waktu satu jam saja semuanya sudah siap untuk dia bawa ke rumah barunya.
Malam ini sebagai bentuk permintaan maaf dari Brio, Ayla diperbolehkan lagi untuk menggunakan kamarnya. Tidur dikasur yang pernah membuatnya nyaman hingga tidak ingin beranjak semenit pun.
Tentu saja selain empuk juga karena tercium bau parfum Brio yang melekat di seprainya.
Wanginya membuatnya rileks dan berasa seperti memandang senja di Hawai. Hangatnya mentari dan sejuknya semilir angin bersatu padu saat dirinya didalam kamar tersebut.
"Tak terasa besok aku akan meninggalkan apartment ini," monolognya.
__ADS_1
"Huft!" Dia menghembus nafasnya perlahan.
"Jika berada disini terus pasti akan terbayang malam itu lagi. Apalagi melihat area depan, rasanya berat sekali."
"Kasih tau Brio tidak ya?" pikirnya. "Janganlah! Lagi pula tidak penting juga, jika ditinggalkan pun pasti dia akan merasa happy saja."
"Kalau aku terus disini, kasihan Brio harus tidur di sofa. Aku juga tidak enak tidur disana, badanku serasa remuk semua," keluhnya, sambil mengingat setiap kali dirinya bangun tidur di sofa.
Kemudian dia membuka pintunya, terlihat Brio tengah tertidur pulas sambil melipat kedua tangannya di dada.
Ayla menghampirinya, menarik selimut kebagian atas tubuhnya.
"Ini kebaikan aku yang terakhir, besok aku akan pergi. Jangan beli roti terus, kasian perut kamu yang sudah mulai terbiasa makan nasi.. Hehe!"
"Wan an Brio!"
****
Pagi harinya.
Brio sudah bangun karena terusik dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendelanya.
"Hoam!" Dia menguap dan menggeliat secara berbarengan.
"Astaga sudah jam sembilan, bangun terlalu pagi pasti akhirnya begini," keluhnya. Kemudian dia berjalan menuju kamarnya, namun Ayla masih mengunci pintunya.
"Ayla, aku mau mandi. Kamu sudah selesai belum?" ucapnya dengan suara parau. Akan tetapi, tidak mendapat jawaban.
"Kok, tidak ada sahutan, ya? Apa dia masih tidur?" gumamnya.
"Ay, Ayla..." Untuk ke sepuluh kalinya Ayla baru menyahutinya.
Pintu terbuka, terlihat Ayla yang masih menguap dan menggaruk-garuk kepalanya. Lalu berbaring kembali pada kasurnya, sedangkan Brio hanya menggeleng-geleng kepalanya yang dapat diartikan dengan kata, "Astaga ternyata ini sisi jeleknya Ayla."
Semalam Ayla tidak dapat tidur tenang, perasaannya antara ingin tidak ingin meninggalkan apartment ini. Alhasil dia membuka aplikasi nonton dan menonton drama kesukaannya. Karena terlalu asik matanya baru terasa kantuk pada jam 5 pagi.
Pintu kamar mandi sudah terbuka, Brio sudah rapi menggunakan celana panjangnya. Dia tidak membawa baju, lagi pula badannya masih bisa ditutupi dengan handuknya. Jadi, aman dari teriakan Ayla.
Tapi orang yang biasanya berteriak itu masih asik dengan mimpinya. Brio mengerutkan dahinya, mengapa Ayla tidak bersiap?
Kemarin saja saat dirinya izin sakit, pada jam-jam ini biasanya Ayla sudah anteng dengan ponselnya. Tapi, kenapa sekarang malah anteng dengan mimpinya?
"Ayla, kamu tidak masuk kuliah? Tumben sekali kamu masih tidur?" tanyanya sambil mengancingkan baju.
"Tidak. Semua dosen memberiku tugas secara online," jawabnya dengan nada serak khas bangun tidur.
"Oh, kalau begitu aku berangkat dulu."
__ADS_1
"Hem, rotinya sudah aku panggang, sudah ada di atas meja. Hari ini pakai selai saja, ya!" ucapnya lalu kembali tertidur.
****
Dua jam kemudian.
Kini Ayla sudah siap untuk berpindah. Yang terjadi memang harus terjadi, rela tidak rela dia harus meninggalkan apartment itu secepatnya.
Dia mengabsen setiap barang bawaannya. Dua koper besar dan kecil. Dua tas besar dan satu tas sedang sudah naik pada mobil yang disewanya. Dia hanya menenteng satu paperbag dan juga tas kecilnya.
Sebelum pergi dia sudah menuliskan sesuatu di secarik kertas, berisi pesan untuk Brio. Meski terkadang benci tapi dia selalu mempunyai cara untuk dimaafkannya.
Manis, laki-laki itu sungguh manis.
Deng yi deng!
(等一等 ! // Sebentar!)
Kenapa Ayla memikirkannya? Tidak, tidak, dia tidak boleh memiliki perasaan kepadanya. Atau dirinya sendiri yang akan merasakan rasa sakitnya.
Tidak untuk kebeberapa kalinya.
Cinta itu sangat menyakitkan!
Lagi pula sudah jelas Brio memiliki orang yang dicintainya dan itu adalah musuhnya sendiri.
Lucu bukan?
Barang-barangnya sudah mendarat tepat di depan kontrakan, dengan segera dia memasukan semua barang-barangnya.
Karena belum ada lemari, jadi dia tidak merapihkan pakaiannya. Hanya kasur kecil berukuran 140x200cm yang dia bersihkan.
Setidaknya untuk malam ini dia bisa tertidur dikasur yang cukup untuk seorang ini.
"Huh!" desah Ayla. "Ternyata sepi juga tidak ada Brio, walaupun baru 5 jam pergi dari apartemen, tapi berasa seminggu. Dia sedang apa, ya? Sudah pulang kuliah atau belum? Apa dia sudah masuk kerja?" Memang pada saat dia berada di apartmentnya, Brio selalu mengatakan bahwa dia mengambil cuti kerja untuk menemaninya.
Awalnya memang senang, tapi pada akhirnya membuatnya tidak tenang. Sifat keduanya tidak ada yang ingin mengalah ketika sedang berseteru. Tapi jika kepala sudah mendingin, salah satu di antaranya akan ada yang mengalah dan meminta maaf.
CNP
Continue in my Next Post
Masih #staytuned disini.
Gumawo 😂
Jangan lupa like-nya. Dan dukungan lainnya, komen dong?? Jangan pedes-pedes ya soalnya tadi udah makan yang pedes takutnya diare 😬
__ADS_1